Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini943
Kemarin1339
Minggu Ini2282
Bulan Ini39295
Total Pengunjung1391159

IP Kamu 18.208.126.211 Tuesday, 31 March 2020

Guests : 24 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Khusus bulan Maret tanggal 19 dan 26 ibadah ditiadakan di hotel

tapi dipindah di gading griya akan mulai lagi awal april 

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MENGGUGAT TANGGAL   KELAHIRAN YESUS

Dr. Timotius Bakti sarono,M.Pd.K

 

 

 

Kontroversi ketepatan kelahiran Yesus Kristus tidak usang untuk diperbincangkan bahkan para teolog dan orang awam masih saja mencari kebenarannya. Issu yang bergulir sepanjang sejarah bahwa Natal yang diambil dari serapan dari bahasa Inggris Christmas Xmas adalah sebuah singkatan umum dari kata Christmas (Natal)[1] . Kata natal ini juga diambil dari bahasa Portugis yang  berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis Χ'mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho. Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata "Natal", yang ada hanya kelahiran Yesus[2].

Berbagai keberatan akan tanggal dua puluh lima tersebut disinyalir bila tanggal dan hari kelahiran Yesus diketahui secara pasti maka akan menjadi objek penyembahan. Manusia kuno sampai era digital selalu mengadakan penyembahan “sesajen” kelahiran atau kematian seseorang yang dianggap sakti. Lihat saja hari lahir atau kematiannya Soekarno Sang Proklamator Indonesia merdeka, kuburannya selalu dipadati orang yang berziarah hanya sekedar mencari pesugihan[3]

Selain hal itu Alkitab sendiri tidak pernah memerintahkan bahkan Yesus sendiri tidak pernah menyuruh mengingat akan kelahirannya namun Yesus hanya memerintahkan untuk mengingat hari kematianNya yang dilakukan setiap Perjamuan Kudus. Namun orang harus sadar bahwa tanpa kelahiran tidak mungkin terjadi kematian. Paulus menuliskan dengan jelas  dalam  2 Timotius 2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati,  yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud,  itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

Keberatan Yesus dilahirkan bulan Desember seperti yang pernah saya sampaikan di kotbah-kotbah saya dahulu dalam ketidakpahaman yang harus saya ralat bahwa tidak mungkin ada gembala di Padang Efrata pada waktu bulan Desember. Dengan alasan  karena musim dingin mereka bisa menjadi es batu. Bambang Noorsena dalam pengajarannya[4] mengatakan : pertama harus dikatakan bahwa bahwa yang disebut Padang Gembala, apakah itu merupakan makna biasa atau dalam makna yang lain? Alfred Eldersim dalam bukunya the life of Jesus The Mesiah  ia mengatakan dalam penelitiannya dalam naskah-naskah Yahudi kuno bahwa penampakan berita Sang Mesias di Padang Efrata  bukan merupakan dalam arti Padang Gembala yang biasa. Ia mengutip Targum Yahudi (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa sehari-hari yang dipakai oleh Yesus yakni bahasa Aramaic). Kira-kira terjemahan Targum Jonathan ditulis bahwa ketika Rachel meninggal dalam kitab kejadian ada ungkapan bahwa yang disana akan muncul Sang Mesias yang menampakkan diri di Migdal Elder (nubuatan dalam kitab kejadian.

Berita kehadiran Mesias itu akan ditampakkan di Migdal Eder. Penelitian selanjutanya Migdal Eder itu adalah sekawanan domba yang dipelihara secara khusus di dekat Bait Allah dalam perjalanan Yerusalem dan Betlehem. Jadi yang disebut Sahal Rahfat adalah miniatur yang dibangun gereja kuno tetapi bukanlah tempat yang sebenarnya. Disitulah para gembala itu menggembalakan dombanya untuk sepanjang musim karena tidak ada upacara Yahudi yang terlepas penyembelihan domba. 

