Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini19
Kemarin646
Minggu Ini665
Bulan Ini12007
Total Pengunjung726964

IP Kamu 54.162.227.37 Tuesday, 19 June 2018

Guests : 38 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

Kami sedang membangun ruangan Ibadah 17 x 10 Meter
Kami bersyukur untuk yang berkenan berpartisipasi dan menyelesaikan melalui dana yang disalurkan ke rekening :
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

LAPORAN PENERIMAAN AKAN DIKIRIMKAN 

KEPADA YANG BERSANGKUTAN

 

1

Hasil gambar untuk bri

023001045727503

TIMOTIUS BAKTI SARONO

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

KAWIN LAGI SOLUSI TERBAIK

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

foto timotius.jpg

Penulis sama sekali tidak bertujuan menjadi provokator dengan tulisannya supaya rumah tangga kristen yang retak dipatahkan melalui keinginan kawin lagi atau perkawinan yang sudah pudar akan dipadamkan oleh “second married” dengan pasangan yang berbeda! Malah justru sebaliknya penulis berharap tulisan ini dapat memperkokoh kehidupan rumah tangga orang percaya, apapun yang terjadi, rumah tangga harus kuat seperti kasih Kristus yang tidak pernah luntur terhadap pengkhianatan dan perzinahan mempelainya yakni Jemaat Tuhan!Penulis sama sekali tidak bertujuan menjadi provokator dengan tulisannya supaya rumah tangga kristen yang retak dipatahkan melalui keinginan kawin lagi atau perkawinan yang sudah pudar akan dipadamkan oleh “second married” dengan pasangan yang berbeda! Malah justru sebaliknya penulis berharap tulisan ini dapat memperkokoh kehidupan rumah tangga orang percaya, apapun yang terjadi, rumah tangga harus kuat seperti kasih Kristus yang tidak pernah luntur terhadap pengkhianatan dan perzinahan mempelainya yakni Jemaat Tuhan!

