Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini998
Kemarin1122
Minggu Ini998
Bulan Ini14236
Total Pengunjung1535860

IP Kamu 3.235.22.210 Monday, 13 July 2020

Guests : 9 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

MENYEMBAH AGAMA

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

Merupakan sebuah realitas kehidupan di era  milenial[1]  ini bahwa agama sudah  terdegradasi[2] oleh modernisasi dan terdistorsi[3] oleh ambisi para tokoh spiritualnya.  Sebagai dampak dari semua itu maka spiritualitas yang benar telah diganti dengan ritual-ritual yang massif sehingga agama kehilangan essensinya. Hal ini diperparah oleh ahli-ahli kitab yang serong dalam memandang ayat-ayat kitab sucinya. Dalam memahami kebenaran para tokoh-tokoh agama  rabun jauh dalam memahami arti original teksnya kitab suci. Narasi ayat-ayat sudah ditafsirkan melenceng dari subtansinya. Konsep hermenetika[4]nya tidak bisa dipertanggungjawabkan apalagi homeletika[5]nya hasil dari rekayasa dari keras kepala yang disertai dengan ambisi sesaat. Inilah hasil dimana nabi-nabi bertingkah seperti babi selalu kembali ke kubangan yang kotor dan najis. Kebenaran telah dimanifestasikan dengan tindakan setan, sebagai hasilnya menciptakan aroma busuk dimana-mana.

 

 

 Lebih celaka lagi kebenaran itu menjadi doktrin yang memabukkan para pendengarnya. Sang tokoh agama telah kehilangan identitas, integritas dan loyalitasnya sehingga tidak lagi layak menjadi panutan.  Realitas di depan mata umat yang beringas dan para pemuka agama yang liar benar-benar mencolok  mata.  Jika sudah demikian maka pemimpinnya tidak menciptakan track record yang tidak bernilai  melainkan  menghasilkan yang destruktif[6]. Generasi model seperti ini selalu mengklaim dirinya lebih suci daripada agama lain bahkan merasa lebih hebat dari nabi dan rasul serta imam dalam kitab suci. Jika didapati kesalahan dirinya maka dengan wajah tanpa dosa, akan mudah berkelit dan menyalahkan orang lain karena menganggap dirinya  santo atau santa di era modern. Jika dianalisa pokok permasalahannya maka akan sulit dideteksi  sumbernya sebab yang ada di permukaan hanyalah hasil dari proses yang sudah ada.

Allah sendiri telah terdepak[7] dari kehidupan umat ciptaanNya baik rohani sekaligus jiwanya. Hal ini terjadi karena mereka sedang mabuk terhadap agama dampaknya orang tidak lagi menyembah Allah yang benar melainkan menyembah agama  yang dianutnya. Baginya agama lebih tinggi daripada Allah yang Empunya kebenaran. Tindakannya menyeleweng dari karakter Allah yang sejati. Allah yang menjunjung tinggi ciptaanNya direndahkan serendah-rendahnya oleh para tokoh agama. Mereka telah menggantikan kedudukan Tuhan dalam hidupnya dengan menciptakan kebenaran-kebenaran sendiri. Hasilnya ayat-ayat suci menjadi komoditas untuk mencapai kekayaan pangkat dan jabatan serta kekuasaan. Tidak heran jika produk-produk yang yang illahi menjadi sangat duniawi yang disantap setiap hari oleh umat Allah.

Sesungguhnya essensi kebutuhan makluk ciptaan adalah Sang Pencipta itu sendiri bukan sebuah intitusi agama apapun. Jika seseorang menemukan Allah yang sesungguhnya maka agama bukanlah ritual wajib yang harus dijalaninya melainkan sebagai bentuk manifestasi kasih kepada Allah sehingga tidak terjebak sebagai rutinas waktu melainkan seluruh eksistensi hidupnya bagi Allah.  Agama diciptakan untuk manusia dan bukan manusia untuk agama. Jika manusia untuk agama maka manusia menjadi budak oleh agama, jika tidak melaksanakan kebenaran maka akan takut hukuman murka Allah yang berakhir di Neraka.  Namun jika agama diperuntukkan manusia maka dalam melakukan kebenaran agama tersebut merupakan sebuah  manifestasi ucapan syukur. Jika tidak  melanggar kebenaran  bukan karena takut akan hukuman melainkan tidak mau menyakiti hati Tuhan. Namun agama telah menjadi beban berat bagi para pengikutnya.

