Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini753
Kemarin894
Minggu Ini1647
Bulan Ini13658
Total Pengunjung748807

IP Kamu 54.161.40.41 Tuesday, 17 July 2018

Guests : 42 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MEMBUSUK DALAM DEPRESI

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

 

Setiap manusia yang ada di planet bumi ini ditakdirkan untuk  bergumul menghadapi berbagai penatnya beban persoalan dan panca roba kehidupan yang silih berganti. Siapapun yang pernah dilahirkan  dari kandungan seorang ibu akan menyuarakan tangisan ketika pertama-tama mengunjungi bumi ini, hal itu menandai berbagai penderitaan yang menghadang di depan mata. Sebelum keluar dari rahim ibunya seorang bayi terbungkus dalam keheningan yang sempurna. Yang ia rasakan hanya kenikmatan hidup dalam dekapan kasih dari Sang Ibu yang terus menerus mensuplay oksigen dan nutrisi yang dibutuhkannya tanpa meminta dan berusaha sedikitpun, itulah keindahan ciptaan tenunan Allah.[1] Usai keluar dari keheningan dan kenikmatan hidup dalam tenunan Allah maka bertubi-tubi manusia mengalami berbagai multi dimensi beban kehidupan.

Yang terburuk dalam hidup manusia adalah membiarkan yang terburuk itu sendiri mengendalikan hidupnya, seharusnya sebaliknya manusia yang harus mengendalikannya. Sebagai akibat yang ada maka original manusia sebagai ciptaan Allah yang indah, penuh kemuliaan dan keagungan hilang tidak berbekas dan menjadi terhina. Manusia menjadi rentan, gampang kecewa, marah terhadap keadaan bahkan diantaranya membusuk dalam depresi. Tidak sedikit mereka yang hilang harapan mengakhiri dirinya dengan bunuh diri. Sudah membusuk di bumi maka juga membusuk dalam kebinasaan. Mereka berpikir telah menyelesaikan masalahnya namun justru keputusan yang diambilnya membawa penderitaan selama-lamanya.

Depresi sendiri adalah suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari. Depresi diakibatkan karena stress dengan durasi yang panjang tanpa solusi dengan baik. Orang yang tenggelam dalam beban maka akan mempengaruhi cara eksistensi diri sendiri dalam  kegiatan dan keluarga. Orang yang stress berkepanjangan akan menjadi depresi bahkan diantaranya hilang harapan dan ingin mengakhiri hidupnya. Orang bisa stress namun harus bisa mengelola stress dengan baik sehingga stress dapat dipakai untuk kekuatan ekstra untuk berharap kepada Tuhan. Orang yang tercatat paling stress di bumi adalah Yesus Kristus, tingkat stress yang menekan dirinya bagaikan beban yang menyobek pori-porinya sehingga peluhnya seperti darah. Lukas mencatat “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.[2] Namun Yesus tetap bisa mengelola stress dengan baik sehingga mampu menyelesaikan tugas secara sempurna.

Laporan kompas bahaya stress : “stres berawal di sumbu hipotalamus pituitary adrenal (HPA), di mana terjadi interaksi antara kelenjar endokrin di otak dan ginjal. Hal ini akan mengendalikan bagaimana tubuh merespon stres. Misalnya, saat otak mendeteksi situasi stres, sumbu HPA langsung mengaktifkan dan melepaskan hormon kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama akan memberikan efek tertentu di otak. Stres kronik meningkatkan aktivitas pada koneksi saraf di amygdala (pusat rasa takut di otak), yang juga menyebabkan kadar kortisol meningkat. Kondisi tersebut bisa menyebabkan sinyal elektrik di hipocampus, area otak yang bertanggung jawab pada fungsi belajar, memori, dan kontrol stres, terganggu, menghambat aktivitas sumbu HPA, dan melemahkan kemampuan seseorang mengendalikan stres. Kelebihan hormon kortisol juga menyebabkan otak mengecil, sehingga sambungan-sambungan di otak berkurang. Area otak yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pengambilan keputusan, dan interaksi sosial juga menciut.[3]

                Sebenarnya Allah tidak menciptakan manusia untuk tujuan demikian. Yang ada dalam pola pikir Allah bahwa Ia menciptakan manusia dengan istilah imagodei [4]  dengan kata lain manusia  sebagai  “reflect splendor”  mencerminkan kemuliaan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan. Originalnya manusia adalah hampir sama dengan Allah sebagai PenciptaNya. Tidak seharusnya manusia terpuruk untuk apa yang terjadi di bumi bahkan segala tantangan yang menghadang. Dari semula manusia telah ditetapkan untuk menjadi penguasa dan berkuasa untuk segala sesuatu yang dihadapinya.[5] Diluar Allah manusia akan menjadi makluk yang paling hina diantara yang terhina. Untuk menghindari seseorang membusuk dalam depresi maka  harus bertindak bijak untuk menikmati apa yang terbaik yang sesuai tujuan semula seperti apa yang Allah kehendaki. 

