Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini55
Kemarin821
Minggu Ini55
Bulan Ini19320
Total Pengunjung837714

IP Kamu 54.225.26.44 Monday, 22 October 2018

Guests : 27 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MENINGGALKAN GEREJA DAN MENEMUKAN TUHAN

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Harus diakui bahwa jumlah orang Kristen sekarang tidak bisa dihitung dengan hitungan jari atau dianggap sebelah mata dalam kuantitas maupun kualitas. Bukan saja jumlah gereja yang melebihi kecepatan cahaya, tetapi juga jumlah orang yang masuk gereja berada dalam deret ukur bukan deret hitung. ‘Ngomong’ bohong kalau orang Kristen di Indonesia ini, sekarang hanya 10 persen saja, bisa-bisa sudah 20 atau 30 persen, ini bukan hiperbole, atau terlalu excited (bersemangat) tetapi benar adanya, hanya saja tidak nampak dipemandangan mata manusia! Inilah sisi positif dalam kerajaan Allah.

 

Sekalipun gebyar kemena-ngan jiwa-jiwa melesat tajam, tetapi perlu diperhatikan kemorosotan moral terjadi di lingkungan gereja sehingga ribuan orang keluar meninggalkan gereja dengan membawa frustasi, akar pahit dan dendam kesumat melihat tingkah polah para Pendeta dan aktivis yang bermental juragan sapi, jual beli kebenaran demi kepentingannya sendiri. Jika di pengadilan berlaku UUD (ujung-ujungnya duit) maka tidak jauh dari hal tersebut terjadi juga dalam lingkungan orang ‘dalam’ gereja! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Sebab para pengkotbah (tidak semua) sudah memasang tarif, dan memilih mana gereja yang profitable dan mana yang ‘bokek’! Kalau saja jemaat yang masuk dalam gereja dengan mobil mewah, sambutannya berbeda dengan mereka yang bersandal jepit, tidaklah salah ungkapan UUD di atas!

Inilah yang membuat banyak orang gerah tinggal di dalam gereja, belum lagi sikap yang ambivalent dari sang pembuat keputusan, menjadikan orang-orang menjerit dan ke luar gereja satu persatu, bahkan ramai-ramai! Kisah di bawah ini buah karya novelis Rusia yang diceritakan dengan cantik namun penulis menambahkannya dengan berbagai bumbu beraroma Alkitab.

Dua ribu tahun setelah penyaliban Tuhan Yesus begitu bangga di dalam singgasanaNya di sorga. Ia berucap: “Betapa murid-muridKu sudah melaksanakan Amanat Agungku menjadikan semua bangsa muridKu, orang yang percaya kepadaKu bagaikan bintang di langit dan pasir di laut”. Lalu Petrus menjawab: “ Ya benar Guru, sekarang ini jumlah orang Kristen hampir-hampir tidak dapat dihitung dengan jari tangan, di seluruh dunia mayoritas mem-percayai Engkau, sorga patut berbangga.” Paulus yang berada di sebelah Andreas tidak mau ketinggalan memberikan argumen-tasinya, betapa mereka sangat berkobar-kobar seperti pesan yang aku sampaikan kepada Timotius anakku itu, namun sayang para Pendeta melupakan pesanku kepada Jemaat di Roma “...dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain,....” (Rom. 15:20).

Natanael dengan polosnya berucap: “Lihat saja di Jakarta, orang membuka tempat ibadah lebih banyak daripada orang menjual roti dan ikan. Dari gang buntu sampai Hotel berbintang semua ada ibadah.

