Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini436
Kemarin1062
Minggu Ini4926
Bulan Ini22425
Total Pengunjung1624277

IP Kamu 18.208.202.194 Friday, 25 September 2020

Guests : 9 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

DIMANAKAH PENDETA BERKARUNIA KESEMBUHAN

 DI SAAT WABAH CORONA ?

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

 

            Ada satu hal yang hilang disaat musim virus corona ini yakni karunia kesembuhan. Mereka yang sering kali mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani)  kesembuhan dan mujizat seolah-olah hilang tak berbekas. Mereka yang sering kali memiliki nyali mencelikkan mata orang buta, yang tuli mendengar, yang bisu dapat berbicara dan segudang mujizat ditawarkan bagaikan super market mujizat kini senyap tanpa suara. Hal ini juga tidak bisa disalahkan karena memang peraturan pemerintah meniadakan seluruh kerumunan massa termasuk gereja, mesjid, pure dan seluruh kegiatan pertemuan massa di stop. Orang yang berlalu lalang saja harus Social distancing dalam arti menjaga jarak satu dengan yang lain. 

            Jangankan mau meminta izin mengadakan KKR kesembuhan Illahi,  itu sudah pasti di tolak atau pendetanya ditangkap. Berkuampul lebih dari lima orang yang di hardik oleh polisi sehingga sangat sulit mengadakan KKR kesembuhan.  Untuk itu jangan mudah nyinyir dan mengkritik para pendeta yang suka kesembuhan,  tidak punya nyali atau jago kandang saja. Bahkan si nyinyi yang mulut ember itu berkoar para pendeta itu tidak bakal masuk sorga berdasarkan Matius 7:21-22. Bukan orang yang berseru-seru dalam namaKu akan masuk kerajaan Sorga melainkan mereka yang melakukan kehendak BapaKu. Orang-orang kristen yang kerjaannya hanya mengkritik orang dirinya tidak sadar bahwa ia tidak memiliki kemampuan seperti orang lain sehingga bisanya cuma njeplak saja. Kapan orang Kristen dewasa kalau pekerjaannya hanya mengkritisi tanpa prestasi rohani sedikitpun. Model begini bukan menjadi batu penjuru tapi batu sandungan atau skandalon dalam bahasa Yunaninya yang artinya perangkap yakni orang yang selalu bikin orang marah dan jatuh dalam dosa. 

            Memang harus diakui pendeta-pendeta kesembuhan jika sudah tiba wabah seperti ini sepertinya ciut karena uji nyali secara transparan.  Jika semua sehat tanpa pandemi secara global maka KKR kesembuhan dan mujizat Ilahi ada dimana-mana. Spanduk terpasang di perempatan, baliho-baliho besar mencolok mata akan KKR mujizat dan kesembuhan tapi jika sudah seperti ini keadaannya, semuanya kicep  alias speekless  tanpa suara sekalipun satu desisan saja. Inilah model pendeta-pendeta yang jago kandang, nyalinya ciut kalau sudah diperhadapkan dengan tantangan. Padahal sebelumnya produk knowledge [1] gerejanya adalah kesembuhan dan mujizat. Bergantinya musim corona ini,  adakah barang dagangannya masih sama?        

            Harus diakui banyak pendeta hanya jago kandang termasuk penulis. Pernah penulis harus kotbah di depan seluruh agama yang ada di Indonesia. Lapangan di tutup semua orang muslim, tokoh agama lintas agama, LSM seperti betawi rempug hadir juga mengikuti acara  Estiqosah. Penulis sempat mengajukan keberatan tetapi mau dikata apa sudah duduk di meja depan bersama para tokoh lintas agama. Bila selama ini gembar-gembor di gereja Yesus satu-satunya juru selamat, jalan kebenaran dan hidup barang siapa tidak percaya tidak akan sampai kepada Bapa. Dalam lingkungan gereja sangat ditekankan,  Yesus Kristus satu-satunya jalan keselamatan di luar Dia yang ada hanya kebinasaan.

