Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini1252
Kemarin875
Minggu Ini1252
Bulan Ini11430
Total Pengunjung858869

IP Kamu 54.198.205.192 Monday, 12 November 2018

Guests : 28 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MENGUBAH WAJAH TUHAN

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Allah Sang Pencipta langit dan bumi memiliki wajah yang penuh kemuliaan dan kemurkaan. Wajah Tuhan itu merupakan cerminan karakterNya yang bertumpang tindih alias menjadi satu. Berbeda dengan manusia yang karakternya terpisah-pisah satu marah satu lembut tergantung suasana hati dan bisa saling bertentangan namun tidak untuk Allah.  Allah memiliki karakter yang menyatu yang tidak mungkin terpisah-pisah seperti manusia.  manusia harus menempatkan dirinya sebagai orang yang dapat memilih dan memilah karakternya Tuhan sehingga mendapati Dia tersenyum atau menjadikan Dia sebagai priadi yang menyala-nyala dalam kemurkaanNya. Semua tergantung dari pribadi seseorang dalam memperlakukanNya. Tentu harus disadari penulis menggunakan istilah Antropomorfisme[1] mencoba memahami keberadaan wajah Allah yang dikarenakan karakternya yang menjadi sumber kemurahan atau kemurkaanNya.  

Untuk melihat wajah kemuliaanNya orang harus berada dalam posisi memperoleh perkenananNya atau menjadi orang yang dipilih dan dikasihiNya. Sementara jika orang mau melihat kemurkaanNya maka ia cukup menjadi orang terkutuk, hidup dalam dosa dan segala kenajisannya yang membuat wajahNya murka. Jadi dengan demikian yang bisa melihat  wajahNya adalah manusia itu sendiri dengan segala tingkah polahnya. Jika orang menerima wajah kemuliaanNya maka ia akan menjadi orang yang beruntung sementara jika mendapat kemurkaan Tuhan maka apapun yang dilakukan akan menjadi sia-sia belaka bak menjaring angin bukan saja sial di bumi tapi lebih terasa menderita ketika usai ajal menjemput.

Jadi jika demikian halnya adakah orang yang dimanja dan dimurkai? Tidak sama sekali. Semua orang sama dihadapan Tuhan sebagai makluk ciptaan yang paling mulia dan mendapat posisi di hati Allah. Yang membedakannya adalah iman dan tindakan yang berkenan dihadapanNya atau mereka yang sengaja menolak kasih karunia atau mengeraskan diri sehingga layak ditentukan untuk neraka. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa :

 

Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku;

Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia

yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.[2]

 

Kejahatan yang terus menerus atau kekerasan hati yang tidak bisa lagi diperingatkan akan menjadikan dirinya ditakdirkan oleh Allah untuk dimurkai. Orang menciptakan dirinya sendiri berada dalam murka Allah karena segala sesuatu yang dilakukannya. Allah tidak pernah menyetting seseorang untuk menerima murka melainkan membiarkan free will atau kehendak bebas manusia ciptaanNya bergerak menentukan arahnya sendiri bagaikan kompas yang berjalan ke alamat yang dituju entah itu kemurahaan hati Allah atau kemurkaan. Karena setiap orang diperhadapkan dengan hal tersebut seperti apa yang Paulus katakan : “ Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.[3]