Albert Einstein mengatakan : “ agama masa depan akan berupa suatu agama kosmik. Agama itu akan melebihi Tuhan sebagai pribadi dan tidak bersifat dogmatis maupun theologis, karena meliputi segala aspek yang bersifat alami maupun spiritual. Agama itu akan didasarkan pada suatu perasaan religius yang muncul dari pengalaman atas segala sesuatu yang bersifat alami maupun spiritual sebagai suatu kesatuan yang bermakna. Budhisme menjawab uraian ini.. Apabila ada agama yang mampu memenuhi kebutuhan ilmiah modern, saya yakin itu adalah ajaran Budha[8].  Mengapa Albert Einstein mengatakan Budha sebagai jawaban? Karena semua kepercayaan bisa menjadi Budha[9] bila kebenaran dipraktekkan dengan pencerahan Illahi.  Pada dasarnya Budha adalah sebuah kesadaran penuh akan kebenaran. Realitas para penganut agama tidak memiliki kesadaran akan kebenaran yang ada adalah kemasan agama untuk kepentingan duniawi.

Karl Marx mengatakan bahwa : “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.[10] Secara hurufiah kalimat tersebut memiliki arti agama adalah desah napas keluhan dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi masyarakat. Bila dianalisis secara konstekstual Karl Mark Ingin mengatakan bahwa agama dapat meringankan beban penderitaan. Namun publikasi yang gencar telah masuk ke ranah ideologis sehingga memiliki makna yang berbeda.  Semula Tuhan dianggap opium dan kemudian agama, namun sebenarnya tidak demikian halnya.

Filosophi tersebut ditulis oleh Karl Marx pada tahun 1843 dan terbit pada tahun 1844 di Paris dalam jurnal Deutsch–Französische Jahrbücher,[11]  Karl Mark tidak pernah berpikir bahwa ia sedang membuat ramalan agama di masa depan. Realitas yang ada sekarang agama benar-benar menjadi opium yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran para pengikutnya. Harapan bahwa agama bisa meringankan penderitaan malah sebaliknya memberikan beban berat, menciptakan kekacauan dan kerusakan dimana-mana.

Agama benar-benar menjadi candu para pemeluknya bila kebenaran yang dianggapnya absolute telah menghapus pola pikir normal dan memunculkan nafsu liar yang  menghancurkan tatanan kehidupan.  Analisis ini didasarkan pada para tokoh-tokoh spiritual yang telah terindikasi memanipulasi kebenaran sebagai kebenaran lokal yang merusak tatanan global sehingga terjadi kehancuran peradaban yang ada. Aktualisasi yang ada sekarang berkumpulnya puluhan atau ratusan orang yang menyebut nama Allah tidak lagi menyejukkan jiwa  namun sebaliknya menjadikan orang takut dan menghindar menjauhinya.  Memobilisasi massa berbalut agama demi meraih kekuasaan, pangkat dan jabatan adalah tindakan bertolak belakang dengan kebenaran itu sendiri. Masyarakat sudah terlanjur terhipnotis oleh kebenaran yang diselewengkan maka mereka memanifestasikan keberingasan dan sikap ketidakberadaban. Pemicu anarkhis dan brutalisme yang identik dengan produk-produk kegelapan tercipta oleh para pemeluk agama yang tidak sesuai dengan patron kebenaran sejati. 

 Prinsip utama agama menjadi opium adalah para rohaniawan mampu mengindoktrinasi kepalsuan seolah-olah menjadi kebenaran hakiki sehingga para penganutnya dapat digerakkan sesuai dengan tujuan tertentu. Spiritualitas yang murni seharusnya berada dalam ranah hati yang tulus dengan ekspektasi[12] karakter yang baik bukan sebaliknya menjadi provokator kejahatan dan teroris.  Tidak berhenti sampai disitu gerakannya lebih massif  dan bermultifikasi memasuki kehidupan berbangsa dan bernegara. Ritual spiritualitas modern  telah terindikasi oleh penafsiran yang fatal demi kepentingan politik dan kekuasaan

Yongki Karman mengatakan : “Devaluasi agama di tanah air bukan oleh sekularisasi tetapi oleh politisasi agama, yang dalam bentuk radikalnya berbentuk main hakim sendiri dan merusak tatanan hidup bermasyarakat. Efek devaluasi agama ini jauh lebih mengerikan ketimbang devaluasi yang sama di negara sekuler[13] Seharusnya agama yang benar adalah memadukan kerohanian dan akal budi untuk membuat kebahagiaan. Hamzah mengatakan : betapa bahagianya pencari-pencari Tuhan yang merindukan penciptanya itu, ketika mereka disambut mesra oleh Tuhan sendiri dalam bentuk petunjuk yang di wahyukannya melalui rasul-rasulnya.  

