Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini846
Kemarin811
Minggu Ini846
Bulan Ini17398
Total Pengunjung779243

IP Kamu 54.81.110.186 Monday, 20 August 2018

Guests : 70 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

 

FAKTA PENYALIBAN YESUS KRISTUS DALAM ALKITAB

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

 

Penyaliban Yesus Kristus bukanlah dongeng ataupun hasil daya khayal seseorang,  melainkan merupakan fakta sejarah yang tidak dapat disangkal oleh ajaran apapun dan siapapun juga. Seluruh kisah hidup dan karyaNya ditulis dalam keempat Injil secara kronologis, akurat dan dapat diandalkan kebenarannya. “Sebab Pewahyuan dalam Alkitab memakai kata “diilhamkan” berasal dari bahasa Yunani ‘theopneustos’ yang berarti dihembuskan oleh Allah (2 Tim 3:16).”1

Hembusan’ atau Roh Allah dalam PL (Ibrani ‘ruakh, nesama) menekankan peri aktifnya keluar daya Ilahi, apakah itu dalam penciptaan (Mzm 33:6; Ayb 33:4 bnd kej 1:2; 2:7), pemeliharaan  (Ayb. 34:14), wahyu kepada dan melalui para nabi (Yes. 48:16; 61:1; Mi 3:8; Yl 2:28) pembaruan (Yeh 36:27), atau penghakiman (Yes 30:28,33). Perjanjian Baru menyatakan ‘hembusan’ (Yunani pneuma) Illahi, ini sebagai Oknum dari ke-Allah-an (Roh Kudus)2

Para penulis Alkitab bukanlah seperti robot yang secara mekanis melakukan tugasnya. Mereka aktif, menulis, menyusun, menyalin, menterjemahkan ulang kebenaran yang telah diilhamkan oleh Roh Kudus kedalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Roh Kuduslah yang memampukan para penulis Alkitab sehingga karyanya tidak pernah meleset dari tujuan dan maksud Allah. Dengan kata lain Alkitab “bersifat infallible (tak dapat keliru), dan inerrant (tak dapat salah). Adalah dua kata yang bersinonim, yang dapat dipertukarkan.”3 Dengan kata lain Alkitab benar seluruhnya (Maz 119:142, 151,160; Ams 30:5; Yoh 17:17).

Seluruh kehidupan dan karya Yesus Kristus diletakkan dalam waktu dan tempat. Hal ini berarti bahwa kata-kata dan perbuatan-perbuatan itu harus memuat tanda-tanda waktu dan tempat, dimana kata-kata dan perbuatan-perbuatan itu diungkapkan dan dilakukan. Para penulis Injil dalam mengungkapkan kisah kehidupan Yesus lebih banyak memakai metode cerita. Dalam setiap cerita selalu ada  kerangka dasar yang tidak pernah dapat dirubah seperti awal, pertengahan dan akhir cerita.   Dr. C. Groenen, OFM menjelaskan; bagaimana memahami suatu cerita, dalam bukunya “Analisis Naratif  Kisah Sengsara (Yohanes 18-19) sebagai berikut:

...Apa yang ditampilkan pada awal mesti sesuai dengan awal, bukan dengan bagian tengah ataupun akhir. Hanya bagian-bagian tertentu digelarkan dalam bagian pertama dan apa yang di gelarkan itu juga mengarah ke tengah, demikianpun halnya dengan bagian tengah, yang disatu pihak mesti berupa lanjutan bagian pertama dan dilain pihak terarah ke bagian akhir. Cerita tidak “jalan” bila apa yang pada tempatnya dibagian tengah di letakkan di bagian pertama dan sebaliknya. Apa yang pada tempatnya dibagian terakhir, tidak dapat diletakkan di bagian awal atau tengah. Semua berdasarkan “aturan,” struktur yang meski dipegang oleh pencipta cerita manapun. Tetapi semuanya dapat direalisasikan dengan seratus/ seribu cara..4 

 

Salah satu kegagalan para pakar muslim dalam memahami penyaliban Yesus disebabkan mengesampingkan hal yang cukup mendasar ini, yakni tidak memperhatikan alur cerita. (Lih. hal 42, Simon mengangkat salib dan kesaksian prajurit, dan Lih hal 44 tentang bukti Yesus hidup). Alur cerita tersebut diputarbalikkan dan sudah pasti salah!

Yesus tidak muncul sebagai seorang pahlawan dengan mengangkat senjata untuk mendirikan agama baru didunia ini. Sekalipun pada masa hidupNya, masyarakat Yahudi mendambakan seorang pahlawan yang mampu membebaskan dari tangan penjajah, Yesus tidak mau melakukan sebab Ia hadir bukan untuk tujuan politik tetapi untuk keselamatan manusia dari dosa. Maka jalan yang harus ditempuhNya bukan dengan pedang, melainkan penderitaan dan mati tersalib. Josh Mc Dowel menerangkan pandangan bangsa Yahudi tentang Yesus sbb:

... Bangsa Yahudi menantikan Mesias sebagai tokoh yang akan melepaskan mereka dari penjajahan Romawi. Kuil-kuil dengan upacara persembahan korban tidak diusik karena bangsa Romawi tidak mencampuri masalah rohani. Harapan yang diletakkan pada Mesias pada dasarnya adalah demi terwujudnya kebebasan Nasional. The Jewis Encyclopedia menyatakan bangsa Yahudi merindukan Pembebas yang dijanjikan dari rumah Daud, yang akan membebaskan mereka dari penindasan penjajah asing yang dibenci, yang akan mengakhiri dunia serta pemerintahan yang tidak bertuhan, dan yang akan mendirikan kerajaanNya sendiri yang penuh damai dan adil ...5

 

Untuk memahami kehidupan dan karyaNya dibutuhkan pengetahuan tentang latar belakang kebudayaan, bahasa, dan pandangan yang berlaku pada waktu itu. Ia bukanlah seorang yang secara demontratif mengungkapkan tujuan misiNya ke dunia ini, dan bukan juga sebagai seorang yang minta pengakuan dengan ancaman pedang. Sebaliknya Ia menjadi seorang hamba yang taat sampai mati. Sebab misi utama Kristus membebaskan manusia dari dosa, sehingga Ia secara sadar tidak melibatkan diriNya kedalam kancah politik dijamanNya. Ia juga tidak  berambisi akan pengakuan Mesias secara dangkal yakni pengakuan terhadap diriNya karena berbagai mujizat yang dilakukanNya maupun sebagai pahlawan politik. Ia tahu sebagai akibatnya adalah penolakan untuk semua karya keselamatan yang dilakukanNya diatas salib.

 

1. Konsep tentang Yesus dipermuliakan dan kenaikanNya ke Sorga

Peristiwa penolakan penyaliban dalam Al Qur’an didasarkan pada surat An Nissa 157 dan 158  tentang dua peristiwa yang penting. Pertama adalah “perubahan wajah” kemudian disusul dengan peristiwa “Isa diangkat.” Adapun maksud dari tindakan Allah tersebut adalah untuk membela Isa Almasih dari para prajurit yang akan menangkapNya. Menurut keyakinan mereka bahwa rasul Allah tidak akan mati di tangan para musuh-musuhNya maka Allah harus menyelamatkannya. Al Qur’an mengkisahkan “perubahan wajah” dan “pengangkatan Isa Almasih,” dalam urutan waktu, dan tempat yang sama, keduanya tidak diselingi oleh peristiwa yang lain.

Dua peristiwa tersebut dicatat dalam Alkitab, tetapi peristiwa, waktu dan tempat memiliki perbedaan yang jauh.  Peristiwa pertama terjadi sebelum peristiwa penangkapan Yesus di taman Getsemane, kisahnya diberi judul “Yesus dipermuliakan diatas Gunung” sedangkan peristiwa kedua disebut “Kenaikan Yesus ke Surga” terjadi setelah Yesus menyelesaikan karyaNya didunia. Kedua peristiwa tersebut dikisahkan Alkitab, tidak pernah sekalipun dipakai untuk menyelamatkan Yesus dari tangan prajurit.

1.1. Konsep Yesus dipermuliakan.

Peristiwa Yesus dipermuliakan adalah suatu peristiwa dimana wajah Yesus mengalami perubahan, bersinar penuh kemuliaan Allah. (Mat.17:1-8, Mark.9:2-8, Luk. 9:28-36).

