Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini34
Kemarin792
Minggu Ini5317
Bulan Ini18478
Total Pengunjung836872

IP Kamu 54.161.100.24 Sunday, 21 October 2018

Guests : 22 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

KEKRISTENAN TANPA KRISTUS

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

 

Sudah sejak lama agama menciptakan orang-orang fanatik, arogan dan ambisi mencaplok agama lain demi memperluas kepercayaan yang dianutnya. Agama seharusnya penuh dengan ajaran moral justru sebaliknya memformat para pengikutnya menjadi bar-bar yang menciptakan ladang pembantaian sesama ciptaan. Salib yang melambangkan Kasih Kristus telah berubah banjir darah oleh pedang perang salib, yang menewaskan sepuluh juta nyawa melayang yang hampir separo penduduk Eropa tengah. Salib yang melambangkan kasih Allah telah dinodai orang-orang biadab yang membantai sesamanya diberbagai penjuru dunia sehingga menjadi agama horor yang sangat menakutkan.

Salib yang seharusnya dipakai untuk  urusan sorga kini berubah menjadi urusan politik, dan kekuasaan. Dan hal ini terjadi bukan saja pada perang salib melainkan terjadi di puluhan belahan dunia ini yang tidak perlu dikupas dalam artikel ini. Namun sangat mengerikan melihat kebiadaban atas nama agama.  Kekerasan lebih banyak disematkan di dalam agama karena pembunuhan pertama kali di dunia ini terjadi pada waktu ibadah dimana Habil mempersembahkan persembahan yang diterima Tuhan dan menjadikan iri oleh kakaknya Kain.  Kisah selanjutnya Kain membunuh adiknya dalam kerangka mempersembahkan korban bakaran.[1]

Harus diakui penganut radikalisme kebablasan  jauh lebih jahat dibanding atheis yang menghargai makluk hidup sebaliknya penganut agama ngawur, melecehkan sesama umat beragama, saling serang dan pasang muka perang. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendirikan agama negara sehingga siapapun yang tidak sealiran dibantainya bagaikan menyembelih ayam. Hal inilah yang menjadi cibiran orang-orang atheis seolah-olah Tuhan mati dan membiarkan pemusnahan masal atas nama agama. Sebenarnya tidak ada yang salah soal agama malah seharusnya mendengarnya orang menjadi sejuk bukan ketakutan. Agama tidak membahayakan bila dipraktekkan sesuai kaidah-kaidah kebenaran dari Sang Khalik sejati. Dia yang penuh kasih sudah pasti mengajarkan hukum kasih, agama yang tidak dilandaskan akan kasih terhadap sesamanya dan Allah maka identitasnya berasal daripada si Jahat.

Orang yang melekati diri dengan agama apapun tanpa memiliki hubungan dengan Tuhan yang disembah maka mereka hanya berada dalam tataran penganut agama saja. Tidak heran mereka bagaikan katak dalam tempurung hanya melihat agamanya sendiri paling benar, suci dan mulia selain agamanya hanya merupakan bahan bakar api neraka. Fanastisme inilah yang menjadikan manusia berubah menjadi hewani, berkarakter buas, dan memangsa sesamanya “homo homini lupus” manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Orang harus tahu bahwa agama bagi pemeluknya adalah mutiara yang tak ternilai tetapi sampah bagi agama lainnya. Persoalannya agama masalah hati yang tidak bisa diganggu gugat. Jika hatinya mengatakan itu mutiara namunyang lain berkata itu kotoran maka tetap mutiara.