Disanalah terdapat perpaduan antara naluri, akal dan wahyu yang membuahkan marifat pengenalan  terhadap Allah dengan sebenar-benarnya[14]. Sebenarnya peran agama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Ruang lingkup agama itu sendiri berguna untuk mengatur tatanan dalam berkeluarga, berbudaya dan melestarikan keharmonisan penduduknya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki masyarakat yang taat kepada agamanya. Jika masyarakat memiliki hubungan yang benar dengan Allahnya maka hubungan satu dengan lainnya akan terjalin yang baik juga sebab ajaran agama pada umumnya memiliki esensi untuk saling mengasihi dan menghormati. 

Fakta  kehidupan agama yang dianut sebagian besar masyarakat pada umumnya sudah terdegradasi oleh banyak faktor. Rusaknya agama sendiri tidak disebabkan oleh essensinya melainkan para penganutnya sebagai faktor internal. Dalam hal ini para penganut agama tidak memahami secara mendalam akan kebenaran kitab sucinya. Sekalipun mereka dapat menghabiskan pembacaan kitab sucinya secara keseluruhan namun mereka terpisah dari sang pemberi kebenaran tersebut. Agama tidak boleh dipakai untuk mengeksploitasi kebobrokan moral dari massa yang beringas dan bar-bar seperti pada masa pra sejarah.

Agama yang benar seharusnya dapat menjadi pedoman hidup dan menjadi tolok ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Abdulrahman wahid mantan Presiden Indonesia mengatakan : “jika kamu membenci orang karena dia tidak membaca Alquran yang kamu pertuhankan itu bukan Allah , tapi Alquran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda dengan agama dengan kamu berarti yang  kamu pertuhankan itu bukan Allah, tetapi agama. Jika kamu menjahui  orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah tetapi moral. Pertuhankan Allah bukan lainnya. Dan membuktikan bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima  semua makluk karena begitulah semua makluk. Rabinadat Ragore, jika sorga mengajarkan saya untuk membenci agama lain maka saya tidak ingin menginjakkan kaki saya kesana.  Kebenaran harus dihormati sehingga baik atau tidaknya tindakan seseorang tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap agama yang diyakini.  Kekristenan harus menjadi garam dan terang dunia dengan tidak boleh masuk dalam kotak agama melainkan kehidupan langsung bersama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kekristenan agama supranatural mengingatkan umat Allah bahwa hubungan yang absolut terhadap apapun di bumi ini yang melebihi hubungan dengan Allah akan memiliki hasil akhir yang merusak.

Istilah" agama "pada awalnya diperkenalkan oleh politisi, filsuf, dan orator Yunani Kuno Marcus Tullius Ci-cero (tahun 106-43 SM)." Istilah ini seharusnya berasal dari bahasa Latin "religio" - penyesalan , kesalehan, teopati, objek kultus; “Relig-are” - untuk mengikat, melampirkan; "Religere" - untuk kembali, merenung, takut[15]. Saat ini terdapat lebih dari seratus definisi agama, daftar terlengkap mereka dapat ditemukan di Oxford Dictionary.  Definisi yang ada dapat dibagi menjadi definisi eksklusif yang menekankan absolutitas dari satu agama tunggal dan juga mengandung definisi agama ini saja, misalnya, definisi agama oleh penulis Kristen yang kembali ke Lactantius: “Agama adalah tautan ke Tuhan melalui kesalehan seseorang ” dan juga tulisan E. Fromm “Saya mengerti dengan agama sistem pemikiran dan tindakan yang dibagikan oleh kelompok yang individu sebuah kerangka orientasi dan objek pengabdian. Essensi agama adalah hubungan dengan Tuhan yang membutuhkan pengabdian

Orang yang melanggar kebenaran adalah orang yang beragama bukan orang yang berTuhan. Tuhan tidak mungkin melanggar perkataanNya sendiri. Berbeda dengan makluk-makluk beragama yang selalu mengubah hal-hal yang spiritual menjadi ritual-ritual indah dimatanya namun sebaliknya menakutkan bagi umat yang lainnya. Allah yang sejati adalah Allah  yang tidak beragama apapun. Realitas yang ada tidak pernah Allah turun menciptakan satu agamapun. Kalau saja ada Allah yang secara langsung berbicara satu agama maka Ia adalah Allah yang ambivalen[16].  Tidak akan pernah ada Allah yang beragama sebab Allah yang benar adalah Allah untuk semua makluk ciptaan dan semua aliran kepercayaan.  Ia tidak pernah menganakemaskan satu agama dan melecehkan lainnya, dasar pribadiNya adalah penuh kasih. Allah harus menjadi objek penyembahan bila hal itu tidak terjadi maka orang sudah menduakan dia dengan memberhalakan agama sebagai gantinya Tuhan.

