Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini695
Kemarin1143
Minggu Ini6312
Bulan Ini20387
Total Pengunjung809398

IP Kamu 54.162.159.33 Saturday, 22 September 2018

Guests : 39 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

TIDAK ADA GRATISAN DALAM KEMERDEKAAN

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

Tidak pernah ada gratisan dalam kemerdekaan karena untuk memperolehnya sangatlah mahal. Harganya tidak sekedar bernilai rupiah atau dollar melainkan darah, jiwa dan raga serta merelakan diri untuk kehilangan sanak famili dan keluarga serta orang-orang yang dicinta.  Realitas penjajahan di bumi ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan azas kemanusiaan“demikian isi pembukaan undang-undang dasar 1945 yang menjadi acuan dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia. Harus diakui semua manusia alergi dan tersakiti terhadap penjajahan bahkan untuk bersentuhan orang merasa ngeri dan merasa terzolimi.

Penjajahan identik dengan teror, kesengsaraan, malapetaka dan seribu satu penderitaan yang tidak pernah diinginkan manusia manapun dan kapanpun. Orang yang mengerti harga yang mahal untuk mencapai kemerdekaan tersebut akan menghargainya dengan berkarya maksimal dalam mengisi kemerdekaan. Namun sebaliknya mereka yang merasa mendapatkannya secara gratisan maka akan mencabik-cabik mutiara yang berharga dan menggantikannya dengan sampah yang merusak, menghancurkan keharmonisan berbangsa dan bernegara. Hal itu terjadi dengan menggunakan issu sara, teror dan seribu satu cara yang bejat untuk mencapai kekuasaan, pangkat dan jabatan.

Memang harus disadari bahwa kata merdeka merupakan manifestasi dari bebasnya perbudakan atau penjajahan. Namun sebenarnya kebebasan yang sejati sudah manusia miliki sejak awal penciptaan. Kebebasan merupakan unsur hakiki dan esensial yang dibenamkan Allah dalam setiap susunan syaraf peredaran darah dan tulang sumsun manusia. Jadi harus dipahami bahwa Allah  memberikan secara gratis tanpa usaha manusia dan bukan karena usai dijajah oleh siapapun, sejak semula manusia telah memiliki kebebasan penuh sekelas Yang Maha Kuasa! Kemerdekaan adalah naluri awal yang Allah benamkan di dalam makluk ciptaan yang paling mulia. Manusia tidak perlu berjuang mati-matian untuk mendapatkannya karena kemerdekaan itu diberi gratis bahkan lebih dari itu masih diberi bonus kuasa untuk menaklukkan semua binatang dan berkuasa atas alam ciptaanNya.  Sebelum jatuh dalam dosa kemerdekaan merupakan habitat[1] penuh yang dimiliki manusia. Manusia bebas berkreasi dan proaksi[2] sehingga harmoni tercipta dalam ekosistem dimana manusia tinggal.

Kebebasan yang manusia miliki bukan saja membuat nyaman bagi manusia itu sendiri melainkan bagi Allah yang bisa hadir untuk menyapa di hari sejuk. Bumi menjadi indah ketika manusia berada dalam kebebasan yang penuh dan tidak terhalang dalam menjalin hubungan dengan Allah. Allah beranjangsana menyapa Adam dan Hawa layaknya seorang sahabat berkunjung untuk bercengkerama atau duduk  bersama sebagai teman sehabitat. Perintah-perintah Tuhan kepada manusia diterimanya tanpa beban melainkan sebuah kehormatan untuk mengisi kebebasan penuh di Taman Eden sehingga karya Adam berskala dunia dan bisa dinikmati sampai sekarang.

Selama Adam tinggal dalam Firmannya maka Adam bagaikan buah anggur yang lebat, banyak carangnya dan bertunas, bunganya sudah keluar   dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum dan menyegarkan. Hal ini menyiratkan kehidupan yang penuh kebahagiaan, kenikmatan dan kelimpahan yang diucapkan oleh Yesus Kristus sendiri.

Sebenarnya kemerdekaan adalah identik dengan kebahagiaan yang memiliki hubungan dengan Tuhan semesta dengan sensasi-sensai yang luar biasa. Setiap kepuasan manusia sejati memiliki unsur-unsur illahi yang terdapat di dalam diri Allah. Kebebasan penuh yang identik dengan sukacita dan kebahagiaan yang luar biasa hanya ditemukan dalam perjumpaan dengan Sang Khalik. Ketidak perjumpaan adalah ikatan, hambatan atau halangan akan kebahagiaan itu sendiri. Untuk itulah Yesus berkata bahwa : Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. [3]