            Apakah penulis harus menyampaikan kebenaran yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi dalam gereja ke ranah umum? jujur penulis tidak vulgar untuk menyatakan hal tersebut. Bisa-bisa pulang tinggal nama. Penulis harus menyampaikan dengan hikmat Allah bukan berarti jago kandang. Penulis mengatakan dengan jelas,  pribadi Yesus Kristus atau Isa Almasih Alaihisalam adalah satu-satunya pribadi yang bisa membereskan sesuatu yang kotor karena Ia bersih tidak bercela dan bernoda. Ia mendirikan jalan yang lurus dan tidak ada yang lain. Narasi kebenarannya sama cuma cara mengungkapnya berbeda. Penulis katakan dalam kotbah tersebut, Indonesia ini not only something rong but something it rooten. Di Indonesia ini bukan saja ada sesuatu yang salah tetapi sesuatu yang busuk. Tidak pernah ada orang yang bisa membereskan yang busuk selain intervensi Illahi Yesus Kristus. Akhir kotbah tidak terjadi huru-hara karena mereka mengerti kebenaran yang saya sampaikan juga tidak bertentangan dengan akidah mereka tentang Yesus Kristus. Memang harus diakui dimanapun Yesus berada tidak ada satupun kisah yang membuat noda dan cela sehingga kita malu menyampaikannya. 

            Mereka yang memiliki karunia kesembuhan mungkin bukan tidak punya nyali tetapi dengan hikmat marifat dari Tuhan dalam melayani pada musim corona ini. Persoalan utamanya selama ini, pelayanan kesembuhan sama sekali tidak mengandung resiko bagi para pelayan Tuhan. Di masa lalu pelayanan model ini malah menjadi tranding topik jika ada yang disembuhkan, hamba Tuhan yang mendoakan bak artis yang benar-benar famous. Kehadirannya selalu dinantikan orang-orang sakit yang mengharapkan kesembuhannya. Namun berbeda di era corona ini, tidak lagi seperti di masa lalu. Bila yang lalu sang Pendeta tumpang tangan untuk orang sakit maka hamba Tuhan yang menumpangi tangan tidak tertular. Namun berbeda sekarang, jika dulu sang pendeta tumpang tangan untuk orang buta, ia tidak menjadi buta. Untuk orang tuli, ia tidak menjadi tuli, tumpang tangan untuk orang sakit kanker tidak kena kanker. Namun jangan sekali-kali tumpang tangan untuk virus covid-19 ini akan sangat beresiko.

            Bila sudah demikian gelar Pdt (pendeta) langsung turun menjadi Pdp (bukan pendeta pembantu) melainkan Pasien Dalam Pengawasan. Penurunan jabatan itu karen ia  menjadi ODP (berarti orang dalam pemantauan). Predikat ini diperuntukkan untuk PDP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan dan gangguan saluran pernapasan. Gangguan saluran pernapasan itu bisa ringan atau berat, serta pernah berkunjung ke atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan Covid-19. Tidak hanya itu, PDP ini juga memiliki indikasi atau diketahui pernah berkontak dengan langsung dengan kasus yang terkonfirmasi atau probabel Covid-19[2].

            Gelar ODP juga diperoleh oleh Sang Pendeta yang berani tumpang tangan atas orang yag terjangkit virus corona. ODP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut. Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19[3].  Mengingat cepatnya penularan virus ini maka para hamba Tuhan harus benar-benar berpikir dua kali untuk melakukan KKR kesembuhan Ilahi. Virus ini menularnya lewat sentuhan atau perkataan yang menyembur keluar yakni droplet yakni percikan ludah yang menyembur dan mengenai orang lain. Bisa dibayangkan jika pendeta tumpang tangan dan mereka menangis histeris teriak dan ludah menyembur ke pendeta maka dalam hitungan detik sang pendeta langsung suspect alias terinveksi covid-19. Jika semua pendeta yang berkarunia kesembuhan dan membangkitkan orang mati berani mengadakan KKR Kesembuhan Illahi maka jika tidak memiliki iman sekelas dewa maka semua hamba Tuhan yang berkarunia kesembuhan hilang dari pasaran. 

            Belajar dalam sejarah Alkitab setiap malapetaka dan wabah yang terjadi bukan saja penyebabnya yang perlu diamati melainkan solusinya yang perlu dipelajari. Kisah perjalanan bangsa Israel pada waktu sampai di Gunung Hor dimana bangsa pilihan bersungut-sungut dan Tuhan menyuruh ular-ular tedung menggigit mereka. sebagai akibatnya banyak diantara mereka yang mati. Solusinya adalah Musa diperintahkan membuat replika ular melalui tembaga sdan menaruhnya di tengah-tengah bangsa Israel siapa yang memandangnya tidak mati sekalipun digigit oleh ular tersebut (Kel 21:4-9).