 Kesadaran seseorang menempatkan dirinya menjadi orang yang berbahagia atau celaka. Tuhan sendiri memberikan rambu-rambunya sampai detil-detilnya melalui perjalanan kehidupan orang Israel yang tegar tengkuk, siapa-siapa saja mereka yang diijinkan sampai tanah kanaan atau binasa dalam perjalanan di padang gurun. Semua itu menjadi pelajaran yang penting bagi setiap orang percaya. Untuk itulah betapa pentingnya mencari wajah Allah yang penuh kemurahan dan menghindarkan diri dari wajah Allah yang penuh kemurkaan. Karena keduanya memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan yang akan datang. Yang satu memperoleh kehidupan Kekal atau terjerumus dalam kebinasaan kekal.  Semua ini tergantung bukan dari pihak Tuhan yang memiliki dua karakter yang bertumpang tindih melainkan selalu berangkat dari sikap hidup umat ciptaanNya. Namun harus disadari bahwa hati Allah terpancar kasih yang meluap-luap untuk setiap orang. Ia merindukan semua orang menerima kasih setianya yang melimpah tanpa batas. Namun sekali lagi tergantung respon orang tersebut menerimanya. Untuk mendapati hidup dalam kemurkaan Allah orang cukup menjadi generasi Adam pertama yang hidup dalam pemberontakan kepada Allah tanpa pertobatan dan kelahiran baru. Mengapa demikian karena Allah memiliki sifat dendam kesumat dan kemarahan yang luar biasa terhadap generasi pemberontak, dan karakter ini melekat di dalam diri Allah sampai dalam kekekalan. TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. [4]

 

Bagi Tuhan hampir tidak ada harga nyawa seseorang jika Ia memberontak kepada Allah. Lihat saja berapa banyak jiwa yang dibunuh di padang gurun baik bangsa Israel sendiri atau penduduk Kanaan yang dibinasakan. Karena bangsa Kanaan sudah berabad-abad hidup dalam penyembahan berhala dan memberontak kepada Allah melalui kehidupan yang menjijikkan. Hal ini dinyatakan dengan berbagai ritual pengorbanan anak-anak kepada para dewa-dewa atau baal dan patung tuangan. Untuk menghindarkan bangsa pilihan dari penyakait kronis yang sudah tidak tersembuhkan tersebut maka murka Tuhan selalu bernyala-nyala untuk setiap tindakan pemberontakan.

 

TUHAN melepaskan segenap amarah-Nya, mencurahkan murka-Nya yang menyala-nyala, dan menyalakan api  di Sion, yang memakan dasar-dasarnya. 

Tetapi TUHAN tidak beralih dari murka-Nya yang sangat bernyala-nyala itu yang telah bangkit terhadap Yehuda oleh karena segala sakit hati-Nya yang ditimbulkan Manasye. [5]

 

Mengapa Tuhan memilih umat pilihanNya dan sekaligus membinasakan mereka? Allah ingin menunjukkan bahwa Dia tidak pernah pilih kasih terhadap siapapun termasuk umat pilihanNya sendiri yakni bangsa Israel. Allah ingin menyelamatkan seluruh generasi umat manusia di dunia ini di segala abad melalui eksistensi dan karakter yang kuat yang ditunjukkanNya kepada bangsa Israel. Israel menjadi pelajaran penting untuk setiap orang baik orang percaya atau tidak dapat melihat cara-cara Allah memimpin sebuah kehidupan yang nyata. Allah sungguh-sungguh eksis dan sangat membumi dengan detil-detil perintah dan campur tangan setiap inci kehidupan manusia. Eksistensi Allah semesta langit terlihat jelas rinci dalam membentuk sebuah bangsa pilihan yakni Israel yang nantinya akan menjadi contoh kehidupan bagi seluruh generasi bangsa.  Jadi jika demikian apakah yang membedakan bangsa-bangsa lain dengan umat pilihan? Sangat berbeda, sekalipun bangsa pilihan juga mendapat murkaNya. Yesaya mengatakan dengan jelas,

 

Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya,

tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani  engkau, firman TUHAN, Penebusmu. [6]

          

