Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini1033
Kemarin1356
Minggu Ini3667
Bulan Ini19548
Total Pengunjung1093102

IP Kamu 54.172.234.236 Wednesday, 17 July 2019

Guests : 37 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI APRIL 2019)
 
RUKO PASAR MANDIRI LANTAI 2 BENGKEL MOBIL NEW MAJU JAYA
 BLOK M4C NO 32C-32D SEBELUM APATERMEN THE SUMMIT
KELAPA GADING - JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

EROTISME  YANG RELIGIUS

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

 

 

Seri : Mencari Jejak Tuhan

 

1.    Pendahuluan

 

Salah satu Kitab yang paling terabaikan dalam Alkitab adalah Kidung Agung[1]. Kitab yang dianggap “anak tiri” ini jarang dibuka di atas mimbar Gereja sebagai bahan kotbah oleh para Pendeta dan sarjana-sarjana teologia. Jemaat Tuhan tidak juga dapat menikmatinya dalam kelompok-kelompok pendalaman Alkitab atau seminar-seminar. Kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit dan tidak pernah menjadi tranding topik dalam media sosial. Hal ini disebabkan oleh karena topik bahasannya memiliki narasi yang paling sulit ditafsirkan. Setiap ucapan dalam teks-teks yang ada mengandung teka-teki seperti halnya kitab wahyu dalam Perjanjian Baru. Kitab Kidung agung[2] ini memegang posisi unik dalam literatur sakral karena mengandung komposisi yang paling dihormati di kalangan orang Yahudi. 

Untuk dapat memahami makna kebenaran yang terkandung di dalamnya dibutuhkan Hermeneutik[3] yang sangat detil. Metode yang dipakainyapun sangat riskan karena harus menggunakan metode alegoris,[4] jika tidak berhati-hati maka akan terjadi kesalahan yang fatal atau setidaknya lebih banyak dibanding metode yang lainnya. Maka dibutuhkan kehati-hatian serta ketelitian mengesegesis[5] sebuah teks untuk menemukan arti sesungguhnya dari narasi yang ada. Kesulitan yang luar biasa dalam menterjemahkan kitab inipun terletak pada bentuk komposisi khusus yakni deretan puisi serta kumpulan lagu-lagu cinta yang ditulis oleh Sang Penyairnya. 

Buku yang tidak jelas bagi sebagian orang ini justru sebaliknya dianggap kitab paling suci diantara kitab-kitab Perjanjian lama. Rabi Aqiba dalam pandangannya tentang Kidung Agung mengungkapkan bahwa kitab tersebut merupakan yang suci di antara kidung-kidung suci karena semua kitab adalah suci. Dalam hal ini ia memandang teks-teks Kidung Agung secara alegoris[6]. Untuk menghindari kesulitan tersebut maka banyak hamba Tuhan tidak menggunakan kitab ini sebagai acuan kebenaran yang harus disampaikan kepada Jemaat dalam homelitik[7]-nya.

Dalam kitab ini tidak ditemukan ada kaitannya dengan agama. Dari keseluruhan kitab ini kata Tuhan disebutkan empat kali dalam tujuh ayat. Kitab ini seolah-olah menjadi kitab sekuler yang mirip dengan Mazmur 45 bila disimak ayat pertama dan ketiga nada iramanya persis dengan kitab Salomo, nyanyian kasih. Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir. Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.

Kata cinta dikepas dengan gairahnya sendiri yang dilukisnya penuh perasaan, atau hanya representasi cinta yang ideal, apakah adegan yang digambarkan adalah aktual atau imajiner, karakter historis atau fiktif, semua ini akan terus menjadi masalah perselisihan. Disamping itu  kitab ini mengandung narasi yang terlalu vulgar, menggunakan bahasa yang menggairahkan, sensual, ungkapan detil bagian tubuh wanita menunjukkan hal yang melewati batas-batas standar kepatuhan dan kesopanan baik di dunia barat maupun timur. Maka untuk itulah kitab ini jarang diperdengarkan dimuka umum karena nuansanya seolah-olah pornografi bagi mata dan telinga yang tidak kudus. 

