Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini47
Kemarin599
Minggu Ini4122
Bulan Ini47
Total Pengunjung1652451

IP Kamu 3.230.1.126 Sunday, 01 November 2020

Guests : 8 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
Mulai  15 Maret 2020 ibadah di 
Fave Hotel Kelapa Gading 

Blok C-32, Jl. Raya Gading Indah No.8, RT.13/RW.18, Blok C-32,Klp. Gading Timur 

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1424 

Pada masa Pandemi covid-19 ibadah streaming di Zoom Id : 309 283 9234  Pass : holyspirit  atau youtube, facebook, instagram

 
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

PERJALANAN  EMPAT KUDA

Pdt. Dr. Timotius Bakti Sarono

   

satu-satunya buku yang paling mistik yang supranatural adalah Alkitab. Dimana rahasia diantara yang paling rahasia tentang Sorga dan gonjang-ganjingnya yang akan menimpa bumi ini disingkapkan secara terang benderang. Salah satu cirikhas buku mistik mengandung ramalan yang memiliki kualifikasi tertinggi dalam penggenapannya. Pewahyuan yang ditulis oleh Yohanes ini bukan berasal dari bumi melainkan dari dunia supranatural yang langsung berkomunikasi dengan Sorga dan Sang Pemiliknya yakni Yesus Kristus.  Peristiwa yang akan terjadi ribuan tahun sudah diperlihatkan secara kasad mata kepada Yohanes untuk disingkapkan. Kitab wahyu berisi silabus detil-detil peristiwa tentang kiamat. Babak demi babak peristiwanya diperlihatkan seperti sinetron dengan akhir kisah tentang kedatangan Tuhan yang ke dua kalinya. Wahyu 1: 1 mengatakan "Wahyu Yesus Kristus, yang Allah berikan kepadanya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya hal-hal yang harus segera terjadi."

 Secara rinci dengan akurasi yang tidak meleset satu incipun seperti kisah nyata peristiwa yang akan tejadi ribuan tahun diungkapkan oleh Yohanes ketika di pulau Patmos. Yohanes menggunakan bahasa yang sangat sulit dipahami yang semua tidak bisa ditafsirkan secara hurufiah atau metafora. Durasi waktupun tidak bisa diklaim semua terjadi pada akhir zaman di era digital ini melainkan jauh sebelum Yohanes menulis juga terdapat kisah di dalamnya. Lambang-lambang yang diungkapkan dalam narasi kitab wahyu tidak boleh diakui sepenuhnya secara hurufiah. Orang harus berhati-hati dalam memandang narasi yang Yohanes sampaikan supaya tidak sesat dan menyesatkan banyak orang. 

         Ada banyak peristiwa yang terjadi namun dalam artikel ini hanya akan dibahas tentang perjalanan kuda-kuda dalam kitab wahyu. Wahyu fasal 6 mengkisahkan tentang pembukaan tujuh meterai. Setiap meterai di buka maka dari ke empat meterai itulah keluar kuda dengan berbagai macam warna. Setiap kuda yang datang pasti menyeret berbagai macam peristiwa-peristiwa yang terjadi bahkan yang sudah terjadi.  Setiap lintasan yang dilalui oleh kuda yang berwarna apapun akan membawa sejumlah peristiwa yang probilitas atau kemungkinan seratus persen pasti terjadi menimpa bumi ini. Peristiwa yang dicerikatan oleh Yohanes ini bersifat historis juga sekaligus futuris. Kebenaran itu paralel apa yang terjadi di masa lalu juga terjadi di masa yang akan datang. 

         Satu-satunya pribadi yang sanggup membuka meterai demi meterai adalah Yesus Kristus(wahy 5:4). Ini menandai bahwa administrasi takdir Ilahi hanya Yesus Kristus sebagai Hakim di akhir zamanyang sanggup mengungkapnya. Yohanes hanya sebagai objek dari tindakan Tuhan dengan  memperlihat  "βλέπε kai blepe - "and see" tentang segala peristiwa yang akan terjadi menghujam ke bumi ini. Namun semuanya di tulis bukan hanya untuk melihat, mendengar dan membaca melainkan untuk direnungkan serta berjaga-jaga bahwa waktunya sudah sangat dekat.  Penglihatan dari Yohanes ini juga dipertontonkan oleh Allah kepada zakharia dalam zakharia 1:8-7 dan fasal 6:1-8  lambang-lambang yang mengkisahkan semua peristiwa yang akan terjadi. 

