Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini254
Kemarin645
Minggu Ini4234
Bulan Ini15343
Total Pengunjung777188

IP Kamu 54.156.85.167 Saturday, 18 August 2018

Guests : 66 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

ESSENSI KORBAN SEMBELIHAN

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

……. SEBAB ANAK DOMBA PASKAH KITA JUGA TELAH DISEMBELIH, YAITU KRISTUS (1 KORINTUS 5:7)

 

Harus diakui bahwa penyembelihan binatang sebagai korban sudah ada sejak awal manusia diciptakan. Dimulai bagaimana Adam gagal menutupi dosanya dengan Daun Ara (kej 3:7), maka Allah menggantinya dengan kulit binatang yang berarti ada korban binatang yang disembelih (Kej 3:7). Kebenaran ini terus bergulir sampai menjadi pola hidup bagi bangsa Israel. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah harus ada korban darah dari binatang. Hadirnya Taurat memberikan aturan yang jelas, Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibrani  9:22).  Sejak Awal Israel berdiri maka ketetapan korban penyembelihan domba dan lembu sapi  itu berlaku sepanjang jaman (Kel 12:12-13), yang harus dirayakan turun temurun (Im 23:5-8), hingga menjadi upacara keagamaan dimana Imam masuk ke Bait Allah dengan korban bakaran sebagai penghapus dosa setahun sekali. Keluaran 30:10 mengatakan : “Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN."

Grand disain penyembelihan domba itu hanya merupakan sebuah gambaran akan datangnya satu pribadi yang akan menghapus dosa manusia yakni Yesus Kristus yang datang sebagai Anak domba Allah yang siap dikorbankan (Yoh 1:29). Namun yang menjadi persoalan mengapa Allah tidak terus terang dalam kitab Taurat bahwa korban tersebut hanya merupakan gambaran akan datangnya Yesus Kristus? Bukankah jika terus terang diberitahukan akan gambaran tersebut maka korban akan penyembelihan kambing domba dan lembu sapi tidak terjadi lagi sepanjang abad? Karena orang sekarang banyak multi tafsir bahwa korban penyembelihan tersebut sebagai sarana untuk mencari pahala, memberi sedekah untuk orang miskin dan masih banyak lagi. Padahal korban penyembelihan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan diri akan penyambutan anak domba Allah yang disembelih sebagai korban penghapusan dosa (1 Kor 5:7)

Bangsa yang tegar tengkuk standarnya hanya Hukum Taurat! Tidak mungkin anak sekolah Dasar diberi buku-buku doktor dengan istilah-istilah yang berat! Taurat diberikan bukan untuk orang benar melainkan orang berdosa dan sekaligus informasi dosanya diungkapkan secara jelas. Paulus menulis suratnya untuk Timotius : Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku ( 1 Tim 1-8-11).

Orang harus mengerti bahwa Allah itu Maha Bijak ketika mengajar seseorang atau satu bangsa, ketika Ia berfirman maka tidak mungkin firmanNya salah atau harus diperbarui akan kesalahannya dengan menerbitkan perpu pengganti undang-undang sebelumnya yang dirasa kurang benar. Ia terlalu sempurna dan tidak ada firmanNya yang salah yang harus diremedial, untuk itu secara perlahan-lahan ia berbicara melalui perumpamaan dan gambaran-gambaran yang jelas (Yeh 17:2, Hos 12:11), Allah terlalu rapi dan sangat cermat memperhitungkan segala sesuatunya (Luk 14:28,31).

Kekristenan tidak lagi mengenal pengorbanan kambing domba karena sudah digenapi di dalam Kristus Yesus! Bila Orang Yahudi dibenarkan karena perbuatannya sementara orang percaya dibenarkan karena iman (Gal 3:12) selanjutnya Paulus menegaskan bahwa : “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Galatia  3:24). Menjadi renungan kita bahwa iman kepada Kristus menggenapi seluruh Taurat dan orang percaya tidak lagi berada dalam hukum Taurat. Orang percaya tidak dikelilingi hukum haram dan halal melainkan diliputi oleh anugerah keselamatan, kekudusan dan kemuliaan oleh karena Yesus Kristus. Orang percaya Kristus tidak beriman kepada adat istiadat yang ada dalam Taurat seperti korban penyembelihan, makan babi, berjilbab maupun deretan makanan halal dan haram melainkan beriman kepada pribadi yang menggenapi seluruh Hukum Taurat yakni Kristus Yesus!