Bagi kebanyakan orang kalimat-kalimat yang ada di dalamnya dinggapnya tidak sinkron dengan kekudusan Allah sehingga tidak layak dikonsumsi sebagai kebenaran di atas mimbar Tuhan. Namun kitab ini merupakan kitab yang merupakan penyatuan antara Israel dan Yehova. Penyatuan keintiman itu merupakan nafas dari seluruh kitab kidung agung ini. Erotisme yang ditujukan kepada Allah merupakan tradisi kuil-kuil di dunia kuno. Namun erotisme ini bukan sexualitas nafsu kedagingan melainkan nafsu spiritual yang bergelora untuk Sang Khalik. Sebagaimana erotisme yang dilakukan dalam bingkai pernikahan yang tidak mendatangkan dosa demikian juga  keintiman dengan Tuhan seharusnya menjadi kerinduan setiap orang percaya. Literasi dari narasi kitab ini jika dibaca secara spirit maka seolah-olah didapati sexualitas dengan Allah yakni penyatuan “keintiman” antara yang natural dan supranatural.   

Kidung Agung mungkin disebut puisi dramatis-lirik, tetapi bukan drama dalam arti bahwa itu dimaksudkan atau diadaptasi untuk representasi. Sekalipun kitab ini adalah rangkaian puisi secara keseluruhan namun bagian-bagian khusus memiliki kemandiran yang memiliki arti tertentu. Jika kitab-kitab yang lain dalam Alkitab  terkadang berisi ancaman yang mengerikan. Amarah Tuhan yang menjungkirbalikkan kota dan kutukan terhadap kota-kota yang memberontak kepada Allah seperti Sodom Gomora atau kisah Nuh dan orang-orang di zamannya. Pembunuhan, sumpah serapah antar bangsa dan sesama diungkap secara jelas dan mengerikan dalam pembalasannya. Perzinahan para nabi dan dan raja disingkapkan secara detil oleh Alkitab apalagi mereka yang berzinah secara rohani dengan penyembahan berhala ditelanjanginya sangat menjijikkan. Membacanya saja terasa ngeri karena berisi kata-kata pornografi yang sangat vulgar.  Namun berbeda dengan kitab satu ini yang memiliki karakteristik manis, ceria, dan sukacita, ciri yang agak berbeda dengan "hipotesis" yang disebut "kekasih gembala." 

Hanya ada satu kekasih di dalam kidung agung, dan satu objek dari rasa sayangnya, tanpa saingan atau pengaruh yang mengganggu di kedua sisi. Kekasih mempelai wanita sebenarnya adalah seorang raja, dan jika dia sesekali berbicara tentang dia sebagai seorang gembala[8]. Kekasihku telah turun ke kebunnya,  ke bedeng rempah-rempah  untuk menggembalakan domba dalam kebun dan memetik bunga bakung. Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung[9].

Kitab ini bukan saja berisi tentang pesta cinta namun juga menyangkut kerja keras dan keharmonisan keluarga serta yang menjadi pokok bahasan yang utama adalah kemesraan antara umat manusia dengan Sang Khalik. Gairah cinta yang membara antara Jemaat Tuhan yang dipresentasikan oleh sulamit ini harus terus berkobar-kobar sampai ajal menjemput. Tahapan akhir yang juga merupakan target dari penulisan kitab kidung agung ini adalah bersatunya kembali Sang Khalik dengan ciptaan termulia. Layaknya Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa maka kemesraan ini yang dinantikan hal ini hanya bisa digenapi di dalam Yesus Kristus sebagai Imanuel, manunggaling kawula Gusti.  

Menemukan penulis asli kitab ini juga merupakan perdebatan di kalangan para teolog. Mayoritas dari para ahli mengatakan bahwa penulis kitab ini adalah Salomo seperti ditemukan dalam kidung agung 1:1. Kitab Kidung Agung ini merupakan kumpulan dari puisi yang ditulis oleh Salomo[10]. Namun menjadi pertanyaan besar jika yang menulis adalah Salomo bagaimana bisa menggambarkan cinta sejati? Salomo seorang yang poligami tidak kurang dari 700 istri dan 300 gundik[11]. Jika seorang yang memiliki istri seribu orang,  bagaimana mungkin ia bisa menceritakan tentang kesetiaan kepada seorang wanita dan sungguh-sungguh tergila-gila? Banyak ahli yang mengatakan kitab ini adalah drama yang dimainkan oleh dua atau orang dalam pesta perkawinan, koleksi lagu pernikahan. Ahli Lainnya mengatakan bahwa kidung agung adalah liturgy khusus kesuburan kafir atau sebuah antologi lagu-lagu yang memuji cinta, puisi cinta atau kumpulan puisi cinta[12].

