Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini762
Kemarin919
Minggu Ini6189
Bulan Ini19222
Total Pengunjung1131110

IP Kamu 100.24.209.47 Saturday, 17 August 2019

Guests : 18 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI APRIL 2019)
 
RUKO PASAR MANDIRI LANTAI 2 BENGKEL MOBIL NEW MAJU JAYA
 BLOK M4C NO 32C-32D SEBELUM APATERMEN THE SUMMIT
KELAPA GADING - JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

 

HAMBATAN SUPRANATURAL DALAM GEREJA

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Kekristenan telah kehilangan Spiritualitas yang supranatural.  Seharusnya pengalaman supranatural atau disebut juga mistik (mystical experience) menjadi patron dalam pengalaman spiritual atau keagamaan  (religious experience)[1]. Perjumpaan antara yang natural dan supranatural itulah disebut sebagai pengalaman mistik ini bukan nuansa dukun yang semerbak menyan dan kembang tujuh rupa yang mempersentasikan kuasa gelap melainkan suatu pengalaman bersifat esoteris, karena terjadi pada “inner space” ruang yang sebelah dalam.

Namun bila dianalisa dengan cermat gereja di era modern sekarang memiliki fokus yang sudah menyimpang dari patron kebenaran. Realitas gereja sekarang lebih mementingkan kwantitas jemaat dibanding dengan kualitasnya. Theologia yang benar tidak diperhatikan bahkan  sering kali disingkirkan. Pengalaman adikodrati spektakuler sang pemimpin menjadi komoditas pengajaran yang sanggup menarik ribuan jemaat.  Hal seperti inilah yang menjadi “trend” gereja di akhir zaman. Beberapa gereja dengan kapasitas jemaat yang besar memiliki pengajaran khusus yang berbeda dengan gereja lain dan itu menjadi daya  tarik jemaat Tuhan.    Eka Darma putra menuliskan :  “ bila gereja    sukses dalam memikat banyak anggota, tetapi hidup tanpa theology tidakkan namanya itu organisasi massa, atau klub rohani tapi pasti bukan gereja bukan?[2]

Pengalaman esoterik dianggapnya wahyu dari Tuhan sebagai modal pengajaran yang setingkat “pengakuan iman rasuli” yang harus ditaati dan dijalankan secara mutlak. Perspektif theologis yang dimilikinya didasarkan atas interprestasi metodologi tafsir “hermeneutika” yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kaidahnya  tidak jelas karena didasarkan hanya terdiri dari satu atau dua ayat saja. 

Ellis H. Shotlfield dalam bukunya “Iblis dalam gereja” mengatakan : Karena dengan hanya mentaati satu ayat saja dari perintah yang terdapat dalam Perjanjian baru, maka akan menimbulkan keributan dan sibuk akan peperangan rohani yang (hingga saat ini) saudara sangka hanyalah sesuatu yang bersifat teoritis[3].

Ia mengingatkan bahwa seringkali nubuatan-nubuatan pribadi atau pengalaman-pengalaman karismatik  bisa ditempatkan sama atau bahkan berada di atas Alkitab itu sendiri[4]. Bahkan dianggapnya sudah paling sempurna dan statis, tidak bisa dan tidak boleh diubah. Orang hanya harus menerima dan mempelajarinya[5]. Persepsi ayat-ayat tersebut dipandangnya sebagai produk utama gereja yang terus menerus dan berulang-ulang disampaikan kepada Jemaat dari mimbar gereja, warta, dan media sosial secara massif.   Beberapa contoh kebenaran yang menjadi  “spiritual selling” tersebut adalah Unlimetted blessing, healing, anointing oil, holy communion, second coming dan masih banyak lagi. Komoditas-komoditas tersebut yang mampu menghinotis jemaat hilang kesadaran akan sentuhan spiritual yang disampaikan sang pemimpin gereja. Karena keyakinan nubuatan sang pemimpin dianggapnya berasal dari Tuhan maka para anggota jemaat merelakan harta benda bahkan hidup mereka sendiri demi sebuah keyakinan yang akhirnya terbukti keliru dan tidak dapat dipertanggung jawabkan[6].  

Pengidolaan Sang Pemimpin mengacu kepada ajarannya, sehingga jemaat diajak untuk tidak menerima pengajaran gereja lain yang divonis sesat. Hal ini  seperti si ular membujuk Hawa untuk makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat dan menunjukkan perintah Allah itu salah alias sesat. “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati , tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah  , tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kej 3:4-5).