            Tokoh penyelamat harus ada di tengah-tengah mereka seperti Musa dengan ular tedungnya. Orang harus tahu bahwa Musa yang menyelamatkan bangsa Israel dari gigitan ular tedung tersebut menempatkan dirinya ditengah-tengah umat dengan media ular tembaga. Gambaran ular tedung ini mengacu kepada Yesus Kristus satu-satunya pibadi yang mampu menyelamatkan dari hukum maut yang tidak bisa terhindarkan oleh  setiap manusia. Virus Corona ini berbentuk seperti mahkota yang berduri setajam paku. Ukurannya yang kecil dapat dengan leluasa menghancurkan umat manusia diseluruh penjuru dunia. Solusi terbaik adalah mencari penawar racun yang diakibatkan dari virus tersebut yakni mahkota duri yang sesungguhnya yakni Yesus Kristus. Apabila Yesus hadir sendiri menjamah umat manusia wabah apapun tidak bertahan di hadapanNya.Namun persoalan utamanya ia tidak lagi hadir di bumi ini. KehadiranNya telah diwakili gerejaNya yang diberi kuasa penuh untuk mengusir setan dan menyembuhkan segala penyakit. 

            Gereja yang dimaksud adalah orang percaya yang harus bertindak seperti Yesus mempraktekkan kuasa yang Yesus berikan. Namun gereja sendiri tidak berdaya bahkan lebih parahnya lagi banyak orang-orang di dalamnya bukan hanya terpapar virus covid-19 tetapi dibuatnya tidak berdaya dan bahkan di renggut nyawanya. Apakah jenis ini tidak bisa di usir kecuali dengan doa dan puasa? (Matius 17:21). Kita juga tidak mengerti apakah kreteria covid 19 jenis ini? Namun yang pasti anak-anak Tuhan harus tampil ikut terlibat menangani virus ini bergandengan tangan bukan saling menyalahkan, mengkritik, saling hujat dan merasa paling hebat sendiri. 

            Bangsa Israel di hajar oleh Tuhan karena kesombongan Daud menghitung rakyat dan tentaranya namun tidak memasukkan suku lewi ke dalam daftar tersebut. Tuhan menganggapnya sebuah kesombongan yang harus mendapat hukuman, satu diantara hukuman tersebut adalah penyakit sampar. Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar  kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang ( 1 Tawarikh 21: 14). Keputusan pimpinan yang salah maka rakyat menjadi korban tujuh puluh ribu mati karena wabah sampar. Jika di analogikan peristiwa ini dengan keadaan sekarang betapa banyak pemimpin yang melakukan hal yang fatal? berapa banyak korban lagi berjatuhan? Namun solusi terbaik Daud berlutut dihadapan Tuhan dan memobon pengampunan. Hingga murka Tuhan surut menulahi bangsa Israel dengan virus sampar. Badai sampar yang membunuh tujuh puluh ribu orang itu berhenti hanya karena belas kasihan Allah.

            Harus ada orang yang menggerakkan bangsa ini dengan meminta belas kasihan dari Allah sendiri dengan pertobatan secara massal. PSBB  (Pembatasan Sosial Berskala Besar), memang penting, segala daya dan upaya yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah sudah baik. Namun sentuhan yang ada hanyalah yang natural yang tampak di mata saja. Padahal virus corona tidak tampak di mata sangat rahasia (mistik), maka solusi terbaik adalah meminta belas kasihan Allah. Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka ( 2 Taw 7:14)

            Dimanakah para Pendeta yang mengklaim dipakai Tuhan untuk mendemontrasikan kuasa kesembuhan bagi bangsa ini? sudah hilangkah? atau mereka termasuk korban yang berjatuhan? Pertanyaan ini mewakili banyak nitizen yang sering kali nyinyir di mensos, sungguh mereka tidak tahu apa yang mereka katakan. Kontroversi seputar karunia mujizat dan kesembuhan memang lagi tranding topik diantara orang percaya. Yang satu mengkritik yang lain memegahkan diri merasa dapat mandat dari Tuhan yang lain nimbrung ikut-ikutan mencari panggung supaya ngikuti kemuliaan orang lain supaya populer. 