Pertama seseorang  harus menyadari kembali ke dalam keheningan seperti dalam bayi dalam kandungan sebagai tenunannya Tuhan. Pemazmur dengan jelas mengatakan : “ Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.[6] Kesadaran akan keajaiban dan kedasyatan ciptaan Allah dalam diri manusia tidak boleh diragukan. Disamping hal tersebut seseorang harus sadar ketika Allah menciptakan manusia maka tidak ada ruang untuk stress, depresi dan berbagai beban. Manusia hanya dilaminating dengan keajaiban Allah yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata manusia. Jika seseorang menyadari keheningan Allah maka Allahlah yang menjadi pusat perhatian dalam kehidupan. Disamping hal tersebut maka manusia menyatu dengan Allah. Dimana yang natural menyatu dengan yang supranatural atau yang Illahi menyatu yang insani. Jika demikian halnya maka dalam bahasa latin coincidentia oppositorum  dimana kesatuan antara Allah dan manusia membuahkan hal-hal yang bertentangan seperti penyakit, kegagalan, kelemahan dan depresi akan dibereskan oleh Tuhan untuk menunjukkan jati diriNya di dalam penyatuan tersebut. Paulus mengatakan dengan jelas bahwa : “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.[7]

Hal yang kedua adalah kesadaran di luar Tuhan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Yesus Kristus mengatakan bahwa .. di luar aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.[8] Lebih lanjut bahwa jika kita tidak menjadi orang dalamnya Tuhan yang digambarkan ranting tidak tinggal pada pokok anggur maka akan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.[9] Setiap orang yang tidak tinggal dalam Tuhan secara otomatis tidak akan menerima suplay nutrisi untuk jiwanya. Sebagai akibatnya adalah tindakan yang buruk, karakter yang mengecewakan. Tindakan ceroboh akan mengarah kepada kejahatan sehingga berbagai perncobaan akan datang. Yesus mengajarkan untuk selalu berdoa dengan kalimat, an janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.[10] Orang akan mendatangkan kesulitan sendiri jika ia selalu jatuh dalam pencobaan, sebab datangnya dari iblis. Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah  tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.[11] Pencobaan yang berasal dari iblis adalah dosa yang menjauhkan diri dari Allah. Segala sesuatu yang tidak ada di dalam diri Allah yang pasti dosa yang mendatangkan letih dan lesu serta berbeban berat.[12]

Untuk itu yang ketiga setiap pribadi harus datang kepada satu pribadi pembebas yakni Yesus Kristus. Yesus menawarkan solusi untuk depresi dengan datang kepadaNya. Karena Yesus Kristus tahu menghadapi berbagai persoalan dan masalah hanya saja Iaa tidak pernah berdosa.[13] Orang yang berani datang kepada Yesus harus meninggalkan dirinya sehingga bisa berkata : hidupku bukanlah aku lagi melainkan Kristus. [14] Dimana jati diri seseorang yang datang kepadaNya? tidak ditemukan lagi sebab sudah menyatu di dalam Kristus Yesus. Mereka yang lemah harus berkata aku kuat, sementara yang sakit harus menikmati kesembuhan, yang berdosa harus menikmati pengampunan, semua itu dikerjakan oleh Yesus sendiri. Tuhan sendiri akan mengubah hal-hal terburuk sekalipun untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan. Paulus mengatakan : “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”[15] malah justru dalam kelemahan kuasa Allah menjadi sempurna.[16]  Coba bisa dibayangkan jika seseorang tidak pernah bisa mengalami sakit, maka akan menjadi sangat bahaya. Bila tangannya di tungku api dan tidak merasakan panas maka lama-lama tangannya akan gosong. Jika kakinya kena mesin dan putus dan tidak merasa sakit maka dengan tenangnya ia akan menyambungnya. Yang demikian itu bukan manusia melainkan berbi atau puzzle. Jika manusia tanpa beban dan penyakit maka manusia terasa seperti dewa yang bisa melakukan apa saja dan melawan Tuhan sendiri. Semua persoalan dikirim untuk menunjukkan bahwa manusia tidak berdaya dan berharap kepada Tuhan. Bukan sekali-kali untuk menjadi stress, dan membusuk dalam depresi. Rasa sakit dan berbagai persoalan bisa dipakai oleh Allah untuk mengingatkan manusia akan kebergantungannya kepada Tuhan selain itu untuk mendewasakannya.  Amsal mengatakan : “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.[17] Jadi berbahagialah setiap orang yang menghadapi persoalan karena seribu persoalan maka akan mendapat seribu jalan keluar. Jika seseorang telah memiliki jam terbang menghadapi berbagai persoalan bersama Tuhan maka Ia akan menjadi dewasa! Setiap ciptaan Tuhan disetting oleh Allah untuk tinggal dalam kemuliaan sorga dan bukan untuk membusuk depresi di bumi! This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.



[1] Mazmur  139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

[2] Lukas 22:44

[4] Manusia Sebagai Imago Dei. Gambar [Ibrani, tselem] atau akal budi, akal sehat, norma-norma, kebebasan moral, dan lain-lain. Rupa [Ibrani, demut] atau sesuai asli, sama seperti aslinya.

[5]  Kejadian 1:26-28

[6] Mazmur 139:19

[7] 1 Korintus 6:17

[8]  Yohanes 15:5

[9]  Yohanes 15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar

[10] Matius 6:13

[11] Yakobus 1:13

[12] Matius 11:28-30

[13] Ibrani 4:15

[14]  Gala 2:20

[15]  Roma 8:28

[16]  2 Korintus 12:9

[17] Amsal 27:17

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.