Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini621
Kemarin675
Minggu Ini1296
Bulan Ini16652
Total Pengunjung1003591

IP Kamu 34.228.38.35 Tuesday, 23 April 2019

Guests : 25 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   
 
PRAHARA DARI PESONA PENDETA
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Pesona pemimpin gereja adalah jabatan rohani yang menjadi daya tarik yang diminati banyak orang[1]. Integritasnya memancarkan kewibawaan Illahi yang membuat orang teduh, dan tertunduk memandangnya sebagai jabatan terhormat. Beberapa diantara menganggapnya sebagai wakil Tuhan di bumi, yang tidak pernah salah. Kata-katanya sebagai panutan yang menjadikan dirinya “public figure[2] banyak orang. Bahkan diantaranya banyak salah persepsi menjadikan pemimpin rohaninya sebagai malaikat yang turun dari langit namun realitasnya iblis yang menyamar sebagai malaikat terang. Untuk itu para pemimpin harus menyadari dirinya sebagai panutan sehingga tidak boleh ceroboh dengan intrik politik keji yang selalu menciptakan pembunuhan karakter untuk teman sejawat. Para pemimpin rohani harus memproduksi orang yang mencintai Tuhan bukan sebaliknya menjadikan dirinya tenggelam dalam kemelekatan pangkat dan jabatan sebagai kebanggaan.

Di era digital ini para pemimpin gereja sedang naik daun karena dalam pemerintahanpun, sumpah jabatan membutuhkan figure seorang Pendeta. Ini berarti kedudukan pendeta lebih tinggi dari Presiden sekalipun. Bila Presidennya Kristen maka sumpah jabatannya harus di bawah tangan pendeta yang memegan Alkitab. Seperti kata pepatah : If God Called you to be a preacher don’t stoop to be a king” Bila Allah memanggilmu menjadi pengkotbah jangan pernah mau membungkuk menjadi raja. Pendeta saja terhormat apalagi pemimpinya para pendeta! Untuk itu menyadarkan setiap pemimpin bahwa kedudukannya setingkat Tuhan karena merupakan kawan sekerja Allah[3], yang identic koleganya Tuhan sehingga harus berkarakter seperti Tuhan bukan hantu.

Untuk itulah setiap pemimpin gereja harus melihat Tuhan dalam diri setiap orang sehingga dapat memperlakukan orang lain seperti Tuhan. Jika demikian prioritas utama adalah mempermuliakan Tuhan melalui pelayanan kepemimpinan kepada orang lain. Namun sebaliknya jika ia melihat setan di dalam diri orang lain maka secara otomatis akan ada kebencian dan membuang yang  dianggapnya sebagai setan. Pepatah berkata : Jika engkau tidak bisa melihat Tuhan di dalam diri sesamamu, jangan pernah mencari Tuhan di kitab suci manapun maka engkau tidak akan pernah menemukannya. Dengan kata lain pemimpin harus bisa menampilkan Tuhan di dalam diri orang lain. Jika tidak demikian maka ia hanya berpredikat orang upahan[4] bukan gembala yang baik.  

Melihat kepemimpinan yang karismatik banyak pengusaha-pengusaha berbelok arah ingin menjadi penguasa gereja. Bahkan diantara mereka ditahbiskan menjadi pendeta-pendeta. Mereka lupa bahwa orang yang menjadi pemimpin di bidang kerohanian harus berani menyalibkan dirinya bersama Kristus bukan sebaliknya malah  mondar-mandir di bawah salib bersama tentara Roma dan menyalibkan banyak orang. Ungkapan tersebut gambaran tindakan para pemimpin yang memproduksi akar pahit, percideraan dan perpecahan. Secara tidak langsung kebodohannya telah mencabik-cabik keharmonisan dan keteduhan yang sudah terbangun berpuluh-puluh tahun.