Matius 17:2,“Lalu Yesus berubah rupa  di depan mata mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang” (bdk Mark 9:2-3; Lukas 9:29)

 

Perubahan wajah tersebut hanya terjadi pada Yesus sendiri dan tidak ada  murid-murid yang mengalaminya. Perubahan yang terjadi bukan dari wajah Yesus menjadi wajah orang lain atau sebaliknya. Dalam hal perubahan wajah ini para murid Yesus (Yohanes, Yakobus, Petrus, Yudas tidak ikut serta) hanya menyaksikan kemuliaan yang terjadi pada wajah Yesus. Tafsiran Alkitab Masa Kini memberikan tafsirannya dalam Injil Matius sbb :

...Berubah rupa (Yunani, metemorphothe) bnd Roma 12:2; 2 Kor 3:18. Sesuatu dari morphe (atau bentuk, rupa) Yesus yang sebenarnya sebagai Allah (Pilipi 2:6-7) dinyatakan wajahNya bercahaya seperti matahari; Dialah sumber terang; sedangkan wajah Musa bercahaya karena pantulan cahaya Allah (Kel 34:29-35). PakaianNya menjadi putih barang kali seperti pakaian Imam besar Mesianis. Musa dan Elia mewakili hukum Taurat dan para nabi...6

 

Perubahan wajah Isa Almasih dalam Al Qur’an memakai kata “syubiha” yang ditafsirkan diserupakan, dijadikan mirip, seolah-olah. Hamka menafsirkannya “disamarkan dengan ditimbulkannya sangka dalam hati orang yang hendak membunuh itu orang lain itulah Isa.”7 Perbedaan mendasar antara “metemorphote” dengan “syubiha adalah : Metemorphote berarti perubahan yang terjadi dalam diri seseorang (Yesus), wajahNya tidak berubah menjadi wajah orang lain, tetapi wajahNya bersinar penuh kemuliaan (wajah yang sebenarnya), kata ini juga memiliki arti perubahan rohani dalam kehidupan orang percaya (Rom. 12:2; 2 Kor 3:18; Flp 3:12) sedangkan syubiha adalah perubahan yang terjadi dalam wajah seseorang  dengan menggunakan wajah orang lain (disamarkan), wajah orang lain tersebut (contoh Yudas) bukanlah wajah Yudas tetapi telah berubah menjadi wajah orang lain (Yesus) sehingga ketika para prajurit memandang Yudas bukanlah Yudas tetapi wajah Yesus.

Kehadiran Musa dan Elia merupakan tokoh kenabian yang paling penting mewakili Taurat dan para nabi. Kehadiran mereka tidak untuk mengangkat Yesus melainkan untuk menguatkan jalan penderitaan yang akan dialamiNya. (Mark 9:12, Mat 17:12). Lukas memberikan keterangan kepergianNya (eksodos) adalah penderita an dan kematianNya akan digenapi di Yerusalem. Ini berarti bahwa Taurat dan kitab-kitab para nabi merestui jalan yang akan ditempuh oleh Yesus sebab Ia melakukan tepat sesuai dengan tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Peristiwa Yesus dipermuliakan dikuatkan dengan suara dari langit : “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5, Mark 9:7; Luk 9:35).

 

1.2. Konsep kenaikan Yesus ke Surga

Dalam pandangan Al qur’an kenaikan Yesus ke Surga diistilahkan dengan kata “pengangkatan Isa Almasih”, istilah yang dipakai adalah “rafiuka,” Hamka menafsirkan dengan Kami angkat Engkau. “Dijelaskan bahwa Ayat ini lebih tegas lagi yaitu Tuhan Allah telah mengangkat Isa kepadaNya bahwa beliau telah diangkat Allah, diselamatkan, dibebaskan dari tempat yang berbahaya itu.”8 Peristiwanya terjadi pada waktu Yesus menghadapi para tentara yang akan menangkapNya. Ini merupakan tindakan kedua setelah tindakan Allah pertama mengubah wajah salah satu murid Yesus atau diperkirakan Yudas. Sedangkan berita Alkitab tentang kenaikan Yesus ke Sorga terjadi 40 hari setelah kebangkitanNya (Kisah Rasul 1:6-11). Lukas penulis Kisah Rasul ini telah menyinggung pengangkatan Yesus dalam kitabnya pertama (Lukas 9:51) dengan kata “analepsis” yang memiliki arti pengangkatan.

Perbedaan kata rafiuka dan analepsis adalah rafiuka memiliki arti dekat dengan kata mutawaffika (wafat, memanggil),  Ibnu Juraij menafsirkan kata mutaffika sama dengan rafiuka yakni “kami ambil engkau.”9 Syeikh Mahmud Syaltut, Syekh Al-Azhar menerangkan kedua kata diatas sbb:

1. Arti  “mutawaffika” ialah menyempurnakan ajal engkau yang telah tertentu, maka engkau tiada akan disentuh mudarat dan wafatlah engkau secara wajar. Dan sebagai rentetan kematian yang wajar ini, Aku angkatlah ruh  engkau ketempat keramatKu dan tempat malaikat.

 

2. Arti “mutawaffika” yang kedua : menggegam atau memegang. Tawaffaitu mali = saya genggam (pegang) hartaku. Maksudnya memelihara melindungi-lingkupi. Tak sampai kepada engkau meninggal secara wajar, lalu ruh engkau kami angkatkan.

 

3. Arti kata mematikan secara wajar, tidak disebabkan salib atau hukuman mati dan ruh engkau diangkatkan ...10

 

Sedangkan “analepsis berasal dari kata kerja lambano memiliki arti kenaikan, Elia ke Sorga (2 raja-raja 2:11) kenaikan Tuhan (Mark 16:19, Kis Ras 1:2,22;             Tim 3:16).”11 Dalam Alkitab jelas antara kematian dan kenaikanNya ke Sorga sedangkan dalam Al Qur’an tidak dijelaskan kapan Isa Almasih mati (mutaffika), tidak jelas juga tentang pengangkatanNya (raffiuka) apakah secara roh atau secara jasmani.

Hanya Lukas yang menghubungkan pengangkatan ke Surga sebelum Yesus mengalami penderitaan. Bagi Lukas peristiwa pengangkatan Yesus termasuk dalam kerangka penyelamatan Yesus melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan serta kenaikanNya ke Sorga. Makna kenaikan Yesus tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan Yesus dari pada para musuhNya yakni ahli-ahli agama dan prajurit Roma yang akan menangkap Dia.  Allah tidak perlu turun tangan untuk persoalan sepele dengan para prajurit yang akan menangkap Yesus. Dalam mengemban misiNya sering kali Ia akan ditangkap dan akan dilempari dengan batu tetapi Yesus mampu melepaskan diri dari mereka (Yoh. 8:59). Sebenarnya Yesus bisa meminta       perlindungan dan pembelaan dari Roh Kudus dan bala tentara Surga (para malaikat) tetapi Ia tidak mau melakukanNya.

2. Nubuatan Penyaliban Yesus Kristus dan penggenapannya

Kehadiran Kristus di muka bumi ini telah dinubuatkan secara konkrit oleh para penulis Alkitab dalam Perjanjian Lama. Allah sendiri yang mempersiapkan peristiwa kehadiran Kristus (Ibrani 1:1-2).

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara

kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

 

Bagi iman Kristen, ayat ini menutup kemungkinan adanya spekulasi “wahyu terakhir” melalui siapapun dan dimanapun sesudah Yesus.Tidak ada satupun nubuatan tentang Muhammad terdapat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru (Lih. hal 10 menyatakan bahwa Muhammad dinubuatkan dalam Alkitab). Ayat-ayat yang dikutip sebagai nubuatan mengenai Muhammad tidak ada satupun yang sesungguhnya untuknya. Sebaliknya semua nubuatan Perjanjian Lama mengacu kepada satu pribadi yakni Yesus Kristus dan karyaNya.

Ketika manusia jatuh dalam dosa maka Allah telah menjanjikan penebusan. Janji tersebut diproklamirkan oleh Allah kepada manusia yang akan digenapi didalam Yesus (Kej 3:15).

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.

 

 Permusuhan yang dimaksud adalah bahwa keturunan dari perempuan (Yesus) akan meremukkan kepala ular (iblis), yang memiliki arti bahwa kuasa iblis telah dipatahkan sejak Yesus Kristus diatas salib dan kebangkitanNya menyempurnakan karyaNya. Tindakan balasan iblis adalah meremukkan tumitnya, yang memiliki arti bahwa Yesus akan dilukai, dipaku diatas salib.”12 “Sejak abad pertama bapak-bapak Gereja menafsirkan ayat ini sebagai nubuatan tentang Mesias.”13 Setelah Allah mengumum kan “permusuhan” tersebut, tindakan Allah selanjutnya, mengadakan penumpahan darah untuk membuat pakaian Adam dan Hawa (Kej 3:21). Tindakan Allah                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        mengorbankan binatang untuk membuat pakaian menunjukkan akan korban darah Kristus (Roma 5:9, sejajar dengan ‘diperdamaikan, oleh kematian anakNya’ ay 10, darah salibNya’ Kolose 1:20) maksud Allah untuk memperbaiki persekutuan manusia dengan Dia.

Kepada Abraham Allah mengatakan, olehmu semua kaum di muka bumi akanmendapat berkat(Kej 12:3)“atau ‘diberkati’lih. Kis 3:25; Gal 3:8. Berkat yang diberikan dengan perantaraan Abraham dan keturunannya  (bnd 22:18; 26:4; 28:14), adalah berkat Allah. Kedua segi bertemu dalam identifikasi benih perantara sebagai Kristus (bdk Gal 3:10).”14  Melalui nubuatan tentang Yesus Kristus dalam kitab kejadian, menunjukkan bahwa hakekat penyaliban sudah dikumandangkan oleh Allah jauh sebelum  panggilan Abraham pada “Tahun 2.000-1700 BC.”15

Penyaliban yang dinubuatkan oleh Perjanjian Lama, hanya terjadi didalam Yesus Kristus sebagai “benih dari perempuan” atau “keturunan Abraham” yakni Firman telah menjadi daging (Yoh 1:14). Kematian diatas salib hanya berlaku bagi seorang manusia yang mampu mencurahkan darahNya (lih hal 38, Dewa yang mati di salib). Kematian Kristus dengan jelas dinubuatkan oleh Musa dalam peristiwa ular tembaga (Bil 21:9) yang digenapi dalam Yoh 3:14,15. 

