Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Pelayanan Kami  

Pelayanan kami bergerak di Area Apostolik, Propetic, Shekinah gloria Manifestasi pelayanan Kristus kami tampilkan bukan sekedar wacana melainkan realita dengan kasih yang menguasai hati kami.

Pdm. Hiruniko Ruben, M.Th (Pengajaran dan Theologia)
Pdm. Matius M. Simorangkir, M.Th (Penggembalaan)
Ev, victor Hutagalung,S.Th   (Penginjilan)
082213725878

 

 

 

Senior Pastor :                         

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th, M.Pdk
0817 677 1900 / 081315309418
 
Pelayanan yang penuh kasih kami persembahkan untuk kemuliaan Tuhan saja!
 
   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini156
Kemarin506
Minggu Ini2984
Bulan Ini9420
Total Pengunjung620639

IP Kamu 54.82.29.141 Saturday, 20 January 2018

Guests : 39 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 10.00 WIB
(MULAI JANUARI 2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
INVESTASI KERAJAAN ALLAH
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

Hasil gambar untuk bri

023001045727503

TIMOTIUS BAKTI SARONO

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

 

BAPTISAN API

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Jangankan mendemontrasikan mujizat Allah seperti yang diperintahkan Tuhan, jawaban doa saja rasanya melayang jauh tak bertepi. Model orang percaya  ini bermandikan kefrustasian dan kegagalan dalam perjalanan kekristenannya. Kalau saja ia seorang hamba Tuhan, maka ia merasa terasing dan tidak selevel dengan pendeta-pendeta berkelas dan ‘punya nama’, padahal ia sendiri memiliki nama dan identitas  Banyak anak Tuhan layu sebelum berkembang dan  berguguran di musim kehidupan.

 Ia  menempatkan dirinya dalam deretan  ‘batu nisan’ dari orang-orang yang sudah tidak berdaya dalam gelang-gang pertandingan iman. Kalau seandainya saja ia menjadi jemaat, ia masih berada dalam status sebagai seorang yang beragama saja. Secara posisi ia anak Tuhan, tetapi secara faktual   hidupnya sangat berantakan, dengan digelayuti  selera duniawi yang membingkai hidupnya! Semuanya itu seringkali berangkat dari penderitaan yang berkepan-jangan, kesepian dan rasa dikhianati saudara seiman. Padahal secara tidak sadar ia sedang mengalami proses baptisan Tuhan yang indah! Mereka berharap perjalanan imannya mulus seperti jalan tol, bebas hambatan, tetapi kenyataannya capek dan ruwet sekali.