Bahwa bukti bahwa bulan Desember ada upacara Yahudi penyembelihan domba yakni upacara Hanukah. Upacara yang memperingati pembebasan Bait Allah dari penajisan yang dilakukan oleh Raja Siria Anthiokus Aphipanes. Pada waktu itu orang-orang Israel dibawah kepemimpinan  Yudah dari Makkabe memenangkan peperangan itu. Patung Zeus yang diletakkan dekat Bait Allah diturunkan kembali orang-orang Yahudi mengalami kemerdekaannya. Dalam Injil Yohanes dikatakan Akulah terang dunia barang siapa percaya kepadaKu tidak berjalan dalam kegelapan tetapi mereka akan memperoleh terang hidup. Itu adalah konteks Yesus menghadiri perayaan Hanukah. Sampai sekarang perayaan itu masih dirayakan oleh orang Yahudi pada bulan Tebhet atau Desember. Logikanya kalau ada penyembelihan domba maka harus ada domba, itulah penelitian tentang Padang Efrata.

 

Orang harus memahami bahwa arti natal sendiri memiliki makna tunggal yakni kelahiran Yesus Kristus bukan kelahiran dewa matahari atau dewa yang menjadi mitos maupun legenda manapun. Fitnah bahwa natal merupakan perayaan kafir merupakan tuduhan yang tidak mendasar. Kisah natal yang diidentikkan dengan penyembahan dewa matahari bermula karya William J. Tighe dalam karyanya calculating chistmas yang mengatakan : “Sebaliknya, festival penyembahan berhala dari “Kelahiran Matahari yang Tak Dikalahkan” yang dilembagakan oleh Kaisar Romawi Aurelian pada tanggal 25 Desember 274, hampir pasti merupakan upaya untuk menciptakan alternatif penyembahan berhala untuk suatu tanggal yang sudah memiliki beberapa arti penting bagi umat Kristen Romawi. Dengan demikian "asal mula kafir Natal" adalah mitos tanpa substansi historis[5]. Lebih lanjut dalam buku tersebut mengatakan asal muasal natal seolah-olah hanya bersumber dari kebudayaan kuno yang hidup di kalangan bangsa romawi pada waktu itu. 

Selanjutnya ia mengatakan dalam kalender Julian, dibuat pada 45 SM. di bawah Julius Caesar, titik balik matahari musim dingin jatuh pada tanggal 25 Desember, dan oleh karena itu tampak jelas bagi Jablonski dan Hardouin bahwa hari itu pasti memiliki makna kafir sebelum memiliki titik balik Kristen. Tetapi pada kenyataannya, tanggal tersebut tidak memiliki makna religius dalam kalender perayaan kafir Romawi sebelum zaman Aurelia, juga kultus matahari tidak memainkan peran penting di Roma sebelum dia.

Ada dua kuil matahari di Roma, salah satunya (dikelola oleh klan tempat Aurelian dilahirkan atau diadopsi) merayakan festival penahbisannya pada 9 Agustus, yang lainnya merayakan festival penahbisannya pada 28 Agustus. Tetapi kedua kultus ini jatuh ke dalam pengabaian di abad kedua, ketika kultus timur matahari, seperti Mithraisme, mulai memenangkan pengikut di Roma. Dan dalam hal apa pun, tidak ada kultus ini, tua atau baru, yang memiliki festival yang terkait dengan soltis atau ekuinoks[6].

Pengaruh Emperium Roma sangat berpengaruh dalam munculnya perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. Tanggal tersebut merupakan hari libur Romawi yang merayakan natalis solis invicti yang artinya kelahiran dari dewa matahari yang tak terkalahkan atau sering disebut sebagai  kelahiran dewa matahari. Kaisar Aurelian memperkenalkan kultus Sol Invictus atau Matahari yang tak Terkalahkan di Roma tahun 274. Aurelian mendirikan pergerakan politik dengan kultus ini, sebab namanya sendiri Aurelian, berasal dari kata Latin aurora, yang artinya “matahari terbit”. Uang logam koin masa itu menunjukkan bahwa Kaisar Aurelian menyebut dirinya sendiri sebagai Pontifex Solis atau Pontiff of the Sun (Imam Agung Matahari). Maka Kaisar Aurelian mendirikan kultus matahari itu dan mengidentifikasikan namanya dengan dewa matahari, di akhir abad ke-3[7].

Kaisar Julian yang pernah menjadi Kristen dan kemudian murtad inilah yang menentukan hari libur tanggal 25 Desember. Namun pada tahun 336 Masehi gereja Roma secara resmi mulai merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Pada saat itu Kaisar konstantinus telah menjadikan agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran. Kemudian libur panjang ini diperingati secara luas oleh orang Kristen mula-mula sampai sekarang. 

