Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini847
Kemarin811
Minggu Ini847
Bulan Ini17399
Total Pengunjung779244

IP Kamu 54.81.110.186 Monday, 20 August 2018

Guests : 99 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   
Maaf! Halaman ini sedang dalam perbaikan.
Silakan berkunjung kembali beberapa hari ini.
Terima kasih!

DNA GEREJA MULA - MULA

 

 

Yang menjadi kunci gereja mula – mula menjadi dahsyat ?
Embrio gereja yaitu saat Yesus hidup bersama para muridNya.

Mat 16 : 18 4 paradigma gereja


1. aku yang membangun gerejaku
2. Tuhan yang membangun gerejaku
3. aku yang membangun gereja Tuhan
4. Yesus yang akan membangun Gereja Tuhan

Kis 2 : 41 – 47
Melakukan 4 tekun :
A. Tekun dalam pengajaran rasul
Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan pengajaran Rasul – rasul??
Pengajaran Rasul – rasul adalah pengajaran yang rasul – rasul terima secara langsung dari Tuhan Yesus.
Pada bagian Alkitab yang menulis tentang pengajaran ini adalah Matius fasal 5 - 7
Seberapa penting pengajaran ini ?
Kisah 2 : 42 menulis bahwa jemaat mula – mula memiliki empat tekun dalam kehidupan mereka sehingga kehidupan mereka sungguh luar biasa, cara hidup mereka sangat luar biasa tentu ini akibat dari kehidupan Firman yang sungguh – sungguh menjadi darah daging dalam kehidupan mereka.

B. Persekutuan
1. II Kor 8 : 23 : temanku = koinonos
= mengambil bagian dalam hidup seseorang Ibr 10 : 33
Untuk mengerti susahnya maka kita harus bangun hubungan sehingga kita tahu dan rasa betul.
2. memberi bagian (rom 15 : 26) / menolong
3. saling berbagi (kis 2 : 42)


C. Tekun Memecahkan roti
Makin jauh dari akar aslinya makin tidak benar.
i..selalu pada malam hari
ii.selalu dalam konteks makan
atau makan malam

Perjamuan malam, kenapa tidak pagi atau siang ? karena waktu malam seluruh keluarga berkumpul dan tidak terburu – buru / tidak dinikmati tanpa perhentian
Perjamuan = makan besar / pesta
Mat 26 : 26 ketika sedang makan
Orang Ibrani selalu mengucapkan syukur sebelum makan dan tersedia anggur dan roti
Kel 12 dengan angkat roti, diambil per keluarga / rumah dengan memecahkan roti mengingat kurban Yesus. Di PL domba asli , PB Anak Domba Allah

Perjamuan arti vertical :
I Kor 11 lakukan sebagai peringatan, dan dilakukan tiap malam / tiap hari : Ingat Yesus yang mengampuni dan kita ingat untuk mengampuni orang lain sehingga hidup dalam kebangunan rohani yang progerif
Kita juga memberitakan kematian, melihat darah dan tubuh terpecah artinya melihat tubuh Tuhan/ kurban Tuhan

Horisontal :
ada keintiman / persekutuan dan duduk bersama ada penerimaan karena punya roti dan darah yang sama tanpa melihat level

D. Tekun berdoa

Memecah Roti
(dalam pemahaman Ibrani)

