Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini1090
Kemarin1102
Minggu Ini5167
Bulan Ini3167
Total Pengunjung1524791

IP Kamu 3.233.229.90 Friday, 03 July 2020

Guests : 8 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

PENAWAR VIRUS CORONA

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

            

Miris membaca sebuah komen di sosial media, katanya, : Ya Allah kirimkan virus corona sebanyak-banyaknya karena kematian korban corona orang-orang seagamaku adalah sahid sementara kematian korban corona agama lain adalah  azab[1]. Masih ada juga orang memiliki mindset seperti itu di bumi pertiwi yang kita cintai. Bangsa ini sudah lama salah asuh, karatan dalam kesesatan, najis dalam pikiran dan brutal dalam tindakan. Perspektif ngawur yang berangkat dari  theologi kelirumologi umat dijejali ajaran-ajaran iblis yang diramu seolah-olah suci dari Sang Ilahi. Dampak dari konsumsi makanan rohani yang tidak bergizi itu mencetak umat yang liar bin bejat. Semua peristiwa dibawa dalam ranah agama dan politik. Mau dikata apa sekarang agama di obral dengan diskon sembilan puluh persen ditambah teriak dijalan-jalan. Mereka kemasukan roh nyinyir bin  lambe turah serta karakter ngeyel sendiri seolah-olah lebih suci dari Tuhan. Mereka seolah-olah memiliki hak veto atas sorga dan memvonia kafir seta mengazabkan siapapun  yang tidak sealiran dengan kepercayaannya.  Ini pasti ulah manusia setengah setan tiga perempat iblis yang selalu bikin ulah yang ngga jelas.  Kalau orang Indonesia asli biasanya santun, memiliki rasa empati,  bagi para korban corona tanpa memandang suku bangsa dan agama apapun. Beberapa orang di negeri ini terlalu cerdas dalam memodifikasi setiap peristiwa menjadi konsumsi agama dan politik. Orang tidak sadar perkataannya di mass media membuat andrenalin melonjak bukan saja marah tapi murka. Mau dikata apa, orang yang memiliki kebodohan sempurna terlalu bebal untuk dididik yang ada hanya dihajar dengan penderitaan dan malapetaka. 

            Soal sorga dan neraka bukanlah urusan manusia melainkan hak prerogatifnya Tuhan. Ranah kekekalan itu menjadi kedaulatan Tuhan sepenuhnya bukan manusia. Dialah yang memiliki hak veto tunggal sebagai penguasa jagad raya. KedaulatanNya memberi sorga dan menghukum orang ke neraka tidak boleh diambil makluk manapun termasuk orang Indonesia. Mereka yang asal "njeplak dan mangap"[2] meleter kemana-mana seperti kupu-kupu malam menjajakan diri disetiap sudut kota. Orang boleh goblok tetapi jangan terlalu sempurna dalam kebodohan, sedikit cerdas saja tidak perlu banyak sudah cukup. Jika umat ini dididik dengan benar maka Indonesia tidak rusak seperti ini dengan berbagai macam bencana yang menimpa. 

            Pemerintah yang sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik saja dalam penangangan virus covid-19 masih di vonis tidak ada kerjaan atau pura-pura bekerja tapi tidak ada pekerjaannya? coba zaman Presiden Soeharto? orang model begini sudah di comot tinggal nama saja. Untung saja Presiden sekarang lembah manah alias rendah hati dan tidak dendaman, namun jangan terlalu kurang ajar juga. Mungkin Presiden yang paling banyak di hujat di dunia ini adalah Presiden Indonesia. Kita tidak juga berharapa kita memiliki  Presiden seperti Korea utara yang one man one outority tapi orang Indonesia sekarang tidak bisa diberi hati. Terlalu kasar dalam berbicara dan liar dalam bertindak bahkan menjurus kebiadab. Apalagi mereka yang menempatkan dirinya sebagai oposisi pemerintah. Sebagus apapun yang dilakukan pemerintah pasti dicelanya dan nyinyir tanpa solusi. Celakanya yang berbicara seperti itu adalah mereka yang menyandang gelar-gelar rohaniawan yang seharusnya menjadi hamba Allah tetapi malah menjadi hama manusia. 

