Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini699
Kemarin1143
Minggu Ini6316
Bulan Ini20391
Total Pengunjung809402

IP Kamu 54.162.159.33 Saturday, 22 September 2018

Guests : 45 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MENGGUGAT KEBENARAN

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

Kebenaran sejati adalah ungkapan isi hati Allah yang dimodifikasi dalam Sebuah kitab suci. Tulisan-tulisan yang ada di dalamnya mengandung makna spiritual sebagai barometer kehidupan yang sempurna bagi seluruh makluk ciptaan (2 Sam 22:31). Bila seseorang merenungkan firmanNya, ia akan  menemukan eksistensi Tuhan dalam kuasa, kasih, keadilan dan kebijaksaan Allah sejati. Pengalaman demi pengalaman indah akan didapatkan seseorang ketika bersedia melakukan FirmanNya. Kebenaran itu bukan sebuah perantara atau mediator untuk berjumpa dengan Tuhan karena setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya  adalah pribadiNya sendiri yakni Firman Yang Hidup (Yoh 1:1). Rangkaian perkataan Allah yang dihimpun di dalamnya memiliki kuasa yang melebihi apapun karena identik dengan  kekuatan supranatural (Rom 1:16). Faktanya bahwa isi Alkitab memiliki kepribadian yang hidup bisa bertindak dan tidak akan pernah kembali dengan sia-sia melainkan membawa keberhasilan (Yes 55:11). Kebenaran itu bukan hanya sekedar kalimat dan hukum yang mematikan melainkan menghidupkan (2 Kor 3:6). Standar Operasional Prosedurnya Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa kebenaran miliknya harus menjadikan manusia hidup dari Taman Eden menuju ke Eden Sorgawi  atau dari planet bumi yang fana ini menuju langit dan bumi baru (Wah 21:1). Bila ada kebenaran bertentangan dengan maksud Allah tersebut maka dapat dipastikan itu bukan berasal dari Allah sejati.

Bunga rampai Illahi tersebut dikumpulkan dari tradisi lisan lintas generasi yang membutuhkan waktu ribuan tahun. Bukan berfocus satu pribadi melainkan puluhan orang dari berbagai latar belakang yang menyatu dengan tujuan yang sama tentang kasih Allah kepada manusia. Maksud dan rencana Allah diperoleh oleh para nabi dengan cara berbeda-beda sesuai dengan zamannya. Ada diantaranya langsung dari jari-jari Allah secara demontratif melalui loh-loh batu yang disebut sepuluh perintah Allah melalui hambaNya Musa. Sebagian melalui pewahyuan yang mistik melalui orang-orang pilihanNya. Pengalaman-pengalaman rohani tentang sorga melalui penglihatannya tercatat rapi tanpa kebohongan atau rekayasa personal melainkan dalam kendali Roh Allah sepenuhnya (2 Petr 2:21).  Sebagian besar dihimpun oleh orang-orang yang memiliki dedikasi dan loyalitas serta keintiman dengan Tuhan yang tidak diragukan lagi. Kekudusan hidupnya, etika dan karakter dalam tingkat kesempurnaan. Kepribadian tersebut penting karena akan menjadi wadah dari mutiara supranatural yang berisi kebenaran yang langsung berasal dari Allah sejati.

Sebagaimana merpati tidak mungkin membuat sarangnya di tempat sampah demikian juga Tuhan tidak akan menyampaikan pewahyuannya kepada orang yang hidupnya diselimuti kenajisan, menjijikkan dan pelaku kejahatan yang masif.  Standar penerima wahyu Allah harus memiliki kehidupan setingkat diriNya sendiri atau mereka yang dimampukan selevel Tuhan dengan diberi kekudusan dan pembenaran oleh Allah sendiri. Kebenaran  yang sejati terus diseleksi, dikaji dan diuji dengan hati nurani yang murni. Kemurnikan tersebut sangat hakiki karena disitulah tempat bersemainya benih Firman Tuhan (Kis Ras 24:16). Bukan karena kekuatan manusia melainkan karena oleh Roh Allah (Zakh 4:6).  Jika ditemukan perintah dalam kitab suci yang bertentangan dengan karakterNya maka seluruh adonan kesucian telah dikhamirkan dengan dosa. Dengan demikian maka kitab tersebut tidak layak disebut sebuah kitab yang suci. Allah tidak lagi layak disembah bila menuliskan ayat-ayat dusta yang mengakibatkan orang–orang berdosa. 

