Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Pelayanan Kami  

Pelayanan kami bergerak di Area Apostolik, Propetic, Shekinah gloria Manifestasi pelayanan Kristus kami tampilkan bukan sekedar wacana melainkan realita dengan kasih yang menguasai hati kami.

Pdm. Hiruniko Ruben, M.Th (Pengajaran dan Theologia)
Pdm. Matius M. Simorangkir, M.Th (Penggembalaan)
Ev, victor Hutagalung,S.Th   (Penginjilan)
082213725878

 

 

 

Senior Pastor :                         

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th, M.Pdk
0817 677 1900 / 081315309418
 
Pelayanan yang penuh kasih kami persembahkan untuk kemuliaan Tuhan saja!
 
   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini156
Kemarin506
Minggu Ini2984
Bulan Ini9420
Total Pengunjung620639

IP Kamu 54.82.29.141 Saturday, 20 January 2018

Guests : 38 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 10.00 WIB
(MULAI JANUARI 2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
INVESTASI KERAJAAN ALLAH
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

Hasil gambar untuk bri

023001045727503

TIMOTIUS BAKTI SARONO

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

AMAL YANG DIBUNGKUS  AROGANSI DIRI

 

 Amal dan kebajikan seharusnya melaminating setiap orang percaya dengan kerendahan hati bukan arogansi diri seolah-olah dirinya hebat dan mampu memberi dan berjasa buat orang lain. Mereka lupa bahwa yang memberi kekuatan adalah Tuhan, jangan bilang hasil keringat sendiri, kalau Tuhan tidak memberi keringat  orang-orang ini tidak akan bisa berkeringat!

Alkitab jelas mengatakan :  Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini


. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:17-18)

Orang yang merasa sudah bisa memberi dan merasa dirinya berkorban biasanya minta penghargaan lebih.Dia memberikan nilai terlalu tinggi untuk dirinyakarenabrandol (harga) dikepalanya terlalu mahal dan tidak pernah memberikan diskon sedikitpun. Itulah arogansi diri, mulai punya kebutuhan merasa diri dibutuhkan. Orang harus bermuara di dalam dirinya sebab kayaknya ia mampu memberi sumber padahal orang harus bermuara di dalam Tuhan sebagai oase pertolongan.

Orang tipe ini menganggapjasanya harus diabadikan dengan tinta emas dan semua orang harus tunduk atas perintahnya karena I am the Have “ serunya dalam hati. Jujur saja penulis sebagai gembala sidang tidak punya orang kaya di gereja. Yang ada cuma beberapa orang-orang yang merasa diri kaya (padahal belum apa-apa) dan hebat yang bisa memberi untuk Tuhan padahal pemberiannya tidak sebanding dengan anugerah yang luar biasa yang Tuhan telah berikan. Belum  ada satupun diantara mereka yang  berani memberikan  hartanya sehingga mengurangi tabungannya dengan signifikan. Tidak ada satupun yang nekat menjual mobil atau cincin kawin dan berani kehilangan motornya untuk Tuhanatau rela menjadi miskin dan kurang demi pekerjaan Tuhan. Pemberiannya hanya recehan dibanding berkat Tuhan yang grosiran.

Namun demikian masih saja ada yang “petantang-petentengmerasa diri hebat dan kaya. Padahal dulu sebelum bekerja, ia rendah hati dan tidak pernah mencela orang lain namun sekarang setiap ucapannya selalu merendahkan ketidakmampuan orang lain jika dibanding dirinya mereka semua dianggap orang-orang yang tidak berani berkorban seperti dirinya. Memang orang yang selalu over confidence akan selalu underistimateterhadap orang lain. Namun penulis bersyukur di dampingi orang-orang yang tidakmiskin namun punya hati melayani dengan kerendahan hati.