Yohanes yang baru datang dari mengunjungi orang-orang kudusnya Tuhan sedikit memperoleh informasi dari obrolan yang menarik ini, Ia langsung bertanya kepada Yesus, “Guru maksudnya apa semua ini?” Yesus menjawab: “Keadaan dunia sudah berubah, aku ingin minta kepada BapaKu untuk turun sekali saja, rasanya mereka sudah siap menerima Aku.” Bapa yang langsung melihat keadaan yang demikian mesra ini langsung berkata, “ Yesus mengapakah Engkau berpikir demikian?” Yesus men-jawab, “Lihat Bapa, betapa banyaknya gereja bertaburan bagaikan awan-awan yang menutup bumi ini? Di samping itu lihatlah betapa banyak Pendeta yang mengabdi dan melayani Aku tanpa pamrih, hambaKu di daerah dengan kesederhanaannya melayani Aku, dan juga Pendeta-pendeta kota yang semangatnya bagaikan nyala api yang membara.” Bapa kemudian menjawab, “AnakKu belum tentu jumlah gereja dan Pendeta menjamin kesadaran mereka tentang diriMu, sudahlah lupakan semua itu, sekali kelak akan kelihatan mana yang lalang dan mana yang gandum seperti yang telah Engkau sampaikan dalam pengajaranMu itu.” Entah bagaimana Yesus sangat bersemangat kemudian Ia berkata, “Bapa berikan Aku kesempatan sekali ini saja, sebab mereka sangat menantikan kedatanganKu.” Mengingat Bapa sangat mengasihi AnakNya maka diizinkan Yesus Turun ke bumi dengan ucapan, “ AnakKu, dua ribu tahun yang silam Engkau begitu terluka, menderita, dan pengorbanan demi mereka, Aku tidak ingin Engkau terluka kembali, Aku sangat mengasihiMu!” Yesus menjawab, “Tidak Bapa, Aku mengasihi umatKu, mereka sangat menantikan kehadiranKu, kali ini Aku sendiri akan memuaskan dahaga mereka. Bagaikan aliran-aliran sungai yang deras tercurah dan hujan awal dan hujan akhir akan membasahi tanah yang gersang, demikianlah kehadiranKu bagi mereka.” Kemudian Yesus turun menghampiri gereja-gereja di dunia.

Yesus turun ke kota-kota besar menemukan Gereja-gereja mewah, full marmer, dengan kehidupan pendetanya yang mewah, mobil Jaguar, limozine bertengger di depan gereja, membuat identitas gereja jelas, kelas jet set, dengan pesta makanan-makanan kelas atas yang mewah sekali. Ia mulai bingung, “Bagaimana ajaranKu mereka terapkan? Ia terus mengelilingi seluruh dunia, Gereja mana yang harus Ia kunjungi? Tiba-tiba Ia merasa kesepian di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia Ia berdiri sendiri dan tanpa ada yang mengajaknya berbicara. Seperti ungkapan Yohanes dua ribu tahun yang silam, Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunya-anNya itu tidak menerimaNya. (Yoh. 1:11). Ia merenungkan ucapan yang pernah Ia sampaikan : “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala Firman yang ke luar dari mulut Allah,” kenyataannya hidup manusia terkonsentrasi dengan perut mereka. Ia sendiri mengajarkan hidup ini di luar urusan perut, kemewaan, kedudukan dan kekayaan, tetapi kenyataannya banyak pendeta malah justru meng-iming-imingi jabatan, kekayaan dan ketenaran untuk menarik umat atau pekerja masuk dalam gerejanya. Bukan main! Yesus sendiri geleng-geleng kepala, setiap memasuki wilayah gereja mereka, Yesus tidak dikenali! Yesus berucap, “Masak dari sekian banyak Pendeta dan HambaKu tidak ada satupun yang melakukan perintahKu dan mengenali Aku?” Yesus tidak putus asa, Ia terus mencari dan mencari!