Untuk menjauhkan diri dari murka Allah setiap orang harus masuk dalam keluarga Allah. Ini hampir mustahil sebab menjadi keluarga kerajaan dunia ini, anggap saja keluarga kerajaan Inggris tidak mungkin bisa terjadi kecuali ratu Elisabeth datang dan mengangkat seseorang menjadi anggot kerajaan. Orang bisa menjadi keluarga kerajaan melalui adopsi atau enikah dengan salah satu keluarga kerajaan. Murka Allah akan segera dicurahkan orang-orang di luar wilayah kasih karunia. Mereka yang sudah menikmati kasih karunia tidak mungkin berhadapan dengan murka Allah tetapi kemurahan Allah sendiri. Namun mereka yang berada dalam bayang-bayang murka Allah adalah orang yang hidup dalam kemelekatan akan dunia ini. Yakob mengakatakan bahwa persahabatan dengan dunia ini merupakan musuh Bapa.[7] Terhadap musuhnya Allah tidak pernah mau berdiam diri disamping Dia pribadi pendedam Dia akan segera bertindak, murkaNya yang menyala-nyala akan segera membumihanguskan para lawannya. Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api,  dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api.[8]

            Paulus mengingatkan bahwa : “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).[9] Pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.[10] Musuh Allah adalah mereka berhala-berhala yang menjelma di dalam diri para penyembahnya dan itu merupakan kejijikan di mata Tuhan. Para penyembah berhala ini adalah mereka yang sudah mengenal kebenaran tetapi  menjadi angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.[11] Hatinya tidak condong kepada ketaatan melainkan kepada pemberontakan[12] Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.[13]

            Di dunia modern saat ini tempat-tempat ibadah tidak dipergunakan untuk Allah tetapi untuk kepentingan sesaat seperti mencari keuntungan materi, popularitas dan politik dan masih banyak hal yang lain lagi. Yesus ketika memasuki tempat ibadah Ia begitu marah dan menjungkirbalikkan segala sesuatu.

 

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.

Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang  duduk di situ.

  Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka;

uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati

Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."

Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku. " Orang-orang Yahudi pmenantang Yesus,

katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah  ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."

Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.

Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya,

dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.[14]

 

Puncak kemarahan Yesus terjadi ketika tempat ibadah dipergunakan untuk jual beli. Persoalannya bukan sekedar jual beli secara kasat mata. Karena pada zaman Yesus sebelum orang masuk tempat ibadah memang harus membeli barang-barang yang akan dipakai persembahan kepada Allah seperti domba merpati dan berbagai penukaran uang. Memang harus ada yang jualan disana… namun mengapa Yesus Kristus begitu marah? Bila tidak boleh jualan yang paling marah adalah para imam dan ahli-ahli Taurat. Yesus Kristus tampil di tempat ibadah tersebut melihat para pedagang itu memeras dengan harga berlipat kali ganda sehingga menyusahkan para pengunjung yang akan beribadah. Keserakahan orang-orang yang berjualan tersebut yang juga di dukung oleh para imam yang mencari keuntungan di dalam Bait Allah membuat murka Tuhan turun atas mereka.

            Tempat ibadah tidak boleh dipakai untuk keserakahan baik untuk mencapi hal-hal kekuasaan dan keuntungan sesaat. Bila tempat ibadah dipakai titik berangkat mencapai kepentingan duniawi maka mereka tinggal menunggu murka Tuhan. Apalagi jelas-jelas tempat ibadah dipakai untuk memeras dan menyusahkan banyak orang. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka , tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu![15] Ibadah yang menyengsarakan orang lain seperti yang dilakukan oleh Kain yakni membunuh adiknya sangat trending topik di era digital ini bagaimana tidak, berangkat dari tempat ibadah orang mencela, memfitnah dan mengancam orang lain yang semuanya merupakan produk iblis. Nurani para tokoh spiritual mulai tumpul lebih menyukai kitab sucinya sebagai bahan hafalan yang diucapkan namun tingkah lakunya jauh daripada kebenaran.