Argumen-argumen theologis dalam kotbahnya tidak bisa diklarifikasi atau dikritik siapapun karena telah diklaim berasal langsung dari suara Tuhan. Bagi jemaat yang sudah terlanjur mempercayai pengajaran dari sang pemimpin yang dianggapnya bisa berbicara dengan Tuhan atau mendengar suara Tuhan secara langsung,  tidak mau lagi menerima pengajaran hamba Tuhan yang lain.

Doktrin gembalanya dianggapnya sempurna dan Alkitabiah padahal sangat bertentangan dengan hakekat kebenaran itu sendiri.  Dokrin yang merusak justru lebih tersamar sebagai lambang iblis (Wah 12:9). Ular bermaksud menjauhkan mempelai perempuan dari kemurnian ibadah kepada Kristus. Melalui roh-roh yang menyesatkan ia berusaha menarik hati jemaat kepada ilah lain - untuk melakukan perzinahan rohani. Dengan mempertahankan ortodoksi doktrin dan bahkan kerohanian roh yang lain menyimpangkan arah kasih hati kita[7]

Sang Pendeta memiliki kapasitas dosa Lusifer yang ingin menyamai Allah. Jemaat sudah berTuhankan Sang Pendeta sementara Yesus terdepak dari singgasanaNya.  Dengan kuasa yang dimilikinya ia akan mengendalikan atau mendominasi orang lain, ketaatan jemaat mutlak tanpa tanya. David Orton dalam bukunya ular-ular dalam gereja mengatakan : “suatu virus menyerang tubuh Kristus dan sifatnya sistemik. Virus ini menginfeksi seluruh komunitas Kristen, pendeta, jemaat dan demoninasi …itulah virus kinerja dan kekuasaan,  semuanya berorentasi mencapai tujuan untuk mendapat penghargaan dan pengakuan. Konsekuensinya, produktivitas dan kinerja menentukan harga diri[8]. Ciri pertama dari suatu system religious yang bersifat melecehkan adalah sikap berkuasa. Pemimpin menghabiskan banyak waktu untuk berfocus pada otoritasnya dan mengingatkan jemaat dan pekerjanya secara terus menerus tentang hal itu[9]. Jika otoritas sang Pemimpin nyata tidak perlu mengingatkan secara terus menerus.

Eklusivitas para pemimpin gereja yang defisit rohaninya akan membangun Menara Babel. Realitasnya mencari nama besar denominasinya, dan condong hidup hedonism sebagai dampaknya ia menciptakan Jemaat mencontoh hidup yang Pemimpin yang memiliki kemelekatan dengan dunia ini. Model jemaat ini sama seperti jemaat Laodikia yang tidak agresif dalam kerohaniannya yakni suam-suam kuku (Wahyu 3:16). Tuhan sendiri menolak dan mencela kehidupan yang didasarkan hal-hal yang lahiriah seperti kekayaan, arogansi dengan tidak butuh siapa dan apapun sehingga Tuhan mencela dengan perkataan melarat, malang, miskin dan telanjang.. (Wahyu 3:17-18)

Jemaat sekarang mengadopsi norma-norma Laodikia Mereka menyombongkan kecukupan diri dan tidak membutuhkan Kristus sehingga mereka menjadi buta rohani.[10] Melihat fenomena di atas maka dampaknya agama Kristen dipenuhi para pengikut yang terdistorsi[11]  oleh dokma gereja dan terdegradrasi[12] sekularisme. Inilah yang menciptakan pengkultusan Hamba Tuhan sehingga subtansi jemaat kehilangan essensi religiusnya karena arogansi tokoh-tokoh spiritualnya.Jemaat berTuhankan gembalanya dan Yesus tersingkir dari singgasanaNya. G. Eliot mengatakan  :” mereka telah membuang Tuhan Kristen dan kini merasa bergantung lebih kuat lagi kepada moralitas kristen[13] . Essensi dari kepemimpinannya didasarkan dengan sebuah prinsip “saya adalah otoritas, dan karena saya adalah otoritas, maka  kata-kata saya tidak boleh dipertanyakan, Karena engkau mempertanyakannya, terbukti bahwa engkau salah”[14]

Gereja harus tenggelam dalam dunia roh yakni dunia yang tidak kasad  mata

dimana Tuhan tinggal. Namun realitas yang ada beberapa gereja lebih menekankan hal-hal lahiriah seperti persembahan perpuluhan, buah sulung, persembahan tatangan, ucapan syukur, kolekte yang semuanya ditekankan agar diberkati. Dengan ayat-ayat pendukung seperti : “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukur – kan kepadamu (Luk 6:38) dan  segala pemberian kepada Tuhan akan dikembalikan seratus kali lipat dan beroleh hidup yang kekal (Mat 19:29).