Akhirnya Ia menemukan gereja di tempat yang terpencil, bangunannya amat sederhana, pendeta yang menggembalakannya tampak ramah, murni, dan sepertinya belum terkontaminasi dengan glamournya kota besar. Kebetulan hari itu hari Minggu, umatNya sedang beribadah dengan susunan liturgi yang rapi sekali, Yesus menunggu di luar gereja, takut heboh dan merusak liturgi yang sudah disusun sepanjang malam oleh sang Pendeta, Yesus sungguh-sungguh menghormati jerih lelahnya. Ia berdiri lama di luar gereja, sementara ibadah masih berlangsung. Sesudah selesai ibadah, Yesus menyalami mereka dan berkata, “Sobat, Aku bangga akan kesederhanaanmu, Aku sudah keliling dunia, baru Ku-temukan gereja seperti ini.” Ada banyak reaksi di antara umat yang mendapat jabat tangan dari Yesus ini, ada yang berkata Terima kasih, ada yang cuma manggut-manggut saja dan sebagian cuek sambil lalu tanpa menggubris perkataan Yesus.

Satu di antara mereka memperhatikan jubah yang Yesus pakai, “Sepertinya kau orang baru di kota ini, jubahmu lucu seperti Yesus.” Kemudian Yesus memperke-nalkan diriNya, “Aku memang Yesus, dan baru datang ke tempat ini. Mereka yang mendengarnya mengganggap gila dan mengatakan “Berani amat Kau mengaku dirimu Yesus?” “Bukan mengaku Yesus, memang Aku Yesus yang Engkau sembah itu,” kata Yesus meyakinkan. “Ya!”, celetuk seseorang, “Sekarang banyak orang mengaku sebagai Mesias palsu, jangan percaya!” demikian ucapan kasarnya. Yesus terus berupaya meyakinkan mereka, “Kenalilah Aku! Kenalilah Aku Yesus yang kalian sembah dan puja. NamaKulah yang kalian muliakan dalam gereja, kedatanganKu kalian nanti-natikan. Dan Aku sengaja me-milih gerejamu dan kotamu untuk Aku kun-jungi. Sementara keributan sedang berlang-sung keluarlah sang Pendeta, Maka Jemaat berucap, “Pak Pendeta, orang ini mengaku Yesus, dialah nabi palsu seperti yang Alkitab katakan.” Sang Pendeta menghampiri Yesus dan kemudian menatap wajahnya yang lembut, tetapi tajam bagaikan mata elang yang sanggup menembus dinding hati yang keras, kemudian sang hamba Tuhan ini menundukkan kepalanya. Sang Pendeta berucap, “Orang ini menyesatkan kalian, dan biarkanlah aku yang mengurusnya, kalian pulang semua.”

Sang Pendeta kemudian mengajak Yesus masuk ke dalam ruang Pastori dan mengunci pintu berduaan saja. Kemudian sang hamba Tuhan ini berlutut, mencium kaki Yesus, “Tuhan, ampuni aku.” Yesus berkata, “Jadi engkau mengenali diriKu?” “Tentu Tuhan, aku mengenali Engkau.” “Lalu mengapa engkau tidak memperkenalkan kepada jemaatmu? Mengapa pernyataanmu di luar berbeda,” demikan ucapan Tuhan keheranan. Jawab Pendeta it, “Takut.” “Apa yang engkau takuti, anakKu?” Yesus betul-betul tidak memahaminya maksudnya. Sang pendeta menjawab, “Begini Tuhan, dulu, dua ribu tahun yang silam, Tuhan sendiri mengobrak-abrik bait Allah, tradisi-tradisi lama yang sudah usang Tuhan obrak-abrik, di dobrak dan dibuang bukan?” “Lalu?” tanya Yesus! “Mohon Tuhan tidak melakukannya lagi. Sebab jika Tuhan melihat tradisi dan peraturan, serta atmosfer gereja sekarang, pastilah tidak ada yang tersisa, tanggungan Sodom Gomora lebih ringan dibanding mereka yang mengecap kebaikanMu? Tidak akan pernah akan ada pendeta dan pastor atau siapapun yang lolos dari pengamatanMu? Tuhan mohon pergilah, jangan usik kami! Biarkan kami berjalan sampai kedatanganMu yang ke dua kali.” Yesus sangat terluka hatinya, Ia sadar betul manusia belum berubah, malah semakin gila! Itulah kisah fiktif yang diungkapkan seorang novelis Rusia dengan bumbu yang beraroma gereja oleh penulis, tetapi ungkapan tersebut tidak boleh dianggap sambil lalu saja, bagaikan cerita yang meninabobokkan kita.