Kontroversi Shulamit sendiri menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Orang menganggapnya Shulamit adalah Abisag Gadis Sunem yang menjadi gundik raja Daud untuk menghangatkan Sang Raja saat menjelang ajalnya[13]. Shulamit nama dari bentuk feminim Salomo, gadis biasa yang mencintai Sang Raja namun tidak mau tinggal di Kerajaan dan memilih tinggal bersama ibu kandungnya. Ini menandai bahwa seorang Raja yang memiliki istri seribu juga pernah menerima penolakan dari gadis sederhana[14].

Ada penafsir yang melihat "Shulamit" sebagai apa adanya dia. Bukan kekasih Salomo yang dimiliki Salomo, bukan pula sosok Abisag yang pernah menjadi selir dan perawat raja Daud di masa tuanya. Sebab ketika kitab Kidung Agung ini ditulis, Salomo telah mencapai puncak kejayaannya sebagai seorang raja dan sebagai pribadi yang matang dan banyak pengalaman hidup. Ada pendapat bahwa kitab puisi ini disusun sewaktu Salomomemiliki 60 ratu dan 80 gundik (Kidung 6:8). Hal ini menunjuk kepada bagian yang lebih awal dari 40 tahun masa pemerintahannya (1037-998 SM), karena belakangan Salomo memiliki 700 istri dan 300 gundik (1 Raja 11:3). Bahwa "SHULAMIT" adalah sekedar gadis desa sederhana yang bekerja di kebun anggur milik kerajaan Salomo. Kalaupun terdapat kesamaan tentang kecantikannya sebagai wanita Sunem, itu bukan berarti pribadi yang sama dengan Abisag[15].

Perlu dipahami bahwa kitab ini berada dalam urutan terakhir dari susunan kitab yang mengandung puisi. Penempatannya yang terletak di akhir kitab-kitab puisi bukan secara kebetulan melainkan sudah direncanakan karena mengandung kebenaran yang penting bagi setiap orang percaya. Ada lima kitab Puisi yang terdapat dalam Alkitab. Pertama-tama adalah Ayub yang menggambarkan penderitaan dan pergumulan kehidupan manusia sehingga orang harus memiliki solusi kehidupan. Kitab puisi yang ke dua adalah Mazmur  berbicara tentang doa dan penyembahan kepada Allah sebagai sumber kehidupan. Kitab yang ke tiga adalah Amsal yang berisi tentang hikmat dan kebijaksanaan yang berasal dari pada Tuhan sendiri. Kitab yang ke empat adalah kitab Pengkotbah yang berbicara tentang kesia-siaan hidup. Kitab terakhir yang kelima adalah kitab Kidung Agung yang berbicara tentan ekstasi cinta yang membara kepada Tuhan yang diperagakan oleh Salomo dan Sulamit. 

Jadi jika disimpulkan kelima kitab puisi tersebut ada keterikatan yang tidak dapat dipisahkan dari informasi Ayub tentang pergumulan hidup manusia dalam dunia yang tenggelam dalam duka dan air mata yang tidak berhenti sampai kematian. Seharusnya membawa seseorang untuk mencari Tuhan dalam doa dan pujian yang disajikan oleh para Pemazmur. Ketika seseorang sungguh-sungguh hidup dalam doa dan penyembahan kepada Allah yang benar maka mereka akan memiliki kesadaran akan kesia-sian akan dunia ini seperti yang disampaikan oleh Pengkotbah. 

Kesadaran akan kemelakatan dunia ini mendatangkan kesia-siaan maka seseorang akan hidup mencinta akan Tuhan seperti yang disampaikan oleh kitab kidung agung. Cinta yang sungguh membara antara Salomo dan Shulami harus menjadi prototype seluruh umat Allah akan Tuhannya.  Kitab ini bukan untuk Kristen baru atau mereka yang merasa cukup datang seminggu sekali. Isi kitab ini bukan konsumsi orang yang malas melayani atau membaca Alkitab setengah hati. Kebenaran di dalam kitab ini tidak diperuntukkan untuk mereka yang kekristenannya asal-asalan melainkan bagi kekristenan dewasa yang sungguh-sungguh mau tenggelam dalam hadiratNya. Mereka yang hidup dalam kekudusan dan menyerahkan nyawa bagi Tuhannya baru layak menikmati kebenaran di dalamnya. 

