Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Pelayanan Kami  

Pelayanan kami bergerak di Area Apostolik, Propetic, Shekinah gloria Manifestasi pelayanan Kristus kami tampilkan bukan sekedar wacana melainkan realita dengan kasih yang menguasai hati kami.

Pdm. Hiruniko Ruben, M.Th (Pengajaran dan Theologia)
Pdm. Matius M. Simorangkir, M.Th (Penggembalaan)
Ev, victor Hutagalung,S.Th   (Penginjilan)
082213725878

 

 

 

Senior Pastor :                         

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th, M.Pdk
0817 677 1900 / 081315309418
 
Pelayanan yang penuh kasih kami persembahkan untuk kemuliaan Tuhan saja!
 
   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini648
Kemarin791
Minggu Ini3819
Bulan Ini16054
Total Pengunjung590602

IP Kamu 54.81.139.56 Friday, 24 November 2017

Guests : 84 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 09.00 WIB
 
Hotel BnB Lt. M
JL. Boulevard Bukit Gading Raya, Kota Jakarta Utara
DKI Jakarta 14240
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
khusus hamba Tuhan dan Guru Agama Kristen
PIN BB : 7CA63E7F
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
INVESTASI KERAJAAN ALLAH
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

Hasil gambar untuk bri

023001045727503

TIMOTIUS BAKTI SARONO

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

Bangkit Sesudah 3 hari mati       

 

Sebuah peristiwa yang  menggemparkan dan tidak  masuk di akal terjadi di era milenium yang semuanya serba moderen ini. Seorang Pendeta yang sudah 3 hari meninggal dan dibaringkan di kamar mayat, bangkit dan hidup kembali. Kisah menggemparkan ini terjadi di tengah-tengah KKR yang dipimpin oleh Reinhard Bonnke di kota Onitsha (Nigeria) yang dihadiri jutaan orang. Puji nama Tuhan! Ikuti kisahnya di bawah ini.

 

Tanggal 30 November 2001, Pdt. Daniel Ekeehukwu dengan temannya mengendarai kendaraan dari Onitsha (Nigeria) menuju desa ayahnya di Owerri. Ia ingin membawa hadiah Natal untuk ayahnya. Di dalam perjalanan ia mengalami kerusakan rem (rem blong), di mana pedal rem yang diinjak tak berfungsi sama sekali. Kecelakaanpun tak terhindari, mobilnya meluncur kencang nabrak tiang batu dengan keras dan dadanya terhentak tangkai stir, kepalanya tebentur kaca depan. Ia mengalami luka parah dan segera dilarikan di rumah sakit terdekat di Onitsha dan dirawat secara intensif.

Kecelakaan tersebut menyebabkan ajal mejemput sang Pendeta. Ia harus menghadap Sang Penciptanya begitu cepat. Sekalipun ia seorang Pendeta, namun ia tidak berkuasa juga untuk menolak maut. Ia harus rela meninggalkan istri dan anak tercinta, teman-teman dan jemaatnya yang ia gembalakan. Namun bagi Tuhan, kematian sang Pendeta ini dipakai Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan sorgawi bagi dunia yang semakin rusak ini.

 

 

Kesaksian isteri (Nneka Ekechukwu):

 

Orang-orang di sekelilingnya (Pdt. Daniel) mengatakan: " Pendeta, Pendeta, isterimu di sini, isterimu di sini!". Lalu ia sadar dan memanggilku. Aku menjawab dan mengatakan kepadanya  “Apakah kamu ingin meninggalkan aku dan anakmu untuk selamanya?” Jangan sampai itu terjadi! Dia bertanya kepadaku “Di mana aku sekarang? Aku menjawab “rumah sakit Boromyuo". Ia minta agar aku mengeluarkannya, jika aku benar-benar mencintai, dan janganlah mati di sini. Ia minta agar aku membawanya ke dokter yang di Owerri. Staf medis rumah sakit memberitahukan bahwa keadaan Daniel sangat parah.