Perintah mengorbankan kambing domba bersumber pada Taurat yang merupakan standar moral Bapa di sorga yang mengatur perilaku, pola pikir, perkataan serta niat hati manusia yang sangat sempurna. Namun manusia tidak mungkin bisa sempurna dalam melakukan seluruh perintah baik halal maupun haram serta ritual-ritual pengorbanan yang harus dipersembahkan. Ketidak berdayaan manusia inilah yang membuat belas kasihan Bapa sehingga mengutus Kristus Yesus Tuhan untuk menggenapi seluruh ketidakberdayaan manusia. Manusia tidak mungkin membawa korban penyembelihan kambing domba terus menerus maka pada waktu yang telah ditetapkan maka Korban itu digantikan Kristus Yesus sebagai domba yang disembelih demi dosa-dosa manusia. Yang dibutuhkan saat ini hanya beriman kepada Kristus dan memujudkan karakter Kristus yang penuh kasih itu kepada sesama. Seperti Kristus telah berkorban menjadi domba yang disembelih maka orang percaya harus rela berkorban bagi sesamanya. Yang menjadi renungan kita hari ini adalah :

Pertama persembahan korban adalah hati yang hancur akan kasih Allah, Pemazmur mengungkapkan : “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Maz 51:19). Ketika kita memiliki hati yang hancur akan segala dosa dan kesalahan dan merendahkan diri kepada Allah merupakan bentuk korban sembelihan. Hati yang sombong merupakan hal yang menjijikkan dihadapan Allah! Area kerajaan Allah alergi akan kesombongan baik secara jasmani maupun rohani. Daud hatinya melekat kepada Tuhan bukan berarti ia tidak jatuh dalam dosa. Ia jatuh dalam dosa dan segera menyadari serta meminta pengampunan kepada Allah. Sebagai Raja yang berhak memiliki istri banyak namun ketika nabi Natan menegor kesalahannya sebagai raja ia bisa saja menghukum nabi Natan namun karena kerendahan hatinya Daud mau bertobat dan mengakui kesalahannya. Korban sembelihan adalah hati yang hancur yang berarti mau rendah hati mengakui segala sesuatu berasalah dari Tuhan. Kalaupun mampu melakukan ritual keagamaan apapun menyadari bahwa semua bisa terjadi karena kekuatan yang dari Tuhan dan tidak ada ruang untuk kesombongan. Tidak ada artinya korban jutaan kambing domba bila tidak disertai hati yang remuk dihadapan Tuhan. Hati yang hancur hanya dimiliki orang yang punya komitmen dan integritas beribadah kepada Allah dan bukan kepada yang lainnya. Yosua berkata : Jauhlah dari pada kami untuk memberontak terhadap TUHAN, dan untuk berbalik dari pada TUHAN pada hari ini dengan mendirikan mezbah untuk korban bakaran, korban sajian atau korban sembelihan, mezbah yang bukan mezbah TUHAN, Allah kita, yang ada di depan Kemah Suci-Nya!" (Yos 22:29)

Hal kedua Korban sembelihan adalah bentuk dari mengutamakan Tuhan lebih dari apapun yang dinyatakan dalam bentuk nyata dalam setiap tindakan, perkataan dan pola pikir. Sebuah korban yang menyakitkan secara fisik, seperti Abraham ketika memiliki anak satu-satunya Ishak yang harus dikorbankan maka Abraham melakukannya. Tindakan iman adalah mengutamakan Tuhan dalam segala perkara kecil sampai perkara besar. Ini berarti segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Yakobus  2:21 mengatakan : “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Bentuk iman kepada Allah dinyatakan dalam perbuatan nyata yakni kasih terhadap sesama.  Tidak ada artinya korban bakaran, korban sembelihan dan penghapusan dosa bisa berangkat dari hati yang tidak mengasihi Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa : “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah (Mat 12:7)”

Hal yang ketiga adalah Kekristenan  indentik dengan berkorban bukan makan korban! Bila orang berkorban tidak akan pernah memperhitungkan untung dan rugi dalam setiap tindakannya. Model orang seperti tidak akan pernah memanfaatkan orang lain demi keuntungan diri sendiri atau kelompoknya.  John F Kennedy pernah mengutip perkataan filsuf Marcus Tullius Cicero, orator dan negarawan Romawi Kuno dengan berkata : “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu” Jika kita mengaca dari perkataan Marcus Tullius cicero yang dikagumi oleh bapak-bapak pada awalnya mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan untuk diri sendiri tapi diciptakan untuk berbagi. Kita diberkati untuk memberkati, dikuatkan untuk menguatkan dan hidup kita harus menghidupi banyak orang. Essensi korban sembelihan adalah membahagiakan orang lain seperti yang dilakukan oleh Yakub ketika ia bisa mengadakan korban maka ia memanggil orang-orang lain untuk menikmati santap bersama. Kejadian  31:54 mengatakan : Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan serta bermalam di gunung itu”. Hidup dalam kebersamaan menghasilkan kasih yang mendalam satu dengan yang lainnya sehingga ketika korban persembahan dapat dinikmati sesama itu merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan harta berapapun juga. Kasih yang mengalir bukan saja untuk mereka yang sedang berbuat baik kepada kita melainkan juga kepada musuh kita. Yesus Kristus berkata : “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Tidak mudah memang namun ketika kita menjadi dewasa untuk dapat mempersembahakn korban sembelihan maka maut tidak mau kita rela diperlakukan tidak adil yakni mengasihi musuh kita! Amin

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.