            Hal utama dan terpenting bahwa karunia itu berasal dari Tuhan dan yang berotoritas memerintahkan adalah Tuhan. Jika ada orang benar-benar menerima mandat dari Tuhan untuk menghentikan corona biarkanlah jika itu memang dari Tuhan. Jika tidak? maka yang mengklaim memiliki otoritas akan bertanggung jawab kepada Tuhan sendiri. Orang yang membaca Alkitab mengerti pasti bahwa konsekwensi dari orang yang menerima otoritas itu jika salah, hukumannya adalah kematian. Ulangan 18:20 mengatakan : "Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. 

            Jika seseorang dipanggil menjadi nabi biarkanlah bekerja sesuai panggilannya karena dipanggil untuk bernubuat. Namun jika status yang mengucapkan bukanlah nabi melainkan guru, gembala, penginjil dan rasul maka akan menjadi blunder besar di dalam dirinya dan kemarahan orang lain.  Setiap orang bisa mengucapkan apapun atas nama Tuhan. Pertikaian demi pertikaian yang berangkat dari statemen seorang nabi  sudah biasa terjadi. Namun perkataan nabi seperti Elia, Yermia, Yesaya, dan masih banyak lagi, memang  selalu menimbulkan gejolak baik dari dalam maupun dari luar. Namun perkataan nabi-nabi ini selalu terjadi. Orang harus tahu nabi inilah yang dibutuhkan saat krisis di setiap kerajaan di dalam Alkitab. Sejarah mencatat semua krisis di Israel bisa pulih karena ada nabi yang menyuarakan suara Tuhan.Namun jangan salah banyak nabi yang dibenci Tuhan juga.  Zefanya 3:4 mengatakan : "Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat. 

            Tragedi gereja di akhir zaman ini, terjadi karena para hamba Tuhan yang melayani tidak tahu dimana karunia yang dimilikinya. Seorang guru merasa diri bisa bernubuat, seorang gembala merasa memiliki karunia rasul, seorang rasul merasa diri bisa melakukan segalanya. Paulus dengan tegas mengatakan : "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi ( 1 Korintus 12:28:31)

                        Paulus mengatakan dengan tegas bahwa karunia nabi, rasul, pengajar,  dilanjutkan dengan kata selanjutnya mereka yang mendapat karunia mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin dan bahasa roh. Siapa yang mendapat karunia itu? tidak dijelaskan secara rinci bisa nabi, rasul, pengajar. Namun bagi orang Korintus sudah pasti tahu karena mereka termasuk jemaat pintar walaupun banyak dosanya. Biasanya nabi itu bernubuat dan melakukan mujizat, rasul melakukan kesembuhan dan pengajar bisa memimpin dan masih banyak lagi. Baik rasul, nabi dan pengajar bisa mendapat otoritas dari Tuhan tapi tidak boleh untuk kesombongan. (perlu pembahasan khusus)

            Mungkin seorang pengajar tidak tertarik karunia kesembuhan dan mujizat karena apa? memang panggilannya adalah mengajar dan memimpin orang untuk menjadi dewasa. Di benak para pengajar maka yang ada adalah kedewasaan, mendekatkan diri kepada Tuhan, kerohanian sempurna bukan melulu soal berkat, mujizat dan kesembuhan. Itu realitas yang ada! seorang pengajar murni ia tidak mau diributkan soal mujizat, bahasa roh dan kesembuhan, mengapa karena itu hanya sekedar bonus namun yang pokok seperti kata Paulus aku akan menunjukkan jalan yang lebih utama lagi. 

            Orang yang merasa memiliki karunia kesembuhan harus berani datang ke tempat-tempat pandemi dan  langsung mendoakan baik dari jarak jauh maupun jarak dekat. Salah satu contoh hamba Tuhan yang berkarunia kesembuhan harus peka dengan suara Tuhan. Firman yang dimiliki bukan level informasi tetapi konfirmasi yang datang dari Tuhan. Kebenaran yang megnatakan : "Oleh bilur-bilurnya engkau sembuh itu merupakan sebuah informasi. Cobalah berjalan ke bangsal-bangsa rumah sakit dan berkata oleh bilur-bilurnya engkau sembuh, cabut infus, cabut seluruh alat medis karena bilur - bilur Yesus menyembuhankan. Terjadikah? tidak sama sekali, ujung-ujungnya ditangkap satpam, bila terlanjut cabut infus dan mati ia akan urusan polisi sebagai pembunuhan. 