            Analisa paradigma ngawurisme yang sudah melekat bertahun-tahun akan sangat sulit diluruskan. Orang model begini akan bertobat bila sudah di twenty one alias kuburan, itupun tidak menjamin masih ada pertobatan atau tidak di alam sana. Hukum karma sebab akibat tabur dan tuai biasanya berbicara taburnya di bumi ini akan lebih banyak menuainya dalam kekekalan entah itu kebinasaan atau kehidupan kekal. Orang harus memahami seluk beluk dan arti agama yang sebenarnya baru dapat berkata benar. 

            Etimologi agama berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau (teratur). Dengan demikian agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama[3].  Dilihat dari etimologinya agama merupakan cara-cara manusia untuk menemukan Tuhan agar berintervensi dalam kehidupan. Adapun tujuan akan penemuan Tuhan tersebut adalah zona nyaman, ketenangan jiwa, damai dan keselamatannya.  Di Indonesia beda para pemeluk agama yang resek sudah beralih jalur dari zona nyaman menjadi  zona demo, perang dan kekacuan. 

            Setiap orang memiliki kesadaran beragama (religious conciousness). Kesadaran tersebut tidak berhenti hanya pada pengetahuan dan perasaan melainkan dalam pengalaman beragama (religious experience). Prof. DR H.M Rasyidi dalam filsafat agama mengatakan : “ Unsur-unsur yang terpenting dalam agama adalah rasa pengabdian (dedicate) atau kepuasasan (contentment). Tiap-tiap pengikut agama merasa bahwa ia harus mengabdikan dirinya sekuat-kuatnya kepada agama yang dipeluknya. Selanjutnya Rasyidi mengatakan bahwa Dialectical materialism  merupakan suatu agama juga oleh karena para pengikutnya merasa berkewajiban mengabdikan dirinya untuk menyebarkan pahamnya itu[4].  Menyebarkan agama bukan berarti menjelek-jelekkan agama lain. Para tokoh agama yang baru hijrah agama lain, mimbar sebagai tempat menyampaikan dianggapnya borok agama lain. Kebenaran itu sangat tidak mendidik dan palsu total.   

            Kaum Daois (daozhi) memandang agama sebagai semacan “kecakapan” yang diperoleh melalui latihan terus menerus (Kl. 370-311 SM) salah satu tokoh terpenting dalam sejarah spiritual cina, menjelaskan bahwa tidak ada gunanya menganalisis ajaran agama secara logis[5].  Kemudian ia menjelaskan dengan cara mengutip Bian si tukang kayu : “ketika saya mengerjakan sebuah roda, jika saya menekan terlalu pelan, meskipun nyaman  saya tidak akan menghasilkan roda yang baik. Jika saya menekan terlalu keras, saya jadi lelah dan hasilnya tidak bagus!Jadi jangan terlalu pelan jangan terlalu keras. Saya memegangnya di tangan saya dan merasakannya di dalam hati. Saya tidak dapat menyatakan ini dengan perkataan di mulut, saya hanya tahu. Dia telah menyempurnakan kekuatan konsentrasinya sehingga dirinya larut dalam pekerjaannya, dan tangannya seolah-olah bergerak dengan sendirinya. Keadaan kehilangan diri ini, jelas Zhuangzi adalah sebuah ekstasis yang memungkinkan anda melangkah keluar dari prima ego dan mengalami yang Illahi[6].

            Agama merupakan ritual ibadah yang mengarah kepada kerohanian (spiritualitas) para pemeluknya. Ini terjadi bila terus menerus berlatih tanpa henti selama hidup. Karena tidak mungkin seseorang bisa berenang bila hanya menekuni teks dan teori. Seorang tidak mungkin bisa menari, menyanyi dan bermain piano bila hanya melihat dan mengamati teks dan teori. Yang dibutuhkan selain pengamatan tersebut adalah praktek yang terus menerus sehingga dapat menyatu dengan apa yang ditekuninya.