Hari-hari kemerdekaan yang Adam miliki bisa menghasilkan pemeliharan dan mengusahakan Taman[4], Orang harus tahu bahwa besarnya Taman Eden bukanlah Taman yang manusia ciptaan tapi dunia pada waktu itu. Nama-nama binatang seluruh dunia yang ada, merupakan hasil karya Adam yang menamainya satu persatu[5] sehingga mereka memiliki identitas sampai hari ini. Namun disamping karya tersebut, Allah ingin manusia tetap sehat, hidup sejahtera dan berdamai dengan Allah dengan tidak memakan pohon pengetahuan baik dan jahat [6] itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Perintah dan larangan untuk tidak makan pohon pengetahuan baik jahat bukanlah sebuah ikatan hukum melainkan sebuah kesukaan demi kebaikan dan kesejahteaan manusia itu sendiri.  Pelanggaran akan perintah Allah menyebabkan sebuah jeratan atau penindasan dan perbudakan sepanjang masa dimana manusia hidup.

Penjajahan identik dengan teror, kesengsaraan, malapetaka dan seribu satu penderitaan yang tidak pernah diinginkan manusia manapun dan kapanpun. Sebagai akibat utma di dalam interaksi yang ada adalah ketakutan dan paksaan sehingga harmoni awal yang Allah ciptakan sirna hampir tidak berbekas, kreasi dan proaksi manusia semula berubah menjadi homo homini lupus[7] manusia tidak lagi menjadi ramah terhadap sesamanya melainkan berubah total dibanding karakter semula yang Allah miliki. Kebrobrokan karakter itu terus mengembang sampai di zaman digital ini.

 

Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.

Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah,

mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai,

 suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang,

tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang,

berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka,

tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.

Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang

 yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat

perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa

dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, 

yang walaupun selalu ingin diajar,

namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. 

Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa,

demikian juga mereka menentang kebenaran.

 Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.

Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju,

karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres,

kebodohan mereka pun akan nyata bagi semua orang.[8]

 

Pada saat manusia jatuh maka ia sedang menempatkan dirinya dalam sebuah penindasan atau perbudakan penjajahan iblis. Habitat kemerdekaan telah berubah dalam ekosistem dosa yang terus berlanjut sampai generasi di akhir zaman. Untuk itulah ada dosa turunan yakni dosa warisan dari Adam yang telah mengambil alih pekerjaan setan yakni dosa dan konsekwensinya. Sejak inilah maka naluri dosa melekat dalam setiap generasi. Seperti singa dan harimau memiliki sifat buas sejak lahirnya demikian manusia memiliki sifat dosa dari sejak dalam kandungan. Untuk bertindak dosa manusia tidak perlu diajar maka secara otomatis akan terlaksana mulai kanak-kanak, remaja hingga dewasa.

Sebagai dampaknya perubahan besar-besaran di dalam diri manusia berdosa. Status segambar dan serupa Allah telah berubah menjadi segambar dan serupa iblis. Kelimpahan berubah menjadi kutukan, malapetaka dan kesengsaraan. Manusia tidak lagi merasakan kehadiran Allah sebagai suatu kebahagiaan melainkan sebuah ketakutan yang dasyat.  Beberapa waktu sesudah ulah Hawa makan pohon pengetahuan baik dan jahat maka Allah berjalan-jalan di hari sejuk seperti sedia kala[9] kehadiranNya tidak untuk menghakimi dan menghukum. Allah masih ingin berbincang-bincang sebagai seorang sahabat dengan kalimat sederhana “dimanakah engkau? [10] sebenarnya Allah yang Maha tahu mengerti secara pasti bahwa manusia itu sudah jatuh di dalam dosa. Namun Ia masih berbicara sebuah kalimat kemesraan seperti anak-anak muda di zaman sekarang sayang dimanakah engkau? Ia tidak hadir marah-marah mengirimkan halilintar dan petir menyambar-nyambar melainkan masih berada dalam sebuah kesejukan angin sepoi-poi basa seperti Ia datang kepada Elia pada waktu stress berat. [11]

Angin yang sejuk yang biasanya membuat nyaman berubah menjadi ketakutan, orang harus ingat bahwa posisi manusia waktu itu masih berada di Taman eden, tempat yang sama suasana angin yang sama tidak membuat manusia bisa menyambut Allah melainkan sebaliknya membuat manusia menjadi ketakutan akan kehadiran Allah. Penjajahan bukan bermula dari apa yang tampak di luar melainkan dalam hati atau mentalitas terlebih dahulu sehingga luarnya akan mengiringi apa yang ada di dalam. Orang perlu tahu ketika manusia pertama mengambil alih dari kebebasan penuh kepada keterikatan yakni nasehat iblis dan mentaatinya dengan “iming-iming” seperti  sama seperti Allah[12] maka secara berkesinambungan sampai kebinasaan manusia berada dalam penjajahan dosa dan kutukan. Ribuan tahun sejak skandal Taman Eden manusia terus merindukan kemerdekaan secara jasmani maupun rohani.  