Orang harus sadar bahwa kekayaan bukan apa yang kita punya melainkan siapa yang kita punya. Jika kita punya Yesus maka kita punya segalanya. Karena Alkitab berkata Yesus Ya untuk semua janji Allah yang merupakan kekayaan yang tidak terhitung sampai ke dalam kekekalan. Kekayaan bukanlah sebuah keadaan melainkan sikap hatidan yang lebih penting lagi adalah kekayaan bukanlah seberapa besar yang kita miliki melainkan seberapa banyak yang kita berikan untuk orang lain dan Tuhan.  Bahkan pakaian kita di sorga di tenun dengan segala amal dan perbuatan. Wahyu  19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]

Mengapa orang pelit dan kikir tidak masuk ke dalam kerajaan sorga ? (1 Kor 6:10) Sebab sorga tidak akan pernah dimasuki oleh orang yang tanpa jubah yang di tenun dalam kehidupan selama di bumi yakni pemberian baik waktu, tenaga dan harta bagi Tuhan. Jadi sudah dapat dipastikan orang yang pelit akan menjadikan dirinya telanjang dalam kekekalan. Kekayaan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki namun seberapa banyak yang kita berikan buat orang lain.

Mengapa orang kaya dan Lazarus dikisahkan secara jelas bahwa orang kaya itu masuk neraka sementara Lazarus masuk sorga? ( Lukas 16:19-31) orang kaya ini masuk neraka  dikuasai oleh kekayaannya sebab ia tidak mau membagi kekayaannya dengan lazarus yang miskin tetapi miskin. Orang yang hidup disampingnya tidak tersentuh dengan kekayaannya, Lazarus tetap miskin disamping orang yang kaya.  Padahal setiap orang yang diberkati oleh Tuhan, Dia punya target agar dapat memberkati orang lain sementara jika seseorang diberi kesempatan menjaid kaya supaya dapat memperkaya orang lain.

Orang harus sadar yang kita korbankan untuk orang lain entah itu gereja, sesama dan siapapun yang di luar diri sendiri akan kita jumpai dalam kekekalan asalkan pemberian itu tulus tanpa pamrih bahkan ucapan terima kasih sekalipun tidak mengharapkan. Kekayaan yang kita berikan untuk orang lain itulah harta yang kita akan  temukan di dalam kekekalan. Kita tidak akan menemukan banyaknya deposito, mobil, rumah atas nama pribadi kita melainkan segala sesuatu yang telah dinikmati oleh orang lain bahkan mereka yang tidak kita kenal (Matius 25:35-36). Orang sekarang baru bisa memberinya sedikit sudah gembar-gembor alias memberikan pengumuman bahwa dirinya sang dermawan. Najis deh….

 

a.      Perpuluhan

Bila jemaat menganggap perpuluhan adalah sebuah pengorbanan (sacrifice)  atau pemberian (donation)  buat Tuhan itu merupakan hal yang salah. Perpuluhan bukanlah pemberian melainkan mengembalikan. Maleakhi 3:10 mengatakan : “Bawalah seluruh persembahan persepuluhanitu ke dalam rumah perbendaharaan,supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkaplangit dan mencurahkan berkat kepadamusampai berkelimpahan.

Kata bawalah dalam bahasa Ibraninya bô' berasal dari kata pergi atau datang, bisa juga memiliki arti mengirimkan atau membawa dan tidak ada satupun dari kata ibrani yang menunjukkan sacrifice atau korban. Jadi pemberian perbuluhan itu bukan sekali-kali pengorbanan melainkan aturan main ketaatan atau bentuk ungkapan syukur “pajak rohani” Perpuluhan adalah aturan main yang paling sederhana. Perpuluhan adalah cara yang dapat dipakai untuk membeli kekayaan sorga. Dengan perpuluhan jaminan berkat Allah dicurahkan kepada mereka yang mentaatinya.