Paulus mengingatkan bahwa “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.". (2 Timotius 2:13) Perlu dipahami bahwa hubungan umat Allah dengan Allahnya digambarkan sebagai kehidupan suami istri. Allah sendiri yang bertindak sebagai seorang suami. Yesaya  62:5 menyatakan  “sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu”. Kasih Tuhan kepada jemaatNya digambarkan dalam kitab Kidung agung dalam dialog yang indah, -- Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. -- Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita. (Kidung Agung 1:15,16). Apabila suami istri saling mengagumi satu dengan yang lain dan memiliki keterikatan dan ketertarikan yang indah maka tidak akan ada kamus keretakan apalagi menjurus sampai kepada perceraian!
Tuhan tidak pernah mengusir atau menceraikan kekasihnya sekalipun begitu banyak pelanggaran oleh umat kepada kekasihNya. Yesaya 50:1 menyatakan “Beginilah firman TUHAN: "Di manakah gerangan surat cerai ibumu tanda Aku telah mengusir dia? Atau kepada siapakah di antara penagih hutangKu Aku pernah menjual engkau? Sesungguhnya, oleh karena kesalahanmu sendiri kamu terjual dan oleh karena pelanggaranmu sendiri ibumu diusir. Walau harus juga diakui karena kebebalan umatNya khususnya dalam hal perselingkuhan, Israel specilialisnya sehingga membuat Tuhan muak dan menceraikannya. Yermia 3:8 Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahmu Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia jugapun pergi bersundal. Namun sikap Tuhan yang menceraikan umatNya karena zinah tersebut bukan harga mati dimana perceraian itu selama-lamanya tetapi sebaliknya Tuhan kembali masih mau menerima umatNya apabila mau bertobat. Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku! (Hosea 2:15)
Tulisan ini juga bukan bertujuan memberikan solusi bagi mereka yang sedang gelisah dalam perkawinannya dengan harapan dapat menceraikan istrinya dan menikah lagi! Artikel ini akan berdampak positif bagi mereka yang sedang membutuhkan solusi dari kesendiriannya! Ketika ditinggal mati oleh kekasih yang ia cintai atau ditinggal suami dalam keadaan status “cerai” resmi dari catatan sipil. Masih muda dan memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga yang lebih harmonis lagi maka tulisan ini akan memberikan “obat” pertimbangan dan solusi terbaik dalam mengarungi hidup selanjutnya.  Sebab ada beberapa pengajaran hamba Tuhan yang antipati akan perkawinan ulang tanpa menyelidiki latar belakang dari bubarnya perkawinan pertama. Para pengajar tersebut mendasarkan hanya satu atau dua ayat yang menjadi ayat kunci. Dan itu diterapkan kepada semua orang tanpa menyelidiki latar belakang ayat tersebut sehingga banyak jemaat bingung dalam mengambil keputusan, menikah lagi atau tetap single parent saja.
Perceraian bukanlah suatu fatamorgana dibelantara kehidupan orang percaya! Sekalipun diharamkan dilingkungan gereja tetapi kenyataan perceraian Jemaat Tuhan jumlahnya tidak menurun tetapi semakin meningkat seiring merebaknya dosa dan kenajisan di akhir zaman ini. Jadi memang harus diakui bahwa perceraian adalah pengalaman hidup yang menyakitkan, jauh lebih baik putus pertunangan daripada perceraian. Perceraian harus diantisipasi bahwa rumah tangga adalah keindahan yang tidak dapat ditukar oleh apapun di dunia. Perkawinan yang sudah berdurasi puluhan tahun saja bisa kandas ditengah jalan, apalagi mereka yang baru beberapa tahun saja, jika tidak diantisipasi keretakan akan selalu menghadang di depan pintu. Pengalaman penulis menyaksikan rumah tangga yang dibangun dari nol sampai anak-anak kuliah, kerja dan yang lain menikah, usia suami istri yang sudah diatas 50 tahun saja bisa cerai, berantakan gara-gara suami tidak dapat mengekang hawa nafsunya sementara sang istri memiliki penolakan yang serius!
Ada begitu banyak kontroversial tentang pernikahan kembali setelah perceraian yang menyakitkan. Apalagi perceraian terjadi bukan karena ditinggal mati oleh pasangannya melainkan perceraian akibat kandasnya keharmonisan bahtera rumah tangga akibat dari perselisihan, ketidak cocokkan,  perzinahan atau berbagai macam masalah lainnya. Biasanya perkawinan kembali  ini menjadi perguncingan di kalangan jemaat kristen yang belum dewasa rohaninya, mereka lebih suka menggosip, mencibirkan bibirnya dan memvonis tukang kawin cerai daripada mendukung pernikahan ulang tersebut. Apalagi mereka yang mengadakan kawin lagi dalam waktu singkat sebulan atau satu tahun kemudian setelah ditinggal mati oleh pasangannya, biasanya akan mendapat reaksi keras oleh oang-orang sekitarnya! Biasanya reaksi negatif  dari yang apriori sampai fitnah sudah menjalin hubungan jauh sebelum semuanya terjadi baik perceraian atau ditinggal mati!