Realitas Mentalitas Hamba Sekalipun kisahnya berbeda secara yang tersurat tetapi secara tersirat banyak gereja yang memiliki kepemimpinan yang tidak berbeda, arogan, merasa suci, dan paling benar sendiri, dan jumlahnya semakin banyak! Menyatukan partai yang tidak berbau spiritual jauh lebih mudah dibanding menyatukan gereja Tuhan mengapa demikian? sebab pemimpinnya takut kurang pamor, pengaruhnya mengecil, takut orang lain dikenal, kalau bisa seluruh dunia mengenal, berharap pada dirinya sendiri. Banyak hamba Tuhan yang menganggap dirinya hero padahal sebenarnya zero besar! Jendral-jendral gereja sekarang seperti Nebukadnezar tanpa tanding oleh siapapun dan di manapun! Itulah yang membuat orang-orang meninggalkan gereja dan lari menjauhinya! Kalau Kristus sendiri sudah terhilang di dalam gerejaNya, apa yang umatNya cari? Atraksi kefasihan lidah, dan pajangan mujizat dari kuasa yang lain? Itulah faktanya sekarang!

Banyak anak Tuhan gerah berada di dalam gereja Tuhan, melihat badut-badut yang show of di mimbar, dengan teologinya yang nyentrik-nyentrik, membesarkan dirinya sendiri, seakan-akan rohaninya paling hebat, benar dan pintar, sementara yang lainnya ‘bloon’ akan kebenaran. Ignatius Loyola (1491-1556) seorang pendiri Serikat Yesus asal spanyol mengatakan We should always be disposed to believe thaat which appears to us to be white is really black, if the hierarchy of the Church so decides. (Kita harus selalu cenderung untuk percaya bahwa yang kita lihat putih sesungguhnya adalah hitam, apabila hirarki gereja memutuskan demikian). Peraturan yang dibuat oleh bapak-bapak Gereja dianggap tidak pernah salah, seperti seorang bos yang mengatakan, “Peraturan pertama: Saya tidak pernah salah, dan peraturan ke dua: Kalau saya salah, kembali ke peraturan pertama.” Banyak pengkotbah menganggap dirinya Firman Tuhan, suaranya selalu benar lebih dari siapapun juga! Ucapannya tidak pernah salah, sebab dianggapnya dari Tuhan dan tidak boleh dilawannya, submition (penundukan diri-red) para pendengarnya harus jelas tanpa tanya apapun! Jenis Hamba Tuhan ini membuat dua kemungkinan, pengagum berat yang semakin banyak memujanya, sebab bagi jemaatnya dialah dewa atau ‘tuhannya’! Tetapi tidak kurang jemaat dewasa yang meninggalkannya. Bagi jemaat yang dewasa sudah mulai tumbuh rohaninya dan berpikir, “Kalau tidak bisa melihat Yesus di dalam diri sang Pendeta, percuma saja mempertahankan diri untuk duduk mendengar kotbahnya, sebab yang kelihatan cuma teologinya saja, akar pahit yang diunggapkan di atas mimbar, bukan kasih dan anugerah Bapa yang luar biasa.”