 

Mengapa harus sepuluh persen? Bukankah hidup ini seratus persen buat Tuhan? Memang perjanjian baru tidak banyak menyebut perpuluhan namun bukan berarti tidak ada. Yesus sendiri mengharuskan perpuluhan itu dilakukan. Matius 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Yesus kembali menekankan pentingnya mengembalikan milik Allah salah satunya perpuluhan. Matius 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. Memang dikatakan naïf bila yang kita kembalikan milik Allah itu hanya sepuluh persen.  Hidup sepenuhnya adalah milik Allah yang harus dikembalikan kepada Allah namun standar terendah yang harus dikembalikan adalah sepuluh persen.  Harus ada 2 Pajak yakni Pajak untuk pemerintah yang wakili dengan Kaisar dan Pajak kerajaan sorga yang diwakili perpuluhan.

Memang harus diakui perintah sepersepuluh adalah ajaran Taurat untuk bangsa Israel yakni untuk menopang kehidupan suku lewi yang tidak dapat milik pusaka di tengah-tengah bangsa Israel. Namun orang harus tahu bahwa perpuluhan diberitakan Alkitab 400 tahun sebelum hukum Taurat itu ada yakni Abraham memberikan sepersepuluh kepada melkisedek. Kita memang harus bebas dari hukum Taurat. Namun bebas yang bagaimana? Apakah termasuk perpuluhan bagi orang lewi? Kebebasan orang percaya perjanjian baru terhadap Taurat itu menyangkut tata ibadah, aneka macam korban-korban untuk penghapusan dosa. Semua itu tidak dilakukan oleh orang Percaya di jaman ini karena menyangkut atau gambaran Kehadiran Kristus. Kematian Yesus di kayu salib sudah menggenapinya. Namun untuk perintah ketaatan kepada Tuhan terus di jalankan sampai kedatangan Tuhan.

 

Kita tidak bisa membuang Perjanjian Lama begitu saja atau menekankan sepenuhnya perjanjian baru seratus persen. Jika menyangkut penebusan dan keTuhanan Yesus Kristus orang harus seratus persen mengikuti pola Perjanjian baru. Yesus Kristus telah menebus kita sepenuhnya dan kita harus memberikan juga sepenuhnya. Tidak ada kata nominal baik minimal atau maksimal entah itu sepuluh persen atau seratus persen. Sepenuhnya diberikan kepada Allah itu tidak mungkin terjadi, bila seorang memiliki dua puluh lima juta maka ia harus memberikan kepada Allah “pajak rohani” sebagai miliknya dan kepada pemerintah sebagai pajak jasmaninya. Kita tidak bisa mencampur aduk tidak jelas mana yang milik pemerintah (kaisar) dan milik Allah! Diatas segala sesuatunya prinsip Perjanjian Baru adalah memberi tidak berangkat dari keterpaksaan melainkan dari kerelaan (2 Korintus 9:7)

 

 Mengapa harus diatur sepuluh persen? Karena bangsa Israel adalah prototype yang didik Allah sebagai Bapa  agar kelak umat pilihan Allah dapat mencontohnya.  Seperti Seorang tua yang mendidik anaknya dengan memberi uang jajan sehari 25 ribu, tidur siang satu jam dan kemudian kursus sampai sore bermain satu jam dan kemudian belajar dan jam 9 harus tidur sebab besok masuk sekolah.  Mengapa banyak aturan? Karena  jika tidak tahu aturan main maka anak itu akan menjadi liar dikemudian hari dan tidak tahu disiplin. Namun ketika sudah dewasa, masihkah anak itu menggunakan uang 25 ribu untuk jajan atau tidur siang dan belajar? Semua sudah selesai dan tahu menggunakan uang dan waktunya secara bijak.  

 

Apakah kita mengharapkan semua jemaat tahu mengatur hidup dan hartanya untuk Tuhan? Tidak demikian, yang dewasa saja bisa salah mengatur keuangan dan hidupnya untuk itu ada aturan main yang minimal yakni sepuluh persen, itu tidak cukup namun jika yang kecil saja bisa taat maka yang besarpun bisa dikelola dengan baik. Namun masih saja ada orang membagi sepersepuluh dengan caranya sendiri, dengan membag-bagi untuk pelayanan ini dan pelayanan itu sementara gereja dimana dia bernaung masih mengalami kekurangan. Lebih celaka lagi bila sudah memberi perpuluhan merasa sudah menanamkan saham sehingga ia menjadi pemilik gereja.