                Ikatan dosa merupakan penjajahan yang sebenarnya karena dari ikatan ini seseorang bisa mengalami penyakit, nafsu jahat dan berbagai produk-produk kegelapan. Manusia tidak lagi bisa benar dihadapan Allah untuk apapun yang dilakukannya. Mengapa demikian? Karena manusia sedang dalam ikatan dosa. Eksistensi Allah di dalam diri manusia sudah hilang digantikan dengan karakter iblis yang melaminating manusia dari dalam sampai keluar menyelimuti seluruh tubuh manusia sampai ke dalam kematian. Jenis manusia berdosa melakukan apapun tetap berdosa, baik dengan prosesi ibadah, liturgi keagamaan, ritual puasa dan segudang amal kebajikan, tetap saja vonis Illahi menyatakan bahwa Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun  dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan  oleh angin.[13] Paulus dengan gamblang mengatakan keadaan dimana manusia sedang berada dalam ikatan dosa,

 

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia,  tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku y  aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.[14]

 

                Realitas kehidupan manusia yang indah telah hilang dan tidak bisa tergantikan oleh apapun juga dengan cara bagaiamanapun juga. Manusia harus dibebaskan dari belenggu dosa supaya bisa kembali memiliki gambar dan citra Allah. Kemerdekaan ini tidak bisa dicapai dengan ritual agama seseorang atau kebajikan karena pada dasarnya manusia sudah jatuh dan tidak bisa lagi mengelak akan keputusan tunduk kepada perintah iblis. Dosa itu bukan sekedar deretan perbuatan-perbuatan buruk melainkan sebuah pemberontakan kepada Allah. Jadi dosa kesalahannya kepada Allah bukan kepada manusia. Jika dosa itu hanya sekumpulan perbuatan buruk maka orang hanya menebusnya dengan perbuatan-perbuatan baik, namun ini ajaran yang menyesatkan.

                Identitas sebagaii orang berdosa apapun yang dilakukannya akan tetap berdosa! Jika manusia Indonesia berada dalam penjajahan belanda maka apa yang dilakukan oleh orang Indonesia tetap berada dalam penjajahan Belanda. Cara satu-satunya untuk memerdekaan manusia itu sendiri yakni mengusir penjajah dari wilayah Indonesia. Status dan Identitasnya berbeda karena telah menjadi manusia yang tidak lagi dalam penjajahan. Yang dibutuhkan adalah mengubah status dari penjajahan menjadi kemerdekaan. Ini butuh tokoh atau personal  bukan cara-cara tindakan perbuatan amal dan kebajikan. Sebaik apapun orang bertindak maka dalam penjajahan tetap saja dianggap sebagai orang yang sedang dijajah! Yesus berkata : Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. [15]

                Bila dianalogikan orang berdosa itu memiliki hutang kepada satu bank yang harus melunasinya pada bank tersebut. Sebanyak apapun duitnya di bank yang lain maka tetap saja ia masih terikat dengan hutangnya. Manusia telah berhutang kepada Allah bahwa ia telah menghilangkan seluruh kemampuan Allah yang telah dibenamkan di dalam dirinya. Manusia tidak mungkin bisa mengambilnya kembali. Manusia butuh satu pribadi untuk menyelamatkan dan memerdekaan, dan bukan persoalan ibadah atau amal kebaikan karena dosa bukan deretan perbuatan buruk melainkan pemberontakan. Yang dibutuhkan adalah belas kasihan dari Allah yakni pengampunan dosa dari Allah sendiri. Ini mustahil dilakukan di luar Kristus Yesus. Paulus mengatakan : “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan   kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.[16]

                Memang harus diakui dibutuhkan orang yang memerdekakan bukan agama atau apapun juga karena ikatan dosa adalah masalah pemberontakan kepada Allah. Allahlah yang harus mengampuni dan melupakan pemberontakan tersebut. Kita tidak bisa memadamkan amarah Allah dengan deretan liturgi atau perbuatan baik. Kemurkaan Allah harus dipadamkan oleh pertobatan yakni sikap hidup yang kembali kepada Allah. Namun orang tidak mungkin mengenal Allah yang benar bila tidak melalui Yesus Kristus. Iman kepada Kristus memungkin seseorang memperoleh kemerdekaan sejati.