Kekristenan memang tidak se-mudah membalikkan telapak tangan. Yesus sendiri tidak menjajikan langit selalu biru atau lautan tanpa ge-lombang bagi para pengikutnya. Setiap orang percaya harus melewati baptisan api! Baptisan spektakuler ini tentu tidak senikmat baptisan air, di bmana orang memberi ucapan se-lamat hidup baru dan semua anggota gereja dan pendeta serta keluarga tersenyum ramah dengan sambutan yang sangat manisnya. Namun justeru tak satupun juga yang meng-ucapkan selamat, merangkul dan memeluknya dengan kasih mesra sebagai saudara seiman. Malah sebaliknya dirinya merasa terasing di tengah-tengah keluarga sendiri, ham-pa dan kesepian di tengah hiruk pikuknya candaria. Jauh dari sanjungan dan pengakuan eksistensi diri, yang ada malah di salah menger-ti, dan diabaikan orang lain. Bila sedang bertindak benar akan dipan-dang salah, dan jika  bertindak keliru sedikit, dimaki-maki dan menjadi bahan cemoohan. Rasanya salah yang diperbuatnya terlalu besar dan dipertontonkan kepada orang banyak seperti mau disalibkan bak Yesus di golgota saja.
Pertanyaan demi pertanyaan bergulir. Mengapa ia mengalami keadaan yang menyakitkan? Mungkin ada dosa? Tutur mereka. Itu masih untung, ada di antara sahabat yang menyinggung jenis-jenis kutuk atau tulah yang menghampirinya. “Ia sedang kena kutuk akibat dosa ini....” Menyakitkan memang. Sahabat yang datang bukan menghibur malah merendahkan seperti Elifas, Bildad dan Sofar sahabat Ayub di pasal pertama dan pertengahan dalam kitab Ayub. Hinaan dan cemoohan, caci-maki dan umpatan!
Baptisan api ini bukan juga se-perti baptisan Roh Kudus di mana seseorang bisa memamerkan karunia yang bisa dipertontonkan, entah itu bahasa roh atau penglihatan dan nubuatan. Baptisan Roh Kudus terkadang menjadikan orang-orang kharismatik dan Pantekosta menjadi seorang Ing. pretender dan hiprocrite berpura-pura dan munafik bahkan terkadang berdosa. Mengapa de-mikian? Sebab yang bersangkutan belum menerima baptisanNya “e.... pura-pura berbahasa Roh atau sok bernubuat dan segudang lagi karunia yang dipertontonkan!” Tentu ini orang-orang tertentu saja, mayori-tasnya baik dan indah. Karena harus diakui bahwa mereka yang meng-klaim sudah dibaptis Roh Kudus sudah mulai unjuk gigi dan minta pengakuan eksistensi diri, maka lengkaplah sudah kesombongannya. Kepalanya lebih besar dari hatinya.
Kedua baptisan antara air dan Roh Kudus tersebut masih bisa diper-debatkan para teolog dan para hamba Tuhan. Ada yang memvonis baptisan tanpa selam tidak masuk sorga. Sebab menurut pengakuannya hanya selam yang afdol di mata Tuhan, belum lagi ada embel-embel dipe-rintahkan langsung dari Yesus to the point tanpa perantara.  Namun bertutur soal selampun, ada beragam cara membaptiskan. Baptisan Roh Kuduspun kontroversial, aliran-aliran Kharismatik, ada yang menjadikannya wajib dengan salah satu tanda karunia, bahkan ada yang satu-satunya tanda yang menyertai, yaitu bahasa Roh, tanpa bahasa roh tidak bisa masuk sorga! Sementara pendeta lain mengatakan baptisan Roh Kudus itu hanya istilah bagi mereka yang pertama kali  menerima Yesus, maka Roh Kudus sudah masuk dan memenuhi.  Perdebatan sengit masih bergulir seiring kemajuan zaman. Semakin maju, maka semakin sengit perdebatan dan cemoohan di blantika kehidupan bergereja.
Baptisan api adalah baptisan yang paling jarang diperdebatkan. Seperti anak tiri yang tidak pernah dicolek-colek dan diberi hadiah. Dalam be-nak para teolog dan pendeta mereka memiliki segudang argumen untuk baptisan air dan Roh Kudus. Masing-masing berkutat dalam teologinya untuk mempertahankan kebenaran yang dimilikinya. Siapapun yang berseberangan harus keluar dari gerejanya atau memisahkan diri dari denominasi pusat dan membuat si-node sendiri.
Kedua baptisan tersebut bisa membuat gereja tercabik-cabik, gara-gara ulah orang-orang yang dangkal dan sok-sokan merasa diri sakti dan memiliki hak prerogatif. Memang Pendeta di lingkungan Pentakosta merasa diri memiliki kuasa Ing.  unlimited, dan tidak pernah sedikitpun mau berada di bawah otoritas siapun juga. Mereka berangkat dari fasilitas  baptisan air sudah dan baptisan Roh Kudus sudah ‘luber’, kurang apa lagi? Tunggu tanggal ma-innya, bisa-bisa baptisan api sebentar lagi akan memba-karnya!