Prinsip perpuluhan membawa perpuluhan kepada perbendaraan rumah Tuhan supaya ada makanan. Gereja tidak boleh kekurangan makanan baik jasmani maupun rohani. Gereja harus sanggup menjamu jemaatnya dengan makanan lezat yakni menu rohani yang menyegarkan jiwa bagaikan rumput hijau dan air yang tenang. Ini diwakili pengkotbah-pengkotbah yang meramu kebenaran. Seorang pengkotbah harus memperoleh upahnya (roma 4:4) dan pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan kebenaran tersebut (1Korintus 9:4).. Bagi hamba Tuhan yang full time dalam melayani sepenuhnya jemaat harus menopang kehidupan hamba Tuhan bagaikan orang-orang lewi. Bagaimana caranya? Belajar dari Israel membawa sepersepuluh untuk kehidupan hamba Tuhan. Bila gembala sidang mengalami kekurangan dapat dipastikan jemaatnya tidak tahu memberi perpuluhan! Belajarlah dari Israel. Roma 15:4 mengatakan : “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

 

Perlu diinggatkan kembali bahwa dari dasar hati yang penuh kerelaan dan cinta Tuhan seseorang membawa perpuluhan atau persembahan lainnya. Jadi jangan congkak kalau sudah bisa mengembalikan perpuluhan sebab itu adalah anugerah yang Tuhan berikan.  Kelak bila pekerjaan dan penghasilan itu diambil Tuhan maka tidak ada lagi kemampuan mengembalikan. Selagi masih diberi kepercayaan untuk dapat mengembalikan maka belajarlah rendah hati mengembalikan berangkat dari hati yang mengasihi Tuhan bukan dari arogansi kemampuan diri.

Lihatlah orang Farisi dan ahli Taurat dalam memberikan perpuluhan, begitu telitinya sampai urusan bumbu dapur menjadi media ketaatan kepada Allah. Matius 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Yesus menekankan soal perpuluhan dan bagian terpenting dalam Taurat dengan istilah yang satu harus dilakukan. Ini berarti ada sebuah keharusan dalam memberi perpuluhan. Dengan kata lain Yesus mengatakan bahwa karakter keadilan, belas kasihan dan kesetiaan tidak boleh diabaikan namun perpuluhan harus dilakukan.

Fenomena orang yang sudah memberi perpuluhan dan memperlakukan orang tidak adil begitu banyak di gereja sekarang. Merasa sudah mengembalikan milik Tuhan  maka merasa diri paling rohani dan menganganggap orang lain tidak berani berkorban, itu tidak adil memandang dari factor subyektifitas. Orang ini bisa mendata keuangan gereja siapa yang memberi dan siapa yang tidak sebagai bahan informasi diri untuk mencela orang lain. Tidak memiliki belas kasihan orang harus menurut apa yang menjadi maunya bahkan gereja dan hirarki gerejapun harus menerima intruksinya, itu bukan belas kasihan namun sewenang-wenang merasa diri hebat. Bahkan orang bisa mengancam bila penghormatan kepada dirinya yang sudah berjasa memberi perpuluhan berkurang maka ia akan keluar gereja dengan catatan lihat tanpa perpuluhan saya gereja akan bangkrut. Ini bukan kesetiaan melainkan arogansi diri. Orang ini tidak sadar sedang melawan Tuhan! Orang tidak sadar hidup ini singkat, bila Tuhan tanamkan dimana seseorang berada maka ia harus bertumbuh disitu jika ia melarikan diri maka akan menjadi kering. Ayub 8:11 Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air?