Betapa pentingnya kepemimpinan disetiap lini kehidupan, baik rohani maupun dunia sekuler.  Napoleon dalam kalimat ungkapan/sindirannya : “Saya lebih baik mempunyai pasukan yang terdiri dari kelinci yang dipimpin oleh seekor singa, daripada memiliki pasukan singa yang dipimpin oleh seekor kelinci”. Ini mengingatkan figure pemimpin harus jauh lebih  mumpuni, rendah hati dan cinta Tuhan melebihi apapun sehingga tidak bisa di-remote control para taipan-taipan gereja besar.  Realitasnya sekarang jabatan rohani tidak menjadikan seseorang menjadi “humble” tetapi sambel alias pedas, perkataannya panas yang menyakiti orang lain. Seharusnya bibirnya keluar wangi bunga tetapi sebaliknya keluar cutter atau pisau tajam yang membunuh orang lain. Pemimpin seharusnya menjadikan pengaruh besar, yang salah menjadi benar, yang berdosa dibetulkan. Realitasnya berbeda yang sehat menjadi sakit, yang terluka tambah mengaga bertambah parah.  Ini pengaruh buruk dimana sang pemimpin sudah salah arah karena remote control yang pegang kendali dipegang orang yang berambisi, mantan pengusaha yang menjadi penguasa di gereja.   

Gelar yang disandangnya sebagai wakil dari Allah menanti aneka ragam fasilitas yang menggiurkan bahkan prestise dan penghormatan menantinya. Orang yang tahu menghormati Allah akan menghormati pemimpin gereja. SOP (standard operating procedure) kerajaan Allah menyatakan bahwa setiap jemaat  dilarang keras mengusik orang yang diurapi yang karena mereka adalah biji mata Tuhan[5]. Namun orang juga harus tahu bahwa jemaat memiliki identitas yang sama bukan sebaliknya menjadi  biji salak yang dengan mudah dibuang. Pemimpin sejati seharusnya tahu menghargai kawanan domba bukan malah menceraiberaikan. Allah saja menganggap semua orang percaya sebagai kawan sekerja, bukan sebagai kompetiter. Pemimpin yang tidak mewakili Allah sudah pasti akan mewakili dirinya sendiri, maka ia  akan selalu curiga terhadap orang lain yang mengancam kedudukannya.

Jabatan rohani seharusnya  tidak bisa terpisah dari pribadinya, sehingga enak didengar telinga dan indah di pemandangan mata. Sekalipun banyak kehormatan yang diberikan namun demikian essensi sesungguhnya dia seorang jongos yang memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yakni menerima sanjungan darimanapun juga. Karena segala kehormatan hanya layak diberikan kepada Sang Majikan Agung Yesus Kristus. Orang harus belajar seperti apa yang Yohanes ucapkan : “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil[6]. Pemimpin sekarang sering kali jongkok tetapi di atas gunung jadi tetap saja tinggi hati. Setiap perkataan dan keputusannya selalu bermuara dari jabatannya bukan dari hatinya. Sebagai dampak buruk dari keputusannya selalu “plin-plan” yang ada hanya mencari massa yang berduit dan berpengaruh untuk  menghancurkan orang lain. Gusti mboten sare alias Tuhan tidak tidur.  Alkitab dengan keras mengatakan mereka yang sesat bukan mereka yang di luar Tuhan tapi buat para pemimpin yang tidak menyadari apa yang ditabur itu akan dituai[7], karena setiap orang akan menuai apa yang telah ditaburnya.

Pesona keindahan pemimpin gereja seharusnya elok bila masih original dari hati nurani yang murni namun jika aura pesonanya membias ke ranah keduniawian maka akan mendatangkan prahara dan tsunami yang meluluhlantakan ekosistem yang sudah tersusun rapi dari generasi ke generasi. Keindahan, kesatuan dan kekeluargaan yang menjadi ciri utama selama ini akan tinggal kenangan. Disini bukan persoalan segala sesuatu ada masanya tetapi kebodohanlah yang membuat sang pemimpin tidak mampu menyatukan perbedaan melainkan mempertajam dan mengasahnya bagaikan pisau yang menyembelih perlahan-lahan. Orang dibuatnya tidak tahan oleh trick-trick kotor dari ambisinya mempertahankan jabatan. Dengan membuat opini ajaran sesat dan seolah-olah ajaran orang lain di bawah standar yang tidak sinkron dengan patron kebenaran. Namun bila ia ditantang untuk duduk bersama bicara tentang kebenaran,  maka ia akan “kicep” alias speechless karena ia tidak tahu harus ngomong apa.