Makna Baptisan Air dan Roh Kudus


Awal kekristenan berangkat dari baptisan air yang berguna untuk meme-teraikan pertobatan sese-orang dengan kelahiran baru dalam sikap hidup yang nyata di mata umum (Mat. 28:19). Pengakuan sese-orang tentang Yesus sebagai satu-satunya (bukan salah satu) Juruselamat dan Tuhan tidak hanya di bibir, tetapi dalam tindakan  yang disaksikan oleh jemaat dan para malaikatNya melalui baptisan yang menandai seseorang menjadi ‘orang dalam’ dan bukan ‘orang luar’ (Mark. 16:16).   Kemudian baptisan ini dilakukan oleh gereja Tuhan, yakni  mereka yang sudah diberi mandat dari sinode sebagai pendeta (aturan gereja), namun jika di hutan atau di atas gunung dan tidak ada hirarki gereja di sana, persoalannya menjadi lain.  Orang percaya diberi posisi yang baru yakni status orang percaya menjadi anak Allah yang memanggil Allah sebagai bapa-nya (Rom 8:15). Baptisan pertama inipun tidak menja-min seseorang ma-suk sorga, sebab persoalan kepemilikan sorga itu hanya oleh anugerah semata-mata dan tidak ada sangkut pautnya dengan tingkah laku (Ef. 2:8). Pintu sorga tidak pernah akan terbuka hanya karena perbuatan baik dan soleh sekaliiiii, sampai kapanpun gerbang sorga akan tertutup. Sebaliknya gerbang sorga terbuka sangat lebar dan bebas hambatan ketika mendapati seseorang yang berdiri di depannya dan memiliki iman di dalam Yesus Kristus dengan meterai baptisannya (kecuali tidak mendapat kesempatan) sampai akhir hidupnya!
Amal perbuatan seseorang itu bertalian dengan mahkota dan upah yang disedikan oleh Tuhan!  Jadi gereja dan pendeta tidak berhak mempersiapkan orang masuk sorga, sebab sorga sudah diberi dan pertobatan melalui baptisan yang benar memastikan seseorang men-jadi anggota Kerajaan Sorga (Filipi 3:20). Roma 5:9 menyatakan, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh  darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Gereja harus mengajarkan jemaatnya agar mereka hidup seperti Yesus Kristus hidup selama di bumi ini. Sorga yang telah dinikmati yakni rasa damai, kerendahan hati, dan hadirnya Allah dalam hidup kita, semua itulah yang akan dibawa ke sorga kelak!
Dalam sesi pertama baptisan ini setiap orang percaya diberi hak atau kuasa sebagai anak Allah. Otoritas yang dipergunakan dalam baptisan pertama ini adalah otoritas sebagai anak Allah (Yoh. 1:12). Kuasa yang dimaksud di sini adalah Yun. exousia diucapkan ex-oo-see'-ah yang memiliki arti sebagai kemam-puan khusus atau perlakuan istimewa yang diberikan  seseorang atau manusia super (Ing. superhuman), atau pengaruh yang didelegasikan (Ing. delegate influence). King James menterjemah-kannya dengan Ing. authority, jurisdiction, liberty, power, right, strength.
Bagi orang percaya perso-alan sorga bukan persoalan hanya sekedar tiket masuk, tetapi orang percaya akan dipermuliakan (Roma 8:17), dan memerintah (Wahyu 20:4) serta menghakimi. Yesus mengatakan: “Bahwa kamu akan makan dan minum se-meja dengan Aku di dalam Kera-jaanKu dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi  kedua belas suku Israel.” (Luk. 22:30).
Baptisan Roh Kudus adalah baptisan sesudah seseorang meng-ambil keputusan untuk menerima Tuhan sebagai Juruselamat (Kis. 2), namun tidak menutup kemungkinan orang terlebih dahulu menerima baptisan Roh Kudus sebelum di-baptis air, sebab otoritasnya ada di tangan Yesus Kristus. Baptisan ini untuk memperlengkapi seseorang dalam perjalanan iman atau terlibat dalam ladang Tuhan. Perlengkapan ini datangnya dari Roh Kudus melalui baptisan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri! Sementara Kuasa yang diberikan adalah Yun.  dunamis diucapkan doo'-nam-is memiliki arti secara umum menyang-kut suatu keajaiban diri sendiri dan secara khusus berarti suatu kekuatan tenaga yang dahsyat (baca bom) King James Version menterjemahkannya dengan ability, abundance, meaning, might, (worker of) miracle, power, strength,violence, mighty (wonderful) work.
Sudah saatnya kita tidak lagi mempertentangkan mengenai kedua babtisan ini, Baptisan Roh Kudus dan Baptisan Air, keduanya saling melengkapi dan menguatkan.
Bahkan kino saatnya baptisan api memurnikan anak-anak Tuhan dan para hambaNya, sehingga gereja dapat bersatu, jika masing-masing membanggakan baptisannya, maka gereja Indonesia akan tetap ambu-radul. Semua gereja harus meman-dang Gembala Agung dan bukan membanggakan dan menyanjung gembala sidang dan pengajaran ma-nusia!