Untuk itu selagi membawa yang menjadi milik Tuhan sepersepuluh maka karakter keadilan, belas kasihan dan kesetiaan tidak boleh diabaikan. Jangan menjadi seperti orang Israel rajin memberi perpuluhan tapi ditolak oleh Tuhan.

 

Soal melakukan kebenaran tidak ada bangsa yang  lebih hebat dari orang Yahudi sebab mereka sangat teliti melakukan kebenaran Firman Tuhan namun mereka di tolak oleh Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Bukankah mereka melakukan Taurat dengan teliti?  Ya ... namun mereka melakukan karena merasa mampu dan sanggup dan akhirnya sombong. Kita melakukan bisa  terjebak kedalam legalisme yakni hanya melakukan yang tertulis dan mentaatinya karena yang tertulis demikian. Bukan melihat roh dari kebenaran itu sendiri. Orang diberikan perintah untuk mengembalikan perpuluhan, alasannya supaya ada makanan di rumahKu. Mengapa harus ada makanan sebab memberi orang lain makan. Roh dari ayat ini berarti menanamkan kebajikan buat orang lain, sembari mentaati kebenaran.

            Ini berarti bagi si pembawa perpuluhan bukan karena ia mampu memberi dan mentaati perintah perpuluhan itu sendiri melainkan berangkat dari hati yang mengasihi Allah sebagai bentuk “submission”  yakni ketaatan  dan kasih kepada sesama bahwa perpuluhan akan berguna bagi banyak orang. Kalau membawa perpuluhan didasarkan dari hati yang demikian maka  tidak terjadi sebuah kesombongan dan arogansi diri melainkan kerendahan hati karena telah melakukan kebenaran orang karena hati yang mengasihi.

Kisah dua orang yang datang di bait Allah ini merupakan bukti bahwa melakukan kebenaran saja tidak cukup, orang harus “beyond the legalism”  melebihi yang tertulis dan harus disertai hati yang mengasihi Tuhanjika tidak kita akan menjadi seperti orang-orang farisi.

Lukas 18:10-14


 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;  yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

 

 

Dari kisah di atas kita belajar lebih baik kita merasa tidak mampu melakukan kebenaran daripada merasa bisa melakukan kebenaran dan kemudian merendahkan orang lain. Seolah-olah orang lain lebih bejat, lebih bodoh, tidak jujur, suka menguntit uang kas dan lebih tidak melakukan firman Tuhan di banding diri kita sendiri. Sering kali kita memberikan nilai terlalu tinggi untuk diri sendiri. Jauh lebih baik Tuhanlah yang memberikan nilai atas apa yang kita sudah lakukan untuk Tuhan. Lihat saja orang farisi menganggap diri nilainya terlalu tinggi dibanding pemungut cukai, namun apa vonis Tuhan? Pemungut cukai pulang sebagai orang yang dibenarkan sementara orang farisi tidak!

Diakonia

Salah satu pelayanan yang tidak boleh tidak ada di gereja adalah pelayanan meja. Pelayanan ini adalah pelayanan yang di khususkan untuk orang miskin atau pelayanan Diakonia. Gereja tidak boleh hanya menyentuh secara spiritual tetapi juga finansial. Di akhir jaman ini pelayanan gereja yang satu ini juga mencakup, anak asuh, pelayanan yatim piatu, pelayanan dalam penjara dan sederetan pelayanan orang-orang sakit yang ada di rumah sakit yang kekurangan biayaserta santunan untuk bencana alam.

Namun sangatlah fatal bila kita hanya menyodorkan diakonia agar seseorang datang ke gereja. Banyak gereja berlomba menyediakan sembako demi menjangkau jiwa, walau itu tidak salah sepenuhnya namun hal ini dapat mengubah motivasi yang lurus menjadi bengkok dan terdegradasi. Namun kalau itu cara yang merupakan satu-satunya yang efektif tidak masalah tergantung di wilayah mana mereka melakukannya sebab sangat miris hati melihat tawaran satu dos indomi saja di daerah terpencil dan miskin seorang bisa menjual imannya dan memeluk agama lain.