Sebelum seseorang memvonis orang lain sesat, seharusnya melalui analisa yang mendalam valid, akurat dan tidak dadakan, seharusnya melalui pergumulan yang panjang. Pengamatan theologianya harus menggunakan dasar yang kuat. Maklumat sebuah organisasi besar harus melalui stemple resmi dengan tanda tangan sebagai bukti elegant organisasi yang kuat. Bukan seperti pecundang via sosial media  yang beredar meleter seperti perempuan sundal yang  "nyinyir"  menganggap orang lain sesat dan bejat. Coba saja jika pihak disana mengumpulkan pengacara untuk menuntut balik pencemaran nama baik? Tidakkah mencoreng muka sendiri? Sudah tidak adakah nurani dan etika kekristenan?  Kalau tidak tahu jangan ngomong tapi jika ngomong jangan tidak tahu. Orang harus mengaca diri seberapa besar kemampuannya mengatakan orang lain sesat. Berapa banyak karya theologianya? Berapa pengaruhnya? Mereka yang bicara tanpa data atau membaca sepintas lalu dan menyitir dan memenggal kalimat demi kalimat dan menganggapnya dokma adalah orang-orang bodoh yang tuli, bisu dan buta. Tidak peduli lulusan doctoral luar negeri tetapi mereka bottomless dan memalukan. Musuh kita memang bukan melawan darah dan daging tetapi pendeta yang berdarah daging sering kali dirasuki oleh penguasa di udara sehingga bicaranya nglantur maunya menang sendiri. Walau tulisan ini terlambat namun akan menjadi catatan sejarah pernah ada orang bodoh yang sok tahu menyerang orang lain seolah-olah dirinya paling benar dan paling suci, padahal sebenarnya tidak lebih dari kanak-kanak yang sedang rebutan permen dan coki-coki. 

Performance  seorang pemimpin  di muka umum seharusnya merupakan manifestasi dari kedalaman kerohaniannya. Jika ia tidak terbiasa tinggal di kedalaman hadiratNya maka ia akan membahayakan dirinya sendiri dan merusak serta merontokkan bangunan yang ada. Lebih celaka lagi jika dianalisis dengan konteks keduniawian ternyata dirinya memenuhi standar hedonisme maka ia tidak layak sama sekali menjadi pemimpin. Hal ini penting karena ujung-ujungnya ia hanya akan mencari hidup dan bukan memberi hidup bagi kawan sekerja maupun umat Allah. Lihat saja realitasnya orang-orang sekelilingnya adalah taipan-taipan gereja yang mengelilinginya dan sekaligus menjadi rajanya di dalam kepemimpinannya yang sanggup memberikan kontribusi apa yang dia mau. 

Jika demikian maka ia akan menganggap bahwa jabatan yang diembannya merupakan hasil usahanya sendiri dan dukungan taipan gereja yang dianggapnya bisa mempertahankan jabatannya sehingga ia hanya menjadi boneka dan rela melucuti dirinya dan menghamba kepada sesama. Inilah yang menjadi kemarahan Tuhan sehingga Ia mengutus Yesaya untuk mengatakan : “Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan[8]Jika ia terus nekad dan tetap memaksimalkan diri untuk terus berusaha mempertahankan jabatannya, maka Tuhan berkata : “Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan  engkau, --demikianlah firman TUHAN[9]

