Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini338
Kemarin886
Minggu Ini338
Bulan Ini15119
Total Pengunjung949011

IP Kamu 54.235.55.253 Monday, 18 February 2019

Guests : 27 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

PEMAHAMAN TENTANG KURIKULUM 2013

 

1.      LATAR BELAKANG  KURIKULUM 2013

 

Kita dalam sepanjang sejarah sudah mengalami beberapakali perubahan kurikulum , anatara lain kurikulum 1976; kurikulum 94 (KBK); kurikulum 2006 (KTSP).

Yang mendasari pengembangan kurikulum 2013 tersebut antara lain berkaitan dengan persoalan sosial dan masyarakat, masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan itu sendiri, perubahan sosial berupa globalisasi dan tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan.Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan kurikulum ini sebagai tutuntutan jaman, sekalipun ada yang beranggapan berbeda.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum untuk memperbaiki kualitas hidup dan kondisi sosial bangsa Indonesia secara lebih luas.Jadi, pengembangan kurikulum 2013 tidak hanya berkaitan dengan persoalan kualitas pendidikan saja, melainkan kualitas kehidupan bangsa Indonesia secara umum.

Muara dari semua proses pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan adalah peningkatan kualitas hidup anak didik, yakni peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang baik dan tepat di sekolah. Dengan demikian mereka diharapkan dapat berperan dalam membangun tatanan sosial dan peradaban yang lebih baik. Jadi, arah penyelenggaraan pendidikan tidak sekadar meningkatkan kualitas diri,tetapi juga untuk kepentingan yang lebih luas, yaitu membangun kualitas kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang lebih baik. Dengan demikian terdapat dimensi peningkatan kualitas personal anak didik, dan di sisi lain terdapat dimensi peningkatan kualitas kehidupan sosial. Pada kurikulum 2013 telah disiapkan buku siawa

 

2.      PERAN GURU DALAM KURIKULUM 2013

Peran guru dalam Kurikulum 2013:

-          Memenuhi kompetensi professional, paedagogis, social dan kepribaduan.

-          Sebagai fasilitator dan pendampin belajar pesrta didik dan mampu memotivasi dan menjadi penutan yang dapat diteladani siswa.

 

3.      PRINSIP KURIKULUM 2013

Kurikulum merupakan rancangan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan untuk peserta didik.Kurikulum ini dirancang oleh tenaga ahli pendidikan, para pengusaha dan masyarakat lainnya.Namun gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana, penilai, dan pengembang kurikulum yang sesungguhnya. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan, menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat.

Adapun prinsip kurikulum 2013 adalah:

 

 

a.       Relevansi:

Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam, yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yakni antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi internal menunjukkan keterpaduan kurikulum.

b.      Fleksibel: kurikulum dilaksanakan flkesibel di mana pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan waktu, tempat latar belakang peserta didik. Maka kurikulum dalam pelaksanaanya memungkinkan penyesuain di mana kurikulum tersebut dilaksanakan.

c.       Kesinambungan: adanya kesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara jenjang sekolah dengan jenjang sekolah lainnya, sehingga para pengembang kurikulum perlu ada koordinasi dan kerja sama antara SD, SMP, SLTA dan Perguruan Tinggi.

d.      Praktis:mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum, kalau penggunaannya menuntut keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.

e.      Efektifitas: walaupun kurikulum tersebut harus sederhana dan murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum yang dimaksud baik secara kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan kurikulum juga merupakan keberhasilan pendidikan.

 

4.      CIRI KHAS KURIKULUM 2013

1.      Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) yang terkait satu dengan yang lain serta memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

2.      Konsep dasar pembelajaran mengedepankan pengalaman individu melalui observasi (meliputi menyimak, melihat, membaca, mendengarkan), bertanya, asosiasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan, menalar, dan berani bereksperimen yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kreativitas anak didik. Pendekatan ini lebih dikenal dengan sebutan pembelajaran berbasis pengamatan (observation-based learning). Selain itu proses pembelajaran juga diarahkan untuk membiasakan anak didik beraktivitas secara kolaboratif dan berjejaring untuk mencapai suatu kemampuan yang harus dikuasai oleh anak didik pada aspek pengetahuan (kognitif) yang meliputi daya kritis dan kreatif, kemampuan analisis dan evaluasi. Sikap (afektif), yaitu religiusitas, mempertimbangkan nilai-nilai moralitas dalam melihat sebuah masalah, mengerti dan toleran terhadap perbedaan pendapat. Keterampilan (psikomotorik) meliputi terampil berkomunikasi, ahli dan terampil dalam bidang kerja.