Baptisan Api

Baptisan Api adalah baptisan yang dialami oleh Tuhan Yesus. Dalam bahasa Yunaninya disebutkan dengan pur diucapkan poor  memi-liki arti api atau cahaya! Barclay dalam tafsiran Matius, terbitan BPK, menjelaskan 3 hal dalam baptisan ini, yakni penerangan, kehangatan dan kesucian. Harus disadari bahwa Kehadiran Kristus membawa terang yang sesungguhnya, Ia mengatakan bahwa Akulah terang dunia (Yoh. 8:12). Ia memastikan bahwa mereka yang percaya kepadaNya tidak berjalan dalam kegelapan. Ia adalah pribadi yang hangat dan mau mene-rima siapa saja, tidak peduli wanita pelacur, atau pemungut cukai disam-butnya dengan tangan terbuka. Terbukti mereka yang telah berjumpa dengan Tuhan Yesus hidupnya yang gelap diterangi dan kehangatanNya memungkinkan setiap orang mem-peroleh pemulihan dan pencerahan total luar dalam!
Para teolog dan hamba Tuhan lebih banyak  sepakat bahwa baptisan ini menyangkut suatu ancaman penderi-taan. Yesus sendiri barkata: “Aku da-tang untuk me-lemparkan api ke bumi dan betapa-kah Aku harap-kan, api itu telah menyala! (Luk. 12:49). Api yang dimaksudkan di sini bukan hanya menyangkut akhir zaman dan penghukuman, tetapi api berbicara soal penyucian dan ujian. Ketika Yesus sendiri tahu saat-saat kematianNya, Ia tidak meninggalkan warisan dan bagi-bagi jabatan untuk para murid, tetapi malah justru Ia mewariskan rentetan ancaman dan penderitaan serta  bahaya yang menghadang. Setiap orang percaya akan menelan kesengsaraan, dan menghirup kesengsaraan panah api si jahat, hari-harinya digelayuti oleh penolakan dunia ini! Paulus menga-takan dengan jelas bahwa orang yang beribadah akan mengalami aniaya (2 Tim. 3:12) dan bahwa penderitaan dan aniaya termasuk salah satu dari karunia Allah(Fil. 1:29).
Gereja Tuhan di Indonesia harus sampai dalam batasan seperti apa yang Paulus katakan “Dan beru-sahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil  kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan  oleh semua dan di dalam se-mua.” (Efesus 4:3-6). Satu baptisan yang dimaksud Paulus tersebut menggunakan kata Ing. baptisma yang diucapkan bap'-tis-mah, Ing. immersion, baptism.Yang berarti ditenggelamkan atau dicelupkan, baik secara teknis atau kiasan. Kata baptisan ini mengandung konsekuensi yang sangat berat. Bagi seorang yang ingin menjadi seorang prajurit tidak ada cara lain kecuali harus bersumpah kepada Kaisar untuk setia sampai mati apapun resikonya! Demikian juga anak-anak Tuhan harus ‘bersumpah’ kepada Yesus Raja di atas segala raja untuk setia dan bersedia ditenggelamkan dalam kubangan penderitaan dan kesakitan sampai mati!
Jemaat mula-mula sesudah baptisan Roh Kudus yang turun seperti lidah-lidah api bukan hanya panen akan jiwa-jiwa yang bertobat, tetapi mereka juga pesta aniaya setiap hari. Ada saja di antara mereka yang dipenjara, dipenggal kepalanya dan deretannya masih panjang sampai kaisar-kaisar Roma yang bengis membantai satu persatu orang yang ‘berbaju’ Kristus. Banyak orang-orang Kristen menjadi santapan singa dan dibakar serta dikuliti hidup-hidup. Semuanya itu berangkat dari lidah-lidah api yang turun atas para murid-murid Yesus saat Pentakosta. Petrus yang mengalami sendiri pendeitaan pasca Pentakosta itu bertutur sederhana “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mem-persenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan  badani, ia telah berhenti berbuat dosa --.” (1  Petr. 4:1).
