Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini16
Kemarin599
Minggu Ini4091
Bulan Ini16
Total Pengunjung1652420

IP Kamu 3.230.1.126 Sunday, 01 November 2020

Guests : 11 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di Zoom Id : 309 283 9234  Pass : holyspirit  atau youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

SAAT KUANTITAS MENJADI KUALITAS

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

            

Peristiwa besar yang terjadi pada gereja mula-mula tidak saja didominasi oleh pencurahan Roh Kudus dengan bahasa roh yang menjadi cikal bakal gereja Pentakosta yang disebut aliran-aliran kharismatik. Namun periswa yang tidak kurang menjadi perhatian banyak orang adalah berbagai macam mujizat yang terjadi serta banyaknya jumlah jiwa-jiwa bertobat serta cara hidup jemaat mula-mula yang menjadi DNA bagi gereja-gereja sepanjang abad.  

            Mungkin baru pertama kali Petrus dan Yohanes menggunakan nama Yesus di depan umum untuk menyembuhkan orang lumpuh yang diberitakan oleh Alkitab. Namun hasilnya tidak main-main, berhasil seribu persen. Ucapan nama itu memang baru pertama kali tapi pergaulan dengan pribadi itu sudah makan beribu-ribu jam . Tidak kurang tiga setengah tahun bagaimana Petrus dan Yohanes mendampingi Yesus dalam segala pelayanannya. Hubungan yang berulang-ulang kali adalah sebuah kwantitas yang menghasilkan kualitas nama Yesus mampu menyembuhan orang lumpuh. 

                Perkataan Petrus menyebut nama Yesus bukan perkataan asal-asalan yang tidak diperhitungkan secara nalar tetapi perkataan hasil dari jalinan kehidupan yang sangat lama. Hal ini hingga secara mistis menyembuhkan orang tanpa peralatan medis.  Jika penyakit dan segala kelemahannya diidentikkan dengan kuasa kegelapan terbukti nama Yesus yang diucapkan oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan Tuhan mampu membuat iblis dan segala pekerjaannya kocar-kacir dan lari tunggang langgang.  Ini yang membedakan dengan kisah 7 anak Skewa yang menggunakan nama Yesus sembarangan, hasilnya nol besar. pelayanan Rasul Paulus di kota Efesus seperti dicatat dalam Kisah Para Rasul 19 : 13 – 20. Pada waktu itu di Efesus ada 7 anak Skewa yang berprofesi sebagai “tukang jampi” atau istilah bekennya adalah dukun yang biasa dimintai tolong apabila ada orang yang sakit atau kerasukan roh jahat. Dalam ayat-14 dijelaskan bahwa 7 tukang jampu alias dukun ini adalah anak-anak dari imam kepala Yahudi di Efesus.

             Tujuh anak Skewa ini dengan tidak berpikir panjang menyebut nana Yesus ketika mereka mempraktekkan Occultisme-nya (Kis 19 : 13), namun hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Bukannya roh jahat keluar, malah mereka dihajar habis-habisan sampai-sampai telajang babak belur (19 : 15 – 16). Dari bagian ini kita tahu satu hal – Ada beda besar sekali antara sekedar menyebut nama Yesus – dengan – mengenal nama Yesus. Hasil orang yang hanya mengucapkan nama Yesus tanpa hubungan yang jelas adalah, Tetapi roh jahat itu menjawab: "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu? Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. (Kisah Rasul 19:15-160)

            Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa tindakan hubungan itu jauh lebih penting daripada ucapan. Mengenal Nama Yesus sangat berbeda dengan mengucapkan nama Yesus. Kalau ini dibuat secara umum banyak agama yang menekankan perkataan daripada pengenalan akan Tuhan. Nama Yesus diucapkan oleh orang yang tidak mengenal Dia sangat berbeda dengan orang-orang yang menjalin hubungan dengan Dia. Mengenal Dia lebih akan menghasilkan segala sesuatu yang lebih baik juga. Orang yang hanya sekedar latah nama Yesus bukan menunjukkan dia rohani malah justru sebaliknya sedang melecehkan nama yang Agung. Orang berpikir jika berulang kali menyebut nama Tuhan itu menjadi rohani dan diperkenan oleh Tuhan. Tidak demikian halnya sebab banyak agama cuma melakukan ritual dengan ucapan bibir yang berulang-ulang. Mengucapkan doa itu-itu saja dengan assesoris tidak lebih dari warna-warna tertentu. Mereka sedang kehilangan Tuhan di dalam agamanya. Agama yang dianut bukan ajaran Allah sejati tetapi rekayasa dari manusia. Orang yang hanya mengucapkan tentang Tuhan tanpa pengenalan maka divonis tidak berkualitas.  