Diakonia juga dapat dikatakan fatal bila memindahkan jemaat gereja lain untuk menjadi jemaatnya atau sekedar memenuhi bangku gereja dengan “iming-iming” atau sogokan sembakoatau amplop. Gereja model ini tidak sedang mengadakan penginjilan melainkan memindahkan jiwa-jiwa dari gereja satu ke gereja lainnya. Sudah pasti gereja akan di penuhi orang-orang yang ingin mendapatkan apa dari gereja. Lebih baik Sang Pendeta model seperti ini menjadi pemimpin panti asuhan atau panti sosial sementara gereja adalah eklesia yakni kumpulan orang-orang benar yang telah dipisahkan dari dunia ini dan masuk dalam persekutuan untuk memberitakan kabar baik bagi semua orang.  

Gereja harus belajar mendidik umatNya untuk berkorban bagi pekerjaanNya. Sejak GBI Holy Spirit berdiri setiap bulan tidak pernah kosong selalu mempersiapkan sembako untuk mereka yang kekurangan. Bahkan pelayanan kematian sampai peti mati dan pelayanan keseluruhan di tanggung sepenuhnya. Padahal gereja ini gereja kecil yang tidak memiliki kemampuan finansial yang besar namun untuk pelayanan diakonia selalu di garis depan. Ini bukan pamer dan sebuah kesombongan namun hanya memberi tahu bahwa dalam kekuranganpun gereja masih mampu menyediakan yang terbaik untuk mereka yang membutuhkan.  Jangan pernah menganggap  GBI Holy Spirit tidak ada diakonia. Kemajuan diakonia lebih maju dari kemajuan jemaatnya.

Pelayanan Diakonia tidak boleh di ekspose siapa yang menerima dan siapa yang memberi kecuali forum khusus atau pejabat atau laporan secara global tanpa menyebutkan siapa penerimanya. Itulah kode etik pelayanan. Jika seseorang memberi kepada orang lain tidak boleh orang tahu, Alkitab memberikan istilah bila tangan kananmu memberi maka tangan kiri tidak boleh mengetahuinya (Matius 6:3). Pelanggaran ini berarti melecehkan kebenaran atau arogansi diri.

Kita tidak perlu memberi tahu siapa yang menikmati uang dari kantong pribadi kita, atau menganggap seolah-olah kita orang yang paling mampu memberi orang lain. Jika nama seseorang disebut maka tidak memperhatikan perasaan si penerima bila demikian sang pemberi menunjukkan arogansi diri Apalagi mengatakan pemberian ini bukan dari kas melainkan dari kantong sendiri, itulah model kesombongan.  Roh saya sangat berduka ketika menolong seseorang dalam pengangkatan seorang pendeta dengan dana kurang dan ada orang mau membantu, namun penulis sudah mengadakan perjanjian jangan diberi tahu siapa yang memberi. Namun waktu bergulir ketika sang pendeta tidak menyukakan hati maka ia sendiri membongkar dan mengatakan sayalah yang membantu kamu jadi pendeta. Sejak saat itu roh dan hati saya terluka, memang kesombongan dan arogansi diri masih melekat kuat!

Dulu penulis rajin di sebuah pelayanan yang dipimpin orang yang cukup kaya. Jemaat yang hadir dalam ibadah tidak hanya dijamu dengan makan malam melainkan juga diberi transport.  Pemimpin ini tidak mengadakan ibadah sebab untuk apa? Uang sudah melimpah, dan mayoritas jemaat adalah kalangan bawah yang bila kolekte diedarkan dapat dipastikan recehan yang tidak seberapa.  Ini pelayanan berjalan lebih dari dua tahun namun suatu malam Tuhan Yesus sendiri hadir dan membangunkan pemimpin yang sedang terlelap tidur dan berkata: “Mengapa engkau menutup berkat bagi jemaatKu? Sang pemimpin ibadah ini berkata : “Tuhan aku tidak menutup berkat bagi jemaatMu bahkan aku memberkati mereka, pulang aku jamu dengan makan kenyang dan uang transport mereka pulang.