Beberapa menit perjalanan dia mulai mengalami gangguan pernafasan yang serius. Dalam perjalanan suamiku berkata, agar aku mengasuh anak-anak dan pelayanan di gereja. Ia juga berkata bahwa ia telah membangun sebuah rumah untukku dan memintaku supaya jangan ragu-ragu dalam mengasuh tiap-tiap jemaat Tuhan. Ia berkata bahwa beberapa orang-orang dipanggil begitu cepat ( meninggal) dan ia salah satu di antara mereka, sekarang perjalananya sudah berakhir. Kemudian aku mulai menangis dan berteriak sambil memanggil namanya. Aku kuatir terhadap hari-hari mendatang dalam hidupku, penderitaan yang begitu berat pasti akan aku hadapi tanpa suami. Aku meratap dan menangis terus. Orang-orang memegangiku dan menghibur aku, supaya aku jangan menangis, sebab aku sedang hamil. Mereka menyadarkanku untuk memperhatikan keadaanku sendiri sekarang.

 

Sley Iruka ( Teman):

 

Pertama kami tiba di Federal Medical Center. Mereka bilang “sudah terlambat” dan kami tidak diindahkan. Mereka juga bilang bahwa dokternya Daniel tidak ada di sini. Lalu datang seorang dokter lain dan seorang perawat mengecek apa yang terjadi. Kami mengatakan bahwa orang ini mengalami kecelakaan. Mereka mengatakan “baiklah, tapi ini sudah terlambat”. Daniel sudah meninggal, dan sebaiknya disimpan saja di kamar mayat.

Okoronkwo Emmanuel

(Paman):

 

Saat kami buru-buru mendatangi klinik St. Eunece dan menemui dr. Joss. Ia memeriksa secara seksama, dan mengatakan “sudah mati” dan sebaiknya dibawa saja ke kamar mayat.

 

Dr. Josse Annebunwa:

 

Aku telah diberitahu bahwa ia (Daniel) mengalami kecelakaan kendaraan menuju Onitsha. Ketika aku memeriksanya, kuperiksa dadanya, namun tidak ada aktivitas pernapasan. Aku menggunakan alat Stetoskop dan tidak ada bunyi nafas. Aku memeriksa dengan sistem Cardiovasculer, tetapi tidak ada bunyi. Pasien tidak punya denyut nadi. Lalu aku memperoleh kesimpulan bahwa pasien sudah mati. Aku memerintahkan supaya pasien di bawa ke kamar mayat.

 

Nneka Ekechukwu (Isteri):

 

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatanku serasa lenyap. Aku teriak bahwa rumah Daniel dekat dengan Owerri dan aku bilang agar ke rumah tinggal ayahnya. Sampailah di rumah ayahnya, mertuaku bersama-sama dengan kami. 

 

 

Lawrence EK. Ihugpe (Ayah):

 

Pada malam hari, tengah malam Jumat itu , isteri Daniel datang ke sini dengan mayat suaminya. Setelah melihatnya, agar dapat terhindar dari kerumunan orang-orang, aku mengambilnya dan membawa ke kamar mayat.

 

Barlington R. Manu (petugas kamar mayat):

 

Ketika mereka membawa mayatnya ke sini, ia dibawa oleh ayah dan isterinya. Tidak ada kehidupan, denyutpun tidak ada, maupun tanda-tanda pernafasan, aku menerimanya sebagai mayat. Setelah pemeriksaan semua dilakukan di sekitar badan dan seluruh tubuh, dan semuanya kaku. Itulah yang membuat kami mulai melakukan proses pembalseman. Kemudian kami memindahkannya ke ruang yang kedua, menaruhnya pada papan yang terakhir.

 

Lawrence EK. Ihugpe (ayah):

 

Petugas kamar mayat mengambil nama kami dan kami memberinya uang 1000 Naire untuk melanjutkan pekerjaannya. Kemudian hari Sabtunya kami berangkat ke Onitsha membawa pulang anak-anak, isteri, dan putra sulungku yang  juga tinggal di Onitsha. Aku bawa pulang mereka semua. Setelah aku membawa mereka, kemudian isterinya menangis sambil berteriak.

 

 

Nneke Ekechukwu (isteri):

 

Tetapi aku mulai memanggil nama Tuhan dan mengingatkan janji-janjiNya. Pertama, tahun ini Tuhan mengatakan dalam Yesaya 61, bahwa tidak akan terjadi lagi kabar tentang kekerasan  atas rumahku lagi. Aku akan disebut kota Allah. Maka apapun yang terjadi, aku akan tetap berpegang pada Tuhan seperti pada firmanNya, aku katakan "Ini adalah kekerasan (tragedi) lain yang telah datang lagi atasku dan Engkau berjanji bahwa aku tidak akan mengalaminya lagi. Mengapa yang ini tetap terjadi?" Inilah yang mendorong aku untuk tetap berpegang pada Tuhan , sehingga kekerasan (tragedi) enyah dari hidupku. Ayat lain yang mengilhamiku, Ibrani 11:35 " Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang mati,...”  Ayat inilah yang selalu menguatkan aku untuk terus memegang janji Tuhan dan perbuatanNya. Mungkin itulah sebabnya, ketika aku mengahadapi semuanya ini, aku berkata " Tidak!, ini tidak bisa terjadi". Aku harus melakukan sesuatu untuk menagih janji Tuhan lagi.