“Baruch ata Adonai, Eloheinu Melech ha’olam, hamotzi lechem, min ha aretz.”
“Diberkatilah Engkau, TUHAN Allah kami, Raja Semesta Alam, yang menghasilkan roti di bumi.”
Saat sebuah keluarga Ibrani hendak memulai makan, ucapan syukur di atas dipanjatkan selagi kepala keluarga memecah roti. Ucapan syukur di atas disebut dengan “memecah roti”. Kebiasaan “memecah roti” ini merupakan salah satu ciri khas kehidupan dari sebuah keluarga atau komunitas Ibrani.
“Memecah roti” adalah satu hal yang dilakukan hanya dalam konteks makan. Bahkan di dalam Talmud (koleksi hukum-hukum lisan Yahudi), istilah ini hanya merujuk kepada ucapan syukur sebelum makan [1]. Seseorang yang memanjatkan ucapan syukur ini dikatakan sebagai orang yang “memecah roti”. Dalam setiap jamuan makan, ada satu kebiasaan untuk menyediakan roti dan anggur. Ucapan syukur atas roti dan anggur ini dilakukan ketika hendak memulai makan. Orang yang mengucapkan syukur tersebut melakukannya sambil benar-benar memecah roti.
Istilah “memecah roti” juga beberapa kali ditemukan di dalam Perjanjian Baru. Adalah penting bagi kita untuk memahami apa artinya “memecah roti” dalam kehidupan Ibrani.
Pada zaman Yeshua, perjamuan makan dalam sebuah komunitas (communal meal) merupakan kebiasaan yang lazim, terutama di kalangan sekte Yahudi Esseni. Kaum Esseni merupakan bsebuah komunitas yang memisahkan diri dari kehidupan duniawi dan memilih tinggal di daerah-daerah gurun dan gunung. Seseorang yang bergabung dengan komunitas tersebut menjual segala kepunyaannya dan membagi-bagikannya kepada sesama anggota komunitas sebab kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Dalam Kisah Para Rasul kita membaca bahwa banyak dari para pengikut Mesias yang mulai menjalankan gaya hidup Esseni, menjual segala kepunyaan mereka, saling berbagi keperluan seperti makanan dan pakaian, dan memecah roti (communal meal) dari rumah ke rumah.
“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.” (Kis 2:43-46)
Seiring dengan perjalanan agama Kristen di abad kedua sampai kelima, sebuah ritual “komuni” diperkenalkan sebagai bagian dari ibadah Kristen. Ritual ini melambangkan “pengorbanan Kristus”, dimana umat mengambil bagian atas roti dan anggur, yang mana mewakili daging dan darah tuhan mereka.
Tetapi dalam Yudaisme, tidak terdapat konsep ritual “komuni” seperti itu. Tidak ada persamaan ekivalen dalam Alkitab untuk istilah-istilah semacam “Ekaristi” atau “Komuni”. Dalam sejarah kita menyaksikan justru praktek “komuni” ini sering kali menyebabkan penderitaan orang Yahudi, khususnya pada abad-abad pertengahan, dengan tuduhan yang aneh yakni mencemarkan hosti (roti yang dipakai dalam komuni). Hal ini dipicu oleh sikap orang Kristen di masa itu yang meneruskan cacian dan makian kepada orang Yahudi yang dikatakan telah membunuh tuhan mereka dengan menuduh mereka telah mengotori daging tuhan mereka. Tuduhan ini biasanya berlanjut menjadi pembantaian besar-besaran, yang mencapai puncaknya pada zaman Inquisisi.
Jadi, jika konsep “komuni” tidak terdapat dalam konsep Ibrani, darimana ritual gereja ini berasal ?
Pada abad kedua Masehi, gereja mulai menolak segala hukum dan adat-istiadat Yahudi, dengan menyatakan bahwa Kristen bukan merupakan bagian daripada Yudaisme. Dan anehnya, ketika di satu sisi gereja meninggalkan akar Ibrani, di sisi lain gereja malah menyerap unsur-unsur paganisme yang populer dalam kerajaan Romawi. Praktek-praktek dan ritual agama Romawi dengan mudah beradaptasi untuk masuk ke dalam kekristenan. Mari kita tengok asal mula ritual “komuni” dalam agama Romawi yang berasal dari Babylonia dan Yunani:
Ritual komuni merupakan sebuah ritual yang disebut “Omophagia”. Dalam agama Yunani kuno, Dionysus (atau Bacchus dalam agama Babylonia kuno), adalah salah seorang dewa utama. Ia adalah dewa anggur. Hari kelahirannya dirayakan setiap tahun pada tanggal 25 Desember. Para penyembahnya merayakan ritual komuni mereka dengan meminum air anggur yang diperas langsung dari buahnya, serta dengan memotong seekor banteng yang melambangkan Dionysus (Sang Banteng). Dengan memakan daging banteng dan anggur yang melambangkan Dionysus ini, para penyembahnya percaya bahwa mereka menyerap kekuatan dan kehidupan Dionysus ke dalam diri mereka. Jadi untuk menjadi serupa dengan dewa, mereka harus “memakan” dan “meminum” dewa mereka.