            Bila seseorang berulang kali mempraktekkan hukum Tuhan yang penuh kasih maka manifestasi segala tindakan perkataan dan pikiran semua bernuansa kasih. Hal ini bila agama itu berpautan dengan Tuhan yang penuh kasih. Sebaliknya jika seseorang bertuhankan setan maka agamanya akan beringas dan berandal. Mereka memberi nilai terbaik untuk dirinya sendiri dan memberi point terburuk buat yang lainnya. Harus diakui yang ada di dalam mind set mereka adalah kejahatan. Sekalipun mulut mereka mengucapkan nama Allah namun manifestasi perkataannya adalah perbuatan setan. 

            Sebenanya agama pertama kali dicetuskan oleh politisi, filsuf, dan orator Yunani Kuno Marcus Tullius Ci-cero (tahun 106-43 SM)." Istilah ini seharusnya berasal dari bahasa Latin "religio" - penyesalan , kesalehan, teopati, objek kultus; “Relig-are” - untuk mengikat, melampirkan; "Religere" - untuk kembali, merenung, takut[7]. Saat ini terdapat lebih dari seratus definisi agama, daftar terlengkap mereka dapat ditemukan di Oxford Dictionary. Definisi yang ada dapat dibagi menjadi definisi eksklusif yang menekankan absolutitas dari satu agama tunggal dan juga mengandung definisi agama ini saja. 

            Definisi agama oleh penulis Kristen yang kembali ke Lactantius: “Agama adalah tautan ke Tuhan melalui kesalehan seseorang ” dan juga tulisan E. Fromm “Saya mengerti dengan agama sistem pemikiran dan tindakan yang dibagikan oleh kelompok yang individu sebuah kerangka orientasi dan objek pengabdian. Essensi agama adalah hubungan dengan Tuhan yang membutuhkan pengabdian.

            Senada dengan pernyataan di atas Gregory dari Nyssa, di dunia yang diliputi kematian, di mana segala sesuatu terus-menerus bergerak menuju ketiadaan. Dan ini adalah akar dari semua penyakit kita. Karena tidak seperti binatang, kita tahu kita akan mati. Tetapi kesedihan kita adalah sumber rahmat, karena itu menunjukkan kerinduan akan keberadaan dan persatuan, kerinduan makluk yang insani untuk menyatu dengan yang Illahi[8]

            Substansi dari agama itu sendiri adalah keyakinan pada keberadaan makhluk gaib atau realitas gaib. "natural - dikotomi supernatural dianggap dasar untuk keberadaan agama. Dalam hal ini agama dapat didefinisikan sebagai" sintesis kepercayaan pada supranatural dengan ritus yang ditujukan untuk supranatural  "Definisi jenis seperti itu tidak diungkapkan. pertanyaan tentang apa sebenarnya supranatural itu. Mari kita beralih ke asal kata "alami". "adalah turunan dari kata" alam   adalah sinonim lain dari kata ini -" super esensial "." supernatural adalah fenomena  yang berada di luar hukum alam, dan hubungan dengan fenomena ini dipengaruhi oleh agama[9].

            Rudolf Otto, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman yang menulis buku penting The Idea of The Holy Tahun 1917 percaya tentang hal yang gaib ini (numinous) adalah dasar dari agama. Perasaan itu mendahului setiap hasrat untuk menjelaskan asal usul dunia atau menemukan landasan bagi perilaku etika. Kekuatan gaib dirasakan oleh manusia dalam cara yang berbeda-beda –terkadang ia menginspirasikan kegirangan, liar dan memabukkan, terkadang ketentraman mendalam terkadang orang merasa kecut, dan hina dihadapan kehadiran kekuatan misterius yang melekat dalam setiap aspek kehidupan[10].  

            Albert Einstein mengatakan : “ agama masa depan akan berupa suatu agama kosmik. Agama itu akan melebihi Tuhan sebagai pribadi dan tidak bersifat dogmatis maupun theologis. Karena meliputi segala aspek yang bersifat alami maupun spiritual. Agama itu akan didasarkan pada suatu perasaan religious yang muncul dari pengalaman atas segala sesuatu yang bersifat alami maupun spiritual sebagai suatu kesatuan yang bermakna. Budhisme menjawab uraian ini.. Apabila ada agama yang mampu memenuhi kebutuhan ilmiah modern, saya yakin itu adalah ajaran Budha[11]. Mengapa demikian? karena kelak orang tidak bertanya apa agamamu melainkan bagaimana budimu baik atau jahat! 