 Daud yang hidup “1030 tahun sebelum Yesus Lahir”16 menubuatkan tentang:

            1. Jeritan Yesus diatas salib (Maz 22:2) digenapi dalam Matius 27:46

            2. Jubah Yesus diundi (Maz 22:19) digenapi dalam Yohanes 19:24

            3. Tulang Yesus tidak dipatahkan  (Maz 34:21) digenapi dalam Yoh 19:33

Yesaya hidup “734-732 tahun sebelum Yesus Kristus,”17 menubuatkan peristiwa penyaliban sbb:

Yesaya 52:13 sampai 53:12 menubuatkan secara rinci akan penderitaan Yesus dalam menanggung salib sebagai seorang hamba yang menderita, ayat-ayat tersebut digenapi dalam Injil sinoptis dan Yohanes mulai dari perjalanan sengsara, penolakan dan penderitaan (Matius 27:39-44, Yohanes 19:5-7, Lukas 22:37). Yesus mengalami penghinaan, penolakan dan terhitung diantara para pemberontak, Matius 27:57-60, Yohanes 19:38-42 dan berakhir pada kematian.

Zakaria yang hidup “520 tahun sebelum Yesus lahir”18 menubuatkan tentang Yesus yang dikhianati (Zakharia 11:12) ayat ini digenapi dalam Matius 27:9,

 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yermia : “ Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian uang berlaku diantara orang Israel, ...

 

Tafsiran Alkitab Masa Kini memberikan keterangan ayat ini sbb:

 

... terjadi ketidaksepakatan apa yang dikatakan Matius tentang ayat ini, yang sebenarnya dikatakan oleh Zakaria menjadi Yermia. Matius sengaja menyebutkan nama Yermia dan tidak perlu menyebutkan Zakaria sebab latar belakang para pembaca tahu pasti bahwa kutipan ini berasal dari Zakaria. Kebanyakan para penafsir melihat kepada Yermia 32:6-15, dimana disebutkan pembeli tanah adalah adalah tanda bahwa umat Allah akan kembali  dari pembuangan ke negeri mereka sendiri. Kedua bagian yang dikutip dekat dengan ayat-ayat tentang perjanjian yang baru (31:31-34; Zak 11:10). Tapi mungkin ada juga dikutip dari Yermia 19:1-13 dimana disebutkan bahwa nabi memecahkan buli-buli tukang periuk di lembah Hinom sebagai tanda penghakiman atas Yehuda yang ‘telah membuat tempat ini penuh dengan darah orang-orang yang tidak bersalah....’19

 

 Nubuat Yesus ditikam dikatakan Zakaria (Zak 12:10b) yang digenapi dalam Yohanes 19:37 ...Mereka akan memandang kepada Dia yangmereka tikam.

Seluruh nubuatan tentang Mesias dalam Perjanjian Lama telah digenapi dalam Perjanjian baru. Meniadakan fakta historis tentang penyaliban Yesus Kristus berarti menganggap Allah berdusta, kecuali dalam ketidak pengertiannya.

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?(Bil 23:19)

 

 

 

3.  Pemberitaan Penyaliban Yesus menurut Perjanjian Baru.

Keselamatan menurut perjanjian baru didasarkan pada salib dan kebangkitan Yesus Kristus. Bagi Paulus, keduanya merupakan pokok yang sangat penting (1 Kor 1:22; 2;2; Gal 6:14; 1 Kor 15:14-17), “saling menginterprestasikan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain (Yohanes 3:14; 12:32).”20 Salib bukan saja melambangkan kutuk Allah terhadap dosa manusia (Gal 3:13) tetapi juga melambangkan penghapusannya (Kolose 2:13-14).

Peristiwa penyaliban dicatat oleh perjanjian baru sebagai  dokumen sejarah yang akurat dan dapat diandalkan, “teks Perjanjian baru telah diketemukan sejumlah 89.000 kutipan yang ditulis oleh bapak gereja mula-mula, dan tulisan-tulisan itu dikerjakan + 150 -200 tahun sesudah Yesus mati.”21 Perjanjian Baru tidak sesuai dengan cara informasi kabar angin. Dalam pengadilan hukum, “kabar angin” tidak dapat diterima sebagai bukti. Perjanjian Baru memenuhi syarat sebagai bukti  yang berasal dari “sumber pertama.”

... Sebagai  contoh ketika Maria pergi ke kubur Yesus ia mendengar dari malaikat (sumber kedua) bahwa Yesus telah bangkit, kabar yang diterimanya adalah kabar angin (dari tangan kedua), tetapi ketika Yesus menampak kan diri kepada Maria maka hilanglah kabar angin dari tangan kedua. Dengan demikian kabar angin itu hilang dan kesaksian Maria menjadi sumber utama.22

 

Tidak dapat disangkal bahwa para murid tercerai berai pada waktu terjadi penangkapan Yesus! (Lih. hal. 39, tentang tidak adanya saksi penyaliban). Tercerai berainya para murid itu hanya pada waktu peristiwa awal penangkapan Yesus. Ini terbukti bahwa Petrus masih mengikuti Yesus sampai halaman Imam besar (Mat 26:58). Para murid (orang-orang yang dekat denganNya) menyaksikan penyaliban dari jauh (Luk 23:49), diantara mereka berada dekat salib (Yoh.19:25-27). Saksi selanjutnya adalah para wanita (Luk 23:49, Mat 28:1). Petrus mengatakan bahwa, “Kamiadalah saksi mata” (2 Petrus 1:16) sedangkan Yohanes menuliskan bahwa,  “apa yangtelah kami lihat dan yang telah kami dengar  itu, kami beritakan kepada kamu juga... (1 Yoh 1:3) dan “ ... kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran(Yohanes 19:35). Seandainya mereka tidak tahu, setelah kebangkitanNya, Yesus menampakkan diri dan menunjukkan bekas paku dan luka dilambung (Yoh 20:24-29), inilah saksi hidup dari Yesus sendiri! Jadi dapat disimpulkan alasan kaum muslim yang menolak penyaliban Yesus karena para murid tercerai berai sangatlah tidak memiliki dasar!

Selanjutnya Yesus harus mengalami proses pengadilan yang bersifat ganda yakni pengadilan pemerintah maupun pengadilan agama. “Pengadilan pemerintah harus melalui 3 proses pengadilan, pertama dari Pilatus, kemudian dihadapan Herodes dan akhirnya dihadapan Pilatus lagi. Sedangkan pengadilan agama, Yesus harus melalui proses pengadilan Hanas, Kayafas dan sidang sanhedrin yang informal dan yang terakhir formal.”23 Jadi bila ada pihak yang mengatakan telah terjadi kesalahan terhadap orang yang ditangkap sangat mustahil sebab dapat dikemukakan sbb : 

1.  Melalui proses  peradilan  yang  begitu  ketatnya, kesalahan penangkapan akan sangat tipis bahkan dapat dikatakan tidak mungkin terjadi. Dalam kasus penangkapan di taman Getsemane, peristiwanya bukanlah terjadi secara tiba-tiba melainkan melalui proses yang sudah lama diperhitungkan dengan matang oleh para ahli Torat.

2. Proses peradilan akan membahas tentang tuduhan-tuduhan. Dan tidak ada orang yang dituduhkan melakukan seperti yang Yesus lakukan, walaupun tuduhan itu telah direkayasa, seperti; merobohkan bait Allah, melarang membayar pajak terhadap kaisar, mengaku diriNya Anak Allah  dll. Tidak ada orang yang pernah mengajarkan hal yang sama, seperti yang Yesus ajarkan.

2. Yudas sendiri sebagai  pemimpin dalam penangkapan (mustahil dia yang ditangkap), “ciuman pengkhianatan” disaksikan semua orang yang akan menangkap Yesus. Setelah peristiwa “ciuman pengkhianatan” itu, Yesus maju dan mengadakan dialog dengan mereka yang akan menangkapNya, kemudian terjadilah peristiwa penangkapan.

3. Yesus sendiri yang bertanya, siapa yang kamu cari? “Yesus dari Nasaret”, jawab mereka,  kemudian Yesus mengadakan pengakuan : “Akulah Dia” (ini terjadi 3 kali).

 Dan bila inipun gagal sebab wajah orang lain (diperkirakan Yudas) telah berubah menjadi wajah Yesus maka apa yang terjadi tidak akan sesuai dengan berita Alkitab :

1. Para prajurit yang akan menangkap Yesus tidak akan pernah terjatuh dihadapan Yudas sebab Yudas bersama mereka, sedangkan Yesus berhadapan muka dan kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam diri Yesus sanggup menjatuhkan mereka, dan kuasa ini tidak pernah dimiliki Yudas.

2. Jika Yudas yang ditangkap maka tidak akan terjadi mujizat pada telinga Malkus. Yudas tidak pernah diceritakan melakukan perbuatan besar sebab ia hanya berperan sebagai bendahara dan sering kali ia muncurinya.

3. Pada proses pengadilan maka tertuduh tidak akan berdiam diri sebaliknya sikap memberontak, apalagi Yudas memiliki sifat pencuri.