Semua agama  bisa berkata bahwa dirinya sebagai orang islam karena islam sendiri memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[2] Demikian juga semua agama adalah budha sebab budha memiliki arti Kata “buddha “berarti “yang telah sadar” atau “yang telah terjaga” atau “yang telah cerah”. Kata “buddha” berasal dari akar kata “budh” (terjaga, menyadari, memahami). Kata “budh” juga merupakan akar kata dari kata-kata seperti “bodhi”, “bodha”, “bodhati”, “buddhi” (budi). Kata “buddha” menjadi sebuah gelar untuk seseorang yang telah mencapai Pencerahan Sempurna.[3] Semua agama bisa menyebutnya sebagai orang katolik karena sering disebut Gereja Katolik" atau yang sering diterjemahkan menjadi "Gereja Am" bermakna segenap orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang "denominasi".[4]

Namun demikian tidak semua agama dapat menyebut  sebagai Kristen sebagai Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen yang berarti sebagai pengikut Kristus bukan hanya sebagai pengikut agama dan pengikut para tokoh agamanya melainkan berhubungan erat dengan pribadi Yesus Kristus yang menjadi standar kehidupan. Orang bisa berkata saya beribadah setiap minggu agar bisa menjadi islam sejati (orang yang berserah kepada Allah secara penuh). Penyerahan total kepada Tuhan yang berarti islam merupakan ajaran Alkitab, Yesus sendiri berserah penuh kepada Bapa dengan kalimat jadilah kehendakMu bukan kehendakKu yang jadi, sementara Petrus mengajarkan  Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Pemazmur menulis syairnya dengan kalimat indah, Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.[5] Kekristenan yang sejati harus islami yakni berserah total kepada Allah.


Di dalam gereja Protestan ditempati oleh  orang-orang yang universal, umum atau gereja am yakni terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, tingkat sosial, kebudayaan dan masih banyak lagi itulah artinya katolik. Jadi semua orang di dalam gereja Protestan adalah katolik. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.[6] Setiap orang Kristen yang mendapat dirinya bertemu dengan Yesus menjadi Budda (memperoleh pencerahan). Orang yang terbebas dari beban persoalan dan tekanan hidup dari Tuhan maka ia akan memperoleh pencerahan kebenaran. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Sementara itu Yesus sendiri berdiri dan berkata : “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.[7]

Kekristenan adalah pengalaman hidup bersama Sang Khalik yang dapat dikisahkan secara nyata tanpa kepalsuan dan dusta. Wujud iman yang terkoneksi dengan Sang Empunya Semesta membuahkan perbuatan-perbuatan tingkat dewa yang begitu membumi dan kekinian. Tidak dapat disangkal bahwa kekristenan merupakan buah keintiman antara yang Illahi dan Insani, konsisten, progresif dan aktual di era di gital ini. Tingkatan ini jauh lebih dari sekedar penganut agama atau menjadi anggota denominasi gereja. Dalam level ini orang hanya mengagungkan agama saja, menjadi fanatik dan arogansi berkepanjangan sehingga essensi dari Kristus sendiri hilang dalam kehidupannya. Kekristenan adalah sebuah kehidupan yang melekati diri dengan urapan alias Kristus. Pengurapan ini merupakan modal orang percaya untuk melakukan perkenanan Allah dalam hidup yang serupa Kristus oleh pimpinan Roh Kudus. Dalam tataran ini orang percaya menjadi militan bukan sekedar penganut agama Kristen.

Kekristenan adalah pengalaman hidup bersama Sang Khalik yang dapat dikisahkan secara nyata tanpa kepalsuan dan dusta. Wujud iman yang terkoneksi dengan Sang Empunya Semesta membuahkan perbuatan-perbuatan tingkat dewa yang begitu membumi dan kekinian.

Harus dipahami bahwa agama Kristen menjadi agama mayoritas di dunia di tahun 2015 mencatat memiliki pengikut 2, 4 milyar orang yang berarti 33,39% dari ~7,2 miliar penduduk dunia.[8] Harus diakui bahwa agama Kristen adalah sebuah lembaga agama  yang bukan diciptakan oleh Allah. Sebuah aliran kepercayaan yang memiliki kitab suci yang berisi kisah Perjanjian Lama dan baru yang mengkisahkan asal muasal penciptaan, bangsa Israel dan gereja serta kiprah para Nabi dan Rasul dan di akhiri oleh Pribadi Allah sendiri yang turun menjadi manusia. Seluruh Alkitab bila disimpulkan satu kalimat adalah kisah kasih Allah kepada manusia yang terwujud dalam Yesus Kristus yang mati di kayu salib yang bangkit diantara orang mati dan akan datang untuk menjemput umatNya di hari akhir nanti sekaligus menjadi Hakim yang Adil.