            Orang yang menerima pencerahan dampaknya dapat membebaskan orang lain. Lama Yeshe seorang tokoh spiritual Tibet mengatakan : “ engkau tidak akan menolong orang lain apabila engkau sendiri tak dapat menolong diri sendiri?, katanya lebih lanjut, tidak ada yang ia miliki atau ketahui yang tidak dapat kami miliki atau ketahui juga, Bebaskan dirimu , maka engkau akan membebaskan dunia… bukalah pintu hatimu dan bangunkan pikiranmu maka engkau akan ada di sana[12]. Dalam keterangan selanjutnya Lama Surya Das memberikan pengertian bahwa semua orang bisa menjadi Buddha sekalipun tidak beragama buddha yakni mereka yang mempraktekkan ajaran-ajaran kebaikan. Seperti perkataan Yesus : “Kerajaan Allah ada diantaramu (Luk 17:21) demikian juga semua diterangi dari dalam diri kita sendiri seolah-olah dari suatu sumber yang suci[13].             

            Karl Marx mengatakan bahwa : “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.[14] Secara hurufiah kalimat tersebut memiliki arti agama adalah desah napas keluhan dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi masyarakat. Bila dianalisis secara konstekstual Karl Mark Ingin mengatakan bahwa agama dapat meringankan beban penderitaan. Namun publikasi yang gencar telah masuk ke ranah ideologis sehingga memiliki makna yang berbeda.  Semula Tuhan dianggap opium dan kemudian agama, namun sebenarnya tidak demikian halnya. 

            Filosophi tersebut ditulis oleh Karl Marx pada tahun 1843 dan terbit pada tahun 1844 di Paris dalam jurnal Deutsch–Französische Jahrbücher,[15]  Karl Mark tidak pernah berpikir bahwa ia sedang membuat ramalan agama di masa depan. Realitas yang ada sekarang agama benar-benar menjadi opium yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran para pengikutnya. Harapan bahwa agama bisa meringankan penderitaan malah sebaliknya memberikan beban berat, menciptakan kekacauan dan kerusakan dimana-mana. Orang yang mabuk agama sudah kehilangan Tuhannya. Ayat-ayat masih ada di tangan tetapi yang ada ayat-ayat berdarah yang penuh kebencian, fitnah, melecehkan orang dan mengkafir-kafirkan orang lain. Tuhan Sang Pencipta yang sangat berintegritas tidak mungkin mengucapkan kebenaran yang bertentangan dengan karakterNya sendiri. 

            Agama benar-benar menjadi candu para pemeluknya bila kebenaran yang dianggapnya absolute telah menghapus pola pikir normal dan memunculkan nafsu liar yang  menghancurkan tatanan kehidupan.  Analisis ini didasarkan pada para tokoh-tokoh spiritual yang telah terindikasi memanipulasi kebenaran sebagai kebenaran lokal yang merusak tatanan global sehingga terjadi kehancuran peradaban yang ada. Aktualisasi yang ada sekarang berkumpulnya puluhan atau ratusan orang yang menyebut nama Allah tidak lagi menyejukkan jiwa  namun sebaliknya menjadikan orang takut dan menghindar menjauhinya.  Memobilisasi massa demi meraih kekuasaan, pangkat dan jabatan atas nama agama adalah tindakan bertolak belakang dengan kebenaran itu sendiri. Masyarakat sudah terlanjur terhipnotis oleh kebenaran yang diselewengkan maka mereka memanifestasikan keberingasan dan sikap ketidakberadaban. Pemicu anarkhis dan brutalisme yang identik dengan produk-produk kegelapan tercipta oleh para pemeluk agama yang tidak sesuai dengan patron kebenaran sejati.  

             Prinsip utama agama menjadi opium adalah para rohaniawan mampu mengindoktrinasi kepalsuan seolah-olah menjadi kebenaran hakiki sehingga para penganutnya dapat digerakkan sesuai dengan tujuan tertentu. Spiritualitas yang murni seharusnya berada dalam ranah hati yang tulus dengan ekspektasi karakter yang baik bukan sebaliknya menjadi provokator kejahatan dan teroris.  Tidak berhenti sampai disitu gerakannya lebih massif  dan bermultifikasi memasuki kehidupan berbangsa dan bernegara. Ritual spiritualitas modern  telah terindikasi oleh penafsiran yang fatal demi kepentingan politik dan kekuasaan. 