4.  Jika yang disalib bukan Yesus maka tidak akan ada kata-kata yang agung yang keluar dari mulut seorang yang disalib (7 perkataan Salib) tetapi kata-kata umpatan dan hujat seperti salah seorang perampok disisi Yesus.

5. Pilatus tidak akan pernah berusaha membebaskan seorang tertuduh (Yahudi), sebab ia sering menjatuhkan hukuman mati tanpa melalui sidang. Dalam kasus peradilan Yesus, ia tidak menemukan sedikitpun kesalahan yang setimpal dengan hukuman mati.

6. Tirai Bait Allah tidak akan terbelah menjadi dua dan peristiwa alam (gelap gulita, gempa bumi dll) tidak akan pernah terjadi jika orang yang disalib bukan seorang yang benar seperti Yesus.

7. Wanita-wanita yang mengiringi Yesus tidak akan pernah menangisi seorang “pencuri” seperti Yudas. Dan Yohanes tidak pernah memiliki hubungan yang dekat dengan Yudas tetapi ia sangat dekat dengan Yesus.

8. Petrus tidak akan pernah menyangkal temannya tetapi Ia menyangkal guruNya. Nubuatan tentang penyangkalan Petrus dikatakan Yesus sebelum penangkapan dan ini digenapi pada waktu Yesus ditangkap. Tatapan Yesus pada waktu proses peradilanlah yang membuat Petrus bertobat dan bukan pandangan Yudas Iskariot.

9. Para tokoh agama tidak akan minta kepada Pilatus untuk menjaga kuburan seseorang yang sudah mati,  jika yang mati itu bukan Yesus. Hal ini disebabkan pengajaran Yesus sebelumnya bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Permintaan para ahli torat ini membuktikan bahwa yang mati adalah bukan orang lain tetapi Yesus. Kekuatiran ahli Torat benar-benar terbukti bahwa Yesus bangkit.

10. Tidak akan terjadi kebangkitan dari kubur seseorang yang disalibkan selain kubur Yesus, yang terus hidup selamanya.

10. Para murid Yesus tidak akan mempertaruhkan nyawa dalam memberitakan kebangkitan seseorang yang bukan Yesus tetapi sebaliknya para murid begitu antusias sebab Yesus telah bangkit dari antara orang mati seperti yang telah dikatakanNya.

11. Jika yang bangkit dari dalam kubur bukan Yesus maka dapat dipastikan tidak akan terjadi penampakan sampai 40 hari. Hal ini disaksikan oleh seluruh muridNya bahkan lebih dari 500 orang (1 kor 15:6). 

Dilihat dari sudut manapun, penangkapan terhadap diri Yesus, tidak mungkin salah! sebab Yesus bukanlah orang asing yang tinggal ditengah-tengah bangsanya. Setiap hari Ia mengajar, menyembuhkan dan melakukan banyak mujizat. HidupNya bukan  sebagai orang elite yang jauh dari pergaulan masyarakat tetapi Ia bergaul ditengah-tengah masyarakat sehingga sangat mudah dikenali. Ia memiliki tempat-tempat khusus yang biasa dikunjungiNya seperti taman Getsemane sehingga tidaklah sukar untuk menangkapNya.

 

3.1.  Penyaliban Yesus menurut Injil sinoptis

 

Disebut Injil sinoptis “(berasal dari bahasa Yunani yang berarti melihat bersama dan secara hurufiah dapat dilihat bersama).”24 Dengan kata lain bahwa Injil sinoptis adalah “suatu studi perbandingan atas Matius, Markus dan Lukas bahwa dalam ketiga Injil ini atau dalam dua diantaranya terdapat kumpulan bahan yang sama.”25 FF. Bruce memberikan keterangan mengenai Injil Sinoptis tersebut sbb :

... Sebagai suatu contoh kita mendapatkan 606 ayat dari 661 ayat dalam Markus ada di Matius, dan bahwa 350 ayat dari Markus juga terdapat di Lukas dengan sedikit perubahan atau jika dibalik 1.068 ayat dari Matius kurang lebih 500 berisikan hal-hal yang juga terdapat di Markus. Dari 1.149 ayat Lukas sekitar 350 senada dengan Markus. Kalau kita membandingkan Matius dan Lukas sendiri maka kita mendapatkan bahwa kedua kitab ini mempunyai kurang lebih 250 ayat yang isinya sama, Matius memiliki 300 ayat yang berisi cerita dan pidato khusus, sedangkan Lukas memiliki kurang lebih 550 ayat yang tidak terdapat dalam Injil yang lain... 26

 

 

Untuk memahami Injil sinoptis diperlukan pengetahuan tentang para penulis Injil secara singkat sbb :

Injil Markus ditulis oleh Markus penterjemah Petrus, kedudukannya disebut sebagai anakku oleh Petrus (1 Pet 5:13), Paulus menyebut namanya sebagai teman sekerja (Kol 4:10, Fil 1:24). Ia menulis Injilnya “di Roma pada Tahun 65-70.”27  Sedangkan Injil Matius dikarang oleh Matius yang juga disebut Lewi (Mrk 2:14; Luk 5:27-29) Penulisan Injil ini pada tahun 70, dengan memakai Markus menjadi sumbernya.28 Dan Lukas ditulis oleh Lukas. Ia adalah seorang pembantu dan sahabat Paulus (Fil 24; Kol 4:14). Kitab ini ditulis antara tahun 85 dan 95 Masehi. “Tempat penulisan tidak diketahui dengan pasti, yang pasti adalah diluar Palestina.”29 Lukas memulai Injilnya (Luk 1:1-4) bahwa ia melakukan penelitian intensif mengenai sejarah Injil, agar ia mampu menulis laporan yang dapat dipercaya. “Kesempatan-kesempatan yang bagus diperolehnya hingga ia dapat mengenal fakta yang benar.”30

Yesus sendiri telah menyebutkan kematianNya jauh hari sebelum peristiwa penyaliban terjadi. Yesus menubuatkan kematianNya bukan pada waktu masih bayi (Maryam 19:33) tetapi pada waktu Ia mengajar kepada 12 murid (Mark 8:31). Makna kematianNya sangat penting bagi manusia, Yesus mengulang-ulang pengajaran ini (Markus 8:31; 9:31-32; 10:32-34). Dalam Injil Matius Yesus memberikan tanda tentang kematianNya, Matius 12:40,  “Sebab sama seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Yesus bermaksud mengambil tanda Yunus tersebut bukan menyinggung persoalan hidup atau mati (Lih. hal. 43 tentang Yesus tidak mati seperti Yunus). Yesus  ingin mengungkapkan bahwa “Ia terpisah dari antara orang hidup” seperti Yunus (Yunus 2:2),

... dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kau dengarkan aku

Peristiwa penyaliban secara kronologis dikisahkan oleh ketiga Injil. Mereka memulainya dari Perjamuan malam yang melambangkan suatu peringatan akan tubuh dan darah Yesus yang ditumpahkan (Mat 26:26-29; Mark 14:22-25; Luk 22:15-20). Dalam peristiwa ini Lukas dan Markus menjelaskan tentang kematian melalui ucapanNya bahwa Ia tidak akan menikmati minum hasil pokok anggur (Luk 22:18, Mark 14:25). Melalui perjamuan kudus makna kematianNya diucapkan oleh Yesus sendiri yakni untuk menghapus dosa, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”(Mat 26:28). Dalam perjamuan inilah Yesus secara terus terang menjelaskan bahwa salah satu murid akan mengkhianatiNya (Mat 26:21,23; Mark. 14:20; Luk 22:21).

Di taman Getsemane Yesus berdoa, untuk tugas yang akan dipikulNya. Ketiga Injil mengungkapkan hal yang sama tentang permohonan Yesus kepada Bapa. Pergumulan yang dasyat ini dikisahkan oleh Lukas bahwa peluhnya seperti tetesan darah. (Luk. 22:44). Salah satu dasar penolakan oleh kaum muslim bahwa Yesus tidak disalib, karena Allah “mendengar doa”! dan melepaskan Dia dari musuh-musuhNya. Doa Yesus tersebut diungkapkan oleh Injil Sinoptis sebagai berikut:

Matius 26:39“Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu tetapi janganlah seperti yang Ku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.(bdk Mark 14:36; Luk 22:42)

Dalam taman Getsemane Yesus menunjukkan ketaatan yang sempurna kepada Allah, (Pilipi 2:6-11) permohonanNya bukan merupakan kepentingan pribadi melain kan kehendakMu (Bapa) yang jadi.  Dalam doa Bapa kami (Mat. 6:10) Yesus mengajarkan supaya “jadilah kehendakMu di bumi dan di Sorga” Kehendak Allah tersebut adalah “menyelamatkan semua orang  (1Tim 2:4; 2 Petr 3:9).”31 Para pakar muslim yang menganggap bahwa doa Yesus dalam taman Getsemane di dengar Allah,  tidaklah salah (lih hal. 40, doa Yesus didengar). Namun konsep doa yang didengar bukanlah kehendakKu, sebab Yesus tidak pernah berdoa supaya “kehendakKu yang jadi” melainkan “KehendakMu yang jadi” dan Allah berkenan mendengar doa Yesus. Jika Yesus hanya berdoa “kehendakKu yang jadi” berarti permohananNya bertentangan dengan pengajaranNya sendiri “jadilah kehendaMu dibumi dan di Surga.” Jika Allah mengabulkan doa di taman Getsemane tentang kehendakKu yakni berlalunya “cawan” maka Allah telah gagal menepati janjiNya akan keselamatan yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.