Sekalipun kitab Kidung Agung tidak ada satupun kata Allah  namun nafas Tuhan atau keberadaan KeIlahianNya sangat nyata bila dijalin dalam hubungan kasih yang membara. Orang akan dibuatnya terkagum-kagum narasi puisi yang ditulis oleh Salomo bukan saja indah melainkan memiliki esensi Illahi dalam keintiman dengan Tuhan. Syair-syair puisi tentang keintiman seseorang dengan lawan jenis memiliki progres dari pertemanan, saling mencinta, bertunangan sampai dalam perkawinan. Kehidupan mencinta jelas diperlihatkan dalam hasrat hati dan tindakan. 

Kekaguman seorang wanita terhadap pasangannya terekspolari setiap kata hasrat hati dan tindakan. Sebaliknya bagi seorang Pria yang memiliki gairah membara terhadap pasangannya, akan memandang setiap lekuk-lekut tubuh pasangannya seolah-olah menjadi puncak gairah eksistensinya. Namun erotisme yang tergambar dari Salomo maupun Shulamit melalui kata puisi dan nyanyian tidak terbesitpun sebuah kenajisan karena merupakan pasangan yang saling mencinta. Jejak Tuhan dalam kitab Kidung Agung ini dimulai dari perkataan Shulamit akan kekasihnya yang jauh di mata namun dekat di hati. 

 

2.    Ciuman tanda gelora cinta            

 

Fase pertama  kitab kidung agung ini dikisahkan tentang percakapan seorang wanita yakni Shulamit sendiri yang sedang dimabok asmara yang sedang bersama-sama sahabatnya. Ia menceritakan tentang kerinduan mendalam akan ciuman sang kekasih yang dinantikannya. Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur[16]. Ciuman ini diambil dari kata  Ibrani Nashag yang memiliki arti bukan sekedar ciuman kening melainkan bibir, suatu sentuhan yang mengandung birahi. Untuk mencapai tingkat yang romatis, ciuman biasanya memerlukan sesuatu yang sangat pribadi. Ciuman yang diharapkan oleh gadis Shunem ini adalah kerinduan yang mendalam akan sentuhan dari sang kekasih yang tidak sedang bersamanya. Namun sekalipun demikian sang gadis menantikan dengan sangat sentuhan pria yang didambakannya, seolah-olah pria kekasihnya akan menjamahnya dalam bayangan cinta melalui ciuman mesra. Kerinduan ini harus senantiasa dimiliki orang percaya yang merindukan jamahan Tuhan dalam kehidupannya. Ciuman ini lambang dari doa dan kerinduan akan jamahan dan lawatan Tuhan setiap hari sebagai kekasih jiwa yang seolah-olah jauh di mata tapi dekat di hati. 

Menurut Cane, ciuman romantis memerlukan lebih dari kedekatan sederhana dan juga perlu adanya keintiman atau privasi[17]. Psikolog terkenal Wilhelm Reich "mengecam masyarakat" karena tidak memberikan para pemuda cukup privasi dan membuat mereka sulit untuk hanya bersama kekasihnya. Namun, Cane menjelaskan betapa banyaknya pencinta tetap bisa mencapai keromantisan meskipun berada di tempat umum. Dia menambahkan, "Dengan cara ini mereka dapat berciuman di depan umum bahkan di sebuah plaza yang ramai dan tetap romantis." Meskipun demikian, ketika orang diminta untuk menggambarkan tempat mereka berciuman yang paling romantis, jawaban mereka hampir selalu merujuk kepada tempat tempat yang sepi, misalnya kebun apel, pantai, padang tempat melihat bintang, atau kolam di daerah terpencil[18]

Pada masa modern, para ilmuwan melakukan pemindaian[19]otak pada orang-orang ketika sedang melakukan hubungan romantis. Beberapa studi menunjukan bahwa setelah "kencan pertama yang sempurna," sebuah sistem di dalam otak   menjadi aktif dan itu sama dengan ketika seseorang mengonsumsi kokain. Dalam studi mengenai kasih sayang antara para kekasih, ketika peserta melihat foto pasangan mereka, otak mereka dibanjiri dopamin[20], bahan kimia internal yang dilepaskan ketika seseorang melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan. 

