Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini19
Kemarin646
Minggu Ini665
Bulan Ini12007
Total Pengunjung726964

IP Kamu 54.162.227.37 Tuesday, 19 June 2018

Guests : 40 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

Kami sedang membangun ruangan Ibadah 17 x 10 Meter
Kami bersyukur untuk yang berkenan berpartisipasi dan menyelesaikan melalui dana yang disalurkan ke rekening :
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

LAPORAN PENERIMAAN AKAN DIKIRIMKAN 

KEPADA YANG BERSANGKUTAN

 

1

Hasil gambar untuk bri

023001045727503

TIMOTIUS BAKTI SARONO

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

CARA BERCERITA YANG BAIK

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

Guru harus menyampaikan kebenaran bukan saja sebagai informasi kepada anak tetapi sebagai konfirmasi. Adanya conecting antara kisah yang diceritakan oleh sang guru dengan kehidupan anak-anak anak memiliki sinkronisasi. Guru harus siap berdiri dihadapan anak-anak dengan spirit kebenaran yang siap meledak dan membakar anak-anak yang menatap kisah dari yang disampaikan. Tanpa gairah ini maka anak hanya akan menatap guru dengan kalimat : ‘kapan gurun ini selesai mengoceh?. Inilah tragedi dalam dunia sekolah minggu yang memiliki guru-guru yang tidak mau mengembangkan cara bercerita dengan baik
      

 

Lebih jauh lagi anak-anak biasanya dekat dengan guru yang pandai bercerita yang bisa menyampaikan kebenaran dengan tidak menghukum anak atau menggurui. Sekalipun guru jauh lebih pintar dari anak didiknya tetapi anak yang dibawa dalam berbagai macam kisah cerita yang mengandung pelajaran penting anak itu akan menyerap kebenaran sendiri dan memastikan dirinya memperoleh sesuatu yang bisa dibawa pulang. Kalau saja guru sudah bisa membuat anak-anak ikut bergairah akan cerita yang disampaikan oleh sang guru maka guru tersebut sudah cukup berhasil menyampaikan ceritanya. Apabila gairah guru dalam memahami topik yang akan dibawakan bernilai sembilan maka setidaknya sang murid membawa gairah itu minimal bernilai tujuh. Orang tua yang mendengar kisah-kisah Alkitab melalui anak-anaknya itu berarti sang guru sekolah minggu sudah bercerita dengan hitungan berganda, anak target sasaran utama dan juga orang tua menjadi target kedua. Sekali dayung dua pulau terlangkahi!


        Tidak bisa tidak semua guru harus berhadapan muka dengan anak dengan kebenaran sejati yang sudah digendongnya. Untuk meletakkan gendongan yang berat tidak bisa menjatuhkannya dengan asal-asalan. Kalau ini terjadi maka akan ada yang dilukai dan disakiti. Berbeda dengan seorang guru yang meletakkan gendongannya dengan berlahan-lahan dan meminta anak untuk dapat menyaksikan apa yang ia bawa dan menguraikan satu persatu apa yang dibawanya maka sang anak akan berkerumun disamping sang guru dan sangat interaktif sekali! Guru harus menempat diri menjadi seorang yang berada dalam atmosfer anak-anak dan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak. Sekalipun bukan bahasa baku, bahkan cenderung kedalam bahasa gaul  tetapi bila kebenaran yang dibawanya mendarat kepada anak-anak itu jauh lebih baik dari pada bahasa baku tetapi membuat anak-anak berhasil tidur atau lari tidak karuan menikmati kenakalannya dengan mengisengi anak-anak yang lainnya. Disamping persiapan guru yang baik maka juga dibutuhkan ruangan yang baik untuk anak-anak menerima suapan dari makanan yang akan dihidangkan. Kursi yang terlalu tinggi yang membuat anak-anak bergoyang-goyang kakinya memberikan celah yang menyita pikiran anak-anak dan gerak yang cepat akan membuat anak meninggalkan gurunya. Sekalipun duduk disitu tetapi pikirannya sudah di time zone.