 

Lawrence EK. Ihugpe (ayah):

 

Pada hari Sabtu, selagi kami sedang tidur malam, isteri putraku (yang sedang berada di kamar mayat) mengatakan agar aku membawanya dan juga mayat suaminya ke Onitsha untuk bertemu dengan Pdt. Reinhard Bonnke (Pendeta dari Jerman yang sedang KKR di Nigeria).

 

 

Nneke Ekechukwu (isteri):

 

Setelah beberapa waktu lamanya, bapak mertuaku mempertimbangkan permintaanku tadi dan memutuskan untuk mengabulkan permintaanku. Ia kemudian datang ke petugas kamar mayat untuk memperbolehkan membawa mayat suamiku. Ketika kami tiba di kamar mayat, mereka sudah meletakkan mayat suamiku ke dalam peti mati. Aku bersama juga dengan putra pertamaku, Victor.

Ketika aku sampai di kamar mayat, aku menyembunyikan putraku, sehingga ia tidak dapat melihat ayahnya yang terbujur kaku. Tetapi ia terus bertanya kepadaku “mana ayah, mana ayah?” Namun aku mengatakan kepadanya bahwa ayahnya ada di kampung (Onitsha). Aku berusaha menyembunyikan dia dari mayat ayahnya, namun ia menagis dan berteriak memanggil ayahnya. Pada waktu mereka menaruh mayat suamiku masuk ke dalam ambulan, mereka berusaha menyingkirkanku. Namun aku terus berlari dan segera masuk ke dalam ambulan dengan putraku. Kemudian kami mengemudikan menuju ke sebuah tempat (Grace Of Ministry, Onitsha). Ketika kami masuk kami bertanya kepada seseorang “Apakah Pdt. Bonnke sudah tiba?”

Pdt. Dr. Paul Nwachkwu (panitia KKR. Bonnke)

 

Bonnke berada di sini sejak tanggal 2 Desember 2001 dalam komisi "The Kingdom Life World Evangelism” sebuah pelayanan penginjilan yang besar. Kami mengedarkan iklan untuk mengundang masyarakat umum untuk datang mengalami kesembuhan illahi dari berbagai penyakit dan berdoa bagi penduduk Onitsha. Ketika kami sedang berada di mimbar, jam 1:00 (13:00 waktu setempat) dan Pdt. Bonnke sedang berkotbah, tiba-tiba seseorang datang kepadaku dan mengatakan bahwa mereka membawa mayat dalam peti mati di ambulan.

 

 

Pdt. Paul& Pdt. Nkwado (anggota panitia KKR Bonnke)

 

Kami berdua berada di dalam gedung ini. Sebelumnya, secara tiba-tiba seorang Usher (pelayan gereja) berlari kepada kami memberitahukan ada hal yang darurat. Mereka  sedang berusaha untuk membawa mayat. Kemudian kami turun dari lantai 4 dan sampailah di tempat yang dikatakan. Pendeta memerintahkan agar mayat dibawa ke atas, namun kami mengatakan agar orang-orang yang di dalam ambulan turun di sini. Pertama-tama saya minta agar isterinya dibawa, dan aku mau berbicara dengan isterinya dulu. Kami membawanya ke tempat yang teduh. Aku mulai menanyakan kepadanya apa sebenarnya yang terjadi. Aku memang merasa ada urapan Allah di sini, begitu kuatnya, sehingga aku yakin urapan Allah bisa membangkitkan suaminya.

 

Nneke Ekechukwu (Isteri):

 

Itulah  yang aku rasakan (urapan Allah) sebelum sampai di sini.