Bila visi gereja, ukurannya banyaknya uang di kantong persembahan. Seperti dunia, setiap program atau model yang membuahkan hasil yang dapat diukur ini dilegalkan dan dikejar dengan penuh semangat[15]. Kalau gereja sukses dalam mengusahakan keuangan tetapi hidup tanpa teologi tidakkah lebih tepat namanya asalah CV atau Firma, tapi pasti bukan gereja[16]. Gereja adalah lahan bisnis yang baik karena banyak prinsip gereja yang bisa digunakan dalam bisnis dan banyak prinsip yang bisa diterapkan  didalam gereja[17]  Bentuk lain dalam menekankan berkat diungkapkan oleh Erastus sabdono dalam bukunya Paradigm  Of Christisan Living menuliskan : “Dalam pertemuan jemaat di gereja, Jemaat disuruh mengangkat tas dan dompet di atas kepala dan seorang pendeta atau pembicara di mimbar “melepaskan berkat finansial” kepada jemaat. Ini praktek perdukunan yang benar-benar menyesatkan dan merusak kemurnian iman Kristen[18].   

Bila gereja hanya menekankan karakter tanpa Kristus maka tidak ada ubahnya menjadi lembaga etika yang mengajarkan bertingkah laku baik tanpa pimpinan Roh Kudus.  Aturan moral terkenal di dunia adalah 10 Perintah Allah[19] dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa orang Yahudilah yang mempraktekkan etika tersebut namun Yesus mengecam dan mengatakan …..Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Matius 5:20).

Benson memberikan komentar dalam ayat ini “ … Sebuah keyakinan yang pasti bahwa “jika dua orang masuk ke dalam kerajaan surga, salah satu dari mereka akan menjadi orang Farisi dan yang lain seorang ahli Taurat.” Hal ini disebabkan karena mereka melakukan hukum Taurat secara lahiriah dan bahwa mereka mempraktekkan setiap perintah dalam hidup mereka denga tepa[20].

Penyebab utama orang Yahudi tidak masuk Kerajaan Sorga bukan saja kesombongannya merasa bisa melakukan Taurat dengan penambahan kira-kira 613 aturan, sehingga tidak mungkin bisa dijalankan dengan sempurna oleh manusia normal (Gal 5:10).  Orang harus sadar Taurat hanya informasi dosa (Roma 3:19-20), dan tidak mungkin orang bisa melakukan secara sempurna Orang yang melakukan Taurat itu adalah orang-orang dibawah kutuk (Gal 3:10)[21].

Fenomena kesembuhan Illahi termasuk komoditas yang sanggup menarik jemaat. Memang harus diakui bahwa Yesus Kristus Yesus sendiri dalam pelayananNya datang dan membuktikan dirinya mampu menyembuhkan orang sakit bahkan lebih dari itu mampu membangkitkan orang mati. Alkitab jelas memberitahukan bahwa : yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi  Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling

sambil berbuat baik dan menyembuhkan  semua orang yang dikuasai Iblis , sebab Allah menyertai Dia (Kis Ras. 10:38). Gereja yang menolak mujizat kesembuhan dapat diidentikkan pelecehan akan karya Yesus yang tidak berubah (Ibr 13:8). Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku   bekerja  sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yoh 5:17).

Walau harus dipahami Kristus tidak menjadikan kesembuhan Illahi menjadi komoditas utama dalam pengajarannya namun kesembuhan sering dilakukanNya.  “Namun yang menjadi persoalan bukan kesembuhannya melainkan media yang dipakai untuk menyembuhkannya.  Fenomena minyak urapan  dan perjamuan kudus sebagai media untuk kesembuhan bagi gereja-gereja tertentu dituduh sebagai praktek perdukunan.  Tidak jarang mereka memberikan “stempel” sesat bagi gereja-gereja yang mempraktekkan kesembuhan alternatif melalui minyak urapan dand perjamuan kudus.

Kekristenan tidak akan bisa masuk dunia supranatural bila masih terikat dengan berbagai berhala, ilah-ilah yang mengikat di bumi. Pada dasarnya hati manusia  adalah berhala: Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya dan menempatkan di hadapan mereka batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan ....” (Yehezkiel 14:3). Berhala-berhala ini bukan berujud patung yang disembah melainkan pemujaan terhadap segala sesuatu yang duniawi seperti mamom, sex, pangkat, jabatan dan masih banyak lagi. Timothy Kelle mengatakan : “ apapun yang mengontrol kita adalah tuan kita. Orang yang mencari kekuasaan dikontrol oleh kekuasaan. Orang yang mencari penerimaan dikontrol oleh orang yang ingin dia sukai. Kita tidak mengontrol diri kita tetapi kita dikontrol oleh penguasa hidup kita[22]. Bila penguasa hidup kita berasal dari dunia ini maka kita tetap menjadi sama dengan dunia namun bila penguasa kita adalah Yesus Kristus maka Ia membawa kita untuk masuk dalam kerajaanNya.