 

Bercerita


      Bercerita  adalah memperlihatkan sesuatu kepada orang lain. Anak-anak harus melihat dari mata hatinya akan apa yang disampaikan oleh sang guru. Cerita adalah kesenian mata dan kata. Seni melihat ini sang guru menggambarkan secara gamblang kepada anak-anak, seakan-akan suasananya dirasakan oleh para murid. Seorang pencerita sedang memahat kebenaran melalui permainan kata! Seorang guru sekolah minggu harus banyak membaca tidak boleh kurang dari itu! Standar utama banyak membaca akan terlebih baik ia membaca buku-buku sastra sehingga dapat mengetrapkan bahasa dengan tepat! Boleh membaca novel untuk mencari bagaimana menggambarkan seorang yang kasmaran akan pasangan lain jenis, membaca detektif untuk mendapatkan bahasa bagaimana seorang petualangan mendapatkan buruannya. Membaca humor untuk mendapatkan kata supaya  membuat anak-anak ngakak tapi tidak kehilangan kendali.
       Dalam tahapan ini guru harus menempatkan dirinya melihat terlebih dahulu! Menyaksikannya secara bergairah dan sebelum tertancap didalam diri anak harus terlebih dahulu tertancap didalam guru itu sendiri. Rentetan peristiwa demi peristiwa harus sudah dilalui guru dalam bayangannya. Dalam tahapan ini, guru bisa tersenyum sendiri dan terkadang merasa marah karena ia sudah masuk dalam atrmosfer cerita tersebut. Guru sedang menggambar cerita tersebut dalam benaknya. Setiap detil! Dalam kasus ini sang guru harus melihat apakah tokoh yang diceritakan itu memiliki kumis, atau kalau wanita itu dia seorang yang gemuk atau kurus, bagaimana karakternya dan masih  banyak lagi yang perlu diperhatikan!
       Ini sangat penting sehingga anak tidak dibodohi dengan judul cerita dengan mengatakan : anak-anak, hari ini kakak akan bercerita dengan cerita yang menarik sekali? Tidak perlu mengatakan menarik kalau tidak menarik anak-anak itu akan memalukan sekali. Lebih baik penilaian menarik itu didapat dari permainan mata dan kata oleh sang guru! Bagi guru bila cerita itu sangat menarik maka sang anak juga akan menarik! Yang penting guru harus memahami detil-detil ceritanya!  Tidak boleh tidak anak harus melihat runtunan peristiwa dan dimana sang guru berada atau anak itu terlibat dalam cerita tersebut.
      Dalam tahapan ini guru harus memahami apa mengapa dan bagaimana serta dimana dari seluruh cerita tersebut. Guru harus sudah merendamkan diri dalam kisah yang akan dibawakannya. Ia bukan hanya basah oleh seluruh cairan-cairan cerita tersebut tetapi juga sudah melimpah keluar! Kebenaran ini penting, mengabaikan point yang pertama ini akan membuat seorang guru grogri didepan para murid sebab ia tidak sedang menguasai bahan cerita sehingga akan terlihat kaku dan ini sangat memalukan sekali! Betapa pentingnya hakekat cerita tersebut dan persiapan dari segi rohani sang guru merupakan persoalan lain yang perlu dicermati. Guru harus memiliki persiapan internal dan eksternal sehingga guru memiliki bobot yang layak membawa kebenaran tersebut. Kalau sang guru sering meledak-ledak dalam kemarahan, lebih baik ia berhenti bercerita tentang kerendahan hati! Menyimpan topik itu terlebih dahulu sampai kebenaran tersebut sampai didalam dirinya sendiri!