Penangkapan Yesus dikisahkan dalam Markus 14:43-52, Matius 26:47-56, Lukas 22:47-53. Seluruh penulis sepakat bahwa penangkapan Yesus bukanlah terjadi secara tiba-tiba. Keputusan itu adalah puncak dari konflik yang berkepanjangan sejak penampilan Yesus di Galilea (Mark 3:6). Musuh-musuh Yesus adalah  Farisi, Saduki, dan kelompok Herodian.

Ketiga kelompok tersebut sangat memusuhi Yesus dan berniat membunuhNya. Permusuhan yang lama ini mencapai puncaknya pada waktu menjelang Paskah.  Keputusan menyingkirkan Yesus sudah bulat (Mark 14:1-2) dan caranya memakai “orang dalam” yakni Yudas (Mat. 26:14-16). Penangkapan terjadi antara Kamis dan Jumat menjelang pesta Paskah. Dilakukan oleh serombongan orang yang membawa pedang, pentung (Mat 26:47; Mark 14:43) dan Yudas sebagai pemimpin penangkapan berada digaris depan, sebab dialah yang tahu pasti dimana Yesus biasa berdoa. Pada waktu penangkapan Yesus mengadakan percakapan dengan para prajurit yang akan menangkapNya. Yesus yang menjumpai mereka dan mengatakan bahwa tindakan mereka sama seperti ingin menangkap seorang pencuri, (Mark. 14:48) padahal setiap hari mereka bisa bertemu di dalam Bait Allah.

Ketika Yesus akan ditangkap, Ia melakukan mujizat dengan menyembuhkan kembali telinga Malkus yang dipotong oleh Petrus (Mat 26:51, Mark 14:47). Sesudah peristiwa ini para murid Yesus tercerai berai, dan melarikan diri sebab imannya goncang (Mark 14:50),  para murid telah salah persepsi, bahwa penangkapan terhadap gurunya dianggap berakibat terhadap diri mereka juga. Keadaan para murid ini sudah dikatakan Yesus sebelumnya, Markus 14:27 “Lalu Yesus berkata kepada mereka: Kamu semua akan tergoncang imanmu.”

Yesus ditangkap pada waktu tengah malam dan kemudian mengalami proses pengadilan yang melelahkan. Markus dan Matius menceritakan adanya dua kali sidang mahkamah agama. Yang pertama pada malam hari yakni setelah penangkapan (Mark 14:53-64; Mat  26:57-66). Kemudian satu kali sidang pada siang  hari ( Luk. 22:66-71, Markus 15:1; Mat 27:1-2). Dalam proses pengadilan ini Petrus menyangkal Yesus. Ketika vonis hukuman mati dijatuhkan pada Yesus maka nasib akhir hidup Yudas dikisahkann oleh Matius. Yudas menyesal akan tindakannya dan kemudian berusaha memperbaikinya dengan mengembalikan “uang pengkhianatan” yang telah dilakukan terhadap gurunya. Kemudian ia menggantung diri (Mat 27:3-7). Lukas mengkisahkan  akhir hidup Yudas secara rinci, bahwa kematiannya disaksikan oleh seluruh Yerusalem (Kis. Ras 1:18-19).

Kisah selanjutnya Yesus diolok-olok, dipukuli dan dipermainkan (Luk. 22:63-65), Matius dan Markus mengkisahkan perlakuan buruk tersebut dilakukan oleh anggota para imam sendiri (Mark 14:65; Mat 26:65-66). Sesudah itu dikatakan bahwa, “mereka meludahi muka dan meninjuNya; orang-orang lain memukul Dia... (Mat 26:67; Mark 14:65). Lukas menyebutkan orang yang menganiaya Yesus adalah orang-orang yang menahanNya (Luk 22:63-65).

Proses pengadilan yang sudah dipersiapkan oleh musuh-musuh Yesus dengan tuduhan palsu (Mark 14:56-60,). Kenyataannya adalah semua tuduhan yang ditujukan kepada Yesus tidak ada yang sesuai satu dengan yang lainnya (Mark 14:56), Matius menyebutkan adanya banyak saksi dusta (26:59). Para tertuduh sering kali diberi kesempatan untuk membela dirinya tetapi Yesus tetap berdiam diri (bdk Yes 53:7) sehingga Imam besar harus turun tangan memberikan pertanyaan langsung kepada Yesus, tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau? pertanyaan ini kemudian disambung dengan pertanyaan yang penting, “ demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau  Mesias, Anak Allah, atau  tidak? “berdasarkan Maz 2:7 dan 2 Sam 7:14 Mesias juga dapat dipandang bangsa Yahudi sebagai Anak Allah, bagi bangsa Yahudi dulu, Anak Allah searti dengan manusia yang secara istimewa dipilih dan dikaruniakan Allah; Mesias sejati tentu saja seorang yang istimewa bagi Allah.”32 Sekalipun dari pihak mahkamah agama sudah menjatuhkan hukuman mati terhadap Yesus, mereka tidak berani melaksanakannya sebab orang-orang Yahudi tidak berhak menjatuhkan hukuman mati tanpa ijin wali negeri Roma, tetapi mereka tetap berhak mendakwa orang-orang bersalah.

Pilatus seorang yang paling bertanggung jawab terhadap penyaliban Yesus, sebab dibawah pemerintahannya Yesus disalibkan. Albert Nolan, OP mengungkapkan sifat Pilatus dalam bukunya; ”Yesus Sebelum Agama Kristen” sbb:

Pilatus adalah seorang walinegeri yang kejam. Ia membuat orang Yahudi marah dan kalau mereka protes dan memberotak, tanpa ragu-ragu ia mengepung dan membunuh mereka. Orang-orang yang memberontak sering kali dibunuh tanpa diadili sama sekali. Menurut Philo, seorang filsuf Yahudi yang hidup pada jaman itu, Pilatus “pada hakikatnya kaku, semaunya sendiri dan keras.” Ia membuat daftar kejahatan Pilatus: menerima suap, tirani, merampok, kekerasan, fitnah, pembunuhan tanpa pengadilan dan kekejaman yang berkepanjangan dan mengerikan...33

 

Yesus kemudian dibawa kepada Pilatus yang menjabat wali negeri (Mrk 15:1-20a; Mat 27:1-2, 11-31; Luk 23:1-25). Ambisi orang-orang Yahudi dalam menyerah kan Yesus dapat dijelaskan sebagai berikut:

... Dengan diserahkan kepada penguasa Roma maka terbukti  Yesus melakukan kejahatan yang besar. Pantas mendapat hukuman mati  yang merupakan ciri khas hukuman Romawi. Dalam hal ini ada kesulitan besar. Oleh orang-orang Yahudi, Yesus dianggap harus mati karena alasan-alasan keagamaan; Ia telah menghujat Allah, dengan tindakan melawan hukum Taurat serta menyamakan diri dengan Allah. Alasan yang menurut hukum Yahudi, yang sangat kuat ini, tidak akan diterima oleh pengadilan romawi karena itu semua adalah urusan intern agama Yahudi ...34

 

 

Ketika Pilatus berjumpa dengan Yesus, Ia langsung mengkaitkannya dengan jabatan raja. Sebab setiap gerakan yang bernada Mesianis selalu dicurigai sebagai gerakan politik. Julukan “Kristus Raja” (bdk Mrk 15:2; Mat 27:11; Luk 23:3) sama dengan pejuang kemerdekaan atau bahkan pengacau politik. “Terhadap orang-orang atau gerakan gerakan seperti ini pemerintah Romawi biasanya bertindak sangat cepat, keras dan tidak tanggung-tanggung.”35 Pilatus berusaha “membuka mulut Yesus” tetapi Ia diam, lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau! Tuduhan yang diberikan kepada Yesus dihadapan Pilatus adalah :

 

Disitu mereka mulai menuduh Dia, katanya; “telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diriNya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus yaitu Raja. (Lukas 23:2)

 

 

Pilatus tidak menerima  tuntutan-tuntutan orang-orang Yahudi begitu saja. Dalam hal ini Injil sinoptis sama dengan Yohanes memberitakan pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada Yesus sebab :

1. Pilatus menuntut bukti-bukti yang meyakinkan, yang dapat membuktikan bahwa Yesus sungguh-sungguh terlibat gerakan yang akan menumbangkan pemerintah Romawi

2. Pilatus sebenarnya bukan sahabat bangsa Yahudi sehingga ia sekuat tenaga ingin membebaskan Yesus. Hal ini bukanlah perkara mudah sebab kemauan Yahudi yang sudah begitu keras tidak mudah dibelokkan/dihalangi. Inilah yang membuat  pemeriksaan terhadap Yesus melalui proses yang menegangkan.

Hanya Lukas yang mengkisahkan bahwa Yesus dikirim kehadapan Herodes     (Luk 23:6-12). Pilatus tidak menemukan kesalahan dalam diri Yesus terhadap pemerintah Roma dan mengirim ke Herodes sebagai raja atas orang Yahudi yang wajib menangani perkara orang Yahudi. Herodes memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus namun Yesus tidak menjawabNya bahkan keinginannya melihat mujizat tidak dipenuhi oleh Yesus.  Setelah mengolok-olok Yesus dan mengenakan “jubah kebesaran” padaNya ia mengirimkan Yesus kembali kepada Pilatus.