Menjadi penganut agama Kristen adalah pilihan sementara kekristenan adalah perjuangan yang berdarah-darah, rela menjual segala sesuatu, mengosongkan diri, memikul salib dan mengikut Yesus dengan segala resiko yang harus dibayarkan. Pada tahapan pilihan menjadi pemeluk agama kristen, seseorang memperolehnya karena garis keturunan agamanya disematkan secara otomatis oleh orang tua yang melahirkan atau berubah agamanya karena  pilihan pernikahan yang pasangannya menuntut menjadi satu agama kristen. Model seperti ini biasanya tanpa beban dan perhitungan bahkan condong ceroboh, asal-asalan dan masa bodoh. Baginya yang penting tidak jahat, ibadah dan berkorban untuk orang miskin sudah cukup tidak lebih dari itu soal karakter seperti Kristus masih jauh dari harapan.

Kekristenan tanpa Kristus berarti sebuah kehidupan semu seolah-olah aktif, melayani dan berbuat banyak untuk kerajaan Allah namun realitasnya mereka jauh dari kebenaran. Kebenaran yang ada hanya menjadi konsumsi otak saja tanpa mendarat di hati sehingga identitas Kristen tanpa Kristus tampak dalam kehidupan lama yang tidak pernah diperbaruhi. Mereka puas menjadi pengikut agama dan gereja namun sesungguhnya orang kristen yang benar menjadi pengikut Tuhan Yesus Kristus.

Harus dipahami bahwa  Yesus Kristus Sang Juru selamat yang identik dengan kekristenanpun bukan pemeluk agama tersebut. Bahkan Yesus Kristus sebagai tokoh utama dalam kekristenan tidak pernah menyebut sepatah katapun nama Kristen. Ia juga tidak mengatakan bahwa agama Kristen menjadi agama Allah yang bisa membawa para pengikutnya masuk sorga. Namun demikian agama yang berpusatkan kepada Pribadi Kristus ini menjadi agama mayoritas dunia Disusul agama Islam dan kepercayaan-kepercayaan yang lainnya. Agama Kristen, Islam dan Yahudi disebut sebagai agama samawi yang berarti agama langit yakni agama Abrahamik yakni agama yang mengkisahkan keturunan Abraham.

Yesus Kristus tidak pernah menyebut sebagai seorang agamis dengan assesoris eksternal yang menyolok mata khalayak ramai. Ia santun bertutur kata, bertingkah laku sempurna melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang memamerkan dirinya sebagai seorang agamawi sejati namun tingkah lakunya seperti kuburan di luarnya putih namun di dalamnya tulang belulang yang berbau busuk . [9] Mereka meyakini Sorga dapat di raih dengan perahu agama dengan harapan bisa berlabuh di sorga yang permai namun tidak demikian adanya. Yesus hadir bukan saja memberikan keteladanan yang sempurna melainkan mengkritik habis praktek-praktek agama Yahudi yang menekankan hal-hal lahiriah saja.

Orang harus bisa membedakan antara agama Kristen dan Kekristenan. Jika disebut sebagai agama Kristen maka tidak beda dengan agama-agama lain yang diakui oleh Pemerintah. Banyak orang beragama Kristen tanpa melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan. Bahkan diantaranya tidak pernah ke gereja. Agamanya hanya disematkan sejak lahir karena memang keturunan orang tua yang beragama Kristen. Jumlah pemeluk agama Kristen turunan jumlahnya jauh lebih dominan dibanding dengan Kekristenan itu sendiri. Sementara Kekristenan adalah sebuah kehidupan yang sungguh-sungguh serius, focus menjalankan kebenaran setiap harinya. Bagi kekristenan iman tanpa perngalaman bersama Tuhan bukanlah sebuah iman melainkan hanya pengikut saja. Kekristenan tidak sedang mengikuti gereja atau menjadikan agama kebanggaannya melainkan menyatu dengan pribadi Kristus Tuhan  sebagai pusat kehidupannya.