Gereja pada abad kedua kemudian mengambil-alih ritual komuni ini dan mengadaptasikannya kepada “Yesus”. Roti dan anggur di dalam komuni, yang menjadi simbol bagi “Yesus”, benar-benar dipandang sebagai daging dan darah-Nya secara harafiah. Ini yang disebut sebagai “transubstansiasi", dan bertahan sebagai ajaran Katholik sampai hari ini.
Walaupun Gereja Protestan menolak “transubstansiasi”, mereka meneruskan ritual ini, dengan menyatakan bahwa dalam roti dan anggur itu, umat mengambil bagian secara spiritual terhadap daging dan darah Kristus. Ada tiga doktrin ritual Komuni yang terdapat dalam kekristenan:
1. Gereja Katholik Roma mengajarkan bahwa roti dan anggur dari sakramen tersebut benar-benar menjadi daging dan darah Kristus (Transubstansiasi).
2. Gereja Lutheran mengajarkan bahwa daging dan darah Kristus dikonsumsi dalam dan bersama dengan roti dan anggur (Konsubstansiasi).
3. Gereja Kalvinis mengajarkan bahwa roti dan anggur menjadikan setiap orang yang turut di dalamnya, mengambil bagian dalam daging dan darah Kristus.
Sudah merupakan hal umum dalam gereja Protestan untuk men-spiritualisasi-kan ajaran-ajaran Katholik. Walau demikian, kepercayaannya masih serupa, bahwa baik secara harafiah maupun spiritual, dengan mengambil bagian dalam daging dan darah tuhan, umat percaya bahwa mereka menjadi serupa dengan tuhan.
Dalam kepercayaan Ibrani, tidak ada sama sekali ritual dimana para pengikutnya secara harafiah memakan simbol Tuhan supaya dapat “menerima-Nya”. Kita menerima Roh Kudus hanya dengan memelihara dan mematuhi perintah-perintah-Nya.
Lalu apakah yang dimaksud oleh Yeshua ketika Ia menggunakan simbol roti dan anggur sebagai daging dan darah-Nya ? Mari kita mulai dengan menengok perkataan Yeshua ketika mengambil bagian dalam perjamuan makan terakhir-Nya bersama-sama para murid:
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)
Perjamuan makan tersebut adalah Perjamuan Paskah (Passover Seder) yang dilakukan oleh Yeshua bersama para murid (Mat 26:17-18; Mrk 14:12-16; Luk 22:13-15). Apakah roti yang diambil-Nya ketika berkata, “inilah tubuh-Ku” ? Ia mengambil Afikomen, bukan sembarang roti, tetapi roti yang hanya dimakan dalam Perjamuan Paskah pada malam 14 Nissan. Roti ini merupakan roti tidak beragi yang melambangkan ketidak-berdosaan Mesias. Taurat dengan jelas mengajarkan bahwa kita harus mengingat penebusan kita dengan memakan roti tidak beragi pada saat hari raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Yeshua adalah roti tidak beragi itu. Dengan alasan itulah Ia berkata, “Perbuatlah ini (merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dan Paskah) menjadi peringatan akan Aku (Penebusmu).”
Sering kali dalam ibadah “komuni” gereja memakai roti beragi. Padahal ragi merupakan lambang dosa sedang kita tahu Mesias adalah “tanpa dosa” dan Anti-Mesias adalah “manusia pendosa”. Jadi sebenarnya siapakah yang sedang “diperingati” dalam komuni gereja ?
Dalam 1 Korintus 10:14-22, ada dua hal yang tengah dibicarakan oleh Paulus:
1. Kekudusan Perjamuan Paskah sebagai perjamuan untuk “orang-orang yang telah ditebus” (Tubuh).
2. Pelarangan untuk mengambil bagian dalam “perjamuan berhala”.
Nampaknya jemaat Korintus menghadiri baik Perjamuan Paskah maupun perjamuan dalam perayaan-perayaan berhala. Paulus berkata bahwa menggabungkan keduanya adalah tidak dibenarkan di mata Tuhan. Dalam ayat 21 ia menulis: “Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.” Ini merupakan masalah yang lazim terjadi di antara orang-orang percaya yang bukan Yahudi. Karena latar-belakang mereka adalah penyembah berhala maka tidaklah mudah bagi mereka untuk begitu saja meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Paulus memandang perlu bagi komunitas Tuhan untuk “memisahkan diri”. Ayat 17, “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Tidak boleh ada percampuran di dalamnya.
Keseluruhan 1 Korintus 5 berbicara tentang Perjamuan Paskah. Paulus berkata bahwa orang-orang berdosa dilarang turut serta dalam perjamuan tersebut. Paskah adalah satu-satunya hari raya Tuhan dimana hanya orang-orang yang bersunat (baca:percaya) yang boleh merayakannya (Kel 12:43-49). Jemaat Korintus mengundang semua orang, termasuk saudara dan kenalan mereka yang belum percaya, untuk datang merayakannya. Paulus menekankan bahwa mereka yang belum percaya dilarang untuk ikut serta dalam perjamuan itu sebab Perjamuan Paskah harus dirayakan tanpa “ragi” (dosa), ayat 7-8. Tetapi bukan berarti kita harus memisahkan diri dari orang-orang yang belum percaya itu setiap waktu. Paulus berkata ini diterapkan hanya dalam konteks Paskah saja, ayat 10: “Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini”…ayat 11: “dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”