Tinggalkan gereja yang suam dan kering, yang membuat rohani hampa dan kosong, untuk apa tidak menemukan Tuhan di dalam gereja Tuhan. Bila di rumah sakit orang dapat menemukan orang sakit, di rumah hantu orang menemukan hantu, sebaliknya di rumah Tuhan orang harus menemukan Tuhan. Jika di rumah Tuhan tidak ada Tuhan lebih baik ditinggalkan dan mendapati Tuhan di rumahNya sendiri! Seharusnya setiap pengkotbah dan pimpinan gereja berani berkotbah, “Siapapun saudara, jemaat yang tidak terpuaskan secara rohani dan tidak bisa bertumbuh di sini boleh ke luar mendapatkan gereja yang bisa menumbuhkan rohani saudara, sehingga saudara menemukan Tuhan.” Kalau saja saudara tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal di sini maka boleh memperoleh pelayanan di gereja lain agar saudara dapat lebih mengasihi Tuhan “demikianlah kotbah Gembala yang gentlement. Sebaliknya sekarang Gembala sidang yang melihat jemaatnya pergi ke gereja lain dianggap sesat dan memberontak.

Para hamba Tuhan harus selalu di-up grade, sebab melayani di dunia rohani harus menggunakan cara rohani, jika menggunakan dengan cara duniawi maka sinyal yang akan ditangkap oleh orang-orang disekitarnya adalah error. Terhilang dalam Gereja Dengan sangat jenius, melalui perumpaan yang cantik sekali dalam Lukas 15:11-32, Yesus dapat memprediksi penyebab utama mengapa orang-orang meninggalkan gereja. Dalam kisah Anak Yang Terhilang ini, Yesus berbicara tentang adanya dua jenis orang yang terhilang. Setiap pendengar dapat menentu kan sendiri apakah ia terhilang di luar seperti anak bungsu, atau terhilang di dalam, seperti anak sulung. Anak sulung dan anak bungsu dua-duanya memiliki moral yang rusak (bad charakter) di pemandangan Allah. Keduanya memiliki ciri tersendiri, satu terdeteksi, sementara yang lain tidak terdeteksi. Namun keduanya memiliki persamaan gambar yang rusak yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang percaya. Ketersesatannya pertama dimiliki oleh anak bungsu dan sangat mencolok mata yakni kurang ajar terhadap orang tua, menghamburkan waktu dan uang, hidup hedonisme dan kese-mrawutan.

Keterhilangan anak bungsu jelas di luar rumah, namun jenis keterhilangan ini akan membuat seseorang cepat sadar dan kembali. Lihat saja ketika ia didera dengan kemiskinan, kelaparan sampai tahapan berselera makanan babi, maka penderitaan ini memupuskan kemurtadtannya dan kekurangajaran nya kepada orang tua. Ia ingat bukan karena mendengar kotbah atau diinjili, tetapi ia dipaksa oleh keadaan yang mendorongnya untuk kembali kepada Tuhan! Kalau saja kotbah pendeta tidak sanggup membuat jemaat bertobat, maka Tuhan sendiri akan turun memberikan beban kesulitan, kelaparan dan ‘selera babi’ agar seseorang kembali seperti anak bungsu ini. Jenis anak yang seperti ini malah justru menjadikan anak Tuhan yang lain, sedih, turut mendoakan dan mengharapkan pertobatannya.

Sadar atau tidak, jenis penyelewengan ini akan membuat seseorang cepat berbalik karena doa-doa yang dipanjatkan oleh orang lain. Namun berbeda dengan kemorosatan moral oleh anak sulung. Anak sulung dipemandangan mata orang lain sebagai seorang anak yang baik yang tidak melawan orang tua, melakukan tugas dengan baik. Namun ternyata sama parahnya dengan anak bungsu yang terhilang di luar rumah. Anak sulung itu memiliki kebencian mendalam dengan saudara sedarah dan sedagingnya. Ia telah memberikan vonis murtad kepada adiknya dan tidak mungkin diperbaruhi. Tuhan saja masih memberi kesempatan tetapi kakak yang satu int tidak bisa menerima keadaan adik-nya. Penolakan yang tidak bersahabat ini sering kali menjadi batu sandungan bagi sesama, dan itu tidak bedanya dengan orang-orang di dalam gereja yang sering kali memiliki dendam yang tidak bisa hilang. Kedua anak sulung tidak dapat menikmati kekayaan yang selama ini menjadi miliknya dengan ucapan, bahwa telah bertahun-tahun ia menghabiskan waktu bersama ayahnya tetapi tidak menikmati kekayaan Bapanya. Menurut pengakuannya, anak kambing satu ekorpun belum pernah disembelih bersama-sama temannya, parah bukan? Lapar ditengah-tengah limpahnya makanan, jenis ini tidak pernah menikmati apa yang ia miliki.