Namun tidak ada bukti secara historis tentang kelahiran dewa matahari dan perayaannya sebelum tanggal 354. Namun Dalam sebuah manuskrip yang penting di tahun 354, terdapat tulisan bahwa tanggal 25 Desember tertulis, “N INVICTI CM XXX.” Di sini N berarti “nativity/ kelahiran”. INVICTI artinya “Unconquered/ yang tak terkalahkan”. CM artinya, “circenses missusgames ordered/ permainan yang ditentukan/ diperintahkan.” Angka Romawi XXX sama dengan tiga puluh. Maka tulisan tersebut artinya ialah 30 permainan yang ditentukan untuk kelahiran Yang tak terkalahkan, pada tanggal 25 Desember. Perhatikan bahwa di sini kata “matahari” tidak disebutkan. [Maka bagaimana dapat dipastikan bahwa itu mengacu kepada dewa matahari?].  Selanjutnya, naskah kuno tersebut juga menyebutkan, “natus Christus in Betleem Iudeae/ kelahiran Kristus di Betlehem, Yudea” di tanggal 25 Desember itu. ((The Chronography of AD 354. Part 12: Commemorations of the Martyrs.  MGH Chronica Minora I (1892), pp. 71-2.)[8] Gencarnya penolakan tanggal 25 Desember itu bukan saja dari luar seperti  ajaran sesat gnostic dan saksi-saksi Jehova melainkan dari teolog-teolog Kristen sendiri yang dari pihak orang dalam sendiri.  

Serangan pertama kali terhadap Natal bisa dilacak dari karya Paul Ernst Jablonski pada tahun 1743 M. Teolog Protestan asal Jerman ini ingin menunjukkan bahwa perayaan itu kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah salah satu dari perayaan pagan yang dikristenkan. Selanjutnya, Dom Jean Hardouin, seorang biarawan Benediktan, mendukung pendapat ini, tetapi menekankan bahwa bersamaan dengan adopsi terhadap tradisi pagan tersebut, tidak berarti Gereja Katolik mem"-pagan"-kan kekristenan dalam makna menerima substansi ajarannya, melainkan hanya mengkontekstualisasikannya. Gagasan ini secara ekstrim kemudian ditekankan oleh H.W. Amstrong, seorang anti-Trinitarian dan pendiri Worldwide Church of God, dalam bukunya The Plain Truth about Christmas, California: Worldwide Church of God, 1994, hlm. 13-20.[9]

Bambang Noorsena dalam tulisannya mengatakan Dokumen Gereja pertama kali yang mencatat penetapan tanggal kelahiran Al-Masih, adalah Didascalia atau Konstitusi Rasuli (Arab: Dastur Rasuliy) yang berbunyi: “Saudara-saudaraku, peliharalah perayaan untuk kelahiranNya (Natal) pada tanggal 25 bulan ke-9 Ibrani, yaitu tanggal 29 bulan ke-4 Mesir”[10] Injil Lukas 1:26 mencatat, bahwa berita Malaikat Jibril akan lahirnya Yesus, terjadi pada bulan ke-6. Dalam kalender Ibrani, ada 2 macam perhitungan: 

Pertama, Kalender perayaan keagamaan (the Sacred calendar), yang ditetapkan sejak Bani Israel kembali dari pembuangan di Babel, dan mulai dari bulan Nisan (kira-kira April). Kedua, Kalender sipil (the Civil calendar) yang diawali dari bulan Tisyri atau Etanaim (Kira-kira bulan Oktober)[11] Bulan ke-6 dalam kalender sipil Ibrani adalah Adar, kira-kira jatuh pada bulan Maret. Jadi, menurut hitungan gereja waktu itu, Malaikat Jibril datang kepada Maryam pada hari  ke-25 bulan Maret yang paralel dengan minggu ke II dlm bulan Adar2/Nisan (Lihat Kalender Ibrani). Itulah ‘Id Bisyarat al-Adzra’ (Maryam menerima Kabar Gembira)[12]Karena itu kemudian kelahiran Yesus jatuh pada hari ke-25 bulan Ibrani Tebeth (Kanun al-Awwal), kira-kira 25 Desember. Dalam teks liturgis disebut hari Natal (atau ‘Id al-Milad). Hitungan ini ternyata cocok dengan terjadi konjungsi planet Jupiter dan Saturnus, yang terjadi bulan Desember tahun 7 sebelum Masehi.

