Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini926
Kemarin1683
Minggu Ini3981
Bulan Ini40434
Total Pengunjung1477567

IP Kamu 34.204.193.85 Wednesday, 27 May 2020

Guests : 17 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

PERKAWINAN DI SORGA

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

 

 

 

Banyak orang Kristen tidak sadar bahwa dirinya akan berakhir pada perkawinan di Sorga dan memiliki status sebagai mempelai wanita. Suatu pesta meriah dengan kehadiran  orang-orang kudusNya Tuhan sejagat raya bahkan makluk-makluk astral turut memeriahkannya. Pesta ini merupakan programnya Sang Pencipta sendiri untuk menyambut mempelai wanitaNya yakni orang-orang tebusanNya yang kedapatan tidak bercela dan mereka yang sanggup menjaga kekudusannya tanpa cacat dan cela. Perkawinan ini tanpa sex, dan senggama atau kepuasan kedagingan karena tubuh yang dipakai bukan tubuh jasmani melainakn tubuh kemuliaan. Tidak bisa dibayangkan jika perkawinan Anak Domba diisi oleh sex dan segudang hawa nafsu maka itu identik atmosfer pesta  hawa nafsu kedagingan dan mengumbar syahwat lelaki hidung belang dan wanita-wanita yang penuh  percabulan. Perkawinan di sorga terkenal dengan istilah Perkawinan Anak Domba Allah yang merupakan metafora puncak keintiman antara gereja dan kepala gerejaNya yang sudah terjalin sejak pengorbanan Kristus di atas salib sampai kedatanganNya yang ke dua kali. Seluruh tindakan kekristenan bersifat sex yang kudus yakni mencinta dan bercinta dengan Tuhan yang merupakan patronnya Tuhan. Kekristenan seharusnya tidak ada tindakan di luar cinta kepada Tuhan yang diwujudkan dengan menjadi garam dan terang dunia serta berbuahkan buah Roh Kudus. Hal ini merupakan tugas pokok karena bisa dinikmati sesama, sementara itu bercinta dengan Tuhan dapat diwujudkan sebagai sebuah aroma keintiman melalui doa, penyembahan dan pelayanan. 

Kebenaran di atas identik dengan pengertian coincidentia yang menurut Para Sarjana sendiri memiliki makna"dimana dalam puncak perjumpaan dengan yang suci, berbagai hal yang biasa bertentangan tampak sejalan untuk mengungkapkan kesatuan yang mendasari[1] . Pertemuan Allah dan manusia di Taman Eden dikisahkan sebagai keintiman dua pribadi yang Opposite  yakni Yang Illahi dan Insani, yang fana dan yang kekal, Yang natural dan Supranatural sekalipun demikian ke dua entitas yang berbeda ini dapat seiring sejalan. Selama mereka berjalan bersama bagaikan pasangan mempelai maka yang tampak jelas kemampuan Allah yang supranatural mendominasi makluk yang natural di Taman Eden. 

Sekalipun manusia yang terdiri dari tanah liat namun dapat memiliki kemampuan dan kekuatan seperti Allah. Keintiman ini menunjukkan karakter Tuhan sepenuhnya sehingga narasi kisah mereka di Taman Eden tidak tampak kebutuhan-kebutuhan jasmaniah. Manusia pertama Adam dan Hawa hidup dalam lintasan ruang dan waktu seperti Allah. Sekalipun mereka telah memiliki tubuh lahiriah namun  kebutuhan untuk bersetubuh tidak dikisahkan.  Mereka hidup tidak dalam hawa nafsu sex sebagai kebutuhan yang primer melainkan hidup seperti Allah karena manusia pertama lebih dominan sebagai makluk roh ketimbang makluk jasmani. Keintiman makluk ciptaan dan Sang Pencipta  ini diungkapkan secara jelas dan nyata dalam Perjanjian baru sebagai Perkawinan Anak Domba Allah. 

Harus dipahami istilah Perkawinan Anak Domba merupakan narasi yang figuratif atau kiasan. Yohanes dalam penglihatannya di Pulau Patmos menyampaikan kebenaran "Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya   telah siap sedia (Wahyu 19:7).  Kitab wahyu adalah sebuah kitab yang sarat dengan gaya bahasa  majas[2]. Setiap narasi dalam kitab wahyu tidak bisa dipahami secara hurufiah mutlak. Namun juga tidak bisa juga dipahami secara alegoris terus menerus. Pemahaman kebenaran kitab wahyu harus dipahami dari berbagai macam hukum-hukum hermeneutika yang dapat dipertanggung jawabkan. 

Perkawinan yang Agung ini merupakan pertemuan antara mempelai Pria yang diidentikan dengan Anak Domba Allah dan mempelai wanitanya adalah Gereja Tuhan. Tentu ini bukan hurufiah karena Anak Domba Allah dan gereja adalah hanya figuratif saja. Dalam Perjanjian Lama Allah menggunakan bahasa metafora bahwa dirinya adalah Suami dari Israel yang merupakan istrinya.  Yesaya mengatakan : "Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi (Yes 54:5). 