Selain dopamine, ciuman juga melepaskan yang disebut neurotransmitter serotonin[21]yang menimbulkan rasa obsesi. Begitupun hormon satu lagi yang disebut oxytocin yang akan meningkat ketika dan setelah berciuman. Semua paduan hormon tersebut menimbulkan perasaan sayang dan kangen, jadi tak heran jika timbul perasaan ingin lagi dan lagi setelah efeknya memudar seiring waktu[22]

Alkitab mengkisahkan ciuman bukan saja untuk kekasih melainkan untuk kerabat maupun famili[23]. Demikian pula ciuman diberikan kepada seorang kerabat yang baru ditemui setelah sekian lama tidak bersua[24]. Diodorus Siculus menulis bahwa ciuman adalah sebuah praktik untuk mengekspresikan kasih sayang. Itulah sebabnya, ia menggunakan istilah “ciuman” dan “kasih” itu secara bergantian dalam maksud yang sama. Longus menyatakan bahwa ciuman adalah sebuah pemberian salam kekeluargaan yang standar dalam kebudayaan Greco-Roman. Sebagai contoh, seorang wanita Romawi dapat mencium seorang lelaki yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Seorang anak diharapkan untuk memberikan ciuman kepada ibunya dan ayahnya. Demikian juga sebaliknya, para ayah dan ibu mencium anak-anak mereka. Ciuman juga dilakukan seorang paman kepada keponakan yang memberikan salam kepadanya[25]. Namun ciuman disebutkan di atas ciuman yang mendarat di kening, tangan pipi dll bukan di bibir. 

Ciuman juga diberikan sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang dianggapnya memiliki status yang lebih tinggi[26]. Seorang murid dapat memberikan ciuman kepada gurunya yang telah mengajarnya dengan bijaksana[27]Mat. 26:48). Dalam kontek keagamaan pemberian ciuman memiliki arti yang religious yang memiliki arti keterikatan hati kepada sesembahannya[28]. Bagi orang Yahudi di Zaman Perjanjian lama melarang ciuman bibir di muka umum karena dianggap tabu sekalipun dilakukan oleh suami istri. 

Ciuman Kudus atau atau ciuman damai yang perlu dipahami adalah sebagai tanda penghormatan[29]. Namun ciuman yang dikatakan oleh Shulamit sangat berbeda dengan ciuman yang dimaksud di atas. Sekalipun mengandung rasa hormat sebagai sahabat (filia) namun yang pasti cinta birahi (eros) menguasai seluruh hasrat hatinya. Amsal menceritakan tentang ciuman yang mendatangkan gejolak birahi : “Lalu dipegangnyalah orang teruna  itu dan diciumnya, dengan muka tanpa malu berkatalah ia kepadanya:  "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu.  Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau.  Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir.  Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis. Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara[30].

Shulamit mengajarkan kepada setiap orang percaya bahwa kehidupan bersama sang kekasih yakni Sang Raja di atas segala raja merupakan pengalaman pribadi. Gairahnya harus sungguh-sungguh nyata sekalipun tidak berjumpa face to facenamun dalam seluruh hasrat hati hanya tertuju kepada sebuah sentuhan yang nyata. Orang harus sadar bahwa Shulamit sedang bersama sahabat-sahabatnya dan tidak sedang berjumpa dengan sang kekasih. Namun hasrat hatinya diungkapkan agar semua orang tahu bahwa dirinya memiliki gelora cinta kepada sang kekasih.  Dengan ciuman, tanda cinta dan yang menggelorakan jiwa seorang wanita yang memiliki komunikasi secara intens dengan kekasihnya. Ia merasa nyaman dan keteduhan sekalipun ciuman itu hanya berada dalam bayangan yang mampu menghadirkan kekasihnya.  