Tujuan bercerita

     Guru harus memiliki tujuan bercerita. Maunya apa melalui cerita yang akan dibawakan! Inilah target awal yang harus merendam di benak para pencerita! Tanpa tujuan tersebut maka cerita akan nglantur tidak karuan dan tidak mengenai sasaran yang tetap! Kalau Roh Kudus tidak menggerakkan dan membelokkan tujuan cerita, seorang guru harus konsekwen dan setia terhadap target yang akan dicapai dari cerita tersebut! Tujuan ini bukanlah pelajaran sejarah sebab tujuan ini merupakan goal dimana anak-anak harus seperti apa yang akan diceritakan! Sedapat mungkin tujuan ini hanya satu saja jangan lebih, kalau memungkinkan dua maka guru harus lebih bekerja keras untuk menanamkannya. Lebih baik tujuan ini tersamar diawal cerita melalu pendahuluan dan berakhir dengan tujuan tersebut! Suatu cerita harus dibingkai dari tujuannya.    
     Sekalipun didepannya samar maka dibelakangnya harus jelas. Sistim ini seperti pewahyuan dalam Alkitab progressif semakin lama semakin terang. Jangan memenggal cerita hanya menyampaikan tujuan tetapi sang pencerita harus rapi menyimpan tujuan itu dan membukanya di akhir cerita! Tujuan ini beraneka ragam, terkadang sang pencerita mencari celah sedikit dari cerita tersebut dan membelokkannya dengan sasaran yang diinginkannya. Sekalipun ceritanya tidak seratus persen mengenai kerendahan hati maka sang guru harus menekankan tentang kerendahan hati.Contoh Zakheus pada umumnya orang bercerita ini akan membawa ketujuan keselamatan tetapi kisah ini juga bisa dilihat kerendah hati Yesus yang mau menerima orang berdosa seperti Zakheus


Langkah-langkah bercerita


          Seorang guru yang akan bercerita harus sudah bisa memilah-milah dimana tempat yang akan disampaikan dan melukiskan tempat tersebut. Kalau saja ia akan bercerita soal Golgota atau via dolorosa guru harus mempelajarinya dengan ensiklopedi Alkitab. Jarak jalan yang harus ditempuh berapa meter sudah harus menjadi perhatian sebab nanti akan dipergunakan tingkat keletihan Yesus mengapa Yesus tidak sanggup lagi memikul salibnya.  Guru harus sudah bisa memilah dimana orang yang akan disampaikan itu dengan berbagai karakter yang dimilikinya. Guru tidak boleh hanya menyampaikan cerita dengan kata pada waktu itu Yesus berjalan ke atas salib, ia dicambuk, diludahi dan sampailah diatas salib. Seharusnya guru mengatakan, kakiNya yang letih oleh cambukan orang Roma itu tidak sanggup menapaki batu-batu terjal seperti paku, ya....Yesus tidak memakai sepatu boot, kakinya tambah lecet.... belum lagi badannya Yesus penuh darah seperti orang yang telah dikuliti.....dimana-mana darah dari rambutnya yang hitam... pekat menjadi merah darah ... mengerikan memang.... belum lagi kita melihat badannya yang memar ..matanya yang nanar keletihan..sepanjang malam tidak tidur..dianiaya.. Yesus kehabisan darah..lemes..tapi Yesus masih juga sanggup  berjalan......via dolorosa itu jalan salib.... akhirnya sampai juga di bukit Golgota... luar biasa  dll
         Guru harus menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh anak. Bila guru akan membuat cerita yang sensasi maka guru harus mempelajarinya dengan lebih keras lagi. Namun cerita yang sensasi tidak selalu berhasil membuat anak bersukacita. Adakalanya membuat takut anak sampai kedalam mimpi mereka. Seandainya sang guru akan bercerita soal neraka maka ketika berhasil bercerita maka sang anak akan mengalami trauma dan ketakutan akan neraka yang terdiri dari api yang menjilat-jilat dan melelehkan tubuh manusia sehingga dimana-mana bau kulit manusia membuat anak-anak muntah-muntah melalui apa yang didengarnya. Lebih baik jangan dilakukan sebab penulis pernah gagal membuat cerita yang membuat anak-anak mimpi menakutkan akhirnya sakit dan terus mengigau akhirnya dua orang tua protes akan pengajaran disekolah dengan gaya cerita!
       Harus disadari bahwa guru sekolah minggu harus memiliki rasa humor yang tinggi sehingga bisa tertawa bersama anak-anak didiknya. Bercanda dalam bercerita tidaklah salah asal jangan nglantur tanpa arah! Jangan mencoba mengambil alih cerita dengan humor yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran yang akan disampaikannya. Namun guru juga harus terlibat dengan kesedihan ketika anak-anak ikut menyaksikan cerita tersebut!
 Gerak dalam bercerita tidak perlu berlebihan. Ini tergantung seberapa jumlah anak-anak yang ada didepannya. Bercerita dengan jumlah murid 10 orang dengan 100 orang sangat berbeda gerak dan gaya. Demikian cerita dengan 1000 orang menggunakan gerak yang terkadang meletihkan karena harus menguasai seluruh 1000 anak tersebut. Ketika kita merangkul satu orang sangatlah mudah tetapi merangkul 10 orang dibutuhkan gerak tangan yang lebar dan suara mulut yang lebih keras dalam memanggil mereka.