Menjadi penganut agama Kristen masih maniak terhadap denominasi gereja, pengagungan kepada Pendeta berlebihan. Mereka ini menciptakan sekat-sekat yang menghalangi kesatuan gereja. Dengan mudahnya memvonis sesat gereja lain, dan merendahkan ajaran-ajaran yang dirasa tidak sesuai dengan pengetahuan kebenarannya yang sangat  terbatas. Bagi orang yang hanya beragama Kristen ibadah adalah sebuah kewajiban dan jabatan gereja merupakan prestise sekalipun tanpa prestasi. Ini bukan berarti mereka tidak aktif, mungkin beberapa diantaranya menjadi aktifis namun kegiatannya hanya bernuansa lahiriah dengan berbagai macam program, liturgi, dan prosesi ibadah.

Mereka bukan tidak melayani, bahkan diantaranya melakukan berbagai macam mujizat, nubuat dan mengusir setan namun tidak akan mengalami happy ending karena Tuhan sendiri menolak dalam kekekalan dengan vonis para pelaku kejahatan.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir  banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan , bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan![10]

Arti agama

Jika dilihat dari etimology kata agama maka akan ditemukan beberapa arti,  Agama adalah “suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling bersandar, yang satu dengan yang lainnya. Terdiri dari kepercayaan-kepercayaan, aqidah-aqidah dan ibadah-ibadah yang kesemuanya itu berhubungan dengan hal-hal yang suci dan mengikat pengikutnya dalam suatu masyarakat, yang disebut gereja” demikian ungkapan Emilie Durkheim (cendekiawan Perancis. Sementara  menurut Oxford Student Dictionary (1978) mendefinisikan agama (religion) dengan “the belief in the existence of supranatural ruling power the creator and controllerof universe”. Yaitu suatu kepercayaan akan keberadaan suatu kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Agama (religion) dalam pengertiannya yang paling umum diartikan sebagai sistem orientasi dan objek pengabdian. Dalam pengertian ini semua orang adalah makhluk religius , karena tak seorang pun dapat hidup tanpa suatu sistem yang mengaturnya dan tetap dalam kondisi sehat.[11]

Kata agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang memilki arti “tradisional” Sementara  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Dalam bahasa latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Menurut filolog Max Müller, akar kata bahasa Inggris "religion", yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal illahi, kesalehan" (kemudian selanjutnya Cicero menurunkan menjadi berarti " ketekunan "). Max Müller menandai banyak budaya lain di seluruh dunia, termasuk Mesir, Persia, dan India, sebagai bagian yang memiliki struktur kekuasaan yang sama pada saat ini dalam sejarah. Apa yang disebut agama kuno hari ini, mereka akan hanya disebut sebagai "hukum".

Banyak bahasa memiliki kata-kata yang dapat diterjemahkan sebagai "agama", tetapi mereka mungkin menggunakannya dalam cara yang sangat berbeda, dan beberapa tidak memiliki kata untuk mengungkapkan agama sama sekali. Sebagai contoh, dharma kata Sanskerta, kadang-kadang diterjemahkan sebagai "agama", juga berarti hukum. Di seluruh Asia Selatan klasik, studi hukum terdiri dari konsep-konsep seperti penebusan dosa melalui kesalehan dan upacara serta tradisi praktis. Jepang pada awalnya memiliki serikat serupa antara "hukum kekaisaran" dan universal atau "hukum Buddha", tetapi ini kemudian menjadi sumber independen dari kekuasaan. Tidak ada setara yang tepat dari "agama" dalam bahasa Ibrani, dan Yudaisme tidak membedakan secara jelas antara, identitas keagamaan nasional, ras, atau etnis. Salah satu konsep pusat adalah "halakha" , kadang-kadang diterjemahkan sebagai "hukum" ",  yang memandu praktik keagamaan dan keyakinan dan banyak aspek kehidupan sehari-hari.[12]