Kehidupan iman tidak harus dipraktekkan dalam kehidupan rohani dalam gereja, persekutuan doa atau kumpulan-kumpulan orang percaya saja. Kekristenan harus dipraktekkan di market place  dunia kerja baik secara nyata maupun dunia maya. Kekristenan harus memviralkan cinta akan Tuhan di dunia orang yang tidak mengenal Tuhan melalui sikap, tingkah laku dan tutur kata serta pola pikir. Bentuk penginjilan di dunia modern tidak bisa mengatakan kepada orang lain Yesus adalah Tuhan dan satu-satunya juru selamat. Hal ini akan melanggar aturan dan bisa masuk penjara karena sudah diatur oleh undang-undang[31]. Sekalipun orang percaya tidak pernah memaksa orang lain untuk percaya Kristus yang ujung-ujungnya diberi Sorga namun akan ada banyak tuduhan-tuduhan seperti kristenisasi dan penistaan agama akan dimunculkan sebagai fitnah. Maksud hati memberi kemuliaan sorga usai kematian namun penjara dan pengadilan harus dihadapinya seperti di Rusia atau Republic Rakyat China.

Hasrat hati yang membara akan Tuhan melalui ciuman baca doa,  yang merupakan sentuhan yang sangat pribadi harus terwujud dalam eksistensi diri. Kekristenan merupakan ekspresi dari persepsi diri akan citra dan gambar Allah sebagai orang-orang yang telah ditebus dengan darah Yesus sendiri. Kekristenan tidak cukup hidup berbuat baik, datang seminggu sekali ke gereja memberi persembahan dan tidak berbuat dosa. Kekristenan harus terlihat nyata gairah cinta yang ukurannya bagaikan bara api yang menyala-nyala bukan lilin-lilin kecil yang menerangi gelapnya malam. 

Paulus mengingatkan kepada jemaat di Roma : “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan[32]. Jika seseorang tidak memiliki roh yang menyala-nyala maka tidak ada ubahnya ia sedang memadamkan Roh Kudus[33]. Cinta akan Tuhan harus terlihat apinya sehingga memiliki kemampuan membakar sekitarnya. Orang-orang disekitar Shulamit yakni putri-putri Yerusalem mengerti secara pasti bagaimana sahabatnya Shulamit ini mencinta sang kekasih sampai tingkat “over dosis” yaitu sangat berlebihan. 

Salah satu hal yang paling sulit dalam kekristenan adalah tetap on firedi dalam TuhanBanyak orang percaya sudah tidak sadar bahwa rasa cintaNya kepada Tuhan mulai pudar dan kehilangan cinta mula-mula[34]. Yesus mengingatkan keadaan pada akhir zaman, Ia berkata : “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin[35]. Namun hal ini tidak boleh menyentuh kehidupan orang-orang yang sungguh merindukan Tuhan. Perjalanan dua murid ke Emaus yang berjumpa dengan Yesus secara tidak sadar, menceritakan bahwa : “Bukankah hati kita berkobar-kobar,ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Sucikepada kita?"[36]Yermia seorang nabi yang memiliki niat berdiam diri untuk tidak mengatakan kebenaran namun tidak mampu. Ia mengatakan : “Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti apiyang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya,tetapi aku tidak sanggup[37]. Kidung Agung sendiri mencatat hebatnya cinta melebihi alam maut, Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cintakuat seperti maut, kegairahangigih seperti dunia orang mati , nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN[38]!

Ketika cinta mulai memudar Salomo berada dalam kehidupan cinta yang penuh keduniawian. Cinta sudah dicampuradukkan dengan politik maka kehancuran terjadi dimana Salomo hatinya condong kepada berhala-berhala yang dibawa oleh para istrinya. Salomo ingin mengatakan cinta sejati kepada Allah hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki hati yang jujur dan tidak memiliki banyak alasan untuk mencinta. Selama hati seseorang masih terikat dengan berbagai macam ikatan dosa dan berhala keduniawian maka cinta sejati tidak akan dapat diperolehnya. 

Salomo menuliskannya pada masa tuannya dan berkata : “Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhotbah:Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan, yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuandi antara mereka. Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih[39].

Salomo di masa tuanya menyadari bahwa cinta yang bukan daripada Tuhan akan membawa seseorang kepada penyembahan-penyembahan berhala. Narasi yang dibuat oleh Salomo dimasanya tuanya mengingatkan siapapun tidak boleh beralasan untuk tidak mencinta Tuhan. Cinta hawa nafsu dengan seribu istri mendatangkan penyesalan. Erotisme kedagingan yang tidak kudus akan menyeret seseorang kepada banyak berhala yang mendukacitakan Tuhan.  Kerinduan akan Tuhan, jamahan Sang Ilahi merupakan erotisme spiritual yang kudus karena merupakan keintiman antara yang natural dan supranatural. 