Salah satu contoh cerita


KASIH SAYANG KEPADA ORANG TUA


       Anak-anak, bocah perempuan ini cuma hidup dengan mamanya saja. Dan tinggalkan bukan di kota yang besar dimana mobil lalu lalang dan  tontonan TV bisa dilihat dua puluh empat jam nonstop. Anak ini tinggal di hutan bersama ibunya yang sudah tua, bapanya sudah meninggal lamaaa sekali, waktu masih orok. Tentu sebagi orang yang tinggal di tengah-tengah hutan teman-temannya bisa ditebak, ada monyet disana, ada gajah dan ada binatang buas yang lain. Anak ini sangat rajin, ia suka membantu mamanya menjari daun jati untuk dijual di pasar, sebab waktu itu daun ini sangat berguna bisa dipakai membungkus nasi uduk atau membungkus yang lain. Ya.... lumayanlan untuk makan setiap hari juga bisa. Tapi lama kelamaan sudah ada kertas yang dilapis plastik daun jati sudah tidak laku lagi. Ibu dan anak ini susah makan karena nggak punya duit untuk beli sesuap nasi. Tapi anak ini pintar juga ia mulau mencari kayu bakar, banyak orang masih pakai kayu untuk memasak, jadi anak ini membantu ibunya mencari kayu bakar. Ibunya yang sudah tua renta tidak lagi kuat menggendong kayu bakar, ia mulai sakit-sakitan dan sang anak kecil ini menggantikannya mencari sesuap nasi dengan berjualan kayu. Kayu.....kayu ... kering pak.... kayu...kayu....kering bu... demikian ia berteriak-teriak keliling... murah...murah.... ia terus berteriak, siapa cepat pasti dapat lho.... anak ini tidak ada hentinya berteriak agar kayunya cepat laku dan dapat membeli sebungkus nasi, untuk dirinya dan ibunya yang menunggu di rumah.
Ketika ada orang membelinya terlintas dalam benaknya sebungkus nasi dengan lauk tempe atau tahu....ah rasanya ....sedap... pikirnya. Perutnya yang keroncongan itu tidak mau lagi bersahabat berteriak terus cepat donk makan “katanya. Anak ini segera membeli nasi dan kemudian dengan lahapnya makan dengan rakusnya.,... maklum seharian belum makan. Ia juga masih ingat ibunya yang dirumah tentu ia juga menahan kelaparan, sesudah selesai menghabiskan bagian nasinya anak ini lari ke hutan lagi untuk menemui ibunya tetapi sesampainya dirumah ia menemukan mamanya tergeletak dengan demam yang tinggi. Menggigil dengan wajah pucat pasi. Sang anak takut sekali bu....bu....kenapa, ini aku datang membawa makanan untuk ibu, tadi kayu laku ... ayo bangun..makan saya tahu ibu kan udah lapar... ayo... dengan menggigil ibunya mencoba duduk tetapi tidak kuat... anakku ibu sakit.... ya...ya ... nanti aku cari dokter ke desa sebelah katanya disana ada dokter yang bisa mengobati orang sakit tetapi ibu makan dulu ya... nggak enak makan....tenggorokan ibu sakiiiiiiiiit sekali dan lihat panas sekali bukan?
       Sang anak ini melihat ibunya yang demikian parah ia takuutt sekali jangan-jangan ibunya nanti meninggal juga seperti papanya, ia duduk termenung sedih.. membayangkan bagimana kalau ibunya telah tiada tentu menyakitkan sekali,  ia akan menjadi anak yatim piatu tanpa saudara dan tetangga dan siapapun. Ia tidak peduli badannya letih, dan lunglai matanya terkantuk-kantuk ingin segera tidur. Ia membuang rasa kantunya dan kemudian bilang bu aku pergi dulu ya ke desa seberang sana nanti aku carikan dokter untuk mengobati ibu, dengan suara yang lemah ibu berkata hati-hati nak.....