Penolakan Jemaat

Secara umum masyarakat kristiani tidak mau menerima para hamba Tuhan, baik Pendeta, Gembala Sidang atau Pengkotbah yang menceraikan istrinya dan kemudian kawin lagi dalam waktu singkat. Tidak peduli alasan menceraikannya benar atau tidak, mereka yang tidak tahu masalahnya akan memvonis “minor” terhadap hamba Tuhan yang kawin cerai!  Biasanya hamba Tuhan ini dapat diterima atau membangun pelayanannya setelah beberapa tahun perceraiannya, sehingga jemaat sudah lupa terhadap masalahnya. Mungkin juga ia dapat membangun jemaat antar kelompok yang hanya mendukungnya saja, tertarik akan karunianya atau kelompok yang tahu duduk masalahnya! Namun jauh lebih baik lagi jika hamba Tuhan ini membangun rumah tangganya diluar kota atau membangun pelayanannya ditengah-tengah masyarakat yang tidak tahu masalah kehancuran rumah tangganya.
Penolakan masyarakat Kristiani pada umumnya menganggap hal tersebut diatas dengan argumentasi bahwa mengurus satu orang saja “istri’ tidak pecus apalagi mengurusi jemaat. Paulus mengatakan dalam suratnya kepada Timotius Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? (1 Timotius 3::5). Berdasarkan ayati inilah maka banyak gereja menolak dan membuang hamba Tuhan “korban perceraian”  daripada menerima dan mengobatinya! Standar utama yang diharapkan oleh sebuah jemaat loka adalah menyaksikan hamba Tuhan yang berhasil dalam perkawinannya! Kalau ia gagal mengkotbahi istrinya sendiri bagaimana mungkin akan berhasil mengkotbahi istri orang yang tidak ada sangkut pautnya? Pengkotbah bukan sedang memberikan informasi firman Allah saja tetapi juga contoh kehidupan bagaimana mempraktekkan Firman ditengah rumah tangganya! Melalui surat Paulus kepada Timoitus yang mengharuskan hamba Tuhan itu bisa mengepalai keluaarganya sebenarnya tidak diungkapkan contoh tersebut oleh Timoitus maupun Paulus!  Bagaimanakah hubungan Timotius dengan istrinya dan anaknya? Apakah ia tidak menikah atau menikah? Dalam seluruh pelayanannya Alkitab tidak menyinggung sama sekali! 
Jemaat atau hamba Tuhan yang menolak perkawinan kembali mayoritas pola pikirnya selalu berangkat dari Matius 19:6 menyatakan “demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Bagaimanakah menterjemahkan kata  “apa yang dipersatukan Allah” ? tersebut dalam pernikahan Kristen? Adakah semua perkawinan yang diberkati Pendeta di altar Tuhan selalu disatukan oleh Allah sendiri! Jawabnya singkat, belum tentu! Inilah yang menyebabkan biang kerok retaknya perkawinan atau perselingkuhan dalam tubuh Kristus! Bahkan ada beberapa pasangan yang Allah tidak pertemukan, tetapi mereka menyatukan dirinya sendiri dan kemudian memaksakan diri untuk menikah dan diberkati Tuhan! Pendeta hanya memberikan“stempel” disatukan oleh Allah tanpa bertanya sendiri kepada Tuhan! Perkawinan model tersebut hanya karena  kehendak manusia bukan kehendak Allah. Pasangan ini terjadi hanya karena kekerasan hatinya. Apalagi sudah terjadi “kecelakaan” maka dengan terpaksa pernikahan itu terus dilangsungkan. Tuhan tidak pernah memberangus kehendak bebas seseorang dalam segala hal termasuk dalam pemilihan jodoh.