Arti menyembah sendiri memiliki beberapa arti  menghormati dengan mengangkat sembah,  memuja (sesuatu sebagai Tuhan atau dewa), engkau di bawah perintah; takluk[17].  Siapapun yang menghormati apapun dengan bentuk pemujaan terhadap siapapun maka ia sedang mengadakan ritual penyembahan. Objek penyembahan adalah Allah Sang Pencipta karena hanya Dialah satu-satunya yang layak menerima penghormatan dan pengangungan dari seluruh makluk ciptaan. Yesus mengajarkan cara menyembah dengan benar dan menunujukkan kepada siapa pribadi yang layak disembah. Yesus berkata kepada perempuan Samaria : "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian" (Yohanes 4:23).

                Latar belakang kebenaran tersebut diungkapkan Yesus kepada perempuan Samaria yang berpoliandri yakni memiliki suami lebih dari satu. Wanita Samaria ini memiliki 5 suami, ini membuktikan bahwa ia tidak puas untuk hal-hal kedagingan terlepas dari berbagai alasan yang mendukungnya. Namun realitas yang ada wanita ini tetap rajin beribadah dan tahu bagaimana harus melakukan berbagai ritual-ritual agama. Perempuan Samaria tahu bagaimana menempatkan dirinya dengan lelaki Yahudi yang dianggapnya musuh. Wanita ini dapat menyebut identitas  sumur Yakub dan fungsinya dalam Perjanjian Lama. Ia tahu bagaimana menyembah Allah yang harus berkiblat di gunung Gerisim. Pada prinsipnya wanita ini tahu pasti kebenaran dan mempratekkannya. Ketika berjumpa dengan Yesus maka ia cepat tanggap akan ajaran yang Yesus berikan. Ia tahu bagaimana menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Wanita ini tidak salah objek penyembahannya kepada Allah Abraham Ishak dan Yakub. Namun bagaimana ia harus menyembah ia yang tidak tahu. Yesus mengajarkan penyembahan dengan mengatakan harus menyembah dalam roh. Bagi gereja-gereja Pentakosta sering mengatakan bahwa menyembah Allah dalam Bahasa roh namun Yesus hanya berkata dalam roh. Ini memiliki pemahaman bahwa setiap orang yang menyembah Dia adalah menyembah tanpa ikatan-ikatan ekternal baik tempat atau waktu. Ini berarti tidak lagi berdoa dengan berkiblat di Gunung Gerisim dengan jam-jam tertentu.

                Hal yang ke dua menyembah Allah dalam roh memiliki arti mengasihi Allah dengan segenap

hati dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatan." Penyembahan memiliki arti keterlibatan langsung dengan Allah melalui segenap hati dan pikiran serta kekuatan (Mark 12:30; Luk 10:27). Secara lahiriah Perempuan Samaria dipandang sebagai wanita kelas dua dengan kegagalan demi kegagalan perkawinan. Bahkan sebagian orang memandang perempuan Samaria sebagai wanita asusila sehingga dia tidak bergaul dengan banyak orang karena mengambil air di perigi Yakub tidak bersama dengan wanita-wanita lain. Namun apapun konsepsi terhadap perempuan Samaria ini namun yang pasti ia memiliki kehidupan rohani yang baik. Nalurinya menangkap perkataan Tuhan Yesus dengan memberikan respon dengan gairah melakukan kebenaran dengan pergi ke kota dan memberitakan akan Mesias yang telah datang.  

                Menyembah diambil dari Bahasa Yunani Proskuneo berasal dari kata pros (artinya: kedekatan), dan kuon (artinya: anjing). Jadi kalau digabungkan, maka menjadi: “like a dog licking his master’s hand” / Seperti anjing menjilat tangan tuannya. Inilah gambaran ketika kita menyembah Tuhan, yaitu seperti anjing menjilat tuannya. Ternyata menjilat tuannya adalah cara anjing mengekspresikan kasihnya, kesetiaannya, dan ketaatannya kepada tuannya. Setiap kali kita menyembah Tuhan, kita perlu merendahkan diri kita di hadapan Tuhan seperti seorang hamba kepada tuannya. Ini menandai bahwa penyembahan dapat diartikan sebagai ungkapan rasa kasih yang mendalam atau dapat diartikan suatu penghargaan karena ikatan dan kelekatan sekalipun bukan satu habitat. Bila seseorang menaruh rasa hormat terhadap ayat-ayat dari kitab suci maka orang tersebut  dapat diartikan menyembah agama. (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 