            Namun berbeda jika Tuhan sudah menyuruhnya sendiri secara audibel atau face to face atau pewahyuan secara pribadi.  Tuhan berkata pergilah ke setiap bangsal rumah sakit Pertamina katakan kepada orang yang terpapar corona Aku akan menyembuhkan, katakan kepada mereka oleh bilur-bilurKu mereka sembuh, "itulah konfirmasi.  Berbanding terbalik dengan firmanNya sebagai informasi yang tidak terjadi apa-apa. Ini bukan berarti firmanNya tidak berkuasa tetapi konfirmasi yang menentukan mujizat besar terjadi. Jika seorang hamba Tuhan mengklaim memiliki karunia kesembuhan, bisa saja berdoa dari radio atau mas media dengan megnatakan : " hari ini Tuhan akan menyembuhkan 200 orang yang terpapar corona di wisma atlet. dalam nama Yesus aku menghardik penyakit corona dan sembuh dua ratus orang di wisma Atlet. Jelas tempatnya, jelas jumlah orang yang disembuhkannya, ini baru nabi dari Tuhan. Kalau orang hanya berkata dalam nama Yesus Tuhan menyembuhkan orang-orang terpapar corona di Indonesia. Perkataan itu tidak perlu seorang nabi,  seorang Napi yang baru keluar dari penjara bisa mengatakannya. 

            Mereka yang biasa mengaku mendapat karunia kesembuhan, ayo bangkit, tunjukkan kuaa Yesus tidak berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Jangan berada di zona nyaman menikmati hasil pelayanan dengan hidup dalam hedonisme. Ayo tunjukkan nyali seperti dulu bahwa Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkan segala macam penyakit dan membangkitkan orang mati. Bangkit dan berjalanlah melakukan tugas panggilan pelayananmu. Jangan cemen, engkau pahlawan bukan pecundang. Bukankah kesembuhan adalah karunia yang engkau berikan? jangan hanya berbicara di kandang, tunjukkan demontrasi imanmu dan semua mata di Indonesia terbelalak banyak orang disembuhkan dan buktinya jumlah orang yang ODP, atau PDP semakin berkurang bukan karena tenaga medis dan BNPB (Badan Nasional Penanggulanan Bencana) tetapi karena hamba-hamba Allah turun gunung bersatu dalam iman yang memindahkan gunung. 

            Mereka yang memiliki karunia guru, gembala, rasul dan nabi biarkan orang-orang yang mendapat panggilan kesembuhan bekerja dengan karya nyata bukan fata morgana dengan lips servise-nya. Kita lihat dan doakan yang penting nama Yesus ditinggikan tidak saling cela dan mengkritisi dengan umpatan dan sumpah serapah. Tidak perlu cari sensasi jika tidak berprestasi apalagi tidak rohani. Saatnya tidak mencari panggung, dunia lagi susah jangan ditambah susah oleh bibir nyinyir tanpa solusi. Orang berpendapat menegor kesesatan pendeta lain berarti menyatakan kebenaran, saatnya pemurnia "demikian argumennya. Jika engkau sedang dipanggil Tuhan sebagai hakim silahkan tidak perlu lebay, tegorlah dengan santun. Karena penghakiman di tangan Tuhan. Tidak perlu merasa paling benar dan paling dipakai oleh Allah. bagi mereka yang harus diam, diamlah amati apakah Tuhan sedang beperkara dengan mereka. Perselisihan dan percideraan tidak mendatangkan berkat melainkan mendatangkan kekacauan. Biasanya orang-orang yang sedang mencari panggung atau jati diri yang sedang mencari banyak follower atau subcriber akan getol bila kebenaran mendatangkan sensasi, sudah pasti akan dikejarnya,  terus diviralkan dengan berbagai macam cara. Namun apakah itu merupakan kehendak Tuhan? dimanakah para pendeta yang memiliki karunia kesembuhan biarlah Tuhan akan memunculkan mereka. Seorang yang benar-benar berkenan di hadapanNya. Tunggu saja bro and sis ngga usah ribut! Yang penting Hidup Serupa Kristus oleh Pimpinan ROH KUDUS, bukan dipimpin kemauannya sendiri. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            



[1] Product knowledge adalah kebutuhan penting dari sales Anda jika ingin berhasil dalam berkompetisi dan memperoleh kepuasan pelanggan.sumber : http://indoactioncoach.com/pentingnya-product-knowledge/

[2] https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/19/120200123/tentang-virus-corona-covid-19-apa-itu-istilah-odp-pdp-dan-suspek

[3] Ibid 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.