Akibatnya protes jika orang lain menikmati lebih baik, memiliki iri hati yang mendalam sehingga tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain! Perbuatan anak sulung ini susah dipertobatkan sebab ia merasa diri benar dan lebih baik dari adiknya. Ia merasa melakukan perintah Bapanya atau perintah Tuhan, jadi baginya dirinyalah yang dipakai sebagai tolok ukur, agar orang lain mengikuti apa yang ia katakan dan lakukan! Malah justru ketersesatan model seperti ini akan susah untuk kembali! Banyak orang meninggalkan gereja karena melihat perbuatan anak sulung! Tidak heran gereja silih berganti jemaat! Harus diakui bahwa besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya (Ams. 27:17). Namun ketika orang menajamkan orang lain, dengan memakai besi sebagai akibatnya terluka, sakit hati, memar dan kesakitan. Mengapa seseorang harus menggunakan besi terhadap sesa-manya, bukan dengan didikan atau tegoran yang penuh kasih! Ada banyak orang dalam gereja seperti anak sulung yang sanggup menghilangkan berpuluh-puluh jiwa keluar dari gereja. Seharusnya setiap orang minta kemampuan kepada Tuhan untuk memberikan pengaruh yang baik agar dapat menarik jiwa-jiwa masuk ke dalam gereja Tuhan. Sayang hal ini tidak pernah mereka minta kepada Tuhan.

Sebaliknya banyak anak Tuhan memiliki kemampuan untuk merusak pekerjaan yang Allah sudah bangun, menghilangkan jiwa-jiwa dan merusak tatanan kode etik keluarga Kristus. Sementara kemurtadan anak bungsu tidak mengajak orang lain menjadi sesat malah justru ia kembali ke rumah untuk bertobat. Orang lain ikut bahagia dengan pesta yang diadakannya. Bagaimana kalau anak bungsu tidak pulang? Adakah pesta dari sang Bapa? Tentu tidak bukan? Orang lain menyambut dengan sukacita, karena ada pesta yang meriah, pesta penyambutan seorang gembel menjadi anak kembali! Setiap orang percaya harus sadar bahwa tugas utamanya adalah menggembalakan orang lain dengan lidah dan tingkah laku. Tugas penggembalaan bukan saja ditujukan kepada Petrus atau mereka yang bergelar gembala sidang dan pekerja gereja, tetapi berlaku untuk setiap orang percaya sesuai dengan kapasitas masing-masing! Meninggalkan Gereja Ilmu Pertumbuhan Gereja mengatakan: “Buka pintu depan lebar-lebar tetapi tutup pintu belakang rapat-rapat! Seharusnya pintu depan dibuka lebar-lebar untuk siapapun masuk dengan leluasa (just walk in) bukan untuk akhirnya keluar secara ramai-ramai (not just walk out). Yesus sendiri berkata bahwa sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerong nya mencoba menguasai nya (Mat. 11:12).