Dalam usahanya membebaskan Yesus, Pilatus memberikan pilihan antara Yesus dan Barabas, dengan harapan supaya Yesus dapat dilepaskan. Harapan Pilatus meleset bahwa Barabas dilepaskan sedangkan Yesus dihukum mati. Sebelum disalibkan Yesus dihina, diolok-olok dan menjadi permainan para serdadu (Mark 15:16-20, Mat 27:27-31).

Ciri khas Markus dalam mengkisahkan jalannya persidangan singkat.  Pertanyaan Engkaukah Raja Yahudi? (Mark 15:2) dijawab singkat oleh Yesus, “Engkau sendiri mengatakannya.” Jawaban singkat dari Yesus disalah tafsiran kalangan muslim  yang mengatakan “Itu kan hanya katamu.” (Lih. hal.42)  yang berarti Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Ia adalah Mesias Anak Allah! tetapi kenyataan sebenarnya bukan demikian. Yesus membenarkan pengakuan Petrus tentang diriNya, “Mesias Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16, Mark 8:29).

Ciri khas Matius lebih tertarik kepada penampilan istri Pilatus (Mat 27:19) dan sikap Pilatus membasuh tangan (Mat 27:23-24). Kedua peristiwa ini berkaitan dengan Barabas seorang perampok. Lukas lebih memperhatikan pernyataan Pilatus bahwa ia tidak menemukan kesalahan padaNya (Luk 23:3-4), kesalahan yang dituduhkan kepada Yesus tidak kudapati padaNya (Luk 23:14). Ketika orang berteriak Salibkan Dia! sekali lagi  Pilatus berkata, ... tidak ada suatu kesalahanpun yang ku dapati padaNya setimpal dengan hukuman mati(Luk 23:22). Pilatus berusaha berkali-kali untuk membebaskan Yesus (Luk 23:16,20-22) tetapi usahanya gagal.

Akhirnya Pilatus menyerah kepada tuntutan orang-orang Yahudi untuk menyalibkan Yesus diatas bukit Golgota (Matius 27:32-66., Mrk 15:20b-47, Luk 23:26-56a). Menurut kebiasaan Romawi, orang yang akan disalibkan lebih dahulu disesah, sebagai bagian dari hukuman salib. Hukuman sesah adalah hukuman yang paling mengerikan. “Flavius Yosefus, ketika masih menjadi komandan pasukan di Galilea ia pernah memerintahkan hukuman sesah anak buahnya. Mereka dihukum sesah sampai isi perutnya keluar. Di tempat lain dikatakan orang yang disesah sedemikian rupa hingga tulang-tulangnya kelihatan.”36 Setelah disesah, Yesus tidak lagi mampu mengangkat salib sehingga Simon dari Kirene dipaksa mengangkat salib  (Mrk 15:21; Mat 27:32; Luk 23:26). Salib yang dimaksud adalah “kayu palang yang disebut patibulum crucis. Di tempat penyaliban sudah tersedia kayu tiangnya, yang disebutstipes. Berat patibulum berkisar antara 50 kilogram, dan panjangnya sekitar 11/2 meter.”37  Lukas memakai bahasa yang  tepat dengan kalimat, “diletakkan salib itu diatas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus(Luk 23:26). Kenyataannya bahwa Yesus tidak lagi mampu menanggung beban salib karena penderitaan yang telah dialamiNya.  Jika tidak ada peralihan salib ini, para prajurit kuatir Yesus akan mati sebelum disalibkan diatas bukit Golgota.

Para penulis Injil sengaja tidak menggambarkan bagaimana dan caranya Yesus didera, berapa jumlah serdadu yang menderaNya, dan bagaimana jenis cambuk yang digunakan untuk menderanya, sebab mereka tidak sampai hati melukiskan penderitaan hamba Yahwe. A. Widyamartaya melukiskan penderitaan Yesus dalam bukunya “ Manusia kain Kafan” sbb :

... Bila kita mengamat-amati bekas-bekas luka pada punggung Manusia kain kafan, kita akan melihat bahwa luka-luka itu memar dan goresan-goresan. Luka-luka itu memar bulat-bulat bentuknya dan kelihatan berkelompok-kelompok terdiri dari enam luka memar bulat dan tiga garis goresan yang mengarah keluar (kesisi). Luka memar  tampak juga berpasangan. Kelompok enam luka memar, dengan demikian, merupakan kelompok tiga pasang bulatan. Tiap-tiap pasangan disertai satu garis goresan. Maka dapat juga dikatakan bahwa tiap-tiap kelompok terdiri dari tiga pasang bulatan luka memar dan tiga garis goresan. Kelompok-kolompok luka memar itu meliputi seluruh punggung manusia Kain kafan dan bahkan terdapat juga pada paha, kaki, lengan dan dada. tidak kurang dari 121 kelompok luka yang terdapat pada sekujur tubuhnya; itu berarti tidak kurang dari 121 kali deraan yang telah menghantami tubuhnya. Bila lukanya dihitung satu-satu, tidak kurangdari 726 luka berdarah yang dulu meliputi tubuhNya...38 

 

Jenis cambuk yang dipakai pada jaman Yesus diterangkan sbb :

... Pada waktu itu dikenal dua cambuk dera. Jenis pertama berupa tongkat semata atau ranting-ranting. Jenis ini digunakan untuk warga negara Romawi. Jenis kedua berupa cambuk yang bergagang kayu dengan satu sampai tiga helai kulit atau tali. Cambuk ini ada yang diberi bulatan-bulatan keras atau paku-paku kecil dipucuknya, dan ada yang tidak diberi apa-apa, jadi hanya tali atau kulit saja. Jenis ini digunakan terhadap orang-orang yang bukan warga negara Romawi, budak-budak belian, orang-orang asing dan pemberontak-pemberontak/pembelot-pembelot. Demikian undang-undang yang berlaku di seluruh kerajaan Romawi seperti telah diperkenalkan oleh Cato Catone, seorang ahli hukum Romawi kawakan antara tahun 234 dan 194 Sebelum masehi.39

 

 Dalam perjalanan menuju salib Lukas mengkisahkan pertemuan Yesus dengan para wanita Yerusalem yang menangisiNya (Luk 23:28). Yesus disalib beserta dengan 2 penjahat (Luk 23:32; Mat 27:38; Mrk 15:27), ini menunjukkan bahwa Yesus berada dalam golongan penyamun. Yesus  disalib jam sembilan (Markus 15:25)  diatas salib,

Lukas yang mengkisahkan permohonan penjahat yang disalib kepada Yesus supaya ingat jika Yesus datang sebagai Raja (23:42). Matius memberikan keterangan akan pemberian minuman anggur bercampur empedu (Mat 27:34) minuman ini sebagai obat penghilang rasa, oleh sebab itu Yesus menolak meminumnya (27:35).

Seluruh Injil Sinoptis menceritakan tentang tindakan prajurit membagi jubah Yesus (Mt 27:35; Mrk 15:24; Luk 23:34). Tindakan menelanjangi ini, secara fisik sangat  mempermalukan orang yang disalibkan.

Perkataan Yesus diatas salib yang dicatat Injil Sinoptis sbb:

1. Ya Bapa ampunilah, mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34)

2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus.” (Luk 23:43)

3. Eloi, Eloi, lama sabakhtani ?” Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku ? (Mat 27:46; Mrk  15:34)

4. “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Ku serahkan nyawaKu.” (Luk  23:46)

 

Para serdadu salah mengartikan Eloi, Eloi Lama sabakhtani, mereka mengira Yesus memanggil Elia, kemudian seorang memberikan bunga karang, mencelupkan nya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum (Mat 27:48; Mark 15:36). Ketiga Injil memiliki kesamaan dalam memberitakan peristiwa alam yang mendahului kematian Yesus adalah Jam 12 sampai jam 3 sore kegelapan meliputi daerah Golgota, setelah Yesus berteriak kemudian menyerahkan nyawaNya (Mark 15:33, Mat 27:46)  maka Ia menghembuskan nafasnya diatas salib. Peristiwa kematian ini disusul dengan peristiwa terbelahnya tirai Bait Allah (Mat 27:51;  Mrk 15:38). Pengakuan yang jujur dari Prajurit yang menyaksikan akan kematian Yesus, mengatakan : “sungguh, orang ini adalah orang benar!” (Luk 23:47, Mrk 15:39) Lukas menceritakan reaksi orang banyak dengan memukul-mukul diri mereka setelah tahu kematianNya (Luk 23:48). Kemudian terjadi peristiwa alam seperti gempa bumi, bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan kebangkitan orang mati (Mat 27:52,53)

            Ketiga penulis memiliki berita yang yang sama tentang peranan Yusuf Arimatea dalam menghadap Pilatus untuk meminta mayat Yesus (Mat 27:57,58; Mrk 15:42,43; Luk 23:50,51), reaksi Pilatus, “heran” terhadap kematian Yesus (Mrk 15:44). Kemudian Yusuf Arimatea membeli kain Lenan untuk membungkus mayat Yesus (Mrk 15:45,46). Kesaksian tentang keberadaan kain ini dapat dikemukakan sbb:

Pada tahun 1973 Prof. Gilbert  Raes dari Universitas Gent di Belgium telah membuat penyelidikan tekstil sepotong dari kafan. Prof, Raes membuktikan bahwa benang dari kain kafan dipintal dengan tangan. Pada akhir abad 11  di Eropa barat sudah memakai roda pemintal, sehingga penyelidikan dari British musium tidak cocok. Prof. Raes masih menyimpan sepotong dari dari kain kafan itu. Potongan itu dikirim ke Universitas California(Amirika Serikat) untuk diselidiki dengan test Carbon-14. Hasilnya bahwa kain kafan itu dibuat  lebih kurang 200 tahun sebelum Yesus lahir. Yusuf dari Arimatea yang sudah mempunyai kuburan dekat kalvari, mungkin juga sudah mempunyai kain kafan yang mahal dan tua...40

 

Injil Sinoptis dan Yohanes mengungkapkan enam orang sekurang-kurangnya merawat tubuh Yesus untuk pemakaman-Nya, Ibunya sendiri,Yohanes, Maria Magdalena, Maria yang lain (Ibu Yakobus dan Yusuf), Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus (Mat 27:57-61; Mrk 16:42-47; Luk 23:50-56; Yoh 19:38-42).