Tidak ada satupun orang yang dapat memastikan bahwa jodohnya pasti dari Tuhan selain mereka yang dapat mendengar suara Tuhan secara audibel atau mereka yang mendapat tanda-tanda khusus. Salomo dalam hikmatnya yang luar biasa melebihi rata-rata manusia pada umumnya gagal membangun rumah tangganya. Ia mempunyai tujuh ratus isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN  (1 Raja-raja 11:3). Siapakah yang memiliki hikmat atau kehidupan yang bisa melebihi Salomo? Tentu tidak ada bukan? Jadi memang sangat sulit dapat mengklaim kata “apa yang disatukan oleh Allah”
Para Pendeta yang sering memberkati perkawinanpun tidak pernah memiliki sinyal dari Tuhan apakah mempelai yang sedang ada dihadapannya benar-benar merupakan kehendak Tuhan atau kehendak mempelai itu sendiri. Sebab Pendeta hanya bertugas untuk menyampaikan apa yang Tuhan kehendaki dan disamping itu menjadi alat sebagai penyaluran berkat dan restu dari Tuhan. Banyak anak Tuhan tidak memiliki kepekaan yang akurat dalam menerima sinyal dari Tuhan tentang jodoh yang dihendakiNya. Sebenarnya kata “yang disatukan oleh Allah” memiliki arti rumah tangga yang dibangun dalam ketaatan kebenaran Firman Allah yang mutlak, tinggal didalam Firman dan tidak melenceng sedikitpun dari jalur yang sudah ditetapkan Allah. Apabila seorang suami atau istir  keluar dari jalur ketaatan atau hirarki yang sudah ditentukan Tuhan maka gugurlah yang dimaksud dengan “Apa yang sudah disatukan oleh Allah” tersebut. Perahu tersebut akan kehilangan kemudi dan tersesat di lautan luas sehingga perlu pertolongan dari Tuhan sendiri sebagai kepala rumah tangga.
Rumah tangga harus berbentuk segi tiga dimana Tuhan harus berada dipihak ketiga sebagai perekatnya. Sebab dua pribadi tidak akan bisa bersatu jika tidak ada sebagai perekatnya! Jika Tuhan menjadi pihak ketiga sebagai perekatnya maka dapat dipastika Ia melebihi lem manapun juga, tetapi jika sebuah rumah tangga sudah mulai membuang kebenaran Firman maka dapat dipastikan akan terjadi keretakan! Tetapi jika pihak ketiga itu sebagai pil atau wil (baca celebration of sexs) maka rumah tangga itu bukan hanya retak dan terpisah tetapi menghasilkan akar pahit dan kebencian.
Ada begitu banyak faktor pernikahan yang tidak berangkat dari kehendak Tuhan tetapi berangkat dari faktor manusia, usia, kebutuhan biologis, “kecelakaan di motel atau hotel”, menyangkut soal status dan masih banyak lagi. Belum lagi faktor kuasa kegelapan, yakni santet, pelet dan masih banyak deretan lain yang dapat diperhitungkan! Masih sangat sedikit pernikahan yang betul-betul didasarkan atas kehendak Tuhan!  Konseling pra pernikahan yang ada hanya ditujukan untuk membangun rumah supaya baik, sukses dan tidak bercerai. Tidak pernah sekalipun ditanyakan bagaimanakah caranya mengetahui pertemuan mereka Tuhan sendiri yang menghendaki!