Pesan gereja yang utama harus mengembalikan penyatuan yang natural dan supranatural dalam kehidupan sehari-hari. Gereja tidak boleh terjebak hanya perkara-perkara sekuler dan solusi kehidupan namun harus mampu mendidik jemaat dapat mendiskripsikan pengalaman spiritual yang mencinta. Seperti yang ditulis Ted Hagard dalam bukunya gereja yang memberi kehidupan, menjadi orang Kristen berarti realitas surga mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita dan berhenti melawan satu sama lain dengan tujuan mendapat hikmat untuk bekerja sama dalam keharmonisan dan kepercayaan[23]

Allah yang telah menjelma menjadi manusia di dalam Kristus Yesus telah menunjukkan eksistensi pribadi Allah yang penuh kasih sehingga setiap orang percaya harus memiliki “pengetahuan mencinta”[24] . dan rasa cinta ini harus menguasai menguasai seluruh aspek kehidupan.  Bila umat menyatu dengan Sang Pencipta maka sorga akan memberikan kontribusi untuk seluruh kebutuhan manusia. Para Sarjana menyebutnya dalam bahasa latin “  coincidentia oppositorum” dimana dalam puncak perjumpaan dengan yang suci, berbagai hal yang biasa bertentangan tampak sejalan untuk mengungkapkan kesatuan yang mendasari[25].

Gereja harus memberikan pengajaran bahwa manusia berdosa bukan saja direkonsiliasi dengan Allah tetapi orang berdosa harus melalui tahapan dosa kemudian diampuni serta dipulihkan dan dipermulikan sehingga ketika mati siap dengan penuh kemuliaan. Hal ini hanya bisa terjadi bila seseorang mendapatkan kembali memiliki Gen Tuhan.

Gereja harus dikembalikan seperti jemaat  mula-mula yang melakukan tindakan di luar kewajaran dalam mencintai Sang Mesias rela memberikan segalanya bahkan nyawanya sendiri buat Tuhan. Orang Kristen yang selalu melihat kebutuhan spiritualitasnya, akan mendapati dirinya menemukan Tuhan dengan segala kekuatanNya. Orang harus meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi dalam mengkonsentrasikan diri menemukan Tuhan.

Seorang Tokoh gereja Ignatius Loyola (1491-1556) memiliki program mistis dengan mengadakan retreat selama tiga hari untuk mempelajari hal-hal yang rahasia. Dengan target dan tujuan bahwa usai latihan ini para peserta mendapat kekuatan yang dinamis[26].  Dalam retreat ini Ignatius Loyola membentuk seluruh kaum Jesuit untuk memiliki spiritualitas yang supranatural. Spiritualitas berbicara soal jiwa yakni kedalaman batin manusia yang mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan rohnya. Jiwa yang benar akan memberikan kontribusi untuk rohnya.[27] Roh yang penuh akan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi tentang keabadian atau kekekalan maka akan membentuk orang-orang yang saling mencinta.

Kekristenan cenderung kehilangan supranaturalnya karena mengidentikan diri  dengan agama-agama yang lainnya hanya berkonsentrasi tentang etika, berkat dan solusi hidup.  Diantaranya hanya cenderung mengumpulkan umat untuk menjadi fanatik mencintai gereja dan para tokoh spiritualnya. Karl Marx mengatakan bahwa : “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.[28]

Secara hurufiah kalimat tersebut memiliki arti agama adalah desah nafas keluah dari makluk yang tertekan, hati dari duni yang tak punya hati dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi masyarakat. Bila dianalisis secara konstekstual Karl Mark Ingin mengatakan bahwa agama dapat meringankan beban penderitaan.

Namun publikasi yang gencar telah masuk ke ranah ideologis sehingga memiliki makna yang berbeda.  Semula Tuhan dianggap opium dan kemudian agama, namun sebenarnya tidak demikian halnya.

            Filosophi tersebut ditulis oleh Karl Marx pada tahun 1843 dan terbit pada tahun 1844 di Paris dalam jurnal Deutsch–Französische Jahrbücher,[29]  Karl Mark tidak pernah berpikir bahwa ia sedang membuat ramalan agama di masa depan. Realitas yang ada sekarang agama benar-benar menjadi opium yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran para pengikutnya. Harapan bahwa agama bisa meringankan penderitaan malah sebaliknya memberikan beban berat, menciptakan kekacauan dan kerusakan dimana-mana.