Selanjutanya Bambang Noorsena mengatakan perbedaan penanggalan kelahiran Yesus di gereja barata  dan gereja timur ia mengatakan : antara Gereja Barat yang merayakan pada tanggal 25 Desember, dan Gereja Timur yang merayakan tanggal 7 Januari? Harus dicatat, perbedaan itu tidak terjadi pada fakta dasarnya, tetapi akibat selisih perhitungan antara penanggalan Gregorian Barat dan penanggalan Julian yang lama yang masih dipakai di gereja-gereja Timur. Sebenarnya, penetapan pertama hari-hari raya Gereja, untuk pertama kalinya secara akurat dihitung dari Mesir. 

Seorang astronom Gereja Mesir, bernama Batlimous, pada akhir abad ke-2 Masehi, melakukan perhitungan secara cermat atas perintah Baba Dimitri/Demetrius, yang menjadi Patriakh Alexandria dari tahun 199-232[13] Penanggalan Mesir dihitung berdasarkan penampakan bintang Siriuz[14] yang diakui UNESCO sebagai kalender yang paling akurat dibandingkan dengan sistem penanggalan manapun yang pernah dibuat[15]Jadi penenetapan perayaan Natal mula-mula jatuh pada tanggal 29 bulan Kiahk. Di wilayah kekaisaran Roma pada waktu itu berlaku kalender Julian. Kalender ini ditetapkan oleh Julius Caesar tahun 46 sebelum Masehi, yang didasarkan atas peredaran matahari. Hitungannya 700 tahun dari berdirinya kota Roma. Nah, pernah terjadi hitungan kalender Julian ini salah. Lalu seorang astronom, Mesir, Sosiginous, memperbaikinya yaitu menyesuaikan dengan tahun Coptic yang terdiri dari 365 hari. Kalender inilah yang diikuti seluruh Gereja baikdi Timur maupun di Barat sampai abad ke-16 Masehi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius dari Roma membuat modifikasi dari kalender Julian ini, yang kemudian disebut Kalender Gregorian hingga sekarang. Kalender inilah yang sampai hari ini diikuti oleh Gereja Barat: baik Katolik maupun gereja-gereja Protestan. Sedangkan gereja-gereja Timur dari dahulu hingga sekarang tetap menggunakan Kalender Julian itu.

Mengacu kelahiran Yesus informasi dari Alkitab maka harus diakui tidak pernah disebutkan hari dan tanggal kapan Yesus dilahirkan. Namun demikian bukan berarti Yesus kelahirannya indentik para dewa yang menjadi manusia seperti kisah-kisah legenda dewa kafir. Alkitab jelas menginformasikan ketepatan hari itu dengan peristiwa-peristiwa yang mendukungnya. Bapak-bapak gereja pertama mendapat informasi langsung dari ibu Yesus yakni Maria yang melahirkan Yesus. Katolig .org memberikan informasi dari tokoh-tokoh gereja di abad pertama aksian berikutnya adalah dari para Bapa Gereja abad-abad awal (abad 1 sampai awal abad 4) di masa sebelum pertobatan Kaisar Konstantin dan kerajaan Romawi. Para Bapa Gereja tersebut telah mengklaim tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus.

Catatan yang paling awal tentang hal ini adalah dari Paus Telesphorus (yang menjadi Paus dari tahun 126-137), yang menentukan tradisi Misa Tengah malam pada Malam Natal… Kita juga membaca perkataan Teofilus (115-181) seorang Uskup Kaisarea di Palestina: “Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di mana tanggal 25 Desember harus terjadi.” ((Magdeburgenses, Cent. 2. c. 6. Hospinian, De origine Festorum Christianorum.))

Tak lama kemudian di abad kedua, St. Hippolytus (170-240) menulis demikian: “Kedatangan pertama Tuhan kita di dalam daging terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem, di tanggal 25 Desember, pada hari Rabu, ketika Kaisar Agustus memimpin di tahun ke-42, …. Ia [Kristus] menderita di umur tiga puluh tiga, tanggal 25 Maret, hari Jumat, di tahun ke-18 Kaisar Tiberius, ketika Rufus dan Roubellion menjadi konsul. ((St. Hippolytus of Rome, Commentary on Daniel.))