            Yongki Karman mengatakan : “Devaluasi agama di tanah air bukan oleh sekularisasi tetapi oleh politisasi agama, yang dalam bentuk radikalnya berbentuk main hakim sendiri dan merusak tatanan hidup bermasyarakat. Efek devaluasi agama ini jauh lebih mengerikan ketimbang devaluasi yang sama di negara sekuler[16] Seharusnya agama yang benar adalah memadukan kerohanian dan akal budi untuk membuat kebahagiaan. Hamzah mengatakan : betapa bahagianya pencari-pencari Tuhan yang merindukan penciptanya itu, ketika mereka disambut mesra oleh Tuhan sendiri dalam bentuk petunjuk yang di wahyukannya melalui rasul-rasulnya. Disanalah terdapat perpaduan antara naluri, akal dan wahyu yang membuahkan ma”rifat pengenalan  terhadap Allah dengan sebenar-benarnya[17].

            Sebenarnya peran agama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Ruang lingkup agama itu sendiri berguna untuk mengatur tatanan dalam berkeluarga, berbudaya dan melestarikan keharmonisan penduduknya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki masyarakat yang taat kepada agamanya. Jika masyarakat memiliki hubungan yang benar dengan Allahnya maka hubungan satu dengan lainnya akan terjalin yang baik juga sebab ajaran agama pada umumnya memiliki esensi untuk saling mengasihi dan menghormati.  

            Fakta  kehidupan agama yang dianut sebagian besar masyarakat pada umumnya sudah terdegradasi oleh banyak faktor. Rusaknya agama sendiri tidak disebabkan oleh essensinya melainkan para penganutnya sebagai faktor internal. Dalam hal ini para penganut agama tidak memahami secara mendalam akan kebenaran kitab sucinya. Sekalipun mereka dapat menghabiskan pembacaan kitab sucinya secara keseluruhan namun mereka terpisah dari sang pemberi kebenaran tersebut. Agama tidak boleh dipakai untuk mengeksploitasi kebobrokan moral dari massa yang beringas dan bar-bar seperti pada masa pra sejarah.

            Agama yang benar seharusnya dapat menjadi pedoman hidup dan menjadi tolok ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran harus dihormati sehingga baik atau tidaknya tindakan seseorang tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap agama yang diyakini.  

            Kalau ada agama yang memastikan atau menggaranti para pemeluknya masuk sorga maka seluruh dunia akan berbondong-bondong menjadi penganutnya. Namun tidak ada satu agamapun yang memastikan pengikutnya masuk sorga kekal. Mengapa sebab agama bukanlah pribadi yang sanggup memberi contoh atau tidakan yang baik. Agama bukanlah sumber teladan perbuatan yang patut mendapat nilai sempurna. Agama adalah kumpulan ajaran-ajaran dari berbagai orang yang dianggapnya rasul, nabi, santo atau santa.          

            Agama tercipta karena ketidakberdayaan manusia untuk mencari sesuatu di atas dirinya yakni pribadi yang supranatural. Jika demikian sebuah kitab suci akan berisi pengalaman orang-orang yang telah menemukan Dia yang di atas sana yang memberikan kebenaran melalui pewahyuan tentang sorga. Orang harus ingat tidak ada yang sempurna keluar dari mulut yang tidak sempurna. Celakanya manusia siapapun yang pernah lahir dari keinginan daging manusia tidak ada yang sempurna. Untuk itulah tidak ada yang berani menjamin keselamatan atau kepastian sorga. Orang perlu bersyukur Yesus Kristus tidak lahir dari hawa nafsu manusia melainkan dari Roh Kudus sehingga perkatan Allah yang sempurna keluar dari mulut yang sempurna yang tidak berdosa. Yesus Kristus telah memberikan benar-benar jalan yang lurus.