Di beberapa negara komunis dan agama setan sudah men-jadi hal yang wajar bahwa orang dibunuh tanpa sidang pengadilan hanya karena percaya Kristus. Menjadi orang percaya kepada Kristus adalah taruhan nyawa. Dan orang yang mengalaminya se-dang menerima baptisan api! Yang menjadi perta-nyaan adalah: Apakah semua orang Kristen menerima penganiayaan ini sebagai tanda ia di-baptis api? Tentu tidak demikian, mungkin dalam suatu negara yang me-miliki kebebasan bera-gama, kekristenan dapat berjalan mulus tanpa embel-embel aniaya. Na-mun mereka yang berada dalam proses baptisan api ini akan melewati proses yang lebih sakit dari penderitaan jasmani! Pada prisipnya baptisan ini adalah proses seseorang menjadi lebih murni dan berkenan kepada Tuhan bisa melalui aniaya fisik atau berbagai macam masalah dan proses yang lainnya. Penga-niayaan yang dialami oleh anak-anak Tuhan merupakan lambang dari baptisan api yang memurnikan se-seorang agar layak diperlihatkan dalam kemuliaan sorga. Yesaya  48:10 Menyatakan dengan jelas: “Sesungguh-nya, Aku telah me-murnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur  kesengsaraan.”
Yesus Kristus sejak dalam rahim sudah penuh Roh Kudus, bahkan Ia sendiri berani mengklaim bahwa Roh Allah ada padaKu (Luk. 4:18) tetapi Ia lebih penuh baptisan api yakni penuh penderitaan dalam hidupnya. Lihat saja sejak bayi saja Ia menga-lami ancaman pembunuhan sehingga harus diungsikan, perjalanannya dalam melakukan mujizat yang spektakuler tidak banyak diterima oleh orang di zamannya, bahkan ia tertolak sampai mati di atas salib Golgota. Ia bukan saja dibaptis dengan air oleh Yohanes Pembaptis tetapi Ia lebih banyak berendam di sungai penderitaan. Hari-harinya dilalui dengan tangisan dan air mata doa, bahkan diceritakan keringatNya seperti tetesan darah (Lukas  22:44). Ketika penyaliban, Yesus Kristus dibaptis oleh darahnya sendiri, tubuhnya diselimuti dengan darah segar yang tercurah oleh cambukan dan sayatan mengerikan. Yesaya mencatat bahwa Ia sudah tidak berbentuk, wajahnya sudah tidak kelihatan lagi (Yesaya 52:14).
Paulus memiliki kebanggaan karunia di atas rata-rata orang di zamannya. Kalau dalam perkuliahan nilai yang diperoleh A plus melebihi murid Yesus sendiri. Gamaliel sendiri tidak sehebat Paulus dalam berkarya, padahal ia yang mengajari Paulus terus menerus dengan teliti (Kis 22:3). Paulus lebih hebat dari Ana-nias (Kis. 9:10) hamba Tuhan yang menolongnya pertama kali. Bertutur soal Karunia Pau-lus mengatakan lebih dari yang lain. 1 Korintus 14:18 menyatakan  “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan  baha-sa roh lebih dari pada kamu semua.” Tetapi Paulus tidak pernah mendaf-tarkan dalam pemberitaan surat-su-ratnya orang-orang yang disembuhkan dan dibangkitkan dari orang mati se-bagai pengakuan dirinya dipanggil Tuhan, tetapi justru Ia daftarkan penderitaanNya.
Inilah daftar tersebut: “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami kapal karam, sehari semalam aku terkatung-katung  di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya  penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak   orang-orang bukan Yahudi bahaya di kota, bahaya di padang  gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku  tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk meme-lihara semua jemaat-jemaat” (2 Kor. 11:24-28).
Yesus dan Paulus tidak pernah sekalipun membanggakan baptisan airnya atau baptisan Roh KudusNya dengan deretan mujizat yang terjadi sebagai pengakuan diri di hadapan khalayak ramai agar dia dianggap orang sakti mandraguna tetapi pribadi-pribadi yang saleh ini meneladankan penderitaan yang mereka alami sebagai tanda dari baptisan api! Akhir zaman ini perlau adanya pertobatan dari seluruh pelayan Tuhan untuk tidak mem-banggakan diri namun teladankanlah sesuatu yang memberi kekuatan kepada umat Tuhan