Agama benar-benar menjadi candu para pemeluknya bila kebenaran yang dianggapnya absolute telah menghapus pola pikir normal dan memunculkan nafsu liar yang  menghancurkan tatanan kehidupan.  Analisis ini didasarkan pada para tokoh-tokoh spiritual yang telah terindikasi memanipulasi kebenaran sebagai kebenaran lokal yang merusak tatanan global sehingga terjadi kehancuran peradaban yang ada.

Aktualisasi yang ada sekarang berkumpulnya puluhan atau ratusan orang yang menyebut nama Allah tidak lagi menyejukkan jiwa  namun sebaliknya menjadikan orang takut dan menghindar menjauhinya.  Memobilisasi massa demi meraih kekuasaan, pangkat dan jabatan atas nama agama adalah tindakan bertolak belakang dengan kebenaran itu sendiri. Masyarakat sudah terlanjur terhipnotis oleh kebenaran yang diselewengkan maka mereka memanifestasikan keberingasan dan sikap ketidakberadaban. Pemicu anarkhis dan brutalisme yang identik dengan produk-produk kegelapan tercipta oleh para pemeluk agama yang tidak sesuai dengan patron kebenaran sejati. 

             Prinsip utama agama menjadi opium adalah para rohaniawan mampu mengindoktrinasi kepalsuan seolah-olah menjadi kebenaran hakiki sehingga para penganutnya dapat digerakkan sesuai dengan tujuan tertentu. Spiritualitas yang murni seharusnya berada dalam ranah hati yang tulus dengan ekspektasi karakter yang baik bukan sebaliknya menjadi provokator kejahatan dan teroris. Tidak berhenti sampai disitu gerakannya lebih massif  dan bermultifikasi memasuki kehidupan berbangsa dan bernegara. Ritual spiritualitas modern  telah terindikasi oleh penafsiran yang fatal demi kepentingan politik dan kekuasaan. Yongki Karman mengatakan : “Devaluasi agama di tanah air bukan oleh sekularisasi tetapi oleh politisasi agama, yang dalam bentuk radikalnya berbentuk main hakim sendiri dan merusak tatanan hidup bermasyarakat. Efek devaluasi agama ini jauh lebih mengerikan ketimbang devaluasi yang sama di negara sekuler[30]

Seharusnya agama yang benar adalah memadukan kerohanian dan akal budi untuk membuat kebahagiaan. Hamzah mengatakan : betapa bahagianya pencari- pencari Tuhan yang merindukan penciptanya itu, ketika mereka disambut mesra oleh Tuhan sendiri dalam bentuk petunjuk yang di wahyukannya melalui rasul-rasulnya. Disanalah terdapat perpaduan antara naluri, akal dan wahyu yang membuahkan ma”rifat pengenalan  terhadap Allah dengan sebenar-benarnya[31].

Sebenarnya peran agama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Ruang lingkup agama itu sendiri berguna untuk mengatur tatanan dalam berkeluarga, berbudaya dan melestarikan keharmonisan penduduknya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki masyarakat yang taat kepada agamanya.

Jika masyarakat memiliki hubungan yang benar dengan Allahnya maka hubungan satu dengan lainnya akan terjalin yang baik juga sebab ajaran agama pada umumnya memiliki esensi untuk saling mengasihi dan menghormati. Fakta  kehidupan agama yang dianut sebagian besar masyarakat pada umumnya sudah terdegradasi oleh banyak faktor. Rusaknya agama sendiri tidak disebabkan oleh essensinya melainkan para penganutnya sebagai faktor internal. Dalam hal ini para penganut agama tidak memahami secara mendalam akan kebenaran kitab sucinya.

Sekalipun mereka dapat menghabiskan pembacaan kitab sucinya secara keseluruhan namun mereka terpisah dari sang pemberi kebenaran tersebut. Agama tidak boleh dipakai untuk mengeksploitasi kebobrokan moral dari massa yang beringas dan bar-bar seperti pada masa pra sejarah.

Agama yang benar seharusnya dapat menjadi pedoman hidup dan menjadi tolok ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran harus dihormati sehingga baik atau tidaknya tindakan seseorang tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap agama yang diyakini.  Kekristenan harus menjadi garam dan terang dunia dengan tidak boleh masuk dalam kotak agama melainkan kehidupan langsung bersama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kekristenan agama supranatural mengingatkan umat Allah bahwa hubungan yang absolut terhadap apapun di bumi ini yang melebihi hubungan dengan Allah akan memiliki hasil akhir yang merusak.