Agama berasal dari kata gama yang berasal dari  bahasa Jawa (kuno) artinya PERATURAN. Ber-gama, menjalankan gama, atau agama artinya “ber-peraturan”, atau “memiliki peraturan” atau “memenuhi peraturan”. Kata “a”disini bukan berarti TIDAK, melainkan sebuah “sandangan” yang berarti “memiliki”. Jika agama artinya memiliki peraturan, artinya ada tatacara, ada norma, ada “pakem”, ini dapat menjelaskan mengapa simbol pencapaian spiritual tertinggi dalam kepercayaan “kuno” adalah LINGGA dan YONI. Lingga (penis) dan yoni (vagina), melambangkan HUBUNGAN SEKSUAL antara PRIA dan WANITA. Hubungan seksual adalah syarat dari PROKREASI, itu adalah syarat terjadinya KEHIDUPAN, jadi sexual intercourse adalah awal mula (sangkaning dumadi), adanya pertemuan sperma dan sel telur, sebagai awal mula kehidupan. Agama, yang dimaknai “memiliki peraturan”, adalah sebuah “kata benda”, sebuah keadaan (spiritual) yang hendak dicapai manusia dalam hidupnya. Orang ber-agama, adalah orang yang TERATUR, TERTIB, bukan yang hidup SEMAUNYA, demikian juga SANGGAMA, sebuah lambang (awal) KETERATURAN (kehidupan) ini.[13]

 

Munculnya kekristenan

 

Awal mula agama Kristen tidak diciptakan melainkan mengalir dalam sebuah kegiatan demontrasi kuasa Roh Kudus yang dimulai waktu pencurahan Roh Kudus. Dimana para murid-murid Kristus mengabarkan kabar kesukaan akan kebangkitan Kristus dari kematian. Pelayanan yang diurapi dan disertai tanda-tanda mujizat di depan mata yang membuat orang terkagum-kagum. Banyak orang menjadi percaya dan bertobat serta di baptis untuk menjadi pengikut Kristus. Dari sinilah muncul agama Kristen. Kata Kristen sendiri bukan sebuah kebanggaan melainkan muncul waktu di antiokhia[14] sebagai identitas  bullying[15] ditengarai sebagai julukan dan penghinaan terhadap identitas pengikut Kristus.

Agama ini menjadikan penyembahan kepada dewa dan kaisar mulai terpinggirnya oleh penginjilan para rasul-rasul Kristus dan Paulus yang on fire di seluruh negeri bahkan ke bangsa-bangsa lain di luar Yahudi.  Untuk menghambat laju perkembangan agama Kristen maka Kaisar-Kaisar Romawi mengadakan penyiksaan yang sangat mengerikan bagi para pengikut Kristus. Jika ketahuan seseorang memiliki identitas Kristen maka mereka harus merelakan tubuhnya dicabik-cabik menjadi makanan singa. Mereka yang mengaku Yesus sebagai Juru selamat dengan mulutnya[16] mau tidak mau nyawa yang menjadi taruhannya. Diantaranya menjadi obor pada malam hari dengan dilumurui gala-gala atau aspal dan kemudian dinyalakan sebagai penerang di pinggir jalan dengan istilah lilin-lilin  Romawi.  Dalam hal ini apa yang Yesus ucapkan tergenapi sejak gereja mula-mula.