Allah menggunakan gambaran pernikahan Hosea dengan Gomer yang tidak setia kepada suaminya dengan kembali ke pelacuran. Pesan yang kuat kemarahan Allah akan ketidak setiaan Israel namun Ia tetap setia dan mengasihinya. Hosea menerangkan : "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi (Hosea 2:19-20). 

 

a. Tempat dan waktu Perkawinan Anak Domba

                      Jika diamati dari narasi kitab waktu fasal 19 peristiwa Perkawinan Anak Domba Allah terjadi sebelum kedatangan Tuhan ke bumi. Peristiwanya sendiri dapat dilihat di ayat pertama yakni terjadi di Sorga yang dalam bahasa Yunaninya οὐρανῷ (ouranō) yang memiliki pengertian langit, sorga, namun juga merupakan gambaran kebahagiaan, kekuatan dan keabadian[3] . Paulus menyebutnya sebagi peristiwa pengangkatan yang terjadi di awan-awan ., " sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan  menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (1 Tes 4:17).

Paulus menggunakan kata Yunani, - ἐν νεφέλαις en nephelais -"yang  berarti "di awan;" yaitu, dalam jumlah seperti itu, dan dalam pengelompokan yang menyerupai awan. Bahwa mereka akan diangkat ke wilayah awan, atau ke awan yang akan menyertai Tuhan Yesus.  Beberapa doktrin semacam ini dipegang oleh orang Yahudi kuno. Demikianlah rabbi Nathan (Midras Tillin, 48:13) mengatakan, "Apa yang telah dilakukan sebelumnya akan dilakukan lagi. Ketika dia memimpin orang Israel dari Mesir di awan-awan surga, demikian juga dia akan melakukannya kepada mereka di masa mendatang." [4].  Kata diangkat diambil dari kata Yunani Kata "keangkatan" diambil dari kata Latin raptu yang artinya "diangkat terbawa atau diangkat ke atas". Kata Latin ini adalah padanan kata Yunani _harpazo_, yang diterjemahkan "diangkat" dalam 1 Tes 4:17. Peristiwa ini, yang dijelaskan di sini dan dalam pasal 15 (1Kor 15:1-58), menunjuk pada pengangkatan gereja dari bumi untuk menyongsong Tuhan di angkasa[5].

Ada kekuatan yang besar yang membuat orang-orang terangkat.  Kata ἁρπάζω harpazō dalam Matius 11:12, "yang kejam mengambilnya dengan paksa;" Matius 13:19, "maka datanglah orang fasik dan dirampas;" Yohanes 6:15, "bahwa mereka akan datang dan membawa dia dengan paksa; Yohanes 10:12," serigala menangkap mereka; "Kisah 8:39," Roh Tuhan menangkap Filipus; 2 Korintus 12: 2, "orang seperti itu naik ke langit ketiga;" juga, Yohanes 12: 28-29; Kisah Para Rasul 23:10; Jude 1:23; Wahyu 12: 5. Kata kerja tidak ada di tempat lain dalam Perjanjian Baru[6].

Yesus sendiri mengkisahkan peristiwa pengangkatan ini dengan sebuah kisah tentang dua wanita yang sedang mengilang "Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." (Luk 17:35).  Harus dipahami bahwa Perkawinan Anak Domba terjadi sebelum kedatangan Tuhan di bumi membinasakan para musuhnya sebab dalam narasi selanjutnya masih terdapat kisah tentang kuda putih, kuda merah dll. Namun para ahli tidak sepakat satu dan lainnya soal waktu pengangkatan anak-anak Tuhan ini. Penulis tidak menguraikan secara rinci karena membatasi diri tentang essensi dari Perkawinan Anak Domba Allah saja. 

 

Model Perkawinan Anak Domba

Perkawinan Anak Domba dan Mempelainya sangat bertolak belakang dengan perkawinan di bumi dengan kebutuhan sexsualitas, senggama atau orang bilang maxing love yang mewarnai setiap pernikahan di bumi. Sorga bukan tempat pelampiasan hawa kedagingan seperti di bumi. Yesus sendiri mengajarkan bahwa : "  Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga (Mat 22: 30). Dalam kekekalan manusia yang telah mati menggunakan tubuh kemuliaan, Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi (1 Kor 15:40. Jadi secara jelas perkawinan di Sorga tidak menggunakan hawa nafsu layaknya di bumi. 

Gambaran Pernikahan ini sudah tercatat dalam Perjanjian lama diungkapkan secara detil dalam kitab yang dianggap paling suci bagi orang Ibrani adalah kitab kidung Agung. Kemesraan antara Sulamit dan Salomo merupakan gambaran keintiman abadi sampai dalam kekekalan. Gairah saling mencinta dan memberikan yang terbaik kepada sang kekasih merupakan percakapan yang mendominasi dari seluruh kitab kidung Agung. 

Kekristenan merupakan manifestasi dari keintiman antara Yesus Kristus dengan JemaatNya yang digambarkan dengan hubungan suami istri. Paulus mengungkapnya dengan kalimat : Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya (efe 5:33-34). Gambaran pernikahan Anak domba merupakan proses panjang dari penebusan keselamatan sampai kepada kekekalan melalui proses yang mirip dengan perkawinan orang Yahudi. 