(bersambung) 

 


[1]Dalam Alkitab Ibrani judul buku ini adalah "The Song of Songs." Itu berasal dari 1: 1. Penerjemah Septuaginta dan Vulgata mengadopsi judul ini. Kata Latin untuk lagu adalah canticum dari mana kita mendapatkan kata Canticles, judul lain untuk buku ini. Beberapa terjemahan bahasa Inggris telah mempertahankan judul "Song of Songs" (mis., NIV, TNIV), tetapi banyak yang mengubahnya menjadi "Song of Solomon" berdasarkan pada 1: 1. (jurnal : http://planobiblechapel.org/tcon/notes/pdf/song.pdf

[2] Kidung agung —dari nama Latinnya, “canticum canticorum,” yang secara umum dikenal sebagai Canticles — memegang, tanpa pertanyaan, tempat pertama di antara teka-teki sastra. Ketidakpastian seperti itu melekat pada subjeknya, tujuannya, kepengarangannya, dan bahkan bentuknya, yang akan ditempati dalam literatur mana pun.  tempat yang mirip dengan milik puisi Shakespeare's. Dilahirkan di tanah suci Palestina, dan muncul di antara Kitab Suci, itu menawarkan kesulitan yang lebih besar untuk menjelaskan posisinya. https://biblehub.com/commentaries/ellicott/songs/1.htm

[3]Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuein yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. Jika dirunut lebih lanjut, kata kerja tersebut diabil dari nama Hermes, dewa pengetahuan dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pemberi pemahaman kepada manusia terkait pesan yang disampaikan oleh para dewa-dewa di Olympus. https://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika

[4]Penafsiran Alegoris adalah sebuah model tafsir yang populer pada Abad pertama hingga Abad Pertengahan. Pendekatan ini merupakan sebuah upaya menyingkap pesan teks Alkitab secara alegoris, yaitu dengan mencari makna di balik kata-kata yang tertulis di dalam teks..

 

[5]Eksegese bahasa Yunaniἐξήγησις adalah sebuah istilah yang dapat kita artikan sebagai suatu usaha untuk menafsirkan sesuatu. Istilah eksegese sendiri berasal dari bahasa Yunani "ἐξηγεῖσθαι" (eksigisthe) yang dalam bentuk dasarnya berarti "membawa ke luar atau mengeluarkan".Kata bendanya sendiri berarti "tafsiran" atau "penjelasan". Inti dari eksegese adalah dapat menangkap inti pesan yang disampaikan oleh teks-teks yang kita baca. https://id.wikipedia.org/wiki/Eksegesis

[6]Marvin H. Pope, The Anchor Bible – Song of Songs (New York: Doubleday & Company, 1977),19. 

[7]Kata ini berasal dari bahasa Gerika “Homilia” yang berarti: perundingan, penguraian atau khotbah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai ilmu berkhotbah atau pelajaran berbicara dihadapan orang banyak. Homiletik bertujuan untuk semata-mata hendak menerangkan suatu usaha, supaya khotbah tentang Injil dan dapat disajikan dengan cara yang terang, nyata dan berkuasa.

[8]https://biblehub.com/commentaries/barnes/songs/1.htm

[9]Kidung agung 6:2-3

[10]Nama itu mungkin semacam makna ganda: itu adalah yang terbaik dari lagu-lagu Solomon (dalam arti superlatif 'lagu lagu'), dan juga merupakan karya musik tunggal yang terdiri dari banyak lagu. " lih. Duane A. Garrett, "Song of Songs," in Song of Songs, Lamentations, 26.

[11]1 raja-raja 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik;  isteri-isterinya itu menarik  hatinya dari pada TUHAN.