Larangan kawin lagi

Larangan kawin kembali dikumandangkan oleh Yesus kepada para pendengarnya waktu itu, Lukas 16:18 menyatakan “setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuah zinah." Kebenaran yang diungkapkan oleh Yesus ini sering kali dipakai sebagai pedoman oleh hamba Tuhan dalam memberikan nasehat bagi mereka yang ingin kawin lagi! Dengan membabi buta menerapkannya bagi seluruh jemaat Tuhan di sepanjang zaman! Padahal Yesus berbicara orang tertentu dalam situasi yang khusus, perkataan Yesus tersebut bukan harga mati bagi orang percaya sepanjang abad! Hasil percakapan itu hanya berlaku dalam kebudayaan tertentu dan tidak berlaku dalam masyarakat yang lain. Apabila diterapkan kepada kelompok atau kebudayaan yang berbeda dalam durasi waktu yang jauh maka akan menjadi masalah besar! Sangat fatal bila menerapkan ayat tersebut secara membabi buta! Sangat merugikan dan membuat banyak orang kristen merasa diri bersalah dan berdosa jika mengadakan perkawinan ulang!
Sebenarnya Yesus Kristus tidak ingin terlibat pertengkaran atau perdebatan mengenai persoalan perceraian! Yesus tidak ingin terjebak untuk dimanfaatkan orang-orang farisi yang didalam kalangannya sendiri mereka memiliki perbedaan yang tajam mengenai perceraian.  Para cendekiawan Yahudi lebih banyak mempersoalkan penyebab perceraian itu sendiri. Sebagian diantara mereka menganut aliran lunak dan yang lain menganut aliran yang sangat keras! Mereka mencari solusinya, dan solusi terbaik adalah Yesus Kristus yang terkenal dengan hikmat dari Allah! Orang farisi sedang memanfaatkan Yesus untuk mencari jalan keluar tengah-tengah tidak terlalu lunak atau keras padahal Yesus Kristus yang memiliki banyak pengikut memiliki sikap yang pasti jauh berbeda dengan sikap orang-orang Farisi! Hal itu diketahui melalui berbagai pengalaman jebakan-jebakan (trap) yang selama ini diluncurkan kepadaNya!  Mereka sedang berdebat mencari solusi terbaik dari percerain. Namun konsetrasi mereka hanya terfocus kepada penyebab tetapi Yesus ingin memberikan kebenaran dari akibat perceraian itu menghasilkan produk perzinahan!
Markus 10:2 menyatakan “maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepadaNya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Orang-orang farisi sangat tahu Yesus memiliki kebenaran yang keras tanpa kompromi apapun juga. Namun yang terjadi adalah  Yesus berusaha menghindar akan pertanyaan tersebut malah justru Yesus ganti bertanya kepada orang-orang Yahudi! Tetapi jawabNya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." (Mark 10:3-4). Inilah tehnik yang sering digunakan oleh Yesus untuk memberi jawab yang tepat kepada orang farisi. Setiap jebakan yang orang farisi berikan selalu kandas dengan pertanyaan ulang yang dilontarkan Yesus (Baca, Luk 20:24; Mat 21:25; Yoh 8:7). Namun kali ini situasinya sangat berbeda,  orang farisi tidak meladeni atau menjawab pertanyaan ulang Yesus! Mereka masih sibuk mencari penyebab perceraian dan berpedoman tentang hukum Musa yakni adanya surat cerai yang menandakan bnoleh menceraikan!
Orang-orang farisi tidak sadar bahwa Musa sedang memuaskan kedegilan atau kekerasan umat Israel waktu itu hingga keluarlah dekrit surat cerai tersebut! Sebenarnya Musa tahu pasti bahwa Allah membenci perceraian, tetapi karena ketegaran hati bangsa Yahudi maka diizinkannya perceraian! Undang-undang perceraian dari Musa harus ada surat cerai! (Mat. 5:31;19:7; Mark 10:4; Ulangan 24:1,3), Mengapa harus ada surat cerai? Kalau pernikahan kembali dilarang? Jika kawin lagi merupakan perzinahan maka surat cerai itu tidak ada artinya dan tidak dibutuhkan!  Surat cerai itu merupakan keterangan atau status dari seorang wanita, sehingga jika ia akan menikah lagi maka ia tidak dipersalahkan atau terikat dengan seorang pria manapun juga dan surat cerai tersebut sebagai bukti autentik!
Yesus ingin memberitahukan kepada orang-orang yang keras kepala tersebut bahwa perceraian akan menghasilkan perzinahan! Artinya melalui perceraian seseorang bisa membuat orang lain berzinah. Anggap saja seorang wanita di zaman Yesus yang tidak bekerja yang hanya menggantungkan nafkahnya dari suaminya! Ketika suaminya meninggalkan atau mengusirnya dengan tidak memberi bekal  maka yang terjadi adalah wanita tersebut tidak lagi  bisa mencari nafkah apalagi jika ia tidak memiliki keahlian untuk menghidupi dirinya! Maka ia bisa menjual dirinya demi nafkahnya. Jelas saja siapapun laki-laki yang “affair” dengan dia sedang melakukan perzinahan!
Disamping hal tersebut diatas Yesus menegaskan lagi bahwa “Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." (Mark 10:12). Biasanya inisiatif menceraikan itu keluar dari pihak pria tetapi ungkapan Markus ini hanya bisa terjadi dikalangan Roma dimana istri bisa mengambil inisiatif jika melihat tingkah polah suaminya yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi! Namun Yesus memberikan prinsip yang sama bahwa perceraian itu bisa mengakibatkan perzinahan!  Kata berzinah yang diungkapkan Yesus dalam bahasa aslinya Moicheuo dibaca  moy-khyoo'-o diterjemahkan commit adultery/menjadi berzinah!
Jika hukum larangan perkawinan yang diungkap Yesus itu merupakan hukum hurufiah maka itu akan bertentangan dengan kebenaran yang diungkapkan oleh Paulus yang juga berada didalam pewahyuan Roh Kudus bahwa lebih baik kawin daripada terbakar oleh hawa nafsunya! Disamping hal tersebut efek negatif dengan dilarangnya kawin lagi Yesus sedang membuat perselingkuhan yang jauh lebih banyak! Ketika seseorang diceraikan atau menceraikan maka libido atau kebutuhan biologis seseorang tidak serta-merta hilang, melainkan tetap ada bahkan menuntut pemenuhannya. Sebab selama ia sebagai suami atau istri ia dapat dipenuhi pasangannya, lantas kalau sudah bercerai, darimanakah pemenuhan tersebut? Perlu diingat bahwa Yesus tidak pernah memerintahkan sesuatu yang memberatkan umatNya  (Mat. 11:30).