Pribadi Allah terlalu agung dan mulia dalam kesempurnaan sehingga tidak akan pernah didapati satu iotapun kesalahan dari perkataanNya. Segala sesuatu yang bermuara dari Allah akan tetap sempurna sampai kapanpun juga (Yak 3:11-12). Orang perlu tahu bahwa ucapanNya tidak mungkin bertolak belakang dengan karakternya. Selevel Tuhan tidak akan pernah mengeluarkan produk gagal dalam berucap sehingga perlu diremedial dengan pewahyuan baru untuk membetulkan kebenaran yang salah sebelumnya. Tuhan bukan manusia yang bisa khilaf dalam berucap dan salah dalam bertindak (Bil 23:19). Jikalau benar ditemukan bahwa  Allah salah berucap dan kemudian meralatnya kembali maka Ia bukan Allah sejati. Ketidakkonsistenan tersebut bukan menunjukkan pribadi yang sempurna yang Ia miliki. Jika dianalogikan konsistensi tersebut adalah realitas Perjanjian lama dan Perjanjian baru yang menunjukkan settingan Illahi yang harus dikagumi.

Semula Ia membuat “blue print” atau kerangka dari satu bangunan rohani dan kemudian dalam Perjanjian baru adalah bangunan yang sesungguhnya. Ketika umat diperintahkan mengorbankan domba untuk penebusan dosa, maka korban ini adalah korban anak domba yakni kehadiran Kristus yang menebus manusia dari dosa (yoh 1:29). Jika ditemukan ayat memerintahkan membunuh maka perlu dikaji bahwa perintah itu untuk masa tertentu dan tidak boleh berlaku diwaktu lainnya. Diperintahkan pada bangsa tertentu dalam situasi peperangan untuk menjaga eksistensi seluruh bangsa pilihan (Ul 13:15). Namun pada hakekatnya Allah memerintahkan jangan membunuh (Ul 20:13). Yesus mengajarkan pembunuhan yang sebenarnya : Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala (Mat 5:21-22) Jika orang mengatakan dan mengkafirkan orang lain maka mereka sedang melakukan pembunuhan!

Seluruh rangkaian kebenaran menjadi tidak berkuasa bila disampaikan dengan karakter yang buruk. Ayat-ayat itu bagaikan mayat, berbau dan tidak bermakna dalam ranah kehidupan. Seharusnya nuansanya berbau harum (2 Kor 2:14-15), menyegarkan jiwa (Maz 19:8), dan memberi kehidupan (2 Kor 3:6). Kebenaran dari Allah yang sejati seharusnya membawa keselamatan, karena untuk itulah Firman yang hidup datang ke dunia (Yoh 15:11). Jika ada kebenaran yang tidak demikian maka dapat dipastikan bukan berasal dari Allah yang benar.  

Pewahyuan yang keliru dipahami akan menghasilkan kaum yang sarat kekerasan, ambisi dan kemunafikan. Kebenaran di dalamnya telah diperkosa menjadi hak milik personal yang menyengsarakan banyak orang. Semua ini bermula dari para penganuat agama yang gagal paham, buta dan tuli sehingga merusak harmoni kehidupan. Akibatnya kebenaran itu menghasilkan orang-orang yang beringas, kasar dan menjadi bajingan kerena  kemasukan nafsu rakus (Bil 11:4) yang kecenderungan hatinya selalu membuahkan yang jahat (Kej 6:5). Bahkan ada diantaranya menjual ayat-ayat untuk menimbun pundi-pundi kekayaan. Ayat dan fasal menjadi komoditas untuk meraih  kepopuleran, kuasa dan jabatan. Kelompok ini biasanya terformat menjadi golongan yang congkak dan merasa diri paling suci dengan asessoris agamanya (Luk 20:46). Merasa diri memiliki kebenaran terbaik dibanding siapapun sehingga menganggap orang lain  lebih rendah dibanding dengan dirinya (Luk 18:9-14). Jika mereka mengumandangkan ayat-ayat suci dengan keras-keras memenuhi langit, mereka pikir akan menggapai perkenananNya namun realitasnya nol besar (1 raja 18:28)