3.      Pendekatan pembelajaran adalah student centered artinya  proses pembelajaran berpusat pada siswa/anak didik, guru berperan sebagai fasilitator atau pendamping dan pembimbing siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu dikenal sebagai active and cooperative learning yaitu dalam proses pembelajaran siswa harus aktif untuk bertanya, mendalami, dan mencari pengetahuan untuk membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman. Pendekatan ini diharapkan menunjang pencapai komtensia anak secara maksimal.

 

4.      Penilaian untuk mengukur kemampuan pengetahuan, sikap, dan keterampilan hidup siswa yang diarahkan untuk menunjang dan memperkuat pencapaian kompetensi yang dibutuhkan oleh anak didik di abad ke-21. Dengan demikian, penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran adalah penunjang pembelajaran itu sendiri. Dengan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka sudah seharusnya penilaian juga dapat dikreasi sedemikian rupa hingga menarik, menyenangkan, tidak menegangkan, dapat membangun rasa percaya diri dan keberanian siswa dalam berpendapat, serta membangun daya kritis dan kreativitas.

5.      Setiap jenjang pendidikan semua mata pelajaran memiliki Kompetensi Inti yang sama, yang berbeda Kompetensi Dasar sesuai dengan mata pelajaran dan tingkat kelas dalam suatu jenjang pendidikan.

 

5.      PENGERTIAN KOMPETENSI INTI

Kompetensi inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi standar kompetensi lulusan (SKL) dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu.Merupakan suatu gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotorik) yang harus dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran.Kompetensi inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.

Kompetensi inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait, yaitu:

1.       Sikap Keagamaan (KI. 1)

2.       Sikap Sosial/Kemasyarakatan (KI. 2)

3.       Pengetahuan (KI.3)

4.       Ketrampilan (KI.4)

 

Sebenarnya, sejak tahun 2011 Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Litbang Kemdikbud telah mulai mengadakan penataan ulang kurikulum seluruh mata pelajaran berdasarkan masukan dari masyarakat, pakar pendidikan dan kurikulum serta guru-guru. Ketika penataan sedang berlangsung, arah penataan berubah menjadi “pembaruan” total terhadap seluruh kurikulum mata pelajaran yang dimulai pada pertengahan tahun 2012. Pemerintah menginginkan supaya ada keterpaduan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.Dengan demikian diharapkan dapat membentuk wawasan dan sikap ilmuwan dalam diri siswa. Melalui proses tersebut, siswa tidak memahami ilmu secara fragmentaris dan terpilah-pilah namun dalam satu kesatuan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dalam struktur kurikulum baru tidak ada rumusan standar kelulusan kelas dan standar kompetensi tetapi diganti dengan kompetensi inti, yaitu rumusan kompetensi yang menjadi rujukan dan acuan bagi seluruh mata pelajaran pada tiap jenjang dan tiap kelas.Jadi, penyusunan kompetensi dasar mengacu pada rumusan kompetensi inti yang ada pada tiap jenjang dan kelas.Kompetensi inti merupakan pengikat seluruh mata pelajaran sebagai satu kesatuan ilmu termasuk mata pelajaran pendidikan agama. Namun, mata pelajaran pendidikan agama tidak termasuk dalam model integratif tematis

karena dipandang memiliki kekhususan tersendiri. Oleh karena itu, mata pelajaran pendidikan agama termasuk pendidikan agama Kristen tetap berdiri sendiri sebagai mata pelajaran seperti sebelumnya.

 

6.      KOMPETENSI DASAR

Kompetensi dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari kompetensi inti.Kompetensi dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan dan keterampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai siswa.Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik siswa, kemampuan awal, serta ciri suatu mata pelajaran.

 

KURIKULUM 2013 PAK

 

1.      HAKIKAT PAK DAN TUJUAN PAK

Hakikat Pendidikan Agama Kristen seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki panggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

 

2.      FUNGSI DAN TUJUAN PAK

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, disebutkan bahwa pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Pasal 2 ayat1). Selanjutnya disebutkan bahwa pendidikan agama bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Pasal 2 ayat 2).Mata pelajaran PAK berfungsi untuk hal-hal sebagai berikut.

1.   Memperkenalkan Allah dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah dalam hidupnya.

2.   Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami, menghayati, dan mengamalkannya.