 

Pdt. Paul & Pdt. Nkwado:

 

Kami berdua saling bertukar pikiran dan aku mengatakan, hal ini bisa bikin malu membawa mayat ke dalam gereja. Kami menyadari benar apapun yang kami lakukan, dan  memang di manapun kami berada, hadirat Allah selalu ada. Jika memang Allah mau menunjukkan mujizatNya terhadap mayat orang ini, hal itu tidaklah menjadi masalah

 

Pdt. Dr. Paul Nwachkwu (panitia KKR. Bonnke)

 

Kemudian seorang petugas keamanan - sebab memang kami mempunyai petugas keamanan dari Nigerian State Security dan Unit Polisi Reaksi Cepat berada di sana. Mereka memerintahkan agar ambulan tersebut untuk berhenti dan meminta mereka untuk membuka peti mayat tersebut. Mereka tidak mau diyakinkan dengan perkataan orang-orang bahwa itu mayat, sebab bisa jadi bom atau bahan peledak yang sengaja dibawa untuk mengebom KKR Pdt. Bonnke. Ketika mereka memeriksa isi peti, mereka melihat memang benar isinya mayat Daniel. Mereka lalu perintahkan  untuk menutup peti itu kembali. Itulah pertama kalinya keamanan lokal memerintahkan kami untuk pergi menjauhi peti mayat tersebut.

Kemudian isterinya mulai menangis dan berkata " Aku percaya bahwa ia akan hidup kembali. Aku percaya!" Kemudian dia mulai menangis dan mereka menghiburnya. Sebagian mengatakan " turunkan dia (mayat)!" Beberapa berkata " Jangan!" Kemudian sebagian dari orang-orangku menurunkannya, membawa dan yang lain mendorong untuk tidak diturunkan. Ketika mereka  sedang mengangkat peti mayat tersebut, mondar-mandir sampai putraku tiba ke sana dan menceritakan kepada mereka agar membawanya ke lantai dasar dan mengeluarkan mayat tersebut dari peti. (Tapi benaknya) mereka mestinya tidak membawa peti mayat  ke dalam lantai dasar, sebab anak-anak akan takut dan orang-orang akan berlari.

 

Pdt. Nkwado:

 

Pertama aku berkata, mereka perlu mengeluarkannya dari peti, di mana beberapa pemuda  membantu kami untuk lakukannya. Merekapun mengeluarkannya dari peti di sana. Kemudian kami  lebih dulu mengambilnya dan membawa masuk ke dalam ruang Youth Conference Center. Kami menggunakan dua meja untuk meletakkan mayat tersebut. Kepalanya di sini (sambil menunjuk), kakinya di sini. Inilah tempat di mana kami membaringkannya.

 

Pdt. Dr. Paul Nwachkwu (panitia KKR.Bonnke)

 

Kami sedang mengadakan pertemuan dan Bonnke selesai khotbah. Kemudian ia berdoa untuk orang-orang. Setelah berdoa untuk orang-orang, aku mengambilnya (mayat Daniel) ke kantor. Tetapi kemudian beberapa orang mendesak dan berkata: " Ia kini bernafas, ia sedang bernafas, ia sedang bernafas!"

 

Pdt. Ibekwe &

Pdt. Onyeka:

 

Sekarang ia mulai bernafas, sedikit-demi sedikit dan kami harus berdoa. Aku dan temanku Pdt. Luke. Pdt. Luke Ikbekwe yang memulai berdoa. Aku menjamah tubuh si mayat dari kepala sampai kaki. Posisi kepalanya seperti ini (ia sambil memperagakan). Bahkan ada seseorang yang memfotonya. Posisi tangannya begini (sambil memperagakan) dan ia berbaring seperti ini. Maka kami mulai berdoa. Kami terus berdoa, berdoa dan berdoa. Ia  sedang bernafas dan ia sedang hidup kembali. Kemudian seseorang  mengumpulkan para pemuda yang juga ada di dalam auditorium. Ketika mereka dikumpulkan, kita semua kumpul di sini. Kami semua berdoa. Dan kami bernyanyi dan kami berdoa.

Banyak orang berkumpul di sini. Mereka ingin lihat dan mereka ingin mengetahui akhir dari semua ini. Kemudian semua kami berdoa. Kami berkeringat dan berkata kepada orang-orang untuk pergi menjauh agar ada udara segar masuk. Isterinya duduk di bangku sana. Kami terus tetap berdoa. Seketika kami melihat matanya mulai bergerak, dan kehidupan mulai mengalir. Aku berkata kepada temanku, Pdt. Luke, "Kamu tahu, mereka bilang orang ini sudah tiga hari di kamar mayat. Mari kita pijat dia". Kemudian kami pijat tangan kanannya. Dan kami pijat juga tangan kirinya. Ketika kami sedang menekan tangannya, kehidupan mengalir. Kami meletakkan tangannya di atas dadanya. Kemudian kami menekan lehernya, dan kehidupan mengalir. Kami bisa menggerakan lehernya ke kanan, dan ke kiri. 