Banyak hamba Tuhan yang memulai sebuah pelayanan dengan nyanyian Bind Us Together, Satukan Kami, namun sesudah berkembang, maka ia akan berkata I can do without you, Aku Dapat Melakukannya Tanpamu. Baginya siapapun yang melawan keputusan, vonis “Musuh!” dicapkan kepadanya, apalagi orangnya miskin dan tidak memiliki kontribusi saham dalam pelayanan, habislah riwa-yatnya. Seharusnya gereja dibangun berbentuk seperti kantong kolekte masuknya kecil dan di dalamnya lebar, dan tidak ada jalan keluar kemanapun. Ada gereja yang sengaja memiliki kantong kolekte yang sempit sekali lubang di atasnya, jari kelingking saja tidak bisa masuk . Supaya tidak kecolongan keuangannya, tetapi sering kali kecolongan jiwa-jiwa yang dirampas oleh iblis dibiarkannya saja! Kantong kolekte hilang Sang Pendeta dan pekerja akan kebakaran jenggot sementara jiwa-jiwa yang terhilang meninggalkan gereja dipersilahkan senyum dengan iringan lagu Sekarang Saya Sudah Bebas! Gereja justru harus menjadi recicle bin (temapat daur ulang) artinya tempat untuk mengolah kembali sampah yang sudah dimasukkan ke dalamnya sehingga menjadi sesuatu yang dapat dipergunakan kembali! Namun kenyataannya yang ada, mutiara-mutiara yang masih dipergunakan dalam kerajaan Allah dibuang oleh para pendeta gara-gara tidak seirama dengan misi dan visinya.

Perbedaan sedikit dibesar-besarkan sampai orang tersebut tidak betah tinggal di gereja! Paus Pius XI (1857-1939 mengucapkan The great scandal of the ninteteenth century is that the church has lost the working class (Skandal terbesar abad ke 19 ialah bahwa gereja telah kehilangan kelas pekerja!). Jika para pelayan Tuhan tidak lagi bermental hamba tetapi bos maka yang terjadi dalam gereja Tuhan adalah sakit hati, dan keluar dari gereja! Gereja bukan kumpulan malaikat tetapi kumpulan orang berdosa yang mau bertobat, namun tidak sedikit orang yang tidak mau bertobat akibatnya banyak orang yang lari meninggalkan gereja. Ada beberapa di antaranya tidak lagi mau berdoa dan beribadah, mereka sengaja tidak lagi bertemu Tuhan. Sekalipun bukan meninggalkan agama Kristen tetapi secara hidup keagaamaan mereka telah mening-galkan gereja.

Untung Tuhan masih memakai sarana lain, masih tersisa banyak orang yang memiliki hati yang benar. Seperti Tuhan meninggalkan 7.000 nabi (1 Raja 19:18). Demikianlah Tuhan banyak menaruh anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh rendah hati, mau berkorban dan terbeban atas jiwa-jiwa. Baginya orang-orang ini hidupnya sungguh-sungguh untuk Tuhan dan bukan untuk yang lain. Model orang seperti ini bukan orang yang mencari muka, sehingga mendapat kedudukan di gereja mereka, namun dengan rendah hati memungut anak-anak Tuhan yang terhilang dan membalut serta mengobatinya. Mereka yang terhilang bertemu dengan orang-orang salehnya Tuhan, menerima nasehat dan bertobat justru di luar Gereja. Mereka bertumbuh di luar gereja dengan semangat yang baru. Rupanya orang-orang ini meninggalkan gereja, namun justeru menemukan Tuhannya! Sebagai bahan renungan tinggalkan gerejamu jika memang di situ sudah tidak ada Tuhan, yang ada cuma percekcokan, ambisi pribadi, ribut masalah keuangan melulu, dan rohani tidak bisa bertumbuh. Temukan Tuhan dalam hidupmu dan jika sudah, kembalilah ke dalam gereja untuk turut membenahi kekacauan di da-lam gereja itu. Bagi pekerja yang selalu membuat masalah berhentilah, copot seragamu dan berdiam dirilah, jangan lagi ada orang terluka dan ke luar gereja! Stop! Domba seharusnya melahirkan domba, bukan srigala yang dapat saling memakan sebangsanya!

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.