[1] Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas[1]) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar), tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari "baby boom echo" umumnya tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II. https://id.wikipedia.org/wiki/Milenial

[2] degradasi/deg·ra·da·si/ /dégradasi/ n kemunduran, kemerosotan, penurunan, dan sebagainya (tentang mutu, moral, pangkat, dan sebagainya) https://kbbi.web.id/degradasi

[3] distorsi/dis·tor·si/ n 1 pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dan sebagainya; penyimpangan: untuk memperoleh keuntungan pribadi tidak jarang orang melakukan -- terhadap fakta yang ada; https://kbbi.web.id/distorsi

[4] Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna.[1] Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuein yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. https://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika

[5] Khotbah adalah salah satu cara yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan. Dalam tradisi Kristen, pesan ini didasarkan pada apa yang tertulis di dalam Alkitab atau yang biasa disebut kabar baik.Dalam bahasa Yunani, kabar baik ini disebut Yunani eungalion. Alkitab sebagai sumber pemberitaan Firman Tuhan melalui proses.Sehingga khotbah yang disampaikan bukan pemikiran subjektif si pengkhotbah. Pesan dari teks Alkitab itu yang menjadi inti khotbah. https://id.wikipedia.org/wiki/Khotbah

[6] Arti kata destruktif adalah bersifat destruksi (merusak, memusnahkan, atau menghancurkan) https://lektur.id/arti-destruktif/

[7] Arti kata terdepak adalah tertendang, terdepak, tersepak, terbuang, tergusur, tersingkir, tersisih, terusir, tercampak, tereleminasi, terkesampingkan, terasing, terpencil, angkat tangan, bertekuk lutut, mengambau, menyerah, takluk, tunduk, terhapus, tereliminasi, tersampingkan, terkalahkan, terlempar, terlontar, terpelanting, terbanting, terhempas, hanyut, terdampar. https://lektur.id/arti-terdepak/

[8]  Lama Surya Das, Awakening The Buddha Within (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, cet 1, 2003), 1

[9] Buddha mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli agama apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk beroleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang sumber https://www.kompasiana.com/kuswara/55181138a333117e07b66347/buddha-itu-agama-atau-filsafat-ya

[10] Mc Kinnon, AM., 'Reading ‘Opium of the People’: Expression, Protest and the Dialectics of Religion'. Critical Sociology, vol 31, 2005 no. 1-2, pp. 15-38.

[11]  https://indoprogress.com/2017/08/memaknai-lagi-agama-adalah-candu-milik-marx/

[12] arti ekspektasi adalah suatu harapan atau keyakinan yang diharapkan akan menjadi kenyataan di masa depan sesuai dengan keinginan dimana untuk mencapainya harus dengan tindakan nyata. ... Pada dasarnya ekspektasi adalah harapan atau sesuatu yang diinginkan terjadi. https://www.maxmanroe.com/vid/umum/arti-ekspektasi.html

[13]   Yongki Karman, runtuhnya kepedulian kita, (Jakarta PT kompas Media Nusantara, cet 1,  2010), 22

[14] DR.H.Hamzah yakub, filsafat ketuhanan (bandung: PT alma arif) cet,iv. Hlm, 112.

[15]  Safronov AG., Psy-practice in Mistical traditions From the Antiquity to the present, (Kharkhov, PPB Kovalenko A.V 2011), 12

[16] Ambivalensi adalah perasaan mendua pada seseorang. Satu sisi merasa sayang di sisi lain ada perasaan benci. Kadang disebut perasaan ambigu. Biasanya ini terjadi antara anak terhadap ortu atau gurunya. Sumber https://www.kompasiana.com/juliantosimanjuntak/5500d427813311cb60fa8105/90-anak-bermasalah-mengidap-ambivalensi?page=all

[17] https://jagokata.com/arti-kata/menyembah.html

[18] Ulangan 32:10-12 Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun,   di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara.  Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya,  mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,  demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia,  dan tidak ada allah asing menyertai dia.

[19] berkiprah/ber·kip·rah/ v melakukan kegiatan dengan semangat tinggi; bergerak (di bidang); berusaha giat dalam bidang (politik dan sebagainya): kita sedang ~ untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang. https://kbbi.web.id/kiprah

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.