 

Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,

dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia  yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini,

keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.[16]

 

Jika tempat ibadah dihuni oleh para tokoh yang hanya mengajarkan ayat-ayat hafalan maka akan menciptakan sebuah kebodohan yang tampil kepermukaan sebab hikmat orang berhikmat akan hilang. Politisasi tempat ibadah akan menjalar seperti virus yang tidak terbendung lagi dan  akan menciptakan orang-orang dungu yang merusak tatanan keharmonisan bermasyarakat. Orang-orang durhakan bukan saja dimiliki orang-orang jahat yang jauh dari lingkungan tempat ibadah malah sebaliknya justru ada dalam tempat ibadah untuk itu setiap orang harus berawas-awas apakah para tokoh agama sedang menyamar domba berbulu serigala atau memang panutan yang harus ditaati ajarannya. Yesus Kristus mengecam dengan sungguh para tokoh agama di zamannya sehingga Yesus memerintahkan hanya untuk mendengar ajarannya dan jangan mengikuti tingkah lakunya.

 

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Matius 23:1-3). Mengapa Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bukan mereka pejabat korup dan jahat dikalangan bangsa Romawi? Dampak terbesar kehidupan seseorang bukan penguasa yang ada melainkan mereka yang menanamkan kebenaran tapi justru memberikan racun dan virus mematikan sehingga para pengikut agama menjadi liar dan busuk. Semua itu berawal bukan dari para penguasa yang memang sudah sangat jahat menindas orang Yahudi. Namun pokok utama orang mendatangkan murka Allah berasal dari tokoh-tokoh agama.

 

Bisa dibayangkan jika mayoritas masyarakat Yahudi diajar oleh para pendurhaka maka mereka akan menciptakan umat yang lebih buruk dari pemimpinya, karena murid tidak akan melebihi gurunya. Negeri yang dihuni oleh para tokoh agama yang hanya menggunakan ibadahnya untuk kepentingan sesaat tinggal menunggu waktu saja akan murka Tuhan yang akan turun menghajar seluruh kawanan. Namun itu menunggu sampai titik kesabaran Allah berhenti yakni pintu anugerah kemurahan hati Allah yang sudah tertutup. Yermia mengatakan :

 

Adapun engkau, janganlah engkau berdoa untuk bangsa ini  dan janganlah naikkan permohonan dan doa untuk mereka,

sebab Aku tidak akan mendengarkan  pada waktu mereka berseru kepada-Ku karena malapetaka mereka.[17]

 

Vonis murka sudah dicurahkan kepada bangsa Israel yang bebal yang tidak mau mendengarkan akan kebenaran sehingga tidak lagi dibutuhkan doa melainkan menunggu murka Allah turun. Allah sendiri akan menghajar kedegilan hati masyarakat yang keras kepala. Seperti Firaun yang keras kepala yang sudah sepuluh kali ditunjukkan peringatan demi peringatan melalui tulah atau kutuk keseluruh negari maka harus ada kutuk yang membahayakan seluruh generasi yakni anak pertama harus mati. Kekerasan hati menciptakan murka Allah dicurahkan. Namun bagi orang percaya kekerasan hati orang – orang jahat justru menunjukkan kuasa Allah dinyatakan yang lebih untuk mempersiapkan orang percaya untuk kemuliaanNya. Jika Allah menyimpan orang durhaka untuk bahan bakar api neraka maka Ia lebih sabar mempersiapkan orang percaya untuk menjadi penghuni sorga. Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran  yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan,  yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya  bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: "Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih. "[18]

 

Orang-orang percaya harus menyadari dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi penghuni Sorga maka harus praktek hidup di sorga selama ada di bumi. Untuk mendatangkan atmosfer sorga di bumi ini dibutuhkan intervensi Illahi yakni pimpinan Roh Kudus yang menghadirkannya. Mustahil tanpa Roh Allah manusia bisa mengerti suasana sorga, sebab roh najis sudah pasti berasal dari neraka yang membuat bumi ini panas karena kejahatannya. Keteduhan sorga harus dimiliki orang percaya sehingga bisa mendatangkan wajah kemuliaan Allah. Sangatlah mustahil manusia bisa melihat wajah kemuliaan Allah. Sekelas Musa saja tidak boleh melihat wajah Allah sebab setiap orang yang melihat wajah Allah pasti mati sehingga Musa hanya boleh melihat punggung Allah.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama   TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani. " Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang m  Aku dapat hidup." Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk  gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."[19]