Dalam 1 Korintus 11:26-31, Paulus sekali lagi menegaskan bahwa perintah Taurat bahwa “orang-orang yang tidak disunat tidak boleh makan Paskah” harus benar-benar dicamkan. Kelihatannya perintah satu ini tidak dituruti dengan serius oleh jemaat Korintus dengan membiarkan orang-orang yang belum percaya untuk ikut serta.
Surat-surat Paulus memang banyak sekali ditujukan untuk membereskan masalah-masalah yang muncul di tengah-tengah orang percaya bukan Yahudi dalam komunitas Nasrani. Masalah pertama yang dihadapi oleh Paulus adalah orang percaya Yahudi yang masih terikat dengan aturan-aturan Farisi yang menyulitkan orang bukan Yahudi untuk menerima Mesias. Masalah kedua adalah menangani orang percaya bukan Yahudi yang sama sekali buta akan pemahaman Taurat. Dalam kasus jemaat Korintus, Paulus menginstruksikan kepada orang bukan Yahudi bagaimana hal-hal harus dilaksanakan dalam kaidah Taurat. Berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh jemaat Korintus, Perjamuan Paskah bukanlah perayaan hura-hura dimana setiap orang boleh datang dan menikmati pesta.
Jadi, ayat-ayat di atas sama sekali tidak ada relevansinya dengan ibadah “komuni”. Istilah “memecah roti” murni mengacu kepada perjamuan Ibrani, baik itu perjamuan Paskah atau perjamuan biasa.
Kembali kepada perkataan Yeshua, apakah yang Ia maksudkan ketika Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” (Yoh 6:53)
Dasar dari perkataan Yeshua ini terdapat di dalam literatur-literatur Kabbalah. Perlu dicamkan sebelumnya bahwa Yeshua adalah TAURAT YANG HIDUP (Yoh 1:1,14), mari kita baca kutipan berikut:
“... Taurat disematkan dalam jiwa dan pemikiran seseorang, dan diserap di dalamnya, sehingga disebut ‘roti’ dan ‘makanan’ bagi jiwa. Sebab seperti halnya roti memperkaya tubuh setelah ia diserap di dalam, yang diubah menjadi darah dan daging dari tubuh dimana seseorang hidup – begitu pula halnya dengan pengetahuan Taurat dan pemahaman terhadapnya oleh jiwa orang yang mempelajarinya dengan baik, dengan ketekunannya, sampai Taurat itu diserap oleh pemikirannya dan dipersatukan sehingga mereka menjadi satu. Ini semua menjadi makanan bagi jiwa, dan hidup yang sesungguhnya dari Sang Pemberi Hidup, En Sof (Tuhan yang kekal) yang mulia. Inilah arti dari ayat “ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Maz 40:8) [2]
Di dalam Taurat dikatakan: “…bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.” (Ulangan 8:3). Roti surgawi tersebut dimengerti sebagai Taurat Firman TUHAN. Pernyataan ini kembali diulangi oleh Yeshua dalam Matius 4:4b dan kemudian dalam Yoh 6:47-57 Ia menunjuk diri-Nya sebagai Taurat yang hidup: (kalimat dalam kurung sebagai penjelas)
“Akulah roti hidup (Taurat) yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini (Taurat), ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku (Yeshua adalah Taurat yang menjadi manusia), yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." … Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya (Yeshua adalah kesempurnaan Taurat), kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku (Taurat) adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku (Taurat), akan hidup oleh Aku.”
Yeshua adalah kesempurnaan kebijaksanaan, pengetahuan, dan pengertian. Ia merupakan pemahaman yang sempurna (kegenapan) Taurat. Jadi jika kita sungguh-sungguh menyerap Taurat sehingga ia mendarah-daging di dalam kita, kita akan memperoleh hidup yang kekal. Rabbi Abraham Heschel berkata dalam bukunya 'God In Search of Man': “Tujuan dari seorang manusia adalah untuk menjadi perwujudan dari Taurat; sebab Taurat harus berada di dalam manusia, dalam jiwanya dan dalam tindakannya.”
Melalui tulisan ini kita melihat betapa pentingnya untuk memahami perkataan Yeshua dan para penulis Perjanjian Baru dari perspektif Ibrani secara total. Jika kita tidak berlaku demikian, kita akan tiba pada pemahaman yang keliru atau meniadakan perkataan mereka. Sebaliknya, dengan membaca dan memahami Perjanjian Baru dalam konteks pemikiran Ibrani, baik istilah dan juga praktek, kita akan menafsirkan dengan benar, serta memenuhi apa yang diajarkan oleh Mesias dan para murid-Nya.