Gereja yang mengutamakan hal-hal lahiriah telah kehilangan fungsinya menjadi garam dan terang dunia. Orang harus sadar bahwa kekristenan adalah sebuah realitas berbasis kesadaran[32] akan sosok pribadi yang supranatural. Di dalam iman kepadaNya akan didapati  temuan-temuan transformatif yang akan mengalir deras dari dunia rohani dimana peran Roh Kudus sangat dominan. Yesus Kristus mengatakan : barangsiapa percaya  kepada-Ku, seperti yang dikatakan  oleh Kitab Suci : Dari dalam hatinya  akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yoh 7:38).

Kekristenan bukan sebuah agama atau lembaga melainkan cara hidup yang merasakan keaktifan kehadiran Allah Sang Pencipta di dalam hidupnya. Intervensi Illahi harus mendominasi pola pikir, hati, jiwa dan tindakannya sehingga seluruh kepenuhan Kristus melimpah dalam kehidupan umatNya.

Tuhan ingin mengubah dimensi manusiawi menjadi dimensi Illahi. Paulus menyebut orang tebusan sebagai manusia Allah (1 Tim 6:11). Ini berarti kodrat manusia yang berdosa dan terhilang dari Allah dikembalikan kembali dengan kodrat Illahi seperti gambar dan rupa Allah sehingga tidak ada jarak lagi.  

Kekristenan merupakan penjelmaan dari karakter Bapa di Sorga.  Orang percaya harus menghilangkan dimensi yang bernuansa natural untuk menjadi supranatural. Manusia Allah harus  bergerak, bertindak dan berkata serta berpola pikir seperti pribadi Allah jika tidak demikian merupakan kegagalan yang fatal dalam kehidupannya. 

Standar kehidupan orang percaya harus seperti Paulus katakan : “ namun aku hidup, tetapi bukanlagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah  yang telah mengasihi aku  dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20) 

Gereja Tuhan sudah kehilangan jati diri sebagai prototype hidup di sorga selama di tinggal di bumi. Perlu pemahaman yang serius bahwa kekristenan memiliki area khusus yang Yesus sebut sebagai Kerajaan Allah. Gereja tidak boleh membangun kenyamanan di bumi karena hal-hal yang lahiriah. Jika demikian maka akan didapati bahwa mereka essensi dari kekristenan  itu sendiri. Yesus berkata  bahwa : “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu (Lukas 17:21). Yesus sedang mengingatkan para pengikutnya posisi yang sebenarnya mereka sedang hidup. Mereka tidak sedang tinggal di dunia yang kasad mata melainkan mereka sedang berada dalam area Kerajaan Allah yang tidak kelihatan.

 Lebih dari itu bahwa kerajaan Allah telah menjadi hak milik orang percaya. Iapun  berkata bahwa : “Janganlah takut,  hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu (Lukas 12:32). Informasi akan kerajaan itu bukan berasal dari dunia yang kelihatan tetapi dari dunia yang berbeda, "Kerajaan-Ku  bukan dari dunia ini ; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,  akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini (Yohanes 18:36). Untuk itu Paulus mengingatkan bahwa setiap orang percaya harus mencari perkara-perkara yang di atas dimana Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa (Kol 3:1)

Kekristenan harus kembali hidup seperti hidup di zaman Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa dimana manusia dan Allah tidak terasing satu dengan lainnya. Jika demikian jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga (Matius 6:10). Gereja kehilangan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Dampak dari kehilangan ini gereja menjadi tidak berdaya dalam bersaksi. Gereja hanya sebatas ritual ibadah, memberi dan mendengar kotbah.  Kekristenan agama supranatural adalah kehidupan yang berdasarkan manifestasi diri Allah dalam bentuk kebenaran Allah yang hidup.

Bukan sekedar informasi tetapi yang lebih utama konfirmasi dari Tuhan Sang Empunya Firman. Kebenaran Firman yang disebut logos (Yohanes 1:1) harus menjadi pedoman hidup. Sementara kemampuan seseorang melakukannya bila ia sudah mendapat rhema (Mat 4:4). Umat Allah sudah kehilangan identitas kekristenannya dengan membaca Alkitab, merenungkan dan mempraktekkan setiap hari. Orang tidak sadar bahwa Kehadiran Allah diwakili oleh FirmanNya. Dapat dikatakan bahwa perjumpaan dengan Allah yang tidak kelihatan bisa dimulai dan interaksi melalui kebenaranNya.