Segera sang anak berlari menuruni tebing-tebing untuk ke desa sebelah, hari sudah menjelang malam eh... ia lupa untuk ke desa sebelah ia harus melewati kuburan sebagai anak perempuan kecil ia takut juga.. Sebab ada seribu satu certia kata orang kampung itu  bahwa kuburan ini  angker sekali... hi..... seram... sekali, ia membayangkan yang bukan-bukan. Tetapi mengingat ibunya yang sakit wah... nekat juga... ia sering memejamkan matanya dan berusaha melewati kuburan itu hati...hati sekali, sambil berucap permisi ya.. saya nggak jahat kok...Cuma numpang lewat... jangan ganggu saya ya... entah kepada siapa sianak ini minta permisi... sebab tidak ada satu orangpun.. mungkin sang anak bicara kepada penghuni kuburan itu .. hatinya berkata jangan bangun ya... atau nakuti-nakutin saya.... pelan sekali ia jalan dengan hati deg...deggan sekali.... meong.... tiba-tiba suara itu mengejutkannya e....eeee. hanya seekor kucing yang mungkin keinjak ekornya.... ampun...ampun deh.... tolong saya biar lewat sebentar.... akhirnya anak ini sampai juga di perkampungan.
      Ia mulai bertanya kesana kemari bu...pa..... ada tabib nggak disini untuk mengobati ibuku lagi sakit.... oh nak disini nggak ada yang ada di desa sebelah masih jauh disana ada tabib yang masih buka praktek malam seperti ini “demikian kata seorang bapak yang kebetulan lewat dan melihat sang anak kecil itu dengan belas kasihannya. Trima kasih ya pak... ia terus berlari tanpa henti demi menyelamatkan orang tuanya, hari sudah hampir-hampir tengah malam ia berlari dengan kencang supaya tidak sampai pagi hari akhirnya sampailah ia ke desa sebelah yang cukup maju sudah ada listrik dan jalan aspal... maklum desa itu dapat bantuan dari pemerintah untuk membangun desanya. Tapi sesampai di desa situ hari sudah menjelang tengah malam tidak ada lagi lalu lintas seperti di kota jakarta orang-orang yang lalu lalangpun hampir-hampir tidak ada. Ia mau bertanya kepada siapa? Jangankan kendaraan lewat... orangpun tidak ada yang nongol... ia diam ... sambil duduk termenung hatinya berkata bagaiamana saya bisa menyelamatkan ibu saya.... ia mulai meneteskan air mata .... dengan tidak sadar ia berkata  ibu.... jangan mati .... kasihan aku tinggal seorang diri di dunia ini...... suara hatinya memberi kekuatan untuk berjalan lagi menemukan sang tabib itu.. kebetulan ada tukang ronda lagi berjalan... ah...kebetulah pikiranya sang anak mulai bertanya pa.... ibu saya sakit keras dimana ada dokter .... untuk mengobati ibu saya.... nak tinggal lurus aja .. nanti ada tembok dengan cat putih semua nah... itu tempat praktek dokter .. tapi ya... terlambat ..... terlambat apa pak “kata sang anak dengan penuh kekecewaan. Bigini dik... “tukang ronda itu mulai dengan perkataannya, ini kan udah malam tentu sudah tutup prakteknya, ia istirahat setiap hari pasiennya banyak lha wong di desa ini hanya satu saja dokternya , jadi maklum  udah tutup besok pagi aja ya? “demikian nasehat sang peronda desa. Tapi...tapi pa.. nggak bisa besok ibu saya sudah sakit sekali... jangan jangan sudah tidak kuat melewati malam ini.... “ kata anak ini terbata-bata. Ya coba aja adik jalan terus ya.... sang anak lari lebih kencang dari sebelumnya ia mencari dokter itu, ya .. akhirnya sampai juga didepan rumah doter itu.