(Disadur dari “Breaking Bread” oleh Luana Fabry, anggota International Nazarene Sanhedrin)
Copyright © 2000 Nazarenes Community. http://www.angelfire.com/id/nasrani. This material can be reproduced without obligation but no editing is allowed. Any contact should be addressed to This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . May peace be upon you

 

sumber  : www.jonathanpattiasina.com

 

 

Gereja Profetik Bukan Profesi

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Ketika Tuhan membentuk lembaga gereja, Ia tidak sedang membuat mainan untuk memuaskan anak-anakNya. Gereja bukan dimaksudkan untuk memanjakan dan membuat anak-anakNya adu kepopuleran kehebatan dan sikut-sikutan.

Read more: Gereja Profetik Bukan Profesi

SMS ROHANI

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Bila ada ketidak adilan maka yang pasti Tuhan  tidak betah tinggal di suatu wilayah, sebagai akibatnya tempat itu akan ada hujan malapetaka dan kehancuran total

Read more: Sms Rohani

 

DARI AKU MENUJU KITA BAGI DIA

Pdt. Timotius Bakti Sarono, M.Th

Irama kehidupan ini tidak selalu bernada keakuan, sinkronisasinya harus menyatu dengan alunan kehidupan orang-orang kudus sehingga bisa dinikmati oleh Dia yang memiliki hidup! Memang harus diakui perintah Alkitab jelas bahwa orang percaya dimanapun dituntut menjadi garam dan terang dunia, namun realitasnya sekarang garam itu sudah menjadi tawar, malah sebaliknya terkontaminasi dengan polusi dunia ini. Sebagai akibat yang paling fatal akan kondisi parah kerohanian anak-anak Tuhan adalah mereka tidak akan bisa memiliki kehidupan yang berdampak sehingga tranformasi menemui kegagalan!

Read more: Dari Aku Menuju Kita Bagi Dia

   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.