Lebih baik kawin

Paulus menjelaskan dalam suratnya kepada Jemaat Korintus  “Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu” (1 Korintus  7:9) Sekalipun Paulus tidak menikah tetapi ia  tahu pasti bahwa kebutuhan biologis seseorang harus dipenuhi sewajarnya! Paulus menjaga jemaatnya agar tidak hidup dalam perzinahan sebab orang yang hidup dalam perzinahan tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah! Efesus 5:5 menyatakan       Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Jika dikaji lebih jauh dosa berzinah tidak berhenti setelah orang menikah malah justru sebaliknya setelah menikah malah justru rumah tangga harus membentengi diri supaya tidak jatuh dalam dosa yang satu ini. Dosa perzinahan sesudah menikah atau sebelum menikah sebenarnya sama ganasnya dalam mengincar kehidupan orang percaya!Dan ini tidak hanya mengacu kepada pria saja tetapi juga wanita.
Lebih jauh Paulus mengatakan kepada Timotius “Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburukkan nama kita” (1 Timotius 5:14). Paulus menjaga nama baik seluruh jemaat Tuhan sebab bila satu orang memperoleh cela dari perkataan orang lain maka seluruh kawanan domba yakni jemaat terkena imbasnya. Seandainya diambil contoh bahwa seorang janda muda selalu menjadi bahan pergunjingan di dalam jemaat maka suasana jemaat tersebut dipenuhi oleh gosip murahan yang menimbulkan perselisihan antara yang pro dan kontra. Apalagi bila janda  tersebut juga tidak dapat mengekang lidahnya dan selalu mencari perhatian maka para istri-istri jemaat yang baik-baik akan apriori dengan seluruh tingkah laku janda “ganjen’ tersebut sebab takut-takut suaminya terseret oleh godaan si janda muda yang menjadi jemaat tetap. Salah satu solusinya adalah jemaat itu menyingkirkan janda tersebut kalau tidak jemaat harus dewasa dan mau menerima orang lain status setiap orang dengan baik!
Disamping itu harus diakui bahwa kebutuhan biologis dimiliki semua orang, walaupun kadarnya berbeda-beda mau tidak mau kebutuhan itu harus terpenuhi jika tidak pasti ada efek negatifnya. Secara kasad mata saja bila orang lapar tidak terpenuhi maka akan jadi jahat menghalalkan segala cara apalagi persoalan yang didalam jiwa. Kebutuhan biologis memang tidak seganas bila seorang mengalami kelaparan. Kebutuhan biologis ini bisa ditahan dan tidak dipenuhi setiap waktu tetapi efek sampingannya tidak bisa dielakkan. Harus ada orang yang sanggup memberikan solusi untuk kebutuhan yang satu ini, melalu berbagai macam perhatian, kasih dan berbagai kegiatan dan kesibukan sebagai pelampiasan kesepiannya. Orang harus sadar bahwa kebutuhan “intim’ bila sudah didapatkan melalui “intim” dengan Tuhan maka dapat dipastikan keintiman kepada manusia yang merupakan kebutuhan bisa “tergeser’ sebab keintiman dengan Tuhan melebihi keintiman dengan siapapun juga. Jemaat yang sendiri harus dididik memenuhi kebutuhan jiwanya dengan keintiman pelayanan bersama Tuhannya jangan sampai ia terjerat memenuhinya melalui “petualangan” yang menenggelamkan dia dalam dosa dan kenajisan! 