Para murid Yesus yang sudah mendengar ajaran bahwa Yesus akan bangkit dari dari dalam kubur, lupa sama sekali sedangkan ahli-ahli agama ingat akan kebangkitan Yesus. Itulah sebabnya  mereka minta agar kubur Yesus dijaga (Matius 27:62-66).

3.2. Penyaliban menurut Injil Yohanes

Injil ini ditulis oleh Yohanes yakni “Murid yang dikasihi Yesus”41  (Yoh 21:20,24). Dalam memberitakan tentang Yesus, Yohanes memulainya dari keberadaan Yesus sebelum hadir di dunia ini dengan menyebut Yesus adalah Kalam Allah       (Yoh 1:1-3). Yohanes juga menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia (Yoh 1:29). Alkitab menyebutkan “simbol pengorbanan darah Anak Domba ini sebanyak 32 kali.”42 Dalam pengajaranNya Yesus menubuat kan cara kematianNya yakni disalib (Lih. hal. 40 tentang Yesus tidak pernah mengatakan akan disalib). Istilah yang dipakai Yesus adalah “Ia akan ditinggikan,”

“Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”(Yohanes 12:32)

 

Yohanes memberikan keterangan bahwa pengajaran itu berbicara soal bagaimana  caranya Ia akan mati (Yoh 12:33). Perkataan ditinggikan  berasal dari kata Yunani “Hupso” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Lift up on high, yang mengacu kepada penyaliban Yesus Kristus.”43 Yesus menyatakan secara jelas bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14,15).

 Seluruh pemberitaan Yohanes tentang Yesus dikaitkan dengan hubungannya dengan Allah, inilah yang menonjol dalam Injil Yohanes. Kisah Penderitaan Yesus dalam pembahasan ini dimulai dari penangkapan Yesus di taman Getsemane. Yohanes menyebutkan tempatnya diseberang sungai Kidron, (18:1) dan langsung kepada peristiwa penangkapan tanpa menyinggung jenis doa yang diucapkan Yesus.

 Peristiwa penangkapan dikisahkan oleh Yohanes dengan keajaiban berbeda dengan Injil Sinoptis dimana Yesus menghampiri mereka yang akan menangkapNya, dengan perkataan : “Maka Yesus yang tahu semua yang akan menimpa diriNya, maju kedepan dan berkata kepada mereka : siapa yang kamu cari?” (Yoh 18:4-5)jawab mereka: “Yesus orang Nazaret.” KataNya kepada mereka: “Akulah Dia,”maka mereka rebah, dan hal itu terjadi sampai 3 kali, ini menunjukkan keillahianNya, sehingga tidak ada satupun yang tahan berdiri dihadapan keagunganNya.

Proses pengadilan dimulai dari Kayafas sebab Ia mertua Hanas (ay 13) yang menjabat Imam Agung, pertanyaan kayafas dijawab secara terang-terangan oleh Yesus (ay 20-21), Perkataan yang tegas ini membuat Yesus ditampar (ay 22), dan Yesus meminta bukti dimana letak kesalahan jawabanNya kepada Imam besar (ay 23), disinilah Petrus menyangkal Yesus selama 3 kali. Proses persidangan yang dikemuka kan oleh Yohanes tidaklah banyak berbeda dengan Injil sinoptis. Penekanan yang diberikan adalah keterangan-keterangan Yesus tentang maksud dan kedatanganNya dimuka bumi serta kerajaanNya. Ia menyatakan dengan tegas bahwa Ia adalah Raja (ay 37). Sikap Pilatus dikisahkan tidak berbeda dengan Injil sinoptis, ketika ia berjumpa dengan Yesus, ia menyuruh orang Yahudi menghakimi dengan Tauratnya (ay 31). Orang Yahudi menolaknya. Jika Yesus diadili dengan Torat maka hukuman nya adalah rajam bukan salib. Percakapan Pilatus dengan Yesus dalam pengadilan, memiliki kesimpulan bahwa Yesus tidak bersalah, dan tidak layak dihukum mati, untuk memuaskan orang Yahudi Pilatus menyuruh menyiksa Yesus, dan para prajurit menaruh mahkota duri diatas kepalaNya serta menghinaNya. Kemudian memperlihat kan Yesus dihadapan mereka dan ia mengucapkan perkataan yang paling terkenal adalah  “Ecce Homo” yang berarti “lihatlah manusia itu.” (Yoh 19:4) “Pilatus tidak memahami apa yang diucapkannya namun perkataannya berkumandang keseluruh dunia dan menarik pandangan semua generasi kepada wajah yang terluka itu.”44 Kenyataannya orang Yahudi tidak puas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap Yesus, mereka menghendaki kematianNya (ay7).

Ketika orang-orang Yahudi mengatakan dihadapan Pilatus dengan tuduhan  “Yesus mengaku diriNya Anak Allah,” Pilatus mengalami ketakutan, adapun dasar ketakutan tersebut adalah :

... Perkataan itu menimbulkan kembali ingatan akan cerita-cerita lama yang sudah dilupakan masa kanak-kanaknya, dan menghidupkan kembali ketakutan dari seorang penyembah dewa, yang merupakan pokok cerita beberapa drama Yunani yang besar, yaitu tanpa sadar melakukan kejahatan, yang dapat mendatangkan pembalasan yang mengerikan dari para dewa. Mungkinkah Yesus Anak Yahweh bangsa Ibrani, seperti Castor dan Pollux adalah anak-anak Yupiter...45

 

Maka segera ia menarik Yesus kedalam dan bertanya dari mana asalMu? (ay 9) tetapi Yesus tidak menjawab. Niatnya membebaskan Yesus bertambah, ketika Yesus mengatakan bahwa kekuasaanNya berasal dari Atas (ay 11) Pilatus mencoba membebaskan Yesus dengan ucapan ‘Inilah Rajamu, haruskah aku menyalibkan rajamu? (ay 13,14) orang Yahudi tidak mau mengakui Mesias sebagai Raja, tetapi lebih suka menganggap kaisar (penjajah,pemimpin kafir yang membawa kesengsaraan bangsanya yang paling dibenci) menjadi rajanya. (ay 15) Pilatus memahami semangat kekaisaran yang palsu itu, tetapi karena takut akan pengaduan kepada Kaisar maka Yesus diserahkan kepada orang Yahudi untuk disalibkan.

Tetapi Pilatus tidak ingin kalah begitu saja ia memberikan gelar kepada Yesus “Raja orang Yahudi,”(ay 19), tulisan ini bukan saja bernada ejekan tetapi sebagai alasan mengapa Yesus disalibkan. Pilatus menyuruh menuliskan Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi, sekalipun ditentang oleh orang-orang Yahudi, Pilatus tetap tegas dalam keputusannya.

Ketika Yesus melihat Yohanes dan ibuNya maka Ia berkata, “Ibu, inilah anakmu” kemudian berkata kepada murid yang dikasihiNya, “inilah ibumu”(26). Perkataan Yesus selanjutnya  adalah : ”Aku haus!”  Ia diberi anggur  asam  dan setelah mencipiNya maka Ia  meminumnya, (ay 29). Menjelang ajalNya, Ia berkata: “Sudah genap” kemudian Ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya        (ay 30). Mengingat saat itu adalah persiapan Paskah, maka  tidak boleh ada mayat diatas salib. Untuk mempercepat kematian orang yang disalibkan salah satu caranya, adalah mematahkan kaki orang yang disalibkan. Ini berlaku untuk kedua penjahat sebab mereka belum mati (ay 32, lih. hal 42 tulang kaki Yesus tidak dipatahkan tanda masih hidup) sedangkan kaki Yesus tidak perlu dipatahkan sebab Ia memang sudah mati (ay 33). Cara peremukan tulang itu dipakai untuk mempercepat kematian sedangkan 2 orang yang disalib masih hidup, padahal hari Paskah tidak boleh ada mayat yang tergantung diatas salib, maka cara “peremukan tulang kaki” ini perlu dilakukan. sedangkan Yesus tidak perlu sebab bukan Dia yang masih hidup justru Ia sudah mati! Peremukan yang diceritakan hanya menyangkut cara kematian dan bukan fungsinya tulang seperti yang dituduhkan pihak muslim.