Makna baptisan Api

Baptisan ini tidak menjadikan seorang anak Tuhan menepuk dada dan berkata “I am the best!” dan arogan oleh segudang karunia yang berselimutkan jabatan gerejawi. Namun seseorang yang telah mengalami proses baptisan api ini akan berkata  “I am nothing,” sebab derita dan air mata menjadi minuman bukan saja tiga kali sehari tetapi sepanjang hari, dan santapan malam sampai menjelang pagi! Baptisan api menjadi modal utama untuk menghancurkan kerak-kerak kesombongan yang melekat akibat praktek karunia roh yang sudah diamputasi untuk kepentingan pribadi dan sanjungan yang bernama idola dari jemaat sebagai satu-satunya pendeta sakti mandraguna yang melekat di kerah kemejanya. Paulus mengatakan “Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para  rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang  telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan  bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia,” (1 Kor. 4:9).
Sebelum seseorang menerima baptisan ini anak Tuhan memiliki kemampuan menggunakan seluruh assesoris karunia Roh, dan nama Yesus Kristus menjadi  komoditas yang bisa meraup keuntungan diblantika kehidupan bergereja dan pelayanan.  Rata-rata di antara para pelayan Tuhan arogansilah yang muncul di dalamnya. Ini terbukti dengan memanfaatkan karunia Roh yang diberikan untuk mencari pengakuan eksistensi dirinya sendiri supaya dianggap orang yang rohani! Namun kita perlu menyadari sepenuhnya malah justru karunia dari Bapa itu diberikan kepada mereka yang kecil dan tidak berdaya. Yesus dengan tegas mengatakan, “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan  orang pandai, tetapi Eng-kau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepa-daMu,” (Luk. 10:21). Kata orang kecil dalam bahasa aslinya Yun. nepios diucapkan  nay'-pee-os  secara bebas dapat diartikan suatu partikel-partikel usang, atau menyiratkan ketiadaan atau orang yang tidak bisa mengatakan sesuatu dan secara kiasan dapat digambarkan sebagai orang dungu dan orang yang belum dewasa atau bayi. Mana ada sih bayi yang sombong?
Musa adalah seorang yang kuat dan pribadi yang mantap! Kemampuan yang dimilikinya sebagai pewaris kerajaan Mesir menjadikan dia layak menjadi pemimpin bangsa Israel. Tetapi Tuhan tidak menghendakinya selama Musa bergelimpangan kekayaan eks-ternal saja, ia harus kaya secara internal. Untuk menjadi kaya secara batiniah seseorang harus melompat dari glamournya kenik-matan duniawi dan lari untuk me-nyepi di padang gurun, dengan ke-sendirian, kelaparan dan kehausan. Musa membutuhkan waktu 40 tahun untuk menerima baptisan api melalui pertemuannya dengan Tuhan di semak belukar yang menyala-nyala (Kel. 2). Penulis Ibrani dengan tegas menyiratkan apa yang menjadi pelajaran bagi Musa, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari   pada untuk semen-tara menikmati kesenangan dari dosa (Ibr 11:25).
Melalui baptisan ini maka seseorang dituntun untuk berjalan di padang gurun di mana kesulitan, kelaparan, onak dan duri meng-gelayutinya, belum lagi  binatang-binatang buas siap mencabik-cabiknya, jika tidak berhati-hati dalam melangkah dan menem-patkan diri dengan tepat. Sekali salah langkah, habislah sang kehidupan. Arah semakin lama dicapai dan melenceng dalam sudut yang semakin sulit dicapai pula! Lihat saja bangsa Israel, perjalanan yang seharusnya dicapai dalam hitungan minggu, tetapi akibat salah langkah, maka hitungan tahun dibutuhkan untuk mencapai Tanah Perjanjian.
Baptisan ini juga menjadi kompas bagi mereka yang sudah melenceng jauh dari fokus yang sudah ditentukan Tuhan, dan memperbaiki stamina di saat-saat sudah loyo dan letih oleh tingkah laku duniawi kita! Sebagai kesimpulan, bila saat ini  ada penderitaan dan kesusahan, tidak perlu mengumpat dan mengeluh, justeru itu suatu karunia dan berkat Allah! Mungkin Tuhan sedang melakukan baptisannya, jadi ber-hentilah mereka yang selalu me-ngatakan bahwa penderitaan itu kutuk!

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.