Lalu kami mengambil microphone dan mengumumkan dengan mengatakan kepada orang-orang bahwa orang mati yang dibawa ke mari sudah bernafas. Namun ayah Daniel keberatan dengan pengumumanku itu dan berkata “Walau ia sudah bernafas, tetapi badannya masih kaku seperti besi”.

 Mendadak orang-orang berteriak padaku agar kembali dan melihat mengapa mereka bersorak-sorai. Tempat ini dipenuhi banyak orang, mereka ingin melihat. Ketika mereka berteriak kulihat orang mati itu ( Daniel) melompat! Ketika ia melompat, aku meninggalkan orang-orang dan  lari ke arah Daniel,  mendekapnya seperti ini (ia peragakan).

 

Pdt. Dr. Paul Nwachkwu

 

Ketika ia mulai bernafas, tiba-tiba ia melompat dan salah satu tim pelayanan pelepasan mendekapnya. Kemudian ia ( Daniel) clingak-clinguk ke arah sekeliling. Kemudian mereka memutuskan untuk membawanya atas. Sebab orang-orang  semakin berjubel memenuhi tempat itu. Kemudian ia (Daniel) seperti orang bingung, meminta filenya, filenya, filenya (catatannya).

 

Pdt. Ibekwe & Pdt. Onyeka:

 

Aku menyadari bila ia (Daniel) tetap diletakkan di sini, ia akan terinjak-injak orang banyak. Aku berkata " Mari kita bawa dia ke atas" dan kami menyusuri tangga ke atas. Sepanjang tangga ia (Daniel) berkata " air, air" Ia  sedang meminta air. Maka saya berteriak "ambil air, ambil air, beri dia air”. Ketika mereka menyandarkan tubuhnya, ia (Daniel) bertanya kepadaku " fileku, fileku, fileku". Dan aku berkata " Itu filenya, musuh memakainya untuk menuduh kamu. Tenang, kamu nanti akan tahu”.

Kami membawanya ke kantor Pdt. Chris dan menyandarkannya di ruangan yang atapnya ada kipas angin. Kami terus menjaganya, sementara kipas angin terus berputar. Dia masih terus berkata “mana fileku?” Namun akhirnya ia dibawa ke ruang auditorium, di mana udara segar berhembus di situ. Orang-orang berjejal, mereka datang dari arah luar dan masuk. Tampaknya mereka mendengar berita orang mati yang bangkit dari orang-orang. Mereka melihat juga akhirnya orang yang mati tadi sudah duduk di sini. 

 

Kisah Perjalanan Kematian

Pdt. Daniel Ekechukwu

 

Aku pergi ke kampung di mana ayahku tinggal, ada oleh-oleh yang kubawa untuknya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan kembali dengan membawa banyak beras untuk keperluan Natal. Dalam perjalanan pulang ke rumah (Onitsha), ada lembah sangat besar. Lembah dan bukit di situ sangat curam. Selagi aku mengemudi, rem yang kuinjak gagal. Kendaraan yang kupakai Mercedes 2301. Aku mencoba untuk mengendalikan, tetapi aku tidak bisa. Sebab bukit di situ sangat berbahaya, ada banyak tiang-tiang pada kiri kanan jalan untuk menjaga agar kendaraan tidak belok dan kecebur ke jurang.

Kendaraanku menabrak jurang dan dadaku terhentak tangkai stir mobil. Aku muntah darah dan darah segar keluar dari mulutku. Juga ada orang yang bersama dengan aku, dan iapun terluka. Kemudian orang-orang banyak mengeruminiku. Mereka mengangkatku ke dalam ambulan dan membawa ke rumah sakit. Itulah yang kuingat. Ketika di rumah sakit aku siuman. Aku melihat ke sekeliling dan tampak olehku alat infus dan alat-alat kedokteran lainnya yang dipasang ke tubuhku.