 Salah seorang dari Prajurit menikam lambungnya dengan tombak dan segera keluar darah dan air (ay 34). “Ini membuktikan bahwa Yesus telah mati. Tidak seperti yang dituduhkan oleh doketis (termasuk Islam ahmadiyah) bahwa Yesus mati semu,”46 Mengenai darah dan air yang keluar dari lambung Yesus dapat diperoleh keterangan dari dokter-dokter kenamaan sebagai berikut

 

... Dr. Pierre Barbet, seorang ahli bedah dan ahli anatomi manusia, menerangkansebagai berikut: tombak yang ditikamkan pada lambung Yesus itu menembus pleura (selamut yang menyelubungi paru-paru) dari paru-paru kanan, kemudian merobek pericardinaum (kantong sekeliling jantung) dan menusuk serambi kanan jantung. Akibatnya, serum  dari pericardium, yang encer seperti air, mengalir keluar bersama-sama dengan darah. Dokter lain mempunyai teori lain : Yesus pada waktu itu tentulah mengalami pendarahan di dalam dadaNya (hydrohemothorax). Pendarahan ini diakibatkan karena siksaan-siksaan yang telah menimpa dadaNya, seperti penderaan, dan karena posisi tergantungnya disalib sebelum meninggal. Oleh karena berat, darah yang lebih berat akan memisah. Mereka ini juga mengemukakan bahwa, seandainya tidak  terjadi pendarahan didalam dada, menumpuk cairan atau serum di dalam rongga pleura (selaput paru-paru) dapat juga terjadi akibat dari jantung yang tersumbat (congestive heart failure atau massive myocardial infarct). Timbunan cairan itu sesudah kematian dapat menjadi cukup banyak jumlahnya, sehingga bila keluar dari lambung yang ditikam, dapat terlihat oleh mata telanjang...47

 

Kata “melihat” (Yoh 19:33) tidak dapat disamakan dengan melihat dalam arti kiasan, (Lih hal 43 tuduhan melek tapi tidak melihat), sebab bukan saja berbeda latar belakang topik pengajaran, ayat tersebut menerangkan bahwa kesaksian mereka benar adanya (ay 35).

Bagi mereka yang meragukan “tidak mati jika disalib 3 jam” mungkin ada benarnya jika penyaliban itu jenisnya seperti kedua penjahat yang berada disamping Yesus. Mayat Yesus diturunkan oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus anggota Sanhedrin. “Nikodemus  menunjukkan pengabdiannya dengan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, lima puluh kati beratnya “( + 33 Kg) harga yang cukup mahal.”48 Mereka yang terlibat dengan penguburan Yesus dikisahkan tidak berbeda dengan Injil Sinoptis. Pada hari ketiga Yesus bangkit dan kemudian Ia menampakkan diri kepada murid-muridNya.

 

4.Kesimpulan :

 

Fakta historis tentang penyaliban Yesus diberitakan oleh Alkitab secara akurat dan kronologis. Berawal dari nubuatan ribuan tahun sebelumnya dan kemudian digenapi secara sempurna dalam Perjanjian Baru. Meniadakan penyaliban Yesus berarti merendahkan nubuat-nubuat dari Allah.

Al qur’an memberitakan Yesus  sebagai seorang yang mengajarkan jalan yang lurus ( Az Zukhuf 43, 61), yang diperkuat oleh Roh Kudus (Al Ba Qarah 253) tersebut mungkinkah berdusta? Yesus telah mengajarkan akan kematianNya, baik cara ataupun unsur-unsur yang mendahuluinya seperti penolakan, fitnah dan akhirnya kematianNya (semua dilakukan oleh orang ahli-ahli Torat/kitab, Al Baqarah 87). Pengajaran “Yesus tidak disalib” tidak mungkin terjadi bila dapat memahami perkataan Yesus sendiri.

Kenyataannya Yudas sebagai seorang yang dianggap menggantikan Yesus sudah menggantung diri dan disaksikan oleh seluruh penduduk Yerusalem. Sedangkan sebelas murid yang lain, masih berkumpul dan menyangsikan bahwa Yesus bangkit serta menampakkan diri kepada mereka!

Ayat-ayat Alkitab yang dipakai untuk menolak penyaliban Yesus pada dasarnya “salah ditafsirkan,” “keluar konteks” atau tidak dilihat dari alur cerita yang semestinya (diputar balikkan) sehingga tidak dapat dipahami maksud yang sebenarnya.

Kebenaran penyaliban Yesus akan tetap berkumandang, sebab didalamnya setiap orang percaya memperoleh anugerah keselamatan! Untuk itulah Alkitab memberitakan peristiwa penyaliban bukan saja satu atau dua ayat melainkan beberapa pasal, dan ditulis bukan satu orang saja melainkan empat orang! Berita dari keempat penulis tersebut tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi. ?

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               



                1___________ Tafsiran Alkitab Masa Kini Matius-Wahyu, Cet 8, Yayasan komunikasi bina kasih/OMF, Jakarta, 1994 hal 27

                2   ___________ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A-L,  Op., Cit.,  hal 420

                3Arnold Tindas, Apakah Inerrancy Alkitab itu?, cet 1, Yayasan Daun Family, Manado, 1993 hal 6

                4C. Groenen, OFM Analisis Naratif kisah sengsara (Yoh 18-19), Cet 1. Kanisius, Yogyakarta, 1994, hal 37,38

                5  Josh Mc Dowel Kekristenan sejarah atau dongeng Cet 1, BPK Gunung Mulia ,Jakarta 1991 hal 44

                6  ------- Tafsiran Alkitab Masa Kini (3) Matius-Wahyu,, Op., Cit., hal 100

                7  Hamka Tafsir Al Azhar Juzu VI, lock.cit.,

                8  Hamka Tafsir Al Azhar Juzu VI,Op.cit., hal 23

                9  Ibid hal 22

                10Ahmad Syalabi  Perbandingan Agama Bahagian Agama Nasrani, cet 1, Kalam Mulia, Jakarta, 1993 hal 13

                11Finis J dake  Dake’s Annotated Reference Bible The New Testament, Vol 2, Atlanta, 1961, page 70

                12R. A Jaffray Tafsiran kejadian jilid 1, Cet 4 Kalam hidup, Bandung, 1966 hal 41.

                13Walter lempp  Tafsiran Kejadian 1:1-4:26, Cet 4, BPK Gunung Mulia, Jakarta,1987, hal 93

                14Ibid.  hal 100

                15  The Bible  society in Israel Jerusalem The Holy Land Bible, A special edition for the visitor to The Holy land, Jerusalem, page 1096    

                16Holy land Bible,op., cit., page 1098

                17________ The Living Bible, Tyndale House Publiser, Inc, 1971 page  455

                18Ibid. , page 621

                19  ---------- Tafsiran Alkitab Masa Kini (3) Matius-Wahyu op. cit.,  hal 118-119

                20  Theol. Dieter Becker   Pedoman dokmatika  Cet 2, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993       hal 128

                21  Josh Mc Dowel op.cit., hal 41

                22  Ibid. , hal 42

                23James stalker Masa hidup Yesus Kristus , Cet 1,Gandum Mas , Jakarta, 1991

                24  William Barclay Pemahaman Alkitab setiap hari Matius 1-10  cet 2, BPK Gunung Mulia Jakarta 1991 hal 1

                25   _________  Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,  cet 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 1992

                26  FF. Bruce Dokumen-dokumen Perjanjian Baru cet 1,BPK Gunung Mulia Jakarta 1991 hal 27

                27  I. suharyo Pr  Pengantar Injil Sinoptis, cet 3, Kanisius, Yogyakarta, 1993 hal 53   

                28  Ibid. , hal 77

                29  Herman Hendrickx. CICM Satu Yesus Empat Injil, Obor, Jakarta, 1994 hal 120 

                30    _________ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A-L op cit., hal 651

                31   Finis J. Dake op.cit., page 5

                32  Stefan leks Yesus Kristus menurut keempat Injil jilid 7, cet 1, Kanisus, Jogyakart, 1994, hal 62

                33Albert Nolan OP Yesus Sebelum Agama Kristen, cet 1, Kanisius, Jogyakarta, 1991, hal 177

                34  I. suharyo Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Sinoptik cet 1, Kanisius, Yogyakarta, 1990, hal 38

                35  Ibid.  hal 38

                36  Ibid.  hal 47

                37  A. Widyamartaya, Manusia Kain Kafan, cet 13, Kanisius, Yogyakarta, 1995, hal 40

                38A. Widyamartaya Op. Cit., hal 28-29

                39  Ibid. , hal 30, 31

                40  A. Widyamartaya, Op. Cit., hal,

                41  _______ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini M-Z, cet 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1995, hal 612

                42  Finis J. Dake Dake’s Annoted Reference  BibleThe New Testament, second edition, Printed in The United State of Amirica, 1961, page 93

                43  Finis J. Dake Op., Cit., page 110

                44James Staler op.cit., hal 115

                45Ibid. , hal 116

                46Tafsiran Alkitab Masa Kini  (3) Matius - Wahyu  op.cit., hal 326

                47A. widyamartaya, op.cit., hal. 54,55

                48  Tafsiran Alkitab Masa Kini (3) Matius- Wahyu op. cit., hal 327

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.