       Betul juga sepiiiii sekali, rumahnya besar halamannya luas jadi tidak gampang terganggu suara apapun dari jalan raya. Sang anak mulai ketok pintu permisi.....permisi... ia lebih keras lagi permisi..... tapi nggak kedengaran....dasar anak kampung ia ketok pintu pagar keras... keras permisi... bahkan ambil batu untuk mengetok sebab sudah terlalu capek... permisi......... nggak ada juga yang buka pintu, pak dokter sudah tidur terlelap karena seharian periksa pasien dan capek sekali. Sang anakpun juga sudah capek sekali anak ini mulai ngantuk sekali dan dengan tidak sengaja ia memencet bel yang sengaja dipasang oleh dokter kalau ada masyarakat yang memerlukan bantuan secara darurat. Ia pencet bel itu keras... keras dan berulang kali.... tet...tet...tet...... permisi. Dokter yang tidur pulas terjaga ... dan ia mulai berjalan sang anak ketiduran di depan pintu karena capeknya luar biasa. Sang dokter keluar tidak menemukan anak itu sebab ya... namanya anak kecil ketiduran di pagar jadi tidak kelihatan. Sang dokter kembali ke tempat tidur dan segera ingin melanjutnya sorganya tidur, ia pikir tentu ada orang iseng memencet bel dan lari, tapi ini kan sudah tengah malam, dokter ini malas berpikir karena tu  utan badannya menyuruh ia segera berbaring tidur.
       Baru saja ia mau tidur sang anak bangun dan memencet bel lagi, sang dokter segera ke depan dan ia lihat seorang anak perempuan kecil berdiri di pintu pagar. Ia hampir tidak percaya tengah malam begini anak anak kecil datang kerumahnya. Ada apa nak? Kata dokter itu ... sang anak mulai menangis menceritakan ibunya yang sakit sambil memperagakan ibunya menggigil dan menunjukkan bahwa tenggorokan ibunya sakit sekali. Mana ibumu? Jauh.... sekali pak.... saya sudah sejak sore hari mencari bapak.... sambil terisak-isak ia menunjukkan kelelahannya. Sebenarnya doker ini tidak mau mengobati kalau pasiennya tidak ada, tapi sang anak memaksa minta obat kepada dokter buat ibunya yang sakit. Dokter ini meramu obat dengan ngantuknya... seperti mimpi rasanya. Sesudah memberikan selesai ia menerangkan kepada sang anak kecil ini dengan rinci harus meminumnya dokter ini terpaksa memberi karena ia pikir tahu penyakitnya sang ibu tadi dan ya... masih ngantuk. Setelah obat itu diterima sang anak lari ... lari .... dan ingin segera bertemu ibunya. Sementara sang dokter kembali ke tempat tidurnya.
Sebelum ia tidur seperti kebiasannya ia menaruh lagi botol-botol ramuan obat-obatan tadi... e.....eh.. ia salah memberi obat... ramuan yang diberikan itu bukan obat tetapi racun.... ya kenapa bisa begini ..... ia lari keluar mencari anak itu.... tetapi sang anak lari lebih cepat melebihi dokter ..... sang anak didorong kasihnya kepada ibunya, tidak pedudli capek dan tenaganya habis ia terus lagi... nggak peduli ada kuburan atau setan lewat... ia berkata ibu...... aklu bawa obat bertahanlah. Sementara sang dokter kebingungan .. ia tidak pernah salah... kali ini fatal... ia bisa membunuh orang dengan obat itu... seharusnya botol itu harus dimusnahkan beberapa hari lalu tetapi karena kesibukannya ia lupa. Mati aku.... pikirnya.... aku membunuh seorang ibu.... dokter terus berjalan menanyakan apakah anak kecil perempuan yang lewat sini tapi tidak ada .... orang yang ditanyakan juga tidak tahu ....  tengah malam begini kok tanya anak kecil. Dokter ini putus asa ... ia mulai menangis membayangkan ibu sang anak mati secara perlahan-lahan oleh obat yang diberikannya. Tidak ada jalan kelua.... Dokter Henry ini seorang yang taat beribadah.....ia mulau menadahkan tangannya keatas kepada Sang Pencipta Langit bumi.. Ya Tuhan tolonglah aku... aku tidak sengaja membunuh orang.... ampuni aku.... tolong jangan sampai obat itu diminum oleh pasienku.