                Iman akan Kristus yang menghasilkan kemerdekaan bukanlah pasip melainkan aktif. Orang yang percaya harus mendarat bukan di dalam angan-angan dan pikiran semata atau perkataan melainkan dalam tindakan yang benar. Iman tanpa tindakan yang benar pada  hakekatnya mati. Orang yang dimerdekaan dengan benar akan sadar akan pribadi proklamatornya. Sukarno boleh menjadi Proklamator di Indonesia tapi tidak berlaku di Amerika atau negara – negara Eropa. Namun Yesus Kristus adalah proklamator kemerdekaan rohani dimana setiap orang yang berdosa dihapus dosanya dengan memakukannya di atas kayu salih. Paulus mengatakan : “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib[17]

                Jadi dengan kata lain bahwa orang yang datang kepada Kristus untuk mempercayainya maka Ia memperoleh pembebasan secara gratis oleh pengampunan darah Tuhan. Namun demikian walaupun gratis di depan untuk perjalanannya harus ada harga yang harus dibayar. Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu  dengan takut dan gentar bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,[18] Nasehat Paulus ini mengingatkan ada harga yang harus di bayar yakni mengerjakan keselamatan. "Kerjakan" adalah terjemahan yg baik untuk kata kerja Yunani di sini (κατεργαζομαι - katergazomai), Kata kerja ini mengandung pikiran tentang penyempurnaan. Pada hakikatnya Rabbi Saul dalam surat penggembalaaannya itu memberi pesan: "Jalanlah terus sampai karya penyelamatan sepenuhnya dan seempurnanya dikerjakan di dalam kamu" , Ini tidak berarti bahwa kita dapat dan harus melaksanakan keselamatan kita sendiri.  Kata keselamatan menyatakan bahwa kita mustahil menyelamatkan diri kita sendiri (bnd Yohanes 15:4-5; 1 Korintus 15:10; Efesus 2:5, 8); ayat berikutnya menekankan pekerjaan Allah yg hakiki. Kita dapat dan harus menjalani hidup yg mengalami dan memancarkan karya penyelamatan Allah yg dijadikan milik kita sendiri.[19]

Mengerjakan keselamatan tersebut bukanlah usaha manusia untuk memperolehnya namun orang yang sudah diselamatkan setidaknya dapat memberikan umpan balik atau respond dengan tindakan-tindakan yang menyenangkan Allah. Bila di analogikan seperti seseorang bila diberi mobil mewah secara gratis dengan biaya perpanjangan BPKB atau STNK maka orang itu harus tahu bagaimana cara mengendarai mobil, tahu merawat dan yang penting harus membayar harga bensin. Namun orang yang secara gratis menerima dan terus mau gratisan maka ia tidak akan mampu atau bisa membawa mobil, tidak mau merawat dan beli bensin akhirnya mogok dan tidak ada gunanya.

                Tidak ada artinya kemerdekaan bila dihuni oleh orang-orang jahat dan malas, sehingga kemerdekaan bagaikan pepesan kosong yang hanya dinikmati dalam durasi yang pendek selanjutnya lebih buruk dari penjajahan. Orang yang tidak tahu menghargai para pahlawannya maka mengisi kemerdekaan dengan menggoreng issu sara supaya memecah belah sebagai akibatnya keharmonisan terasa kekacauan. Jadi tidak ada gratisan dalam kemerdekaan adalah tindakan yang benar pasca seseorang menerima Kristus namun bukan itu saja melainkan rasa hormat dan respek terhadap pribadi yang tidak berdosa ini.

 



[1] Habitat : Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Pada dasarnya, habitat adalah lingkungan—lingkungan fisik—di sekeliling populasi suatu spesies yang memengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut.

[2] Kata proaksi & proaktif adalah sepadan alias sama. Di populerkan dengan istilah proaktivitas oleh Stephen R. Covey. Definisinya adalah bahwa sebagai insan anda dan saya. Bertanggung jawab atas hidup diri kita sendiri. Perilaku kita adalah hasil atau fungsi dari keputusan kita,  bukan kondisi, konteks atau situasi kita. Simpelnya proaksi atau proaktif berarti 'mandiri memilih respons'. Disingkat 'ikhtiar responsibilitas'. (http://proaksi.blogspot.com)

[3] Yohanes 15:11

[4]  Kejadian 2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden  untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

[5]  Kejadian 2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

[6]  Kejadian 2:16-17 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.

[7]  Manusia menjadi serigala bagi sesamanya

[8]  2 timotius 3:2-9

[9]   Kejadian 3: 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah   manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

[10]     Kejadian 3:9

[11]   1 raja 19:12 Dan sesudah gempa itu datanglah api.  Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

[12]   Kejadian 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah

[13]   Yesaya 64:6

[14] Roma 7:15-25

[15] Yohanes 8:34

[16]  Galatia 5:1

[17]  Kolose 2:14

[18]  Filipi 2:12

[19] http://www.sarapanpagi.org/mengerjakan-keselamatan-dalam-praktek-filipi-2-12-18-vt6258.html

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.