         Wahyu 6:2- 3 mengatakan : "Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan. Memegang sebuah panah diambil dari kata toxon yang memiliki arti busur yang berasal dari kata tikto untuk masa depan toxsomai[1] yang berarti melahirkan. sedangkan Mahkota disini menggunakan kata yunani στέφανος stephanos  yakni sebuah lencana pembeda dari kaisar Romawi; Mahkota dengan mutiara dan perhiasan lainnya, diadopsi dan dipakai. Mahkota, biasanya terdiri dari laurel, adalah lencana kaisar yang dianggap sebagai pemimpin atau komandan militer[2].

         Bila dipahami secara rinci bahwa orang yang naik kuda putih ini hanya menggunakan satu mahkota, dengan busur yang tanpa anak panah yang memiliki arti tidak memiliki kekuatan. kemenangannya adalah semu. Dapat dipastikan penunggang kuda putih ini bukan Yesus Kristus yang memiliki kekuatan luar biasa. Ia pemegang sebilah pedang tajam" Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik." (Wahyu 1:16).

         Mahkota yang dimiliki oleh penunggang kuda putih ini mirip yang dipakai oleh kaisar-kaisar Romawi hanya satu mahkota sementara Yesus Kristus memiliki banyak mahkota.  "Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri" (Wahyu 19:12). Mahkota yang dipakai oleh Yesus Kristus diambil dari bahasa Yunani yang berarti Deadema yang memiliki arti mahkota. Dapat diartikan bahwa orang yang menaiki kuda putih itu ingin menyerupai Yesus dengan mahkota yang berbeda dengan yang Yesus miliki. Penunggang itu menggunakan mahkota stefanos sementara Yesus menggunakan mahkota deadema,  keduanya memiliki arti mahkota. Yang digunakan oleh penunggang kuda putih itu adalah mahkota di zaman romawi. Menjadi pemenang bukan karena peperangan tetapi kekuasaan penjajahan dan perbudakan. 

         Beberapa penafsir mengatakan bahwa kuda putih itu adalah masa-masa pemerintahan Romawi yang menggunakan mahkota stefanos tersebut. Namun secara futuris bahwa kuda putih itu adalah duplikat dari Yesus Kristus yang hadir seolah-olah putih bersih sebagai dewa penolong dengan berbagai pengajaran yang disertai mujizat. Orang model ini tidak lain adalah Antikris. 2 Tesalonika 2:9 mengatakan : "kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu. Yesus sendiri mengatakan : "Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan  (Markus 13:22). Matius menginformasikan kepada kita bahwa mujizat yang dibawa oleh Antikris itu betul-betul dasyat (Matius 24:24). 

         Memang sejak zaman purbakala sudah ada antikris namun kehadirannya di akhri zaman ini betul-betul masih. Keberadaannya dan ajarannya diungkap secara jelas oleh Alkitab. Yohanes mengingatkan kepada kita, Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir (1 Yoh 2:18).       Itulah masa sekarang dimana antikris berkuasa dengan ajaran yang bertentangan dengan kebenaran sejati.

         Ajaran Antikris diungkapkan oleh Yohanes dengan perkataan : "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak (1 Yoh 2:22), selanjutnya Yohanes memperingatkan bahwa : "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, m  yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia ( 2 Yoh 1:7, 1 Yoh 4:3).