            Nama Yesus tidak boleh diucapkan dengan sia-sia. Nama itu tidak boleh diucapkan untuk menggapai kekuasaan dengan sebuah ancaman. Nama itu terlalu agung untuk hal-hal sepele. Jangankan nama Yesus nama kita sendiri dipakai oleh orang lain bisa menjadikan kita marah. Orang yang menggunakan nama Tuhan itu tanpa hubungan memiliki tanda itu hanya sekedar aktivitas bibir saja.  Yesaya 29:13 mengatakan : " Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.

            Ayat di atas nemastikan ajaran yang buka berasal dari Allah dengan cirinya hanya memuliakan Allah dengan bibirnya namun hatinya menjauh daripada Tuhan. Ini berarti ritual agamanya hanya dari lidah dan bibirnya. Jangan heran di sorga nanti ada ubur-ubur seperti bibir karena hanya itu yang bisa diselamatkan. Selama di bumi akan kelihatan rohani tetapi ini orang-orang bebal, kacau dan merasa hebat sendiri. Kemana-mana jualannya agama untuk mencari hidup maka dapat dipastikan ia sedang mencari korban dan tidak pernah berkorban. Lihat model seperti ini sudah lama ada dan membuat Yesus begitu marah. Pamer agama di depan banyak orang dengan menunjukkan hak vetonya Allah menjadi miliknya. Yesus menegor mereka bahwa orang-orang itu tidak berkualitas. 

            Kualitas menjadi kuantitas menunjukkan bahwa perkataan yang banyak bukan sebuah indikasi bahwa dia mengenal Tuhan dengan benar. Yesus mengatakan : Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Mat 6:7). 

            Kerohanian tidak bisa dibuktikan dengan kefasihan lidah. Kemampuan seseorang berkata-kata belum tentu menunjukkan bahwa dia orang yang berkenan kepada Tuhan.  Paulus mengatakan dari Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa (1 Korintus 4: 20). Komponen utama Kerajaan Allah yakni pusatnya kehidupan kekristenan, komponen utamanya bukan perkataan tetapi kuasa.  Kuasa itu berasal dari jalinan hati dengan Sang Pemiliki kuasa yakni Tuhan Sang Khalik sendiri. Ketika seseorang menyebut nama Yesus itu identik dengan menghadirkan Yesus Kristus dengan segala kuasanya. 

            Menyebut nama Yesus menghadirkan kasih, menyebut nama Yesus menghadirkan pengampunan, kuasa dan mujizatNya. Orang tidak bisa menyebut nama Yesus menghadirkan kebencian, iri hati, dendam dan pembunuhan. Kuantitas menghasilkan kualitas terjadi bila nama Yesus dapat menghasilkan kehangatan hati sukacita dan berkat yang menyebar bagi banyak orang. Kodrat manusia memiliki kebebasan untuk bertindak, tindakan dan perbuatan yang diulang-ulang akan menghasilkan ketrampilan dan ketrampilan ini berubah menjadi sifat. Tindakan yang berulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan itu akan menjadi karakter yakni sebuah sikap hubungan dengan Yesus yang secara kuantitas akan menghasilkan sifat seperti Kristus

            “Jika kuantitas menghasilkan kualitas, maka panggilan nama Yesus Kristus yang sering dan hampir tak ada habisnya - meskipun pada awalnya linglung - dapat menghasilkan perhatian dan kehangatan hati; sejauh kodrat manusia mampu memperoleh suasana hati tersebut dengan cara sering digunakan dan kebiasaan.

            Nama Yesus Kristus bukan menjadi jaminan masuk sorga bila diucapkan di luar hubungan dengan Dia.  Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku   yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan(Mat 7:21)

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.