 

Adapun tujuan PAK seperti di bawah ini.

1.   Menghasilkan manusia yang dapat memahami kasih Allah didalam Yesus Kristus dan mengasihi Allah dan sesama.

2.   Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia dalam masyarakat.

Pada dasarnya fungsi PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil) yang disajikan dalam dua aspek, yaitu aspek Allah Tritunggal dan Karya-Nya, dan aspek Nilai-nilai Kristiani. Secara holistik, pengembangan kompetensi inti dan kompetensi dasar PAK pada pendidikan dasar dan menengah mengacu pada dogma tentang Allah dan karya-Nya.Pemahaman terhadap Allah dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian siswa.Inilah dua aspek yang ada dalam seluruh materi pembelajaran PAK dari SD sampai SMA atau SMK.

 

3.      LANDASAN THEOLOGIS PAK

1.      Kitab Ulangan 6: 4-9

Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah kepada anak-anak dan kaum muda.Perintah ini kemudian menjadi kewajiban normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah.Dalam kaitannya dengan Pendidikan agama Kristen bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan agama Kristen.

 

2.      Amsal 22: 6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

 

3.      Injil Matius 28:19-20

Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah.Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap Pendidikan Agama Kristen.

 

4.      Mazmur 119:73

“ Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu”.Tidak sekadar belajar lalu berubah, tetapi juga mengubah keadaan. Begitulah kurikulum 2013 dirancang agar tahapan pembelajaran memungkinkan peserta didik berkembang dari proses menyerap pengetahuan dan mengembangkan keterampilan hingga memekarkan sikap serta nilai-nilai luhur kemanusiaan.

 

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN PAK DALAM  KURIKULUM 2013

 

1.      PENDIDIKAN AGAMA DALAM KURIKULUM NASIOANAL

Pemerintah menetapkan beberapa mata pelajaran sebagai mata pelajaran yang ditetapkan secara nasional, artinya melalui mata pelajaran tersebut, jiwa nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air dipupuk dan dibangun, termasuk Pendidikan Agama Kristen.Hal ini penting mengingat globalisasi yang mempengaruhi berbagai bidang kehidupan cenderung melunturkan rasa nasionalisme. Anak-anak, remaja dan kaum muda lebih tertarik untuk mencintai segala produk yang berasal dari luar, baik itu mencakup seni budaya, pemikiran dan atau gaya hidup (life style). Memang diakui bahwa semua yang dihasilkan oleh globalisasi tidaklah buruk namun harus ada kekuatan pengimbang yang mampu menetralisir pengaruh globalisasi bagi anak-anak, remaja dan kaum muda Indonesia.

 

 

2.      PELAKSANAAN PAK DALAM KURIKULUM 2013

Ruang lingkup pelaksananan PAK di gereja, keluarga dan sekolah dan perguruan tinggi masing-masing mempunyai ciri. Pelaksaanaaan PAK di sekolah terintegrasi dengan Sistim pendidikan di Indonesia, oleh karena itu, melalui pendekatan nilai-nilai iman diharapkan anak-anak Kristen bertumbuh sebagai anak Kristen Indonesia yang sadar akan tugas dan kewajibannya sebagai warga gereja dan warga masyarakat yang bertanggung jawab. Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka pembelajaran PAK di sekolah diharapkan mampu menghasilkan sebuah proses transformasi pengetahuan, nilai, dan sikap. Hal itu memperkuat nilai-nilai kehidupan yang dianut oleh siswa terutama dengan dipandu oleh ajaran Iman Kristen, sehingga siswa mampu menunjukkan kesetiaannya kepada Allah, menjunjung tinggi nasionalisme dengan taat kepada Pancasila dan UUD 1945.

Materi dan metodologi pengajaran PAK serta disiplin ilmu psikologi membantu perkembangan psikologis siswa dengan baik.PAK disusun sedemikian rupa dengan tidak melupakan karakteristik perkembangan psikologis siswa.Materi PAK disesuaikan dengan kebutuhan psikologis siswa, sehingga tujuan materi dapat dicapai secara maksimal. Metodologi pun hendaknya memperhatikan karakteristik siswa, sehingga tumbuh kembang Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti anak secara kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak terjadi dengan baik. Dalam istilah lain disebut Cipta, Rasa, dan Karsa.