Kecenderungan pengagungan tokoh penerima wahyu Illahi yang berlebihan akan menjadikan sosok istimewa bagi para pengikutnya. Walaupun bukan Tuhan namun tokoh spiritualnya menjadi setingkat dewa yang layak disanjung dan ditinggikan sepanjang masa. Banyak orang terpesona dan mengagumi tanpa alasan dengan menerima ayat-ayat yang keluar dari mulutnya. Tanpa mempedulikan karakter, emosi, pengetahuan dan spiritnya,  diikuti sang nabi dan tidak disadari jalan yang disangka lurus ternyata ujungnya maut (Ams 14:12). Contohnya nyata seperti nabi tua di Betel; Dia menyaru sebagai nabi ALLAH untuk membujuk abdi ALLAH yang dari Yehuda, agar melanggar pantangan yang ditetapkan ALLAH (1 Raja-raja 13:11-19). Lihat juga James Warren Jones Kreta, Indiana yang mendapat wahyu dari Tuhan kemudian membentuk  "Peoples Temple" pada tahun 1955. Umat mengkultuskan namanya bak dewa dari langit, apapun yang diucapkan merupakan sebuah kebenaran dan akibatnya 918 mati konyol karena bunuh diri. Hal ini juga berlaku bagi hamba Tuhan yang berdiri di mimbar gereja yang selalu mengkultuskan dirinya yang terbaik, tersuci dan paling up to date dalam kebenaran.

Tidak akan pernah ada alat secanggih apapun di era digital ini yang dapat mengukur keberadaan alam roh dan mendeteksi Tuhan, malaikat dan setan. Segala sesuatu yang berasal dari dunia fana ini tidak akan dapat mengintervensi alam kekekalan kecuali iman yang berbuahkan kasih yang sampai dalam kekekalan. Tidak ada satupun manusia secerdas apapun yang bisa memberikan nasehat kepada Allah. Sahabat Ayub bertutur kata dalam irama indah,

Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas  kekuasaan

Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit -- apa yang dapat kaulakukan?

 Dalamnya melebihi dunia orang mati -- apa yang dapat kauketahui?

Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas

dari pada samudera.

Apabila Ia lewat, melakukan penangkapan, dan  mengadakan pengadilan,

siapa dapat menghalangi-Nya? Karena Ia mengenal penipu dan melihat

kejahatan tanpa mengamat-amatinya.

Jikalau orang dungu dapat mengerti,

maka anak keledai liar pun dapat lahir

 sebagai manusia

 (Ayub 11-8-12)

 

Entah Malaikat model apa yang memiliki nyali  menyaingi Allah dengan memberi pewahyuan yang bertolak belakang dengan kebenaran hakiki milik Sang Pencipta (2 Kor 11:14). Celakanya kebenaran ini menjadi dalil-dalil kebanggaan seolah-olah paling suci, terbaik dan mampu menggeser kitab suci manapun juga. Perkataan originalnya Tuhan telah membias dengan di tambahkan seenak perut mereka sendiri sehingga membebani seluruh umat Allah.  Mereka menjadi orang-orang yang beragamawi tulen dengan berbagai peraturan yang detil baik hari raya, makanan dan berbagai hal  (Kol 2:16-22). Fakta yang ada mereka hanya melakukan berbagai dokma yang diperintahkan oleh manusia yang harus dihafalkan (Yes 29:10-13). Mata mereka buta tanpa melihat kebenaran dan telinga mereka tuli tertutup oleh ambisi agamawi yang merusak harmoni kehidupan. Sebagai akibatnya penganut agama mayoritas di Yerusalem inilah yang menyalibkan Yesus di atas kayu salib. Biang keladi utama Pembunuhan berencana di atas salib adalah rekaya struktural para tokoh-tokoh agama yang ada merasa sukses menjalankan agamanya karena telah menyalibkan orang yang benar.

Alkitab sendiri sudah final dalam kanosisasi yang merupakan format terakhir yang tidak boleh ditambah atau dikurangi oleh siapapun dan kapanpun. Penutup kitab ini adalah kitab wahyu yang menginformasikan setingan dunia akhir, langit dan bumi baru.  Skenario perang dunia terakhir dimana peperangan seluruh bangsa akan terjadi dan Yesus Kristus akan tampil menjemput umat tebusanNya. Maka tidak perlu lagi ada pewahyuan apapun dan dimanapun juga. Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini (Wah 22:18)

Perlu dipahami dengan jelas bahwa  Tuhan yang sama tidak mungkin mewahyukan kitab suci yang berbeda dan saling bertentangan. Tidak mungkin dua-duanya benar atau keduanya salah tetapi yang satu pasti salah dan yang lain pasti benar. Alkitab adalah kebenaran yang berasal dari mulut Allah melalui para nabi, rasul dan orang-orang pilihanNya. Namun Allah tidak ingin dirinya diberitakan oleh orang-orang yang sangat terbatas. Sekalipun Allah telah memakai keterbatasan manusia biasa menjadi luar biasa maka Ia telah memutuskan tidak ingin diberitakan melalui siapapun juga. Ia datang sendiri dengan segala kemuliaan, kemegahan yang ditanggalkan dan menjadi manusia biasa untuk menutup seluruh kinerja para nabiNya yang telah memberitakan eksistensi dirinya. KehadiranNya mengunci semua spekulasi nabi yang mengaku datang sesudahnya.