[12]Gordon H. Johnston, "The Enigmatic Genre and Structure of the Song of Songs, Part 3," Bibliotheca Sacra 166:663 (July-September 2009):289-305; Tremper Longman III and Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament, pp. 292-93 

[13]1 raja 1:2-4  Lalu para pegawainya berkata kepadanya: "Hendaklah dicari bagi tuanku raja seorang perawan yang muda, untuk melayani dan merawat raja; biarlah ia berbaring di pangkuanmu, sehingga badan tuanku raja menjadi panas."  Maka di seluruh daerah Israel dicarilah seorang gadis yang cantik, dan didapatlah Abisag, gadis Sunem, lalu dibawa kepada raja.  Gadis itu amat cantik, dan ia menjadi perawat raja dan melayani dia, tetapi raja tidak bersetubuh dengan dia.

[14]Kidung Agung 7:10-8:4 Salomo akhirnya menyerah membiarkan Shulamit untuk tinggal bersama ibu kandungnya. 

[15]http://www.sarapanpagi.org/sulam-gadis-sulam-sulamit-vt6700.html

[16]Kidung Agung 1:2 

[17]William Cane, The art of Kissing, (New York, St. Marthin Press, 2010), 74

[18]https://id.wikipedia.org/wiki/Ciuman#cite_note-6

[19]Pemindai (bahasa Inggrisscanner) merupakan suatu alat yang digunakan untuk memindai suatu bentuk maupun sifat benda, seperti dokumen, foto, gelombang, suhu dan lain-lain. Hasil pemindaian itu pada umumnya akan ditransformasikan ke dalam komputer sebagai data digital. Terdapat beberapa jenis pemindai bergantung pada kegunaan dan cara kerjanya, antara lain:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemindai

[20]Dopamin (bahasa Inggrisdopamine, prolactin-inhibiting factor, prolactin-inhibiting hormone, prolactostatin, PIF, PIH) adalah salah satu sel kimia dalam otak berbagai jenis hewan vertebrata dan invertebrata, sejenis neurotransmiter(zat yang menyampaikan pesan dari satu saraf ke saraf yang lain) dan merupakan perantara bagi biosintesis hormon adrenalin dan noradrenalin. Dopamin juga merupakan suatu hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus. Fungsi utamanya sebagai hormon ialah menghambat pelepasan prolaktin dari kelenjar hipofisis. https://id.wikipedia.org/wiki/Dopamin

[21]Serotonin adalah neurotransmitter yang ada di otak dan usus, dan terkait dengan kesehatan mental. Hormon ini juga berfungsi untuk membantu mengatur tidur, nafsu makan, dan mood.

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/12/03/060900220/5-cara-tingkatkan-serotonin-hormon-yang-mencegah-depresi?page=all

[22]https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/4/2018/13839/ini-yang-terjadi-di-otak-ketika-kamu-berciuman

[23]Kejadian 29:11   Kemudian Yakub mencium j  Rahel serta menangis dengan suara keras bdk 33:3

[24]Kel. 4:27 Berfirmanlah TUHAN kepada Harun: "Pergilah ke padang gurun menjumpai Musa." Ia pergi dan bertemu dengan dia di gunung  Allah, lalu menciumnya. Bdk 18:7 

[25]https://dekynggadas.wordpress.com/2012/03/02/cium-kudus-sebuah-telusuran-historis/

[26]Lukas 7:38 Sambil menangis  ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

[27]Matius 26:48-49  Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia."  Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi, " lalu mencium Dia.

[28]Ayub. 31:36- 27 jikalau aku pernah memandang matahari,  ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya,  sehingga diam-diam hatiku terpikat,  dan menyampaikan kecupan tangan  kepadanya, ,, bdk  1Raj. 19:18; Hos. 13:2

[29]Luk. 7:45; 22:47; Kis. 20:37 ciuman (Yunani Filem) kudus (Yun, hagios) juga dianggapnya sebagai bagian dari liturgy ibadah tidak dimaksudkan untuk hal yang erotis seperti disalah gunakan oleh children of god.  

[30]Amsal 7:13-18

[31]Hak beragama itu sendiri telah termaktub dalam Pasal 28E ayat (1) dan (2) UUD 1945:

(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

[32]Roma 12:11

[33]1 Tes 5:19 

[34]Wahyu 2:4-5 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmuyang semula.Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlahdan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmudari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

[35]Matius 24:12 

[36]Lukas 24:32

[37]Yermia 20:9

[38]Kidung Agung 7:8

[39]Pengkotbah 7:26-29

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.