Tujuan yang ingin dicapai melalui Pendidikan Agama Kristen yang dilaksanakan di sekolah-sekolah adalah terjadinya transformasi dan internalisasi nilai-nilai kristiani bagi para siswa. Dengan kata lain Pendidikan Agama Kristen merupakan pendidikan nilai, sehingga diharapkan  terjadi perubahan dan pembaharuan  sikap dan perilaku. PAK yang bersifat dogmatis-etis sesungguhnya merupakan tanggung jawab keluarga dan gereja. Transformasi dan internalisasi nilai-nilai kristiani bagi para siswa juga dapat difasilitasi oleh para pendidik Pendidikan Agama Kristen

 

PENILAIAN PAK DALAM KURIKULUM 2013

Penilaian merupakan  ketercapaian Kompetensi Inti yang dikembangkan dalam  Kompetensi Dasar melalui sejumlah indicator/tujuan pembelajaran. Penialaian dalam kurikulum 2013 dapat dilakukan selama pembelajaran tidak harus dilakukan setelah proses pembelajaran selesai. Bentuk penilaian cukup variatif mengenai skala sikap, penilaian diri, tes tertulis, penilaian produk, proyek, observasi dll. Guru harus berani membuat perubahan dalam bentuk penilaian. Memang, biasanya otoritas akan membuat soal bersama untuk ujian, tetapi praktik ini bertentangan dengan jiwa kurikulum 2013, khususnya kurikulum PAK yang memang terfokus pada perubahan perilaku siswa. Pendidikan agama yang mengajarkan nilai-nilai iman barulah berguna ketika apa yang diajarkan itu membawa transformasi atau perubahan dalam diri anak karena iman baru nyata di dalam perbuatan, sebab iman tanpa pebuatan pada hakikatnya adalah mati (Yakobus 2:26). Untuk itu berbagai bentuk soal seperti pilihan ganda dan soal-soal yang bersifat kognitif yang tidak membantu siswa mengalami transformasi.

 Metode penilaian dapat dilakukan secara:

-          Non Formal:  penilaian diberikan secara langsung selama prosespembelajaran ketika siswa memberikan respon dalam proses pembelajaran

-          Formal: suatu teknik pengumpulan informasi yang dirancang untuk mengidentifikasi dan merekam pengetahuan dan keterampilan siswa.

Penilaian dilakukan dengan penilaian otentik berkelanjutan (continuous authentic assessment) yang menjamin pencapaian dan penguasaan kompetensi Penilaian otentikadalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan siswa melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Berikut adalah prinsip-prinsip penilaian otentik:

1. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran.

2. Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (school work-kind of problems).

3. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.

4. Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (sikap, ketermpilan, dan pengetahuan).

Metode Penilaian:

1        . TEST  (KI. 3 DAN KI.4)

2        NON TEST (KI. 1 DAN KI. 2)

Metode test:

1.      Test tertulis

Tes tulis dapat dilakukan dengan cara memilih jawaban yang tersedia (selected-response), misalnya soal bentuk pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan; ada pula yang meminta peserta menuliskan sendiri responsnya (supply-response). Misalnya soal berbentuk esai, baik esai isian singkat maupun esai bebas.

Teknik Tes Tertulis

Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:

1) Soal dengan memilih jawaban (selected response), mencakup: pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan.

2) Soal dengan mensuplai jawaban (supply response), mencakup: isian atau melengkapi, uraian objektif, dan uraian non-objektif.

Penyusunan instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut.

1) Materi, misalnya kesesuaian soal dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum tingkat satuan pendidikan;

2) Konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.

3) Bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.

4) Kaidah penulisan, harus berpedoman pada kaidah penulisan soal yang baku dari berbagai bentuk soal penilaian.

 

 

 

Macam Test Kinerja dapat dilakukan dengan cara:

1.      Daftar Cek (Check-list)

Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik).Dengan daftar cek, siswa mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar.

 Contoh Check-list Format Penilaian Praktik Doa

Nama siswa: ________ Kelas: _____

           

NO.

ASPEK YANG DINILAI

BAIK/ TIDAK BAIK

1.

 

 

2.

 

 

3.

 

 

4.