Dengan demikian tanggal 25 Maret menjadi signifikan, karena menandai hari kematian Kristus (25 Maret sesuai dengan bulan Ibrani Nisan 14- tanggal penyaliban Yesus. Kristus, sebagai manusia sempurna- dipercaya mengalami konsepsi dan kematian pada hari yang sama, yaitu tanggal 25 Maret…Maka tanggal 25 Maret dianggap istimewa dalam tradisi awal Kristiani. 25 Maret ditambah 9 bulan, membawa kita kepada tanggal 25 Desember, yaitu kelahiran Kristus di Betlehem.

St. Agustinus meneguhkan tradisi 25 Maret sebagai konsepsi Sang Mesias dan 25 Desember sebagai hari kelahiran-Nya: “Sebab Kristus dipercaya telah dikandung di tanggal 25 Maret, di hari yang sama saat Ia menderita; sehingga rahim Sang Perawan yang di dalamnya Ia dikandung, di mana tak seorang lain pun dikandung, sesuai dengan kubur baru itu di mana Ia dikubur, di mana tak seorang pun pernah dikuburkan di sana, baik sebelumnya maupun sesudahnya. Tetapi Ia telah lahir, menurut tradisi, di tanggal 25 Desember.” ((St. Augustine, De Trinitate, 4, 5.))

Di sekitar tahun 400, St. Agustinus juga telah mencatat bagaimana kaum skismatik Donatist merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi mereka menolak merayakan Epifani di tanggal 6 Januari, sebab mereka menganggapnya sebagai perayaan baru tanpa dasar dari Tradisi Apostolik. Skisma Donatist berasal dari tahun 311, dan ini mengindikasikan bahwa Gereja Latin telah merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember sebelum tahun 311. Apapun kasusnya, perayaan liturgis kelahiran Kristus telah diperingati di Roma pada tanggal 25 Desember, jauh sebelum Kristianitas dilegalkan dan jauh sebelum pencatatan terawal dari perayaan pagan bagi kelahiran Sang Matahari yang tak Terkalahkan. Untuk alasan ini, adalah masuk akal dan benar untuk menganggap bahwa Kristus benar telah dilahirkan di tanggal 25 Desember, dan wafat dan bangkit di bulan Maret, sekitar tahun 33.

Sedangkan tentang perhitungan tahun kelahiran Yesus, menurut Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, adalah sekitar tahun 7-6 BC. Paus mengutip pandangan seorang astronomer Wina, Ferrari d’ Occhieppo, yang memperkirakan terjadinya konjungsi planet Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6 BC (yang menghasilkan cahaya bintang yang terang di Betlehem), yang dipercaya sebagai tahun sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus. ((Pope Benedictus XVI,  Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, kindle version, loc. 1097-1101)

Dalam pengajarannya melalui video youtube Bambang Noorsena mengatakan : Sumber dalam Alkitab memberitahukan kelahiran Yesus dapat dilihat dari dua sumber utama yang pertama adalah kelahiran Yohanes pembaptis. Pada waktu zakharia mempersembahkan korban bakaran  dalam Lukas 1:5 yakni minggu ke dua bulan Yahudi yang disebut Tishri yakni minggu yang bertepatan dengan the day of atonement hari ke 10. Hari tersebut jatuh dari tanggal 22 September dengan 8 oktober. Alkitab menginformasikan dengan jelas bahwa sesudah itu pelayanan tersebut Lukas 1:24  maka diberitakan bahwa Elisabet mengandung yakni akhir September dan kelahiran Yohaens pembaptis diperkirakan tanggal 24 Juni. 

Sementara Gabriel memberitahukan kepada Mari yakni bulan ke enam. Lukas 1:26-27 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel  pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf  dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Kapan waktu bulan ke enam itu? Bulan ini mengacu kepada kehamilan dari Yohanes Pembaptis jadi Yohanes pembaptis lebih tua enam bulan daripada Yesus. Maka kelahiran Yesus jatuh pada tanggal 24 Desember tengah malam dan hari itu sudah disebut tanggal 25 Desember.  