            Jalan yang lurus itu identik dengan perbuatan yang lurus, sehingga ketika Ia berbicara kesucian maka Ia tidak pernah berzinah satu kalipun. Adakah nabi dan rasul demikian ? jawabnya pasti tidak pernah ada! Ketika Ia berkata jangan membunuh maka satu kalipun Ia tidak pernah membunuh orang lain. Kehidupan yang sempurna yang menjadi tolok ukur kehidupan manusia. Jika orang mengklaim seseorang memiliki hidup yang sempurna menjadi teladan namun yang bersangkutan hidup kotor, najis selalu berzinah dan membunuh orang maka itu sebuah pelecehan terhadap kebenaran. Jika orang tersebut menjanjikan keselamatan sorga, ia sendiri tidak tahu masuk sorga? apakah layak diikuti? 

            Ketika Yesus menjanjikan Sorga maka Ia tidak bercela dalam perbuatanNya dan Ia sendiri meyakinkan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi menjadi milikNya. Informasi dari sorga bahwa satu-satunya jalan ke sorga tidak melalui agama melainkan melalui pribadi Yesus Kristus. Agama bisa menjadikan Jahat dan membantai sesama tetapi orang yang hidup dalam Kristus akan mempraktekkan kebenaran Allah dalam kasih untuk semua orang. Yesus Kristus tidak hadir untuk orang Kristen karena Ia juga bukan orang Kristen melainkan semua orang yang mau percaya.  

            Yesus Kristus yang matinya menggunakan mahkota duri dan mempengaruhi milyaran orang di seluruh belahan dunia dengan kebenaran sebaliknya virus corona yang juga berbentuk mahkota duri sedang menyebarkan virus yang membunuh orang. Solusi untuk penawar racun corona yang bermahkota duri adalah Yesus Kristus yang bermahkota duri. Iman inilah yang memastikan seseorang memiliki pemulihan sejati baik di bumi maupun dalam kekekalan nanti. Melalui Yesus yang bermahkotab duri siapapun yang terjangkit virus yang bermahota duri ini juga baik hidup atau mati tetap dalam tangan Tuhan. 

 



[1] Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya, sebagai akibat dari kesalahan yang pernah atau sedang dilakukan, dalam filsafat Islam. Dalam perspektif sunnatullah, keadilan akan mengantar pada kesejahteraan, siapapun yang melakukan. sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Azab

[2] bhs jawa membuka dengan cepat https://kamuslengkap.com/kamus/jawa-indonesia/arti-kata/jeplak, mangap/ma·ngap/ Jw v 1 membuka mulut; menganga (tentang mulut); 2 ki berbicara: jangan asal -- saja! sumber https://kbbi.web.id/mangap

[3]  Faisal Ismail. Paradigma Kebudayaan Islam : Studi Kritis dan Refleksi Historis, (Jogyakarta: Titian Ilahi Press: 1997). 2

[4]  H.M Rasyidi, filsafat agama, (Jakarta, NV. Bulan bintang, cet 5, 1983), 11

[5]   Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan, (Bandung) PT, MIZAN PUSTAKA, cet 1, 2011), 16 

[6]   ibid 16

[7]  Safronov AG., Psy-practice in Mistical traditions From the Antiquity to the present, (Kharkhov, PPB Kovalenko A.V 2011)12

[8]  Oliver Clement.,  The roots of Christian Mysticism,  (New York, New City Press), 15

[9]  Safronov AG., Psy-practice in Mistical traditions From the Antiquity to the present,  hal 14

[10]  Karen Amstrong., sejarah Tuhan (bandung, Mizan Meida Utama (MMU), cet XV, 2016),29-30

[11]  Lama Surya Das, Awakening The Buddha Within (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, cet 1, 2003), 1

[12]   ibid hal 12

[13]   Ibid hal 21

[14] Mc Kinnon, AM., 'Reading ‘Opium of the People’: Expression, Protest and the Dialectics of Religion'. Critical Sociology, vol 31, 2005 no. 1-2, pp. 15-38.

[15]  https://indoprogress.com/2017/08/memaknai-lagi-agama-adalah-candu-milik-marx/

[16]   Yongki Karman, runtuhnya kepedulian kita, (Jakarta PT kompas Media Nusantara, cet 1,  2010), hal 22

[17] DR.H.Hamzah yakub, filsafat ketuhanan (bandung: PT alma arif) cet,iv. Hlm, 112.

 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.