 

 

 

2.      Skala Penilaian (Rating Scale)

Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua.Skala penilaian terentangdari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompetn, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat. Contoh Rating Scale Keterangan:

Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut

5 = Jika siswa memperoleh skor 30-35 dapat ditetapkan sangat baik

4 = Jika siswa memperoleh skor 25-29 dapat ditetapkan baik

3 = Jika siswa memperoleh skor 20-24 dapat ditetapkan cukup

2 = Jika siswa memperoleh skor 15-19 dapat ditetapkan kurang

1 = Jika Siswa memperoleh skor 1-14 dapat ditetapkan sangat kurang

 

 

3.      Penilaian Sikap

Metode nontes digunakan untuk menilai sikap, minat, atau motivasi.Metode nontes umumnya digunakan untuk mengukur ranah afektif (KD-KD pada KI I dan KI II).Metode nontes lazimnya menggunakan instrumen angket, kuisioner, penilaian diri, penilaian rekan sejawat, dan lain-lain.Hasil penilaian ini tidak dapat diinterpretasi ke dalam kategori benar atau salah, namun untuk mendapatkan deskripsi tentang profil sikap siswa.

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespons sesuatu/objek.Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif/perilaku. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek.Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek.Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah:

a) Sikap terhadap materi pelajaran,

b) Sikap terhadap guru/pengajar,

c) Sikap terhadap proses pembelajaran. Siswa juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses

pembelajaran yang berlangsung;

d) Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi

Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Observasi Perilaku

Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Guru dapat melakukan observasi terhadap siswanya. Hasil observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan siswa selama di sekolah.

2.      Pertanyaan Langsung

Guru juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap siswa berkaitan dengan sesuatu hal.Misalnya, bagaimana tanggapan siswa tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap siswa itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap siswa di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina siswa.

3.      Laporan Pribadi

Teknik ini meminta siswa membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap.Misalnya, siswa diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia.Dari ulasan yang dibuat siswa dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.

 

 

 

Buku Catatan Harian Tentang Siswa

Nama sekolah   : _______________________________________________

 Mata Pelajaran                : _______________________________________________

 Kelas                    : _______________________________________________

 Tahun Pelajaran : _______________________________________________

Nama Pendidik : _______________________________________________

Contoh isi Buku Catatan Harian :

 Hari                       : ______________________________

Tanggal                 : _______________________________________________

Nama siswa        : _______________________________________________

Kejadian              : _______________________________________________

Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif.Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku siswa sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap siswa serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan siswa secara keseluruhan.Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari siswa pada umumnya atau dalam keadaan tertentu.

Berikut contoh format Penilaian Sikap:

Contoh Format Lembar Pengamatan Sikap Siswa

 

4.      Penilaian Proyek

Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan siswa pada mata pelajaran tertentu secara jelas.Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu sebagai berikut.

           

 

 

a.       Kemampuan Pengelolaan

Kemampuan pengelolaan adalah kemampuan siswa dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

b.      Relevansi

Relevansi adalah kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.

c.       Keaslian:

Proyek yang dilakukan siswa harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek siswa.

Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan , proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai.Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan cheklist.

5.      Penilaian Produk.

Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian.Berikut ini adalah ketiga tahap pengembangan produk tersebut.

1) Tahap persiapan, meliputi penilaian kemampuan siswa dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.

2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan siswa dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.

3) Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan siswa sesuai kriteria yang ditetapkan.

 

Teknik Penilaian Produk

Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.

1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.

2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

6. Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya siswa dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh siswa. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran.Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan siswa. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru

dan siswa sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan siswa dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain:

1.      Keaslian Karya Siswa

Guru melakukan penelitian atas hasil karya siswa yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh siswa itu sendiri.

2.      Saling Percaya antara Guru dan Siswa

Dalam proses penilaian guru dan siswa harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik.

3.      Kerahasiaan Bersama antara Guru dan Siswa

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan siswa perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan

4.      Milik Bersama (joint ownership) antara Siswa dan Guru

Guru dan siswa perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga siswa akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

5.      Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan siswa untuk lebih meningkatkan diri.

6.      Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

7.      Penilaian Proses dan Hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya siswa.

8.      Penilaian dan Pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan siswa.

 

Teknik Penilaian Portofolio

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut.

 

1.      Jelaskan kepada siswa bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang digunakan guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh siswa sendiri. Dengan melihat portofolio siswa dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya.

2.      Tentukan bersama siswa sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara siswa yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.

3. Kumpulkan dan simpanlah karya-karya siswa dalam satu map atau folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah.

4. Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan siswa sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

5. Tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para siswa. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para siswa.

6. Minta siswa menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing siswa, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.

7. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka siswa diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara siswa dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.

8. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu, undang orang tua siswa dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.