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara

kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman

akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya,

yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak

menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah

 telah menjadikan alam semesta.

(Ibr 1:1-2)

 

Alkitab menutup kemungkinan pewahyuan dari Allah sebab Dia sudah datang sendiri dan memberitahukan perasaan, hasrat hati dan kehendakNya kepada umat manusia. Jika nabi-nabi berbicara kepada umat dengan ucapan “ demikianlah Firman Tuhan! Namun  Yesus sendiri berkata Aku sendiri  yang mengatakannya. Ucapan Aku sendiri (Yoh 8:58)  dalam bahasa Yunaninya “Ego eimi” artinya adalah I have always been and shall be: Aku sudah selalu ada dan akan selalu ada. Kata ini juga mengacu akan kehadiran Tuhan sendiri  kepada Musa “Aku adalah Aku” (Kel 3:14), Di terjemahan bahasa Inggrisnya,  “God said to Moses, “I AM WHO I AM“; and He said,Thus you shall say to the sons of Israel, ‘I AM has sent me to you.” (Ex 3:14). Dengan demikian, perkataan “I AM” itu mengacu kepada istilah yang digunakan Allah untuk menyatakan identitas nama diri-Nya, yang menyatakan bahwa Ia adalah Pribadi yang tidak terbatas oleh waktu dan tidak tergantung siapapun apapun.

Dengan demikian vonis Illahi untuk pewahyuan sudah berakhir dalam diri Yesus Kristus, karena Ia adalah Ya untuk semua janji Allah ( 2 KO 1:20) Dialah prototipe pribadi Sang Pencipta yang melangkahkan kaki di bumi dalam bentuk manusia. Dilihat dari karakter, tutur kata, kekudusan didapati sangat sempurna dan tidak bercacat cela. Keraguan terhadap dirinya hanyalah perkara yang sia-sia sebab dilihat dari segi apapun dan kisah dari kitab suci manapun pribadi Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah pribadi yang selevel Allah. Dari kelahiran, kematian dan kebangkitan serta kenaikkannya ke Sorga adalah paket istimewa yang Allah berikan bagi setiap orang yang percaya.

Kata menggugat sendiri memiliki arti 1 mendakwa; mengadukan (perkara): jika hendak ~ , Anda harus membawa bukti-bukti yang sah; 2 menuntut (janji dan sebagainya); membangkit-bangkitkan perkara yang sudah-sudah; 3 mencela dengan keras; menyanggah: tidak ada yang berani ~

Kebenaran di luar Kristus perlu digugat akan kebenarannya sebab mereka tergolong orang-orang yang tidak memiliki Allah, Yohanes mengatakan :

Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah

keluar dari situ,  tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu,

ia memiliki Bapa maupun Anak

(2 Yohanes 1:9)

 

Perlu dipahami bahwa  ajaran Kristus berdasarkan kasih jadi jika ada agama apapun dan dimanapun yang tidak mengajarkan kasih terhadap sesama berarti bukan berasal dari Allah sejati karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8) Yesus sendiri mengatakan : “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:17). Kasih merupakan poros dari seluruh hukum yang terdapat dalam kitab suci manapun juga. Persoalannya bukan terletak dalam theologinya melainkan praktek dari kasih itu. Pangajaran tanpa kasih harus digugat ulang sehingga kebenaran itu harus dikembalikan kepada koridor yang sesungguhnya.

Kasih yang utama adalah jika seseorang menyadari betapa Allah mengasihi dunia ini dan memberikan putraNya yang tunggal (Yoh 3:16). Fakta pembebasan dan pemulihan terjadi bila seseorang menemukan pribadi Yesus Kristus bukan agama kristen. Kristuslah pembebas layaknya orang hidup di tahun Yobel. Yesus sendiri berkata : “ "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19)

Begitu pentingnya kebenaran yang membebaskan, memulihkan dan menyembuhkan maka Paulus memberikan ancaman untuk siapapun yang menyampaikan kabar yang berbeda dengan Injil Kristus,  Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia (Gal 1:8-90) kebenaran sejati adalah kebenaran yang menghantar seseorang untuk mengasihi Allah dan sesamanya bila tidak demikian maka keimanannya perlu dipertanyakan.

 

 

 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.