Selanjutnya Tuhan menempelak dengan ucapan : “ engkau telah menutup berkat bagi umatKu, Aku tidak bisa memberkati mereka karena engkau tidak memberikan kesempatan memberi korban bagiKu. Hamba Tuhan ini tersungkur dan bertobat ampuni aku Tuhan. Esok malam ketika beribadah sang Pemimpin ini berkata dengan linangan air mata bahwa lebih dua tahun dia menutup berkat bagi jemaat dengan tidak memberi kesempatan jemaat untuk memberi kepada Tuhan. Sejak saat itu jemaat diberi kesempatan memberi persembahan melalui kolektesetiap kali ibadah.

Apapun alasannya orang harus berkorban dan member buat pekerjaan Tuhan. Gereja tidak boleh melarang orang miskin memberi, sebab akan tetap miskin sebab link berkat itu berada saat ia memberikan korban kepada Tuhan. Penilaian Tuhan tidak berada dinominal melainkan sikap hati dalam memberi. Perhatikan kebenaran dalam Matius 12:42-44 yang mengisahkan sang janda yang memberikan dari kekurangannya. Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

Memberi dalam keadaan kelimpahan bisa dilakukan semua orang namun memberi dalam kekurangan adalah kwalitas kerohanian yang jarang ditemukan di jemaat awam kecuali mereka yang militan dan all out buat Tuhan. Lihat saja kasus Elia dengan janda di sarfat, Kisah dalam 1 raja-raja 17:10-16 menceritakan :

Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."

Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."  Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

 

Pemberian dalam kekurangan menghasilkan mujizat yang tidak ada habis-habisnya. Namun demikian bukan merupakan hal benar bila memberi dengan harapan memperoleh hal yang lebih besar. Hal itu bagaikan memancing di sungai memberikan umpan kecil untuk mendapatkan yang lebih besar. Sekalipun pemberian itu menghasilkan perkara-perkara besar namun itu bukan merupakan motivasi utama melainkan reward dari hati yang mengasihi Tuhan. Jadi pemberian tidak boleh berangkat dari hasil yang lebih besar entah itu pelipatgandaan atau sanjungan dan harga diri melainkan dari hati yang mengasihi Tuhan. Korban yang tidak berasal dari hati melainkan dari gengsi akan berakibat fatal seperti Saul.

1 Samuel 15:20-26 Mengkisahkan kisah tragis model persembahan dan korban yang tidak berasal dari hati yang mengasihi Tuhan.

Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN." Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel.

JIka mau berkorban untuk pekerjaan Tuhan, itu harus mengurangi zona nyaman dalam hidup kita. Ada orang berkata saya mau melayani Tuhan tapi jangan mengurangi waktu saya dengan keluarga. Orang model begini tidak perlu melayani sebab jika melayani Tuhan pasti kekurangan waktu untuk keluarga. Yang lain berkata saya mau melayani Tuhan tapi jangan sampai mengurangi tabungan saya. Itu bukan berkorban tetapi member recehan buat Tuhan. Belajarlah jujur ketika seseorang menemukan kekasihnya dan menikah, dia tidak bisa berkata kepada kekasihnya, walau saya menjadi milikmu engkau tidak berhak mengurangi waktuku dan uangku untuk wanita-wanita lain sebab itu privacy-ku. Model begini naïf sekali sebab ketika seseorang sudah memiliki istri atau suami ia harus merelakan seluruh zona nyamannya diberikan kepada kekasihnya. Demikian juga Tuhan adalah kekasih hati kita yang kelak akan menjai mempelai Pria dalam kekekalan untuk itu mari kita belajar all out kalau tidak sudah pasti kita akan out

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.