Aku meminta kepada mereka agar isteriku datang. Ketika mereka membawa isteriku, aku mengatakannya agar aku dibawa saja ke dr. Misereke di Owerri. Dialah dokter yang kusukai. Suatu ketika aku pernah terluka, dialah dokter yang merawatku. Sehingga aku yakin bahwa ia mau mengantarku ke dokter tersebut. Kemudian jalanlah kami ke rumah sakit di Owerri. Ada beberapa Pendeta dan beberapa orang yang menyertaiku. Aku kuatir terjadi apa-apa di perjalanan nanti, maka aku meminta agar isteriku diijinkan untuk ikut dalam ambulan.  

Pada saat itulah aku melihat dua malaikat masuk ke dalam ambulan, tiba-tiba saja aku terkejut dan takut dan ingin bicara keras tentang apa yang sedang aku lihat. Tapi salah satu dari mereka menutup mulutku, sehingga aku tidak dapat berbicara. Aku cuma bicara dengan isteriku agar ia mau memelihara jemaat Tuhan dan lain sebagainya. Aku pikir dia tidak tahu. Kemudian kedua malaikat membawaku pergi. Kami tiba di suatu tempat dan mereka menggandeng tanganku dan mengatakan “Mari pergi ke sorga”. Itulah yang dikatakannya kepadaku. Aku berbicara dengannya (malaikat) persis seperti berbicara dengan manusia. Aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya dan iapun menjawabku. Ia menggandengku seperti teman. Ia membawaku ke suatu tempat, di mana aku melihat kumpulan banyak orang. Sedang malaikat bersama-sama dengan aku. Malaikat yang bersama aku memakai pakaian putih. Tubuhnya putih murni. Pakaiannya putih murni.

Ketika aku melihat kumpulan besar tersebut, salah satu dari mereka persis seperti aku. Dalam hati aku berkata “Lihat di mana malaikat bersama-sama mereka” Kemudian ia (malaikat) mengatakan kepadaku bahwa mereka adalah orang-orang kudus yang sudah mati berkumpul. Inilah tempat bagi mereka. Jadi, ketika aku melihat mereka, mereka memuji-muji Tuhan, sungguh luar biasa. Kau tahu, seakan-akan ada kuasa di dalamnya yang mengendalikan suasana yang mereka lakukan. Kalau mereka ingin mengangkat tangan, maka serempak mereka lakukan. Tak seorangpun yang mendahului atau lebih lambat. Jika mereka ingin sujud, mereka serempak bersujud. Dan tak seorangpun yang lebih cepat, atau lebih lambat.  Seakan-akan ada kekuatan yang mengendalikan semua yang mereka lakukan tersebut.

Saya juga mendengar suara alat-alat musik , tapi tidak kulihat alat-alat musik tersebut.  Saat pengalaman ini berlangsung dan menyatu, terhanyut aku ingin bergabung dengan ke tengah-tengah mereka tetapi malaikat itu berkata  “Jangan...masih banyak yang akan kutunjukkan kepadamu, jangan ke sana. Mari kita lihat rumah besar seperti yang dijanjikan Yesus”. Maka malaikat itu membawa aku ke suatu tempat yang luar biasa. Hal itu sangat nyata kulihat, sampai aku tidak bisa menggambarkan keindahan tersebut. Pokoknya sangat-sangat mulia. Aku sangat terkagum dengan rumah tersebut, semua tampak seperti kaca dan seperti emas yang tak bisa digambarkan. Setiap bunga tampak seperti emas. Ketika aku sedang melihat tempat tersebut, dia mengatakan kepadaku bahwa Yesus sudah menyelesaikannya, tetapi sayang, orang-orang kudus belum siap.

Kemudian malaikat tersebut berkata “Mari ikut aku ke neraka”. Itulah saat terakhir aku melihat sorga. Kami bergerak mendekati tempat tersebut, dan tampaklah pintu gerbang yang sangat besar, teramat besar. Tampak tulisan di puncak gerbang tersebut “SELAMAT DATANG DI PINTU GERBANG NERAKA” Malaikat tersebut menggandeng tanganku memasuki gerbang tersebut. Malaikat itu menurunkan tangannya, maka terbukalah gerbang tersebut dan terdengarlah suara bising (gaduh) yang sangat amat. Tiba-tiba gerbang tersebut terbuka. Aku mulai mendengar ratapan. Kemudian aku melihat ke dalam, tampak orang-orang seperti saya di sini. Mereka mengenakan pakaian. Mereka punya tubuh yang sama seperti kita, beberapa hitam dan putih. Mereka tampak berbeda dengan apa yang saya lihat sebelumnya di sorga. Mereka sedang berteriak-teriak – tampak sangat menderita dan tersiksa. Aku sendiri tidak sadar kalau mereka melihat aku bersama malaikat, karena memang aku sedang bersama malaikat.