Rita Wayu memberikan keterangan kelahiran Yesus dengan tulisannya di sarapanpagi.org dengan memberikan data orang yang paling dekat dengan era kehidupan Yesus beberapa yang diungkapkannya adalah : Fakta sejarah dengan jelas membuktikan bahwa upaya untuk menghitung perayaan Natal sudah dimulai dari era sejarah gereja yang paling awal. Seperti sudah dikemukakan di atas, ‪Irenaeus (130-202 M), bapa gereja dari masa awal dan murid ‪Polycarpus, sedangkan ‪Polycarpus adalah murid ‪Rasul Yohanes, sudah mencatat bahwa "ld al-Bishara (Perayaan Kabar Gembira) kedatangan Malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus Kristus jatuh pada tanggal 25 Maret. Selanjutnya harus ditegaskan pula, bahwa Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember telah ditetapkan di gereja-gereja Timur jauh sebelum abad IV M, sebagaimana yang banyak dituduhkan kaum sensasionalis yang "sok pintar", apalagi dikaitkaitkan dengan Kaisar Konstantin. 

Berdasarkan deskripsi di atas, jelas bahwa meskipun pada masa ‪Irenaeus belum disebut tanggal 25 Desember, akan tetapi murid ‪Polycarpus itu sudah menyebutkan bahwa Maria menerima kabar gembira pada tanggal 25 Maret. Sedangkan dokumen tertua mengenai perayaan Natal juga tidak pertama kali di Roma, melainkan di Antokhia dan Alexandria.  Mar Theophilus, Patriarkh Gereja Ortodoks Syria di Antiokhia, (antara tahun 168-183 M), dalam pernyataan yang terkenal mengenai penetapan perayaan Natal mengatakan:  "Kita harus merayakan hari kelahiran Tuhan kita setiap tanggal 25 Desember, jatuh pada hari apapun" (De Origin Festorum Christianorum, Reff: ‪http://luxveritatis7.wordpress.com ).

Selanjutnya, pada tahun 189 M. Baba Demetrius, Patriarkh Alexandria dan Pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Koptik di Alaxandria, memasukkan perayaan Natal dalam dokumen Coptic Didascalia Apostolorum (Ad-Dosquliya, Ay Ta'tilim Ar-Rusul) - atau Konstitusi Rasul-rasul, yang dalam terjemahan bahasa Arab berbunyi demikian:  Artinya:  "Wahai saudara-saudara, tetapkanlah dalam harihari perayaan, yaitu Natal Tuhan kita tepatnya pada tanggal 25 bulan kesembilan Ibrani, yang bertepatan dengan tanggal 29 bulan keempat Mesir" (Ad-Dasqiiliyyah aw Ta'alim Ar-Rusul, Tarjamah: Marqus Dawud, Cairo: Maktabah al-Mahabbah, tanpa tahun, hlm. 116).

Para sarjana berbeda pendapat mengenai penulisan teks Yunani Didascalia Apostolorum yang tertua, dan biasanya memberikan perkiraan dari abad III M. Tetapi kenyataan bahwa dokumen ini masih menggunakan kalender Yahudl yang menetapkan Natal setiap 25 bulan ke-9 Ibrani bahwa dokumen ini masih meng-gunakan kalender Yahudi yang menetapkan Natal Setiap 25 bulan ke-9 Ibrani membuktikan bahwa karya ini berasal dari akhir abad 1 M. Dalam ‪Buku V, Bagian III Didascalia Apostolorum disebutkan:  "Saudara-saudaraku, peringatilah hari-hari raya, dan yang pertama dari semua hari raya yang kalian harus rayakan adalah Natal pada tanggal 25 bulan ke-9 Ibrani." Bulan ke-9 Ibrani adalah Kislev (November /Desember), padahal 9 bulan setelah Nisan adalah Tevet (Desember -Januari), Rupanya, gereja purba di Yerusalem mula-mula ‪menyejajarkan Natal dengan Perayaan Hanukkah yang jatuh pada tanggal 25 bulan kesembilan, yaitu Kislev (1 Makabe 4:52), yaitu "ketika itu musim dingin" (Yohanes 10:32). Perayaan ini dimulai tanggal 25 Kislev sampai tanggal Tevet Meskipun demikian, 25 Kislev bertepatan dengan 21 Desember 2011, 9 Desember 2012, 28 Nopember 2013, 17 Desember 2014, dan 25 Desember 2015. Selanjutnya, pada tahun 189 M Baba Dimitri I, menghitungnya lebih cermat menurut perhitungan tahun Koptik (Anno Martyri) yang jatuh pada tanggal 29 bulan Mesir Khyak.