         Ajaran ini seolah-olah benar dan merasa diri paling benar dan menganggap ajaran yang asli dianggapnya salah fatal. Untuk menutupi kesalahannya maka dengan gencar menuduh kitab suci yang lain telah dipalsukan, diacak-acak, tidak original dan tidak sesuai lagi dengan kebenaran yang sesungguhnya. Ajaran ini akan mendunia dan menggilas kebeanaran dari Kristus dan akan mengalami kemenangan sebelum Kristus datang. Namun dengan jelas Yohanes menuliskan : Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak (2 Yoh 1:9). Ajaran tanpa Allah yang benar malah justru akan menguasai dunia. Tidak ada zona nyaman confort zone bagi kekristenan. Agama Kristen agama yang menimbulkan kebencian bagi dunia ini bahkan agama yang akan dianggap sesat bahkan kafit. stigma ini akan terus berlanjut sampai akhir zaman. Jika demikian di bumi ini kekristenan tidak dikatakan sebagai agama yang beruntung melainkan agama yang akan menjadi cercaan dan bahan cemohan sampai Yesus datang sebagai raja segala raja dan Tuhan segala Tuhan. 

         Orang perlu memahami bahwa penyesatan itu tidak hanya terjadi di di luar kekristenan melainkan di dalam kekristenan sendiri. Banyak pemimpin gereja mengaku memiliki kuasa yang mendatangkan mujizat. Ia memviralkan dirinya sendiri seolah-olah memiliki pengajaran paling benar, paling suci dan paling dipakai oleh Tuhan sendiri. Biasanya para pemimpin-pemimpin ini memiliki pengikut yang jumlahnya begitu banyak. Seluruh jemaat mengidolakan dirinya, gereja tanpa dirinya sepi dan tidak ada jemaat yang menghadiri ibadah selain dirinya yang akan berkotbah. Ia sudah mampu menghipnotis jemaat bahwa dirinya adalah Tuhan yang layak dipuji dalam pelayanannya. Memang secara kasat mata ia tidak mengatakannya dirinya Tuhan tetapi cara pelayanannya sudah menyerupai antikris. Ini bukan berarti anti mujizat tetapi mujizat bukan pokok ajaran kekristenan melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat. Penekananan yang sudah bergeser menjadikan hamba Tuhan identik dengan antikris. 

         Perjalanan kuda kedua 6:3-4 mengatakan  "Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: "Mari!" Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar. 

         Kita harus memahami kuda putih masih ada di bumi dan belum diangkat dengan kehadiran kuda yang warnanya merah padam. Kuda dengan warna yang mencolok mata ini memiliki otoritas untuk mengambil damai sejahtera di atas bumi. Atas nama agama orang mulai membantai sesamanya. Warna merah adalah lambang dari peperangan danpembantaian. Zakaria 1:8-9 mengatakan : " tadi malam aku mendapat suatu penglihatan tampak seorang yang menunggang kuda merah! Dia sedang berdiri di antara pohon-pohon murad yang di dalam jurang; dan di belakangnya ada kuda-kuda yang merah, yang merah jambu dan yang putih. Maka aku bertanya: Apakah arti semuanya ini, ya tuanku? Lalu malaikat yang berbicara dengan aku  itu menjawab: Aku ini akan memperlihatkan kepadamu apa arti u  semuanya ini!

         Dalam penglihatan zakarian ini mirip dengan penglihatan Yohanes yang hidup dengan selisih 600 tahun. Memang harus dipahami bahwa keduanya berbicara conten yang sama dengan waktu yang berbeda. Banyak orang menafsirkan sama bahwa peristiwa kuda merah padam ini adalah pembantaian yang sangat keji dengan hancurnya kota  Yerusalem oleh Jendral Titus tahun 70 M. Nubuat zakharia yang ditulis 500 tahun sebelumnya di genapi sementara Yohanes menerima penglihatan sekitar tahun 90 an. Kisah memilukan orang Yahudi dimana banyak orang disembelih sehingga tinggi aliran darah sampai sekekang kuda. Namun pembantaian lebih sadis atas nama nama agama di hari-hari akhir kedatangan Tuhan masih terus berlanjut dengan masif sampai penglihatan kuda-kuda selanjutnya. Presentasi peperangan ini tampak jelas dari pembantaian oleh nama agama dengan hadirnya ISIS dan radikalisme yang intoleransi. Mereka tidak lagi berpikir secara manusiawi dengan membantai sesama dianggapnya beribadah. Yesus mengatakan Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah (Yoh 16:2)