Herannya mereka tidak meminta pertolongan kepada malaikat. Malahan minta pertolongan padaku. Kulihat seorang dalam keadaan ketakutan berusaha menyentuhku berkali-kali. Ia berteriak “Aku ini Pendeta, aku hanya mencuri uang gereja dan aku berusaha untuk mengembalikan segera”. Dia hanya ingin mengatakan bahwa ia akan segera mengembalikannya, itulah sebabnya supaya aku mau menolongnya.

Sungguh aku belum pernah melihat api yang menjilat-jilat seperti di neraka itu. Aku melihat orang-orang tersiksa di dalam api. Tentang semuanya ini, malaikat mengatakan kepadaku agar dicatat untuk dibawa. Kemudian malaikat tersebut memberiku buku catatan dan polpen kepadaku. Maka aku mencatat semua pengalaman ini. Ketika aku bangun (bangkit dari mati) hal pertama yang kuingat adalah catatan-catatanku tadi. Maka kukatakan “mana catatanku, mana catatanku?” Tapi mereka tidak mengerti apa yang kumaksud. Jadi semua yang kulihat kucatat. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa catatanku, mungkin ya ingatanku sendiri (pengalamanku).

Jadi ketika aku sedang berdiri dan minta agar malaikat menolong mereka, ia (malaikat) mengatakan bahwa aku punya kesempatan lain untuk kembali. Dia (malaikat) mengatakan semua ini, bahwa orang kaya (dalam Alkitab) di alam maut telah diturunkan pada generasi ini. Aku tidak mengerti maksudnya. Sesudah aku bangun dan membaca dalam Alkitab, aku menyadari bahwa permintaan  yang orang kaya tersebut, yakni agar orang mati dibangkitkan kembali ke dunia. Malaikat mengatakan kepadaku bahwa ia akan memberiku kesempatan lain, dan untuk kembali ke dunia sebagai peringatan terakhir pada generasi ini.

 

SETELAH BANGKIT

 

Setelah bangkit dari kematian, Pdt. Daniel dan istrinya kembali ke desa ayahnya. Ia bertemu ayahnya dengan penuh suka cita. Tidak bisa dibayangkan suka cita mereka rasakan. Penduduk kampung juga menyambut dengan gembira, sambil mengucapkan “puji Tuhan, puji Tuhan”. Mereka memeluk sang Pendeta, mencium pipinya. Sebagian ada yang terbengong-bengong seakan tidak percaya, orang yang telah mati tiga hari, sekarang ada di depan mata mereka. Sebagian ada yang menangis. Mereka berkumpul mengadakan kebaktian dengan nyanyian-nyanyian syukur.

Setelah itu ia juga menemui dokter yang memberinya surat kematian. Dokternya terheran-heran dan mengatakan “Hari Jumat yang lalu aku melihat Daniel sebagai mayat, tetapi sekarang, lihat! Yang seperti ini aku belum pernah mendengar. Orang mati hidup lagi, memang itu sering kudengar, tapi mayat sudah 3 hari di kamar mayat hidup lagi?! Daniel melihat surat kematian yang diberikan dokter padanya. “Oh...benar-benar aku pernah mati” suara dalam hatinya.

Tak lama kemudian ia datang ke petugas kamar mayat. Ia ingin mengetahui tentang saat-saat kematiannya. Petugas kamar mayat bercerita kepadanya tentang apa saja yang ia lakukan dengan mayat Daniel. Dari proses pembalseman, sampai masuk ke peti mati, semuanya diceritakan. Ia juga menunjukkan tempat di mana ia dibaringkan. Ketika peti mati, sarung tangan dan kapas penutup hidungnya ditunjukkan kepada Daniel, ia tampak sedih dan memukul-mukul keningnya. Kini ia kembali melayani Tuhan, dengan gairah dan semangat yang baru. Haleluya!

 

(Diterjemahkan oleh Pdt.Agus Setiono STh – diambil dari CD “Raised From The Dead”). 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.