Namun harus dipahami bahwa yang menjadi essensi natal bukan hari dan tanggal kelahiran melainkan pribadi dari bayi natal itu sendiri. Kelahiran Sang Mesias menjadi perbincangan para cerdik cendikia mengapa demikian? Karena pribadi yang satu ini adalah pribadi yang sangat berbeda melebihi manusia manapun yang pernah hadir di dunia ini. Jika Adam adalah manusia tanpa ibu dan bapa sementara Hawa diciptakan dari rusuk lelaki, hanya Yesus satu-satunya manusia yang hanya beribu tanpa benih bapak jasmani. Kelahiran dan kematianNya sangat kontroversial dan layak bukan saja diperingati melainkan harus menjadi panutan, junjungan dan kehormatan bagi setiap orang percaya. 

Jika seseorang tetap mempercayai kelahiran Yesus dengan berbagai data sejarah dan tetap meyakini Natal adalah penyembahan dewa matahari. Orang harus terbuka matanya bahwa Yesus adalah matahari kehidupan bagi setiap orang percaya. Jika Ia berkata Akulah terang dunia (Yoh 8:12) maka Ia layak disebut sebagai pribadi yang kekuasaanNya melebihi matahari dan tidak ada satupun yang mampu menandinginya. Apabila orang menggugat tanggal kepastian Kristus adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Apalagi mereka yang di luar Kristus mencoba-coba mengkriminalisasi Natal itu merupakan kebodohan. Betapa pentingnya sebelum berucap memiliki data dan belajar lebih banyak. 

Natal adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah yang Roh telah berinkarnasi menjadi daging. Yesus bukan pendiri agama melainkan penyelamat manusia. Memang benar apa yang dikatakan Gusdur : Mestinya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah Juruselamat seluruh umat manusia, bukan Juruselamat umat Kristen saja” [16]

Secara pribadi dan seluruh Jemaat GBI Holy Spirit mengucapkan selamat Hari Natal 2019 dan Tahun baru 2020 Tuhan memberkati

 



[1] Kata ini terkadang dibaca /ˈɛksməs/ dan memiliki varian seperti Xtemass, yang berasal dari singkatan yang ditulis tangan untuk pengucapan /ˈkrɪsməs/. "-mas" berasal dari kata bahasa Inggris Lama yang berasal dari bahasa Latin untuk Misa,[1] sementara "X" berasal dari huruf Yunani Chi, yang merupakan huruf pertama dari kata Yunani Χριστός yang artinya "Kristus” sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Xmas

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Natal

[3] http://ngrembol-ngrembol.blogspot.com/2015/01/wisata-pesugihan-hari-pertama.html

[4] https://www.youtube.com/watch?v=mJhLUrAdvwk

[5] http://www.touchstonemag.com/archives/article.php?id=16-10-012-v

[6] ibid

[7] http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-lahir-tanggal-25-desember/

[8] ibid

[9] http://www.sarapanpagi.org/menjawab-polemik-kelahiran-yesus-sang-mesias-25-desember-vt9391.html

[10] Markus Aziz, Khalil, The Coptic Orthodox Church (Montreal, Canada: The Coptic Orthodox Patriarchete,t.t), p.35

[11] Richard Booker, Jesus in the Feast of Israel (Shippensburg, PA: Destiny Image Publishers, 1987), pp.10-11. Cf. “Syriac Calendar” dalam Alexander Roberts, D.D and James Donaldson, L.L.D (ed), The writings of The Fathers Down to A.D. 325 Ante Nicene fathers. Volume 8 (Peabody, Massachussets, 1994), pp.66

 

[12] Al-A’Id al-Tsabitah”, dalam Mar Ignatius Zakka I ‘Iwas, At-Tuhfat ar-Ruhiyat fii ash Shalat al-Fardhiyat (Allepo: Dar Al-Raha lil Nasyir, 1990), p. 204

[13] Iris Habib al-Mishr, The Story of The Copts (Kairo: The Middle East Council of Churches, lt.t), p. 563

[14] Markus Aziz Khalil, Op.Cit, p.33

[15] Pengakuan itu diterbitkan UNESCO dengan judul: The Modern Science of Astrology, terbit di London, 1966.

 

[16] https://www.isadanislam.org/kepercayaan-orang-kristen/umat-beragama-wajib-merayakan-natal/

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.