 

Siapakah orang yang dapat memandang wajah kemuliaan Tuhan, mereka yang layak memandangnya adalah orang-orang yang mendapat kasih setia Tuhan. Orang tidak mungkin memperoleh kemurahan Allah bila tidak bertatap muka secara pribadi melalui Yesus Kristus. Pribadi inilah yang membuat hati Allah yang penuh belas kasihan tercurah bagi umat manusia yang berdosa. Jika selama ini Allah melihat manusia yang ada hanya ingin mencurahkan malapetaka karena kejahatan dan pemberontakan namun tidak demikian sejak kehadiran Yesus. Setiap orang yang percaya kepadaNya memperoleh kasih karunia untuk terhindar dari murka Allah.

 

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa,

tetapi kasih karunia dan kebenaran  datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah;

tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.[20]

 

 

Tidak akan pernah ada orang yang diperkenan melihat wajah kemuliaanNya tanpa kepenuhan akan Kristus itu sendiri sebab harus disadari untuk mengubah wajah Allah yang penuh kemurkaan menjadi wajah Allah yang penuh kemuliaan hanya melalui Salib Kristus. Allah sendiri dalam karakter keadilannya harus menghukum orang berdosa namun karakter Allah yang satu adalah penuh kasih dimana manusia harus diampunia dosanya. Allah tidak bisa mengesampingkan karakter keadilanNya karena hukuman harus dinyatakan sementara kasih juga harus diberikan. Jika berangkat dari manusia maka manusia hanya menerima keadilan Allah yakni hukuman karena dosanya. Manusia tidak mungkin memperoleh kemurahanNya karena hanya sekedar amal perbuatan atau sejuta ayat dan ribuan prosesi ibadah yang diperlukan manusia adalah pengampunan dosa dari darah Anak Domba. Melalui Kristus Yesus adanya pertemuan antara keadilan Allah dan kasih Allah menyatu dalam diri manusia. Manusia yang menerima pengampunanNya telah memenuhi syarat untuk meliha wajah Allah sendiri.

            Tanpa proses pengampunan dosa maka manusia tidak akan memperoleh perkenananNya sehingga hanya menerima vonis hukuman karena dosa. Pemenuhan Kristus bukan hanya terjadi satu kali saja ketika menerima pengampunan dosa melainkan harus dipraktekkan. Bila orang percaya menjadi garam dunia maka garam itu harus berfungsi menjadi penyedap rasa atau menghambat yang busuk. Jika kepenuhan Kristus itu menjadikan orang percaya itu sebagai terang maka dimanapun orang percaya ada harus menerangi kegelapan dunia ini. Orang yang melihat kemuliaan Allah akan tampak jelas dalam kehidupan pribadinya bagaimana terus menjaga keintiman dengan Allah sang Pencipta dan melayani dan menjadi berkat buat sesamanya. Amin This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 



[1]  Antropomorfisme dapat diartikan pengenaan atau penyamaan pada Allah terhadap bentuk-bentuk atau perilaku manusiawi. Kata anthropomorfisme mengacu pada persepsi bahwa Tuhan memiliki bentuk dan sikap yang sama dengan manusia.

[2] Yohanes 17:12

[3]  Roma 11:22

[4]  Nahum 1:2

[5]  Ratapan 4:11 dan 2 raja 23:26

[6]  Yesaya 54:8

[7] Yakub 4:4

[8] Yesaya 66:15

[9]  Kolose 3:5-6

[10]  1 Samuel 15:23

[11] Maz 78:8

[12]  Amsal 17:11

[13]  Titus 1:16

[14] Yohanes 2:13-22

[15]  2 Timotius 3:5

[16] Yesaya 29:13-14

[17]  Yermia 11:14

[18] Roma 9:22-25

[19] Keluaran 33:17-22

[20]  Yohanes 1:16-18

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.