         Penglihatan kuda selanjutnya berada dalam meterai ke 3 yakni kuda hitam. Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga k , aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu (Wahyu 6:5-6)

         Hitam melambangkan sebuah kesengsaraan dan penderitaan sekarat dan malapetaka. Barnes menafsirkan kuda hitam, dalam Alkitab, adalah gambar ketakutan, kelaparan, kematian. Ratapan 5:10; "Kulit kami hitam seperti oven, karena kelaparan yang mengerikan." Yeremia 14: 2; "karena kekeringan Yehuda berkabung, dan gerbang-pintunya merana; mereka dalam duka yang dalam (secara harfiah, hitam) untuk tanah itu." Yoel 2: 6; "Semua wajah akan mengumpulkan kegelapan." Nahum 2:10; "Lutut itu membentur, dan ada rasa sakit yang hebat di semua pinggang, dan wajah mereka semua menjadi hitam." Bandingkan Wahyu 6:12; Yehezkiel 32: 7. Dari warna kuda yang diperkenalkan di sini kita secara alami harus mencari beberapa bencana yang mengerikan, meskipun sifat dari bencana itu tidak akan ditentukan hanya dengan penggunaan kata "hitam." Apa yang menjadi bencana harus ditentukan oleh apa yang mengikuti dalam simbol. Kelaparan, pestiilensi, penindasan, pajak berat, tirani, invasi - semua ini mungkin dilambangkan dengan warna kuda[3].

         Seiring kuda hitam ini melaju maka dikisahkan penunggangnya membawa timbangan. Kata asli yang diterjemahkan di sini sebagai "sepasang saldo," adalah zυγὸν zugon. Kata ini dengan benar berarti kuk, melayani untuk menyatukan segala sesuatu bersama, sebagai kuk untuk ternak. Oleh karena itu digunakan untuk menunjukkan berkas keseimbangan, atau sepasang timbangan - dan terbukti digunakan di sini. Idenya adalah, bahwa sesuatu harus ditimbang, untuk memastikan kuantitas atau nilainya. Timbangan atau keseimbangan adalah lambang keadilan atau kesetaraan (bandingkan Ayub 31: 6; Mazmur 62: 9; Amsal 11: 1; Amsal 16:11 Hal ini mengingatkan akan timbangan yang muncul pada waktu dari raja belsazar. Daniel 5:25-30 Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah  dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu. 

         Kuda hitam yang membawa kesengsaraan, penderitaan dan wabah ini membawa seseorang dalam ujian atau dalam bahasa perjanjian baru adalah penampian. Yesus mengatakan dengan jelas bahwa : " Alat penampi c  sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." (Lukas 3:17). Petrus menegaskan dengan jelas bahwa : " Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? (1 Petrus 4:17).

         Di masa silam tahun penafsiran ini mengacu kepada kemerosotan moral yang mendatangkan kesengsaran orang kristen sendiri. Namun dimasa sekarang kemerosotan iman disebabkan akan hidup hedonisme yang diajarkan para hamba Tuhan. Hidup di akhir zaman sudah seperti kehidupan di zaman Nuh. Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua (Luk 17:27).

         Oleh karena kemerosotan iman yang sedemikian rupa dikalangan anak2 Tuhan maka Tuhan datang dengan berbagai bencana untuk menguji iman mereka. kehangatan amarah Tuhan bergerak sehingga orang percaya untuk lock down di rumah masing-masing. Yesaya mengatakan : Yesaya  26:20 “Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu”. Meningata begitu banyak orang tinggal di dalam maka seluruh perdagangan mengalamai kekacauan. Orang tidak bisa bergerak seperti biasanya, para penjual dan pembeli hanya terfocus kepada persoalan makan dan minuman saja. 