Orang harus sadar bahwa pemimpin rohani bukan sekedar menjadi pemimpin organisasi saja melainkkan sebagai pemimpin organisme[10] yang mengendalikan kawanan umat pilihan yang terhisab dalam lembaga gereja. Jika ia sendiri berfocus kepada jabatan organisasi saja dan mengabaikan organisme yang ada maka malapetaka telah melibas habis tatanan kepemimpinan yang diembannya. Dimatanya hanya ada bagaimana mempertahankan jabatan dan fasilitas empuk, dan prestise.  Tidak peduli kawan seperjuangan maka jika dirasa mengganggu dirinya maka kata pecat dan segera di deportasikan[11] bak orang asing yang melanggar izin tinggal. Demikian orang-orang yang dianggapnya membuat alergi dirinya akan segera diusik supaya keluar dari organisasi yang dipimpinnya. Sadis memang!

Kebenaran penting harus diingat kembali bahwa essensi dari kepemimpinan kerohanian bukan jabatan keduniawian melainkan sebuah kehormatan melayani umat Allah. Yesus sendiri mengatakan : “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda  dan pemimpin sebagai pelayan[12]. Dengan kata lain pelayanan yang murni tidak boleh terkontaminasi dengan berbagai trick-trick politik atau issu-issu kepentingan pribadi. Bila hal itu terjadi maka maka ia sudah membunuh hati nuraninya sendiri baik dihadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Banyak orang salah persepsi bahwa jabatan rohani seperti layaknya pemilu. Jika ia berhasil memenangkan kompetisi jabatan maka ia akan berhutang mahar terhadap kelompok yang memenangkannya. Sampai kapanpun ia akan tetap mengabdi kepada sang majikan yang dianggapnya memenangkan pertarungan. Dampaknya setiap keputusan harus meminta persetujuan sang jurangan sehingga ia tidak lebih hanya boneka atau pion yang dikendalikan disana-sini.

Pemimpin rohani seharusnya menyadari dirinya adalah pilihan Tuhan. Ia harus berdiri sebagai pribadi kuat yang selalu mencari perkenananNya. Jika tidak demikian maka Ia tidak layak untuk Tuhan sendiri[13]. Ia harus sadar keberadaannya bukan karena pilihan orang banyak melainkan karena Tuhan menghendaki ia menjadi pemimpin umat. Jadi dengan demikian ia tidak harus stress mencari muka terhadap orang yang mendukungnya melainkan harus mendapati dirinya berkenan kepada Allah. Tidak mudah memang namun mau tidak mau perkenanan Tuhan untuk tetap berdiri menjadi pemimpin gereja merupakan pesona yang indah di pemandangan Tuhan dan umat Allah. Orang harus sadar jika hubungan dengan jemaat lebih dominan melebihi hubungannya dengan Tuhan maka dapat dipastikan hubungan itu sifatnya merusak. Jika sudah demikian maka seorang pemimpin akan kehilangan jati dirinya. Aura[14] hidupnya akan mulai redup ibarat garam sudah menjadi tawar dan tidak bisa diasinkan.

Seorang pemimpin harus lebih rohani dari pada orang yang dipimpinnya, itu merupakan hal yang paling hakiki. Jika tidak demikian ia akan mudah diombang-ambingkan oleh mereka yang memiliki ambisi terselubung. Lebih celaka lagi bila sang pemimpin tidak memiliki kepekaan karena tertutup dengan nafsu kekuasaan. Kerohanian merupakan dasar utama sehingga ia berani berkata : jika ada orang lebih kaya, lebih terhormat, lebih terkenal itu tidak masalah bahkan puji Tuhan. Namun jika ada orang yang lebih berkorban dari saya, lebih setia dari saya atau lebih kudus dari saya maka saya akan belajar dari dia. Itu baru perkataan pemimpin. Banyak pemimpin tanpa pengorbanan bisa berdiri menjabat karena koneksi, relasi dan hokky,  dia tidak sadar bila kapasitasnya bila ditimbang-timbang dan berbunyi : “Mene, mene, tekel ufarsin6. Yang berarti ditimbang dalam neraca dan didapati terlalu ringan sehingga bernasib seperti Belzasar. Sebelum dipermalukan Tuhan lebih baik kita perlu memiliki rasa malu sendiri.