 

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu  dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Kamu akan dikucilkan bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.[17]

 

Iman yang diarahkan kepada pribadi Yesus Kristus telah memakan korban ratusan ribu jiwa. Sekalipun Yesus tidak pernah menyebut kristen namun demikian semua orang Kristen yang benar harus memiliki standar kehidupan seperti Kristus sebagai prototype.  Kristus memiliki arti yang diurapi, adalah sebuah gelar yang diberikan hanya kepada orang yang tidak memiliki kelemahan dan dosa. Sehebat apapun nabi dan Rasul yang bisa mendatangkan api dari langit atau terangkat ke Sorga sekelas Henoch dan Elia dan nabi-nabi besar dari Yesaya, Yermia, Yehezkiel dan Daniel atau Musa sekalipun tidak ada yang menyandang gelar Kristus. Mengapa karena mereka dilahirkan dari natur dosa Adam yakni dosa turunan yang memberontak kepada Allah. Namun berbeda dengan Yesus dari Nazaret anak perawan Maria. Dia dilahirkan bukan karena nafsu seorang laki-laki melainkan lahir dikandung dari Roh Kudus sehingga Ia layak mendapat gelar Mesias yang arti Kristus yakni Dia yang di urapi oleh Roh Kudus. Angin segar muncul ketika Kaisar konstantinus menjadi kaisar di tahun 313 Agama Kristen menjadi agama negara. Himpitan yang menekan dengan aniaya tak terperikan ini sirna sudah dengan dikeluarkan dekrit agama Kristen menjadi agama negara. Namun apakah kekristenan menjadi lebih baik? Tidak sama sekali sekalipun mengalami kemajuan pesat tetapi di dalamnya keropos dan banyak ajaran sesat. Orang-orang Kristen mulai membawa baal dan paraSudah lama agama atau kepercayaan menjadi pedoman hidup bagi masyarakat luas. Orang-orang di jaman Purbakala hidupnya sangat dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap dewa-dewi yang mereka percayai mengendalikan kehidupannya. Jika mereka sudah berdamai dengan para dewanya maka mereka memiliki ketenangan hidup. Jadi agama adalah sebuah pilihan seseorang dari hati yang sering kali mengabaikan pikiran jernih. Dianggapnya pilihannya yang terbaik sehingga tidak jarang rela menyerahkan nyawanya demi agamanya. Kelekatan kepercayaan di dalam diri seseorang semakin hari semakin menciptakan fanatisme yang berlebihan.  Kekristenan mulai banyak aliran yang aneh-aneh hingga muncullah konsili di Ncea tahun 325  yang mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali sebagai pertana kesatuan secara universal. Baru saja menemukan angin segar kekristenan kembali berada dalam masa-masa kelam dengan adanya perang salib yang dicetuskan Paus urbanus II. Perang ini bertujuan mengambil kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam. Kekejaman perang salib ini sangat mengerikan sehingga menjadi masa-masa kelam kekristenan.

Kekristenan menjadi sangat memalukan bila digunakan untuk kekuasaan dan politik. Belanda yang mayoritas beragama Kristen datang ke Indonesia dengan menjajah selama 350 tahun sehingga agama kristen indentik dengan penjajah sehingga tertolak di Indonesia. Kalau saja Belanda tahu menghargai kasih karunia selama ratusan tahun akan dengan mudahnya menjadikan agama Kristen menjadi agama mayoritas di Indonesia namun tidak demikian halnya. Kekristenan menjadi aib karena kekejaman dan penindasan Belanda. Jangan heran di Indonesia agama Kristen menjadi agama minoritas.

Agama apapun yang dipakai untuk kekuasaan dan politik akan menciptakan segala hal yang buruk. Kebenaran-kebenaran yang ada dapat dianalogikan dengan canang yang bergemerincing yang tidak mampu memberikan nada yang enak di telinga yang ada memekakkan telinga. Soal agama seharusnya adalah soal kesantunan, jauh dari kejahatan dan terlepas dari kekuasaan dan politik. Agama yang tidak berjalan dalam koridor yang benar akan membuat ayat-ayat suci di dalamnya berbau najis sebab bercampur darah orang yang tidak berdosa dan perlakuan yang tidak adil oleh orang-orang yang merasa menggenggam kebenaran tetapi berkelakuan bejat.