Umat kehilangan kesadaran bahwa sadar bahwa penyertaan Tuhan dengan firmanNya adalah hal yang mutlak.  Sejauh mana seseorang melekat dengan kebenaran dan menyatu dengan Sang Empunya Firman itu sendiri maka akan didapati ia melakukan perkara-perkara yang adidkodrati yang sama seperti Kristus Yesus Sang Firman yang hidup.

Yesus Kristus berkata : Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar yang Aku lakukan,  bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar  dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;( Yohanes 14:12). Banyak orang Kristen kehilangan kemampuan supranaturalnya karena kemelekatan dengan kebenaran yang terlalu minimalis sehingga yang muncul hanya berbagai persoalan duniawi saja.

Kekristenan adalah identik kehidupan Kristus Yesus yang spektakuler dan supranatural. Dalam arti semua tindakan dan kehadirannya membuat detak kagum semua orang. Kesan semua orang akan pelayananNya adalah …yang begini belum pernah kita lihat (Markus 2:12).

Bukankah banyak tokoh-tokoh agama, orang farisi, saduki yang selalu mengajar mereka? Penampilan dengan karakter Illahi menunjukkan bahwa Yesus Kristus berbeda dengan siapapun juga yang pernah hidup di bumi ini. Satu kali saja Ia berzinah, membunuh dan bertindak melanggar perintah Allah maka Ia tidak layak diikuti. Kekristenan sudah kehilangan karakter Kristus yang hidupnya menunjukkan karakter yang supranatural detak kagum akan kasih dan kebaikannya. Banyaknya para tokoh gereja yang jatuh dalam dosa menghapus karakter Kristus dalam hidupnya.

Gereja telah kehilangan Pimpinan Roh Kudus karena kemampuan sang tokoh agamanya memiliki gelar terbaik. Akal mereka cukup tanpa pimpinan Roh Kudus. Orang harus sadar bahwa pada prinsipnya manusia yang insani tidak bisa melakukan segala sesuatu yang Illahi. Allah memberikan Roh Kudusnya yakni pribadi yang supranatural untuk tinggal di dalam diri orang percaya.

Kemampuan dan kekuatan yang dimiliki pribadi Roh Kudus tidaklah terbatas. Ia adalah Pribadi Allah yang tidak terbatas namun mau tinggal di dalam diri yang sangat terbatas.  Ada pribadi supranatural yang tinggal di dalam diri yang natural. Paulus mengatakan : “tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? (1 Kor 3:16)

Yesus Kristus adalah manusia biasa namun ia berkata dengan jelas bahwa, "Roh Tuhan ada pada-Ku,  oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik  kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan  telah datang."(Lukas 4:18-19).

Tidak heran apa yang Yesus lakukan adalah perkara-perkara yang adikodrati, kemampuan orang percaya yang bergantung kepada Roh Kudus sepenuhnya akan memiliki kehidupan dan tindakan yang sama dengan Kristus yang supranatural.

Manusia insani yang sudah dicemari oleh dosa  tidak bisa melakukan kebenaran yang Illahi, untuk itu Yesus  mengirimkan Roh KudusNya untuk orang-orang yang telah ditebus agar memiliki kemampuan untuk dibawa ke dalam seluruh kebenaran. Yesus sendiri mengatakan bahwa : “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.( Yohanes 16:13). Kesadaran bulan madu bersama Roh Kudus harus terus dijalin sehingga kehidupan yang natural ini menjadi supranatural.

            Kekristenan agama Supranatural yang membawa seseorang hidup seperti karakter Kristus yang melebihi moral tertinggi manusia melainkan kebenaran itu sendiri. Harus dipahami tidak pernah satu kalipun dalam kehidupan Kristus Ia berbuat dosa. Yesus berkata : “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? Yohanes 8:46). Yesus adalah sumber kebenaran  itu sendiri karena hidupnya jernih bagaikan Kristal sungai dalam kebenaran (Wahyu 22:1).

Tidak pernah dibayangkan kebenaran yang dibawa oleh orang berdosa hanya akan menghasilkan fenomena spiritual buruk yang merusak sendi-sendi  kehidupan.  Bila agama diinvestigasi maka akan ditemukan bahwa agama yang menekankan hal-hal natural akan sangat membahayakan di banding agama yang mendasarkan kepada hal-hal yang supranatural.

Kekristenan sebagai agama yang supranatural ingin membuktikan bahwa Tuhan Sang Pencipta yang hadir di dalam Kristus Yesus bukanlah proyeksi imaginatif melainkan karakter Hidup serupa Kristus oleh pimpinan Roh Kudusyang menjadi realitas dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan standar kehidupan yang sesui dengan kebenaran Alkitab. Realitas yang saat ini banyak orang percaya tidak menyadari kedudukannya sebagai gambar dan rupa Allah.