Seorang pemimpin rohani seharusnya menyadari bahwa jabatannya adalah anugerah yang berasal dari Tuhan sehingga harus dipertahankan dengan karakter yang serupa oleh pimpinan Roh Kudus. Kedudukannya tidak boleh dipertahankan dengan cara-cara licik yang mengorbankan orang lain. Ia lupa bahwa anugerah itu harus dipertahankan dengan iman dan takut akan Tuhan. Orang harus sadar pemimpin rohani tidak bermodal seperti menjadi pejabat dalam dunia politik yang harus membayar mahar. Pemimpin rohani harus membayar mahal akan hubungannya dengan Tuhan dan bukan dominan mencari dukungan untuk mempertahankan jabatannya. Ingat apa yang Paulus nasehatkan :

Benarlah perkataan ini:  "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat,  suami dari satu isteri,  dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan,  cakap mengajar  orang,

  bukan peminum, bukan pemarah  melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,  seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati  oleh anak-anaknya. 

Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat  Allah? 

Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong  dan kena hukuman  Iblis. 

Hendaklah ia juga mempunyai nama baik  di luar jemaat,  agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. 

 

Syarat-syarat bagi diaken

Demikian juga diaken-diaken  haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur  jangan serakah, 

melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani  yang suci. 

Mereka juga harus diuji  dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. 

Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, 

hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. 

Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. 

Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik

sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.[15]

 

 

            Melihat fenomena model kepemimpinan di atas, maka artikel ini bukan hasil dari imaginasi liar melainkan manifestasi dari analisa dalam perspektif yang edukatif secara spirit.  Pelajaran penting yang harus dipahami adalah pertama bahwa sekalipun seorang pemimpin berasal dari Tuhan  bukan merupakan jaminan ia selalu berkenan kepada Tuhan sepanjang masa. Jika dia tidak menjaga hati nuraninya yang bersih maka ia akan jatuh dalam berbagai pencobaan[16]. Betapa pentingnya menjaga hati nurani yang bersih dan tidak boleh terkontaminasi oleh apapun juga. Paulus mengatakan : sebab aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia[17]. Allah sebelum memakai kita maka Ia akan bekerja di dalam diri kita. Jika suasana hati yang di dalam busuk maka manifestasinya akan berbau comberan.

Saul adalah pemimpin yang dipilih Tuhan dan diurapi oleh Samuel sendiri sebagai nabi Tuhan[18]. Namun apa realitasnya? Ia memiliki kebencian yang luar biasa dan ingin menyingkirkan Daud. Walau dia sadar hati nuraninya berkata bila dibanding raja Daud dia kalah jauh, dari segi kemenangan perang, pengorbanan, kecerdasan terlebih kedekatannya kepada Tuhan. Saul semakin menutupi kelemahan dirinya dengan membenci Daud maka ia merusak lembaga yang dipimpinnya yakni kerajaan Israel. Hilangnya Daud yang menjadi kaki dian dari Israel membuat Israel jatuh dalam kekalahan dan kegagalan.

            Berangkat dari hati nurani maka pemimpin rohani akan mengembangkan kepekaan roh. Karena semua persoalan tidak bisa hanya diselesaikan secara dokma theologia melainkan juga ada etika gereja dimana disana ada hikmat, penggembalaan dan kasih yang tercurah. Pemimpin tidak hanya mencari domba yang hilang melainkan harus bisa merawat sesama gembala tidak malah membuangnya dengan cara-cara mengskenario kesesatan yang meleter seperti perempuan sundal. Orang boleh punya fasal-fasal dan ayat-ayat tetapi jika tidak ada kasih dia bagaiakan gong dan canang yang bergemerincing.  Jika seseorang menghancurkan dengan menggunakan tangan orang lain, bukan sifat satria. Ia tidak sadar bahwa semua orang yang dibodohi adalah orang-orang pintar yang hanya geleng kepala dan mencibirnya dan berkata : “najis dan menjijikkan” engkau bukan son of God but son of got (alias comberan). 