Kekristenan tanpa Kristus identik agama di luar patron kebenaran bahkan disinyalir bukan agama. Jika dianalogikan kekristenan itu jalan hidup jika tidak disertai oleh pengurapan Roh Kudus maka bukanlah sebuah kehidupan. Yesus Kristus mengatakan : “Kamu adalah garam dunia . Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.[18] Orang harus sadar bahwa garam memiliki manfaat yang luar biasa dalam kehidupan manusia namun jika menjadi tawar, sama sekali tidak berguna sehingga tidak perlu diasinkan bukan? demikian juga agama yang memiliki begitu banyak manfaat namun jika tidak berfaedah maka untuk apa? Hanya akan menjadi cibiran dan olok-olokan saja.

Jadi siapakah yang sesungguhnya identitas kekristenan tanpa Kristus? Mereka adalah agama-agama yang tidak selaras dengan kebenaran sejati. Yohanes mencatat dengan jelas sebuah kebenaran   Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.[19]

Kebenaran ini ditulis oleh Yohanes untuk pribadi dan kelompok yang terancam imannya oleh banyaknya ajaran sesat. Tentu harus dipahami ajaran-ajaran sesat tersebut adalah agama-agama yang diciptakan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab yang merasa dirinya memperoleh

Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,  dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan

wahyu dari Allah. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka Yohanes seorang murid Yesus yang dipilih oleh Yesus memperingatkan bahwa siapapun bahkan kelompok serta agama apapun yang tidak tinggal dalam ajaran Kristus tidak memiliki Allah. Siapakah mereka yang tidak memiliki Allah?

Pertama mereka yang tidak ditanam oleh Bapa di sorga,

Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.[20]

Kebenaran yang diungkapan oleh Yesus ini mengacu kepada perdebatan ahli-ahli Taurat yang selalu mempersoalkan halal dan haram dalam hal makanan. Bangsa Israel memang bangsa yang ditanam oleh Allah sendiri, bahkan diberi kebenaran hakiki melalui pewahyuan yang spektakuler kepada Musa, langsung ayatnya di tulis dengan jari-jari Allah.[21] Tanaman Tuhan inilah yang menjadi tolok ukur apakah bangsa itu diperkenan Tuhan atau tidak.

Pendudukmu semuanya orang-orang benar, mereka memiliki negeri untuk selama-lamanya; mereka sebagai cangkokan yang Kutanam sendiri untuk memperlihatkan keagungan-Ku. [22]

Israel yang merupakan tanaman Tuhan yang diharapkan menghasilkan anggur yang manis tapi realitasnya asam.[23] Para tokoh agama di Israel yang disebut ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi hanya mempersoalkan ajaran yang halal dan haram seolah-olah ajaran itu berasal dari Allah yang benar. Penambahan halal dan haram yang mencapai ratusan itu malam itu menjadi beban bagi jemaat Tuhan sehingga menciptakan hukum agama yang berasal dari manusia bukan dari Allah. (bersambung)

 


[1] Kejadian 4

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Islam

[3] https://bhagavant.com/sejenak-mengenal-agama-buddha

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Katolik

[5]  Lukas 22:42, 1 Petrus 5:7, Mazmur 55:2

[6]  Galatia 3:28

[7]  2 Korintus 3:17 dan Matius 11:28-29

[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan

[9] Matius 23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan o  yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

[10] Matius 7:21-23

[11] https://slideplayer.info/slide/12152010/

[12]  https://id.wikipedia.org/wiki/Agama

[13]   https://pewijayanto.wordpress.com/2010/08/19/aku-mencari-arti-agama/

[14]  Kis. 15:7-21

[15]  Menurut ahli lain Bullying adalah salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan yang dominan pada perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya.

[16]  Roma 10:9-10 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati maka kamu akan diselamatkan.  Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

[17] Yohanes 15:18-19 dan Yohanes 16:2

[18] Matius 5:13

[19]  2 Yohanes 1:9

[20]  Matius 15:13

[21]  Keluaran 31:18

[22]  Yesaya 60:21

[23]  Yesaya 50:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur s  pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.