 


[1]  David Knowles, “What is Mysticim”, dalam Richard Wood (eds), Understanding Mysticim (London, The athlone Press, 1981), Hal. 522.. Agama (religion) itu sendiri itu sendiri, seperti dirumuskan dan pengalaman dalam kehidupannya. Dengan begitu beragama bagi manusia tidak semata melaksanakan dan berbuat tetapi juga mengalami “kesatuan” anatra manusa dan Tuhan. Lebih jauh lihat, Walter H. Capps, Religus studies, The making of a disciples (minniapolis, Fiorte=ress Prss, 1995), 45

[2] Eka Darma Putra., Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, (Jakarta, PT. BPK Gunung Mulia, cet 1, 2001), 2

[3] Ellis H. Shotlfield., Iblis dalam Gereja, (Jakarta, desktop Publising,  1998),  20

[4] Ibid, 22

[5] Agus M. Hardjana., Religiositas, Agama & Spiritualitas, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 53


[6] Y.M Seto Marsunu, apokaliptik, kumpulan karangan symposium ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006, (Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, cet 1, 2007), 5

[7] Op.cit, Ellis H. Shotlfield, 82

[8]  David Orton., Ular-ular dalam gereja membongkar penyembahan berhala dalam gereja modern & mengungkap cara menuju terobosan rohani (Yogyakarta, Andi Ofset, cet 5, 2004), 30

[9]David Jonson & Jeff Van Vonderen., Kuasa terselubung dari Pelecehan Spiritual, (Jakarta, Nafiri Gabriel, cet 1, 2000), 80

[10]  Simon J. Kistemaker., Tafsiran kitab wahyu, (Surabaya: Momentum, cet 3, 2014), 183

[11] Terdistorsi artinya pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dan sebagainya; penyimpangan:

 (https://kbbi.web.id/distorsi)

[12]  degradasi/deg·ra·da·si/ /dégradasi/  kemunduran, kemerosotan, penurunan, dan sebagainya (tentang mutu, moral, pangkat, dan sebagainya) (https://kbbi.web.id/distorsi)

[13] Nietzche, Senjakala Berhala dan Antikrist, ( Jogyarkarta, Yayasan Bentang Budaya, cet 3, 2002), 97

[14] David Jonson & Jeff Van Vonderen., Kuasa terselubung dari Pelecehan Spiritual, (Jakarta, Nafiri Gabriel, cet 1, 2000), 24

[15] Op.cit, David Orton, 67

[16] Op.cit eka Darma Putra., 2

[17] Greg Sutomo, SJ, Marketing Hermawan Kartajaya on church, (Jakarta, Obor, cet 1, 2007), 4

[18] Erastus Sabdono., New Paradigm Of Christian Living, (Jakarta, Relite, cet 2, 2015), 118

[19]  Timothy Keller, Counterfeit Gods, (Surabaya, Tim literature Perkantas, cet 1, 2016),15

[20]  Sofware biblehub.com https://biblehub.com/commentaries/benson/matthew/5.htm

[21]  Andrew Farley., Sorga adalah saat ini juga membangkitkan panca indera rohani anda terhadap kasih karunia,(Jakarta, Light Publishing, cet 1, 2013), 20-21

[22] Op.cit, Timothy Keller, 21

[23] Ted  Hagard., Gereja yang memberi kehidupan,  (Jakarta, Harvest Publication House, cet 1, 2002), 9

[24] William Johnston., Theologi mistik ilmu cinta,(Jogyakarta,Penerbit Kanisius, Cet 6, 1995),54

[25] Karen Armstrong., masa depan Tuhan, (Bandung, Mizan Media utama (MMU, cet 1, 2011) 87

[26]  Op.cit, Karen Armstrong , 298

[27] Gary Zukav, The seat of the soul, (Jakarta: PT. Pustaka alvabet, cet 1,  2006),19

[28] McKinnon, AM.,'Reading ‘Opium of the People’: Expression, Protest and the Dialectics of Religion'. Critical Sociology, vol 31, 2005 no. 1-2, pp. 15-38.

[29]  https://indoprogress.com/2017/08/memaknai-lagi-agama-adalah-candu-milik-marx/

[30] Yongki Karman, runtuhnya kepedulian kita, (Jakarta PT kompas Media Nusantara, cet 1,  2010), 22

[31] DR.H. Hamzah Yakub, filsafat ketuhanan (bandung: PT Alma Arif, cet 1, 2004  112.

 

[32] Deepak Chopra, The future of God, (Jakarta PT. Zaytuna Ufuk Abadi, 2016), ii

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.