         Harga-harga terlalu tinggi yang digambarkan dengan secupak gandum sedinar jika sedinar bisa makan satu keluarga maka gandum itu hanya bisa dimakan untuk satu orang. Namun ada yang sangat berharga yang tidak boleh di rusak adalah minyak dan anggur yang merupakan lambang untuk ibadah. Jika orang menghargai minyak dan anggur yang memiliki tetap menghargai anugerah Allah maka akan hidup terpelihara dalam kasih dan pengharapan dari Allah.  

         Sementara Kuda hitam masih berada di bumi belum beranjak maka Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi (wahy 6:7-8)

         Keunikan lambang ini adalah warna kuda, penunggangnya, dan kekuatan yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini ada keselarasan keseluruhan, dan bisa ada sedikit kesulitan dalam penjelasan dan penerapannya. Warna kuda itu "pucat" - χλωρὸς chlōros Kata ini berarti "hijau pucat, hijau kekuningan," seperti warna pucuk pertama rumput dan rumputan; lalu hijau, hijau, seperti rumputan muda, Markus 6:39; Wahyu 8: 7; Wahyu 9: 4; dan kemudian kekuning-kuningan pucat (Robinson, Lexicon)[4].

         Warna di sini akan menjadi warna yang tepat untuk menunjukkan pemerintahan kematian - karena salah satu efek kematian yang paling mencolok adalah pucat - dan, tentu saja, kematian yang disebabkan oleh sebab apa pun, kelaparan, wabah penyakit, atau pedang. Para penafsir memastikan peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1500 dimana kepausan pada waktu itu banyak membunuh orang-orang yang berseberangan dengan ajaran Roma katolik. Diperkirakan tidak kurang dari 50 juta orang mengalami kematian[5]. Di dunia modern ini peristiwa ini sudah mulai bergerak dari awal sejak kuda hitam yang telah membuat banyak barang-barang mahal dan orang tidak bisa membeli dan menjual. Setiap orang harus tinggal dalam rumah. Murka Tuhan telah datang sehingga ia memerintahkan setiap orang untuk tinggal di rumah saja. 

         Dari bagian simbol ini, jika ia berdiri tanpa batas dan mendefinisikannya, kita seharusnya secara alami mencari beberapa kondisi di mana kematian akan menang dengan cara yang luar biasa, atau di mana banyak manusia akan tersapu. Namun, mungkin, dari sifat bagian simbol ini, kita harus mencari prevalensi kematian dengan cara damai seperti kelaparan atau penyakit. Warna merah lebih alami menunjukkan kerusakan akibat kematian dalam perang; yang hitam, kerusakan akibat kematian yang mendadak; yang pucat akan lebih jelas menyarankan kelaparan atau penyakit yang sia-sia.

         Dari kuda yang pucat ini membawa kematian yang menyeret lebih banyak orang. Kata kerajaan maut disini memakai kata hades (lihat catatan Lukas 16:23, bandingkan catatan Ayub 10: 21-22; Catatan Yesaya 14: 9.) Ini digunakan di sini untuk menunjukkan tempat tinggal orang mati, dianggap sebagai tempat di mana mereka tinggal, dan tidak dalam arti yang lebih terbatas di mana kata itu sekarang umum digunakan sebagai tempat hukuman. Idenya adalah, bahwa orang mati akan sangat banyak pada saat keluar penunggang kuda ini, sehingga seolah-olah negara-negara mati yang pucat telah datang kembali ke bumi.

 

 

         

 

 

 

 

 

 

 



[1] https://alkitab.sabda.org/strong.php?id=5115

[2] https://biblehub.com/commentaries/barnes/revelation/6.htm

[3] https://biblehub.com/commentaries/barnes/revelation/6.htm

[4] ibid

[5] "https://image.slidesharecdn.com/seminarwahyupasal6dieditpada08juni2016-160608062451/95/seminar-wahyu-pasal-6-diedit-pada-08-juni-2016-4-638.jpg?cb=1465367185" \o "Meterai ke-4:KUDA HIJAU KUNING Periode Nubuatan: AD. 538 – ..." \t "_blank

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.