Harus diakui bahwa predikat janda atau duda merupakan predikat yang “minor” dilingkungan dunia Timur. Orang cenderung berbelas kasihan atau memandangnya minor terhadap status tersebut akibat perceraiannya. Orang tidak membutuhkan penjelasan secara detil akibat perceraian tetapi tanggapan umum melekat bahwa janda patut dikasihi dan diperhatikan. Namun benarkah demikian? Banyak orang tidak sadar, tidak sedikit juga janda yang terhormat bahkan lebih terkenal, lebih mapan dalam bidang ekonomi dan tingkat sosialnya dibanding ibu-ibu rumah tangga yang hanya dirumah dengan mengelola penghasilan suami. Banyak janda kaya yang menerima warisan suami atau janda yang giat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan atau dalam pelayanan tanpa diganggu oleh anak, suami atau orang lain sebab ia bagaikan wanita lajang! Tanpa mempedulikan kebutuhan biologisnya sehingga ia menempati ekonomi yang mapan, keuangan yang lebih dibanding para istri yang hanya dirumah menerima penghasilan suami setiap bulannya. Banyak janda  memiliki wawasan yang lebih luas sebab ia tidak lagi terikat dengan suami maka ia memiliki kebebasan mutlak dalam bergaul, berintertaint ria keluar kota maupun keluar negeri tidak ada yang melarangnya sehingga ia memiliki predikat wanita karir yang berhasil.
Jadi dengan kata lain seseorang tidak dapat memvonis status janda atau duda sebagai sesuatu yang minor, sebab ada banyak janda yang menjadi Presiden seperti Chorason Aquino dll. Sebaliknya janda yang mendapat support dari mantan suaminya dengan kelimpahan setiap bulannya, dan aliran dana ini terus rutin mengucur dengan syarat tertentu! Jika syarat tersebut dialirkan selama selama mantan istrinya belum menikah lagi maka jauh lebih tidak menikah!  Jika usia wanita yang ditinggalkan sudah lanjut usia maka tidak dibutuhkan pernikahan lagi. Orang model ini harus menyalurkan kesepian dan kebutuhan biologisnya dengan berbagai macam kegiatan, kesibukan dan pekerjaan terlebih jauh lebih indah kalau ia melibatkan lebih banyak dalam pelayanan!
Gereja harus meminimise keretakan rumah tangga kalau tidak bisa meniadakan perceraian (baca artikel perceraian anak Tuhan)! Namun masalah utama yang harus dihadapi gereja bukan saja menghambat laju perceraian tetapi juga harus mengobati mereka yang sudah terkapar tidak berdaya dalam kehancuran rumah tangga yang sudah berkeping-keping. Pengobatan itu bisa saja mengadakan second married dengan pasangan yang ditinggalkannya dengan saling mengampuni. Hal itu tentu membutuhkan waktu konseling, pelepasan dan inner healing  dan gereja kembali menemukan “anak hilang” dan mengembalikannya ke gereja dan menyambutnya kembali dengan melupakan masa lalunya, apapun sakitnya dari kedua mantan mempelai tetapi harus saling menerimanya, itu jauh lebih baik daripada hidup dalam petualangan cinta yang tidak jelas rimbanya!
Hal terpenting juga seorang istri yang sudah ditinggal suaminya menikah lagi sering kali ia merasa kesepian dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Seandainya ada seorang pria ingin menyuntingnya tetapi ia tidak mengerti kebenaran merasa takut menikah lagi, atau menikah lagi tetapi merasa berdosa maka kebenaran judul diatas merupakan solusi yang perlu dipertimbangkan.

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.