Harus dipahami bahwa pernikahan Anak domba tidak jauh berbeda dengan adat istiadat pernikahan orang Yahudi. Hal yang pertama yang orang Yahudi lakukan dalam pernikahan bahwa Sang mempelai Pria akan meninggalkan ayah ibunya terlebih dahulu seperti yang telah diucapkan dalam kejadian Sebab pikirnya Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu  dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej 2:24). Hal pertama yang Yesus lakukan Ia tinggalkan sorga dan mencari mempelai wanitanya yakni gerejanya di bumi. Tahapan ke dua mempelai pria membayar mahar untuk mendapatkannya dan Yesus telah melakukannya di atas kayu salib untuk mendaptkan kembali. Harga yang dibayarkan adalah DARAHNYA, hidup-Nya. (Kis 20:28; 1 Kor 6:19-20)

Dalam perkawinan Yahudi dikenal dengan pertunangan yang dilambangkan dengan ikatan janji cincin yang melingkar. Yesus sendiri menggunakan darahNya untuk mengadakan perjanjian abadi. : “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku.” (1 Korintus 11:25). Setelah selesai seluruh perjanjian dan kepemilikan akan mempelai maka mempelai Pria menyediakan tempat tinggal. Yesus sendiri berkata : " janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku  banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."(Yoh 14:1-4).

 

 

 

C. Pola kehidupan mempelai Kristus

Kekristenan tidak boleh lepas dari patron yang ditetapkan Allah yakni mencinta dan bercinta. Mencinta Tuhan dan sesama merupakan refleksi dari dari essensi bercinta dengan Tuhan. Gairah yang bergelora dengan lawan jenis seorang yang dimabuk asmara harus merasuk di dalam diri orang percaya untuk senantiasa kasmaran akan sang Illahi. Pada fasal pertama Kidung Agung mengatakan : " Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis  cinta kepadamu (Kid 1:1-3) 

Narasi ini begitu jelas gairah dari mempelai wanita kerinduan untuk dicium sang mempelai pria. Hal ini menandai bahwa ia sedang dimabok asmara. Tidak peduli ia bersama-sama sahabatnya ia berani mengungkapkan akan kerincuan dan cintanya akan sang kekasihnya. Ciuman ini diambil dari kata  Ibrani Nashag yang memiliki arti bukan sekedar ciuman kening melainkan bibir, suatu sentuhan yang mengandung birahi. Untuk mencapai tingkat yang romatis, ciuman biasanya memerlukan sesuatu yang sangat pribadi. 

Ciuman yang diharapkan oleh gadis Shunem ini adalah kerinduan yang mendalam akan sentuhan dari sang kekasih yang tidak sedang bersamanya. Namun sekalipun demikian sang gadis menantikan dengan sangat sentuhan pria yang didambakannya, seolah-olah pria kekasihnya akan menjamahnya dalam bayangan cinta melalui ciuman mesra. Kerinduan ini harus senantiasa dimiliki orang percaya yang merindukan jamahan Tuhan dalam kehidupannya. Ciuman ini lambang dari doa dan kerinduan akan jamahan dan lawatan Tuhan setiap hari sebagai kekasih jiwa yang seolah-olah jauh di mata tapi dekat di hati.

Menurut Cane, ciuman romantis memerlukan lebih dari kedekatan sederhana dan juga perlu adanya keintiman atau privasi[7]. Psikolog terkenal Wilhelm Reich "mengecam masyarakat" karena tidak memberikan para pemuda cukup privasi dan membuat mereka sulit untuk hanya bersama kekasihnya. Namun, Cane menjelaskan betapa banyaknya pencinta tetap bisa mencapai keromantisan meskipun berada di tempat umum. Dia menambahkan, "Dengan cara ini mereka dapat berciuman di depan umum bahkan di sebuah plaza yang ramai dan tetap romantis." Meskipun demikian, ketika orang diminta untuk menggambarkan tempat mereka berciuman yang paling romantis, jawaban mereka hampir selalu merujuk kepada tempat tempat yang sepi, misalnya kebun apel, pantai, padang tempat melihat bintang, atau kolam di daerah terpencil[8]

bersambung ....

[1] Karen Armstrong., masa depan Tuhan, op.cit, 87

[2] Majas adalah gaya bahasa perumpamaan atau juga kiasan yang biasanya dipakai dalam menguatkan kesan sebuah kalimat tertulis atau lisan dan juga serta membawa nuansa imajinatif kepada setiap pembacanya.(https://hidupsimpel.com/macam-macam-majas/)

 

[3] https://biblehub.com/parallel/revelation/19-1.htm

[4] https://biblehub.com/commentaries/barnes/1_thessalonians/4.htm

[5] https://alkitab.sabda.org/article.php?id=8466

[6] https://biblehub.com/commentaries/barnes/1_thessalonians/4.htm

[7] William Cane, The art of Kissing, (New York, St. Marthin Press, 2010), 74

 

[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Ciuman#cite_note-6

 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.