       Sang anak seperti kesetanan ia berlari tambah kencang sekali tidak peduli kakinya  sudah lecet...lecet ... berapa batu yang diterjangnya ia terus berlari.... sudah hampir dirumah ia tidak sadar matanya yang ngantuk tidak melihat akar pohon besar yang melintang di depannya. Ia tersandung akar pohon itu dan ........obat yang ada ditangannya melayang ....wing........ sang aak itu bengong melihat botol yang ditangannya  melayang dan prang..... mengenai batu dan pecah berkeping-keping.... sang anak menangis sejadi-jadinya.. ia tidak habis pikir..... kenapa Tuhan tidak adil.... memecahkan botol itu.... padahal kan demi sayangnya kepada ibunya ia lakukan sehari penuh berjalan berlari bahkan melompati semua tebing dan jurang demi obat itu.
 Sementara sang dokter terus sembahyang... ia tidak mau tidur lagi, ia dibayangi rasa takut yang amat sangat... biasa ketakutan dokter umumnya takut kalau ia membunuh orang dengan pekerjaannya. Seharunya menyembuhkan bukan mematikan. Singkat cerita pagi-pagi sang anak kecil itu sudah ada didepan pintu sambil menangis ia memencet bel... segera dokter itu lari keluar dan melihat sang anak..... anak itu terus menangis... Dokter itu takut ia pikir sang ibu meninggal gara-gara obat yang diberikannya... tetapi sang anak diam saja ia terus menangis... dokter itu berkata nak.... sabar ya...... Tuhan akan memberi kekuatan kepadamu.... sabar ..... dokterpun ikut menangis.... membayangkan karena ulahnya ibunya meninggal.... udah ayo kita datang kerumahmu ‘demikian kata pak dokter. Sang anak masih terisak-isak dengan tangisannya  membuat pak dokter gelagapan bingung tidak apa yang harus ia perbuat, ia pikir ibu sang anak sudah meninggang dunia.
       Udah diam demikian kata dokter, ayo kerumah, pak maaf pak...... obatnya pecah dijalan.. maafkan saya ya pak....dokter itu hampir tidak percaya apa?sang anak tambah takut lagi memecahkan obat, sang anak pikir dokternya marah.... maaf...maaff pak obatnya jatuh dan pecah dijalan.... saya sudah nggak punya duit itu beli obat pengganti pak! Dokternya kaget setengah mati... ia sangat bersyukur ..... bahwa Tuhannya begitu baik... dokter ini mulai tenang dan berkata tenang dik... nanti aku ganti dan aku mau kerumahmu untuk mengobati ibumu...... sang dokterpun kerumah sang anak ini jauh.....sekali..... dan dokter ini muncul belas kasihan... sudah jangan tinggal disini lagi ... tinggal sama pak dokter mulai sekarang kamu menjadi anak angkat pak dokter...  Sang anak dan ibunya mengiyakan perkataan pak dokter, anak ini disekolahkan dan menjadi pintar...menjadi orang baik sementara ibunya sehat dan keluarga ini bahagia 
 
Catatan : guru harus menyimpulkan cerita dan memberi ayat mana yang paling tepat apakah Roma 8:28 atau hormatilah ayah ibumu (Kel 20)

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.