Logika berpikirnya tumpul karena tidak pernah diasah oleh kepekaan Roh. Banyak pemimpin-pemimpin jemaat dikatakan dungu dan goblok oleh Tuhan, Yesus Kristus tidak kehilangan bahasa yang keras dan sangat kasar untuk para pemimpin rohani seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Matius 23 berisi deretan perkataan pedas dari Yesus Kristus untuk para pemimpin spiritual yang bernafsu bejat dan sok rohani. Realitasnya dari tangan merekalah Yesus berhasil disingkirkan dengan keji dengan menggunakan tangan Pontius Pilatus. Banyak pemimpin rohani mengharapkan akan berhappy ending dalam pelayanannya tetapi sebaliknya yang terjadi mereka terbuang jauh dari hadapan Allah.  Paulus mengingatkan kebenaran penting untuk para pemimpin rohani supaya dapat hidup berkenan kepada Tuhan sampai akhir hayatnya tidak tertolak dalam kekekalan nanti melainkan disambut dengan oleh Tuhan sendiri, katanya : “tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak [19]. Jangan pernah menciptakan jabatan sebagai berhala yang seolah-olah menjadi majikan kita. seharusnya jabatan yang ada sebagai alat untuk mempermuliakan Tuhan bukan sebaliknya menutupi wajah Tuhan , orang harus ingat bahwa pangkat jabatan dan gelar yang akan hilang seiring tutup usia kita, itu pasti dan tidak pernah bisa disangkal, tinggal tunggu waktu.  Berhentilah bersandiwara dengan topeng kemunafikan dan kebodohan melainkan buka nurani yang tulus sehingga kita bisa hidup Serupa Kristus oleh Pimpinan Roh Kudus untuk membawa bahtera pelayanan besar ini ke pelabuhan Sorga Abadi.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

(tulisan ini lahir hanya untuk mengenang ketidakadilan dan bullya terhadap hamba Tuhan yang banyak berjasa dalam pelayanan)



[1] 1 Timotius 3:1 Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik  jemaat menginginkan pekerjaan yang indah."

[2] figur/fi·gur/ n 1 bentuk; wujud; 2 tokoh: peran ini merupakan -- sentral yang menjadi pusat perhatian

[3]  1 korintus 3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

[4]  Yohanes 10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

 

[5] Mamur 105:15 "Jangan mengusik  orang-orang yang Kuurapi , dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku! "

[6] Yohanes 3:30

[7] Galatia 6:6-7 angan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

 

[8] Yesaya 22:9

[9] OBAJA 1:4

[10] organisme/or·ga·nis·me/ n Bio segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, hewan, dan sebagainya); susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan tertentu: -- dari manusia dan hewan;

[11] deportasi/de·por·ta·si/ /déportasi/ n Huk pembuangan, pengasingan, atau pengusiran seseorang ke luar suatu negeri sebagai hukuman, atau karena orang itu tidak berhak tinggal di situ;

 

[12]  Lukas 22:26

[13] Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia ?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

[14] Aura : dalam penggunaan bahasa sementara ada kata "Aura", tetapi maknanya bisa sangat berbeda. Bagi banyak orang, Aura hanya cahaya dari manusia. Bagi para ilmuwan, itu adalah, pancaran energi yang sudah ada, yang mengelilingi makhluk hidup. Aura ini berbentuk radiasi warna halus yang mengelilingi makhluk hidup. Wikipedia

 

[15]  1 timotius 3:1-13

[16]  1 Timoitus 1:19 Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka 

[17]  1 korintus 10:25

[18]  1 